IMG00005-20120218-1426

Yuk, Pupuk Kemandirian Anak!

Bayangkan kejadian ini: “Suatu sore sang Kakak yang baru duduk di kelas satu SD menyiapkan air panas  untuk mandi adiknya, yang baru berumur empat tahun. Air panasnya ia simpan dalam ember lalu disiapkan mainan bebek plastik, Sang adikpun gembira dan bersiap-siap untuk segera terjun dalam ember.  Setelah itu sang kakak juga menyiapkan baju untuk dipakai adiknya setelah mandi.”
Apa yang dilakukan sang kakak buat kita orang dewasa adalah pekerjaan yang mudah dan tak istimewa. Namun bagi anak yang masih berumur tujuh tahun, hal itu sangat menantang dan penuh perjuangan.Dari sini kita tahu bahwa sang kakak sudah belajar bagaimana peduli, bersimpati dan empati kepada adiknya dan orang-orang di sekitarnya.
Lebih jauh dari itu, sang kakak sudah belajar mandiri tidak bergantung pada orang tua atau sama si bibi tetapi sang kakak lebih hebat lagi karena ia bisa melakukannya untuk diri sendiri juga orang lain.
Kemandirian pada anak umumnya dikaitkan dengan kemampuan anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Apakah itu makan sendiri, memakai baju sendiri, dan menalikan sepatunya sendiri tanpa harus tergantung pada bantuan orang lain. Anak yang mempunyai rasa mandiri akan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan dapat mengatasi kesulitan yang terjadi. Disamping itu anak yang mempunyai kemandirian akan memiliki stabilitas emosional dan ketahanan yang mantap dalam menghadapi tantangan dan tekanan didalam kehidupannya (Hogg & Blau, 2004).
Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga, orang tualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.
Terkait dengan pola asuh dan kemandirian anak, sebuah penelitian tentang hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak usia prasekolah, didapatkan hasil bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara pola asuh dan kemandirian dengan kemampuan menyelesaikan masalah. Anak yang lebih mandiri mengatakan bahwa dirumah mereka sering dibiasakan untuk melakukan atau memilih sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan. Seperti, berpakaian sendiri, memakai sepatu sendiri, belajar makan sendiri dan kadang-kadang orang tua mengajak anak untuk melakukan hal-hal kecil dalam membantu pekerjaan rumah. Sementara anak yang tampak kurang mandiri, mereka mengatakan bahwa mereka jarang dilibatkan dalam memilih atau melakukan sesuatu hal, dansegalanya lebih banyak ditentukan oleh orang tua. Seperti, pada saat makan di rumah orang tua selalu menyuapinya, atau ketika anak meminta sesuatu, orang tua otomatis selalu menurutinya
Sebenarnya, tidak hanya pada anak-anak, tetapipada orang-orang dewasa juga, terutama suami istri. Misalnya dalam hal pekerjaan rumahistri tentunya mampu untuk memyelesaikan pekerjaan rumah sendiri, tetapi akan berbeda ketika suami sengaja menyempatkan diri membantu dan membersihkan rumah sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang kepada istrinya, dan sebaliknya, sang istri pun membantu suami, menyiapakan segala keperluan kantor. Keduanya saling berterima kasih, saling membantu dan saling meringankan beban masing-masing. Ikatan cinta dan kasih sayang akan semakin erat.[fm]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>