a-capuccino

Waktu: Kualitas dan Kuantitas?

Seorang Bunda mengeluh betapa ia tak memiliki waktu untuk kedua putranya, karena pekerjaan kantor yang menumpuk. Sang bunda pergi saat anak-anak masih terlelap dan pulang saat mereka sudah terlelap, waktu weekend pun tak jarang sang ibu harus lembur atau keluar kota, naluri keibuannya pun bicara “Ah.. andai bisa selalu di rumah mungkin anak-anak akrab denganku, melihat mereka tumbuh dengan begitu menakjubkan”.

Di sisi lain, seorang bunda yang telah memutuskan untuk berhenti berkarir di rumah saja mengurus kedua putrinya pun mengeluh, karena pekerjaan rumah pun menumpuk.Alhasil meski sang ibu ada di rumah terus, ia pun merasa bersalah karena kurang memperhatikan kedua putrinya. Hidupnya seolah tertelan oleh pekerjaan rumah.

Dua kisah diatas adalah kasus berbeda namun memiliki kesamaan.Kedua bunda sama-sama bertanya apakah kita harus menyediakan kuantitas waktu yang banyak? atau agak sedikit waktu namun berkualitas?

Karena faktanya, baik pekerjaan rumah atau kantor tak akan ada selesainya meski telah berjam-jam dikerjakan, sementara masa kanak-kanak hanya sebentar dan tak akan pernah terulang kembali.Sementara memiliki kuantitas dan kualitas waktu bersama dambaan semua orang tua namun karena berbagai kesibukan terkadang keduanya tak terwujud.

Baiklah, ini berarti kita bicara tentang Quality Time. Di dunia parenting banyak dibahas soal kata ini. Prase Quality Time muncul pertama kali di harian The Capital, pada bulan January 1973, pada sebuah artikel yang berjudul “How To Be Liberated”. Lalu sejak kata ini muncul, banyak orang sudah membahasnya, dan sudah muncul berbagai perdebatan serta pendapat yang berkaitan dengannya.

Menurut The Free Dictionary, definisi Quality Timeadalah Time during which one focuses on or dedicates oneself to a person or activity, sementara itu Wikipedia menjabarkannya lebih baik dengan: informal reference to time spent with close family, partners or friends that is in some way important, special, productive or profitable

Perhatikan bagian “some way important, special, productive or profitable“, artinya kita tidak bisa bicara kualitas atau kuantitas hanya sebatas “durasi jam”, tapi seberapa produktif dan menguntungkan (profitable) penggunaan waktu tersebut. Artinya, percuma juga kita menghabiskan waktu 24 jam di samping anak bila yang anak lihat adalah kita terus marah-marah, berkutat di sosmed, atau cekcok dengan pasangan. Jadi mau siapapun kita, ibu rumah tangga, single parent, atau wanita pekerja, yang penting adalah seberapa mampu kita menggunakan waktu berinteraksi dengan anak? Cuma bisa 2-3 jam sehari ya tidak masalah, asal aktifitas kita benar-benar memenuhi syarat productive dan profitable tadi.

Untuk memenuhi keduanya, banyak yang bisa kita lakukan. Bisa dengan melakukan aktifitas bersama (memasak, membuat hastakarya, dll), atau “sekadar” menjadi pendengar bagi curhat anak-anak kita.

Karena meski kita berbusa-busa bilang “ibu dan ayah cinta sama kamu nak.” tetapi tak pernah mereka meluang waktu untuk anak-anak, maka mereka tidak akan paham apa yang kita bicarakan. Terutama sekali karena cinta bukan sesederhana dieja dengan lima huruf C – I – N – T – A lalu selesai begitu saja. Cinta itu harus diwujudkan, dan perwujudan paling kelihatan adalah saat bagaimana cara kita memanfaatkan waktu ketika sedang bersama dengan mereka. [fm]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>