Tag Archives: SERI SAYAP SAKINAH

LMR-sayapsakinah-kecil

LOMBA MENULIS RESENSI BUKU SERI SAYAP SAKINAH

LOMBA MENULIS RESENSI BUKU SERI SAYAP SAKINAH
Berikut ini ketentuannya:

  1. Pilih salah satu buku (“Sayap-Sayap Sakinah” atau “Sayap-Sayap Mawaddah”), dan tulislah resensi/review dalam bahasa Indonesia yang baku namun komunikatif/ santai; atau boleh memilih kedua judul buku tersebut, namun dibuat dalam dua posting dengan maksimal posting 6000 karakter with spaces
  2. Posting resensi/review tersebut di blog, atau akun social media Anda.
  3. Kirimkan URL beserta biodata dan alamat Anda maksimal 26 Oktober 2015 dengan subject “LMR Seri Sayap Sakinah” ke email sayapsakinah@gmail.com
  4. Sertakan foto buku tersebut di dalam posting Anda dengan format bebas
  5. Share posting anda tersebut di Twitter dengan mention @sayapsakinah dan @penerbitindiva dan tagar ‪#‎LMRSS‬
  6. Dianjurkan untuk me-Like fanpage Sayap Sakinah Center, Indiva Media Kreasi, Afifah Afra, dan Riawani Elyta; serta memfollow akun twitter @sayapsakinah @afifahafra79 @RiawaniElyta dan @penerbitindiva
  7. PENGUMUMAN PEMENANG: 15 November 2015 di website www.sayapsakinah.com

Hadiah

Juara 1: Uang tunai Rp 500.000,- + Paket Buku + Souvenir + Piagam
Juara 2: Uang tunai Rp 300.000,- + Paket Buku + Souvenir + Piagam
Juara 3: Uang tunai Rp 200.000,- + Paket Buku + Souvenir + Piagam

Tiga Juara Favorit, masing-masing mendapatkan: Al Quran Terjemah Per Kata + Paket Buku + Souvenir + Piagam

LMR-sayapsakinah-kecil

Sayap Mawaddah_promo

Telah Terbit: Sayap-Sayap Mawaddah

Sepenggal Upaya Langgengkan Cinta

Ditulis oleh Afifah Afra

Dicopas dengan seizin penulis dari SINI

Sayap Mawaddah_promo

Sejatinya, cinta hanyalah perkara
Saling membuka diri
Saling memberi ruang
Untuk sejuta catatan tentangmu
Yang tersimpan di hatiku
Untuk sejuta catatan tentangku
Yang tersimpan di hatimu
Dan tentang waktu khusus
yang kita sediakan
Untuk membaca dan memahaminya
^^Afifah Afra^^
(Sayap-Sayap Mawaddah, hal 19)

Saya pernah termenung membaca sebuah quotes pernikahan dari Socrates yang terjemahnya kurang lebih begini: ”Menikahlah! Jika istrimu baik, kau akan hidup bahagia, jika istrimu jahat, maka kau akan jadi filsuf sepertiku.” Perkataan itu dilandaskan pada keyakinan Socrates, bahwa pernikahan itu seperti perjudian. Jika beruntung, kita akan menemukan pasangan yang tepat, dan kita akan hidup berbahagia. Jika kita kurang beruntung, mendapatkan pasangan yang cerewet, bawel, banyak aturan, menyebalkan dan sebagainya, kita tentu akan menderita selamanya. Namun, kata Socrates, dalam penderitaan tersebut, kita akan ditempa untuk menjadi bijak, dan oleh karenanya, kita akan menjadi filsuf.

Hm, begitu ya penilaian Socrates! Jadi, jika begitu, apakah para konselor pernikahan, para motivator bijak yang sangat filosofis itu jangan-jangan memiliki kehidupan yang sama dengan Socrates. Terus penulis-penulis yang senang menulis kisah-kisah romantis, dengan pasangan yang mirip pangeran berkuda putih atau puteri salju yang baik hati itu, jangan-jangan aslinya memiliki kehidupan yang bertolak belakang dengan apa yang diceritakan? Waduh, pikiran yang berbahaya!

Betulkah pernikahan itu sebuah perjudian? Aah… kudu mikir keras. Memang sih, mungkin banyak para pemuda-pemudi yang saat menikah tidak menggunakan banyak pertimbangan. Begitu ketemu, suka, lalu ngajak ke KUA. Sukanya pun kadang suka yang sangat bersifat fisik, misal karena doski cantik atau tampan seperti bintang film, atau tajir dengan kekayaan yang cukup menghidupi tujuh keturunan. Agama menjadi pertimbangan kesekian, bahkan seringkali tidak penting. Maka, sangat wajar jika yang muncul akhirnya adalah kekecewaan demi kekecewaan.

Ya, pernikahan ibarat buah segar. Pernah melihat rangkaian buah anggur yang dipajang menawan? Dari tampilan kulitnya saja yang merah merona, akan mampu menyedot rasa ketertarikan yang besar dari siapapun yang menatapnya. Kita penasaran, menatapnya berlama-lama, ingin mengulik isinya, mencicipi rasanya, membayangkan kelezatannya. Sementara, bagi yang telah mencecap nikmatnya, sepertinya tak sabar untuk mengabarkan kepada dunia, seberapa buncah kebahagiaan kita. Namun, memang ada juga yang mendadak memuntahkan anggur yang terlanjur dikunyah, karena ternyata daging buahnya kecut, busuk, atau berisi ulat. Tentu, kita tak menginginkan hal ini terjadi pada kita, bukan? (Sayap-Sayap Mawaddah, halaman 7).

Untungnya, dalam konsep pernikahan menurut keyakinan yang saya anut, yakni Islam, berbagai spekulasi yang mengarah pada perjudian ditekan hingga taraf minimalis. Berbagai antisipasi, mulai bagaimana memilih jodoh, ikhtiar dengan melibatkan Allah SWT, hingga visi dan misi dalam pernikahan, membuat sebuah rumah tangga Islami yang benar-benar dibentuk dengan keimanan yang kuat, dengan sendirinya memiliki fondasi yang kokoh. Bukan berarti saat berjalannya kehidupan rumah tangga tak ada goncangan. Tetapi, fondasi yang kuat akan membuat segala goncangan terasa lebih mudah mengatasinya. Bagaimana membentuk fondasi yang kuat dalam rumah tangga sudah saya tulis bersama Riawani Elyta di buku “Sayap-Sayap Sakinah” yang sudah rilis setahun silam. Alhamdulillah, sambutan buku pertama kami tersebut sangat positif.

Nah, pada kesempatan ini, saya dan partner saya mencoba mempertajam tema dengan membuat sekuel buku tersebut, yakni “Sayap-Sayap Mawaddah.” Buku tersebut kami tulis sejak beberapa bulan silam, akan tetapi baru mendapat kesempatan terbit jelang lebaran tahun ini. Mohon doanya agar buku ini sukses di pasaran, dan mampu memberikan manfaat secara optimal untuk generasi muda muslim di negeri ini khususnya, maupun dunia pada umumnya.

GAMBARAN ISI

Sakinah, menurut para ulama, adalah hadiah dari Allah untuk sepasang suami-istri yang menikah dalam rangka menyempurnakan separuh agama. Modal sakinah, jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan mawaddah dan rahmah. Inilah sesungguhnya pilar penting dalam sebuah pernikahan.
Seri Sayap Sakinah adalah buku yang saya tulis bersama Riawani Elyta. Selain itu, kami juga dibantu oleh para kontributor, antara dr. Ahmad Supriyanto (menulis artikel “Seksualitas dalam Mawaddah), dan 5 pemenang lomba menulis “Miracle of Love in Marriage” yaitu Fathimatuzzahra, Irhayati Harun, Arinda Shafa, Rufaidah Umar dan Andika Yudhi Hidayati. Secara khusus, kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada para kontributor yang telah membuat buku ini menjadi semakin kaya.

Jika dalam buku pertama, yakni Sayap-Sayap Sakinah, kami lebih menekankan pada konsep-konsep dasar pernikahan, mulai dari persiapan pernikahan, walimah hingga tahap-tahap adaptasi sepasang pengantin baru. Sementara, dalam buku kedua, Sayap-Sayap Mawaddah, secara mendetil penulis memaparkan pilar mawaddah, alias cinta yang khusus terjalin antarsepasang manusia yang berlawanan jenis, yang telah syah sebagai suami istri. Pilar ini penting untuk dikaji, karena secara manusiawi, manusia memiliki hasrat terhadap lawan jenis. Islam tidak hendak menghilangkan hasrat tersebut, namun dikelola dalam sebuah ikatan cinta yang sakral, dan dijadikan sebagai sarana regenerasi manusia itu sendiri. Di satu sisi, inilah yang membuat sebuah pernikahan seringkali terasa begitu indah.

InsyaAllah, melengkapi buku ketiga Sayap-Sayap Rahmah, akan kami susun untuk melengkapi trilogi Sayap Sakinah ini. Tak ada yang kami harapkan selain keridhaan Allah SWT, serta kemanfaatan sebesar-besarnya dari terbitnya buku ini.

Selamat berburu buku ini, membaca, mencermati dan menghayati maknanya. Dan jika ada kebaikan, doakan agar kami para penulis mendapatkan pahala dari-Nya.

DATA BUKU

Judul : Sayap-Sayap Mawaddah
Penulis : Afifah Afra, Riawani Elyta dan contributor
ISBN : 978-602-1614-65-5
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Harga : Rp 36.000,-
Ukuran : 13 cm x 19 cm
Tebal : 208 halaman

Buku ini bisa didapatkan di toko buku seluruh Indonesia (Gramedia, Togamas, Restu Agung, Karisma, Luwes dan sebagainya).

Pemesanan online:
0819.0471.5588 (Dira)
0878.3538.8493 (Deasy)

Atau klik http://www.tokobukuafra.com/sayap-sayap-mawaddah