Tag Archives: PSIKOLOGI

Stop Galau, Dear Ibu Rumah Tangga!

orang tuaMenjadi ibu idaman itu ternyata tak semudah sangkaan sebagian orang. Banyak para IRT yang akhirnya terjebak dalam kegalauan yang panjang. Hingga akhirnya merasa diri tidak pantas menjadi ibu, tidak bermanfaat, tidak sukses berbisnis, tak berdaya, tidak pintar masak, tidak pandai merapikan rumah, tidak mengerti bagaimana seharusnya mendidik anak. Lalu semakin iri ketika salah seorang teman kita bisnisnya sukses, anak-anaknya membanggakan, hebat hapalan Al-Qurannya, kegiatannya sebreg dan semakin harmonis bersama suaminya. Continue reading

Jangan Mau Jadi Orang “Nyebelin”!

Tahquamenon_Falls_Upper_Falls,_Upper_Peninsula,_Michigan

Disenangi dan diterima oleh orang lain, adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Jika ditanya, apakah ada orang normal yang ingin dibenci orang lain? Pasti tidak ada. Berusaha lapang dada dan menerima ketika dibenci orang lain, mungkin banyak yang melakukannya. Tapi sengaja melakukan sesuatu untuk dibenci banyak orang adalah sebuah hal yang aneh dan tak masuk akal. Continue reading

merpati-love

Pasangan Tak Sesuai Hati…

Kebahagian dan keindahan pernikahan untuk sebagian pasangan biasanya terasa hanya sampai dua atau tiga bulan saja,  karena masih ada aroma-aroma Honeymoon. Setelah itu, kehidupan baru benar-benar telah di jalani bersama, ketika kebiasaan-kebiasaan baik dan buruk pasangan yang dulu tak tampak kini terlihat jelas, berbahagia jika kebiasaan-kebiasaan pasangan lebih banyak baiknya namun manusia tak akan pernah luput dari kekurangan.

merpati-love

sumber gambar dari sini

Setiap pasangan tentu ingin kehidupan rumah tangganya harmonis berjalan mulus-mulus saja, tanpa ada tanjakan, tikungan dan belokan. Pada kenyataannya permasalahan demi permasalahan dalam kehidupan muncul tanpa diduga, ditambah dengan kekecewaan akan kebiasaan pasangan yang tak sesuai menjadikan permasalahan kian rumit.  Hingga muncul sebuah pemikiran, “Seandainya saya menikah dengan yang lain, pasti tidak akan begini…”. Hal ini menambah permasalahan yang rumit manjadi perselisihan dan konflik yang tak ada ujungnya.

Psikolog Dra. Juliani,Mpsi dalam sebuah artikel mengungkapkan jika pasangan belum sesuai dengan keinginan kita, ikhlas dan bersabarlah serta ber-positive thinkingmenghadapinya agar kita tidak mengalami kekecewaan berkepanjangn. Sikap ikhlas akan menumbuhkan sifat memaafkan dan berpikir positif, mengingat-ingat kebaikan yang dimiliki pasangan bukankah ketika kita memutuskan untuk memilih atau menerima dia menjadi pendamping hidup, karena kita melihat adanya kebaikan dalam dirinya bukan. Serta berusahalah kita sadari bahwa semua orang berusaha hidup dengan cara yang paling baik menurut mereka, tinggal kitamenghargai niat baik mereka.

Setelah menyadari bahwa kita hanyalah manusia lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya, hati akan terasa lebih lapang dan kekecewaan. Selebihnya kita luruskan kembali niat kita menikah. Jika pernikahan kita lakukan semata-mata dalam rangka menaati perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah, niscaya tak akan ada perasaan kekecewaan dan penyesalan dalam kehidupan pernikahan. (fm)

emosi

Mengendalikan Marah…

Saat kemarahan melanda tak jarang kita membanting barang-barang, memukul dan menyiksa anak-anak atau membentak pasangan terkadang mereka belum tentu bersalah. Hasil dari kemarahan yang  tak bisa dikendalikan adalah kerusakan pada diri sendiri, kerusakan pada anak-anak  atau pasangan serta pada barang-barang yang dijadikan sasaran kemarahan.

emosi

sumber gambar dari sini

Masih ingatkah kasus Ari Hanggara tahun 80anyang mengemparkan masyarakat Indonesia. Arie adalah seorang anak berusia tujuh tahun yang mendapatkan penyiksaan dari ayah kandung dan ibu tirinya. Hanya gara-gara Arie di cap nakal oleh mereka, kemarahan pun tak bisa dikendalikan, mereka menjadi gelap mata. Mereka terus saja menyiksa, memukul dan tidak memberinya makan dan minum hingga tewas. Kasus 30 tahun yang lalu, namun kini makin banyak lagi kasus yang ‘serupa’ yang intinya para pelaku tega menghajar korbannya hingga meninggal hanya gara-gara rasa marah.

Penelitian Dave Meier mengungkapkan bahwa otak manusia terdiri dari tiga susunan, yakni otak reptil berefungsi mengatur sistem otomatisasi tubuh dan pertahanan atau menghindar, sistem limbik (otak mamalia)berfungsi mengarahkan emosi dan otak neokorteks berfungsi untuk berfikir positif. Jika seseorang marah maka  Otak reftil lah yang bereaksi maka tubuh akan mirip seperti reptil yaitu membentak, membanting dan memukul tanpa berfikir akibat dari segala perbuatannya. Makanya sedapat mungkin otak neokorteks atau otak berfikirlah yang harus diaktifkan dengan cara merangsang emosi-emosi positif. Agar jika pun seseorang itu marah, maka marahnya tidak dilampiaskan dengan serta merta tetapi rasa marah akan hilang dengan sendirinya dengan dikendalikan, dengan cara melakukan relaksasi atau seperti yang diajurkan Rasulullah SAW, jika sedang marah maka bersabarlah, diamlah, tahan kemarahan. Jika sedang berdiri duduklah, jika masih marah maka berwudhulah.

Manusia memang dianugerahi nafsu, salah satunya nafsu marah namun hanya sebagian saja yang bisa mengendalikan nafsu marah tersebut.Aristoteles, seorang filsuf Yunani dalam The Nicomachean Ethics (350M)mengatakan “Siapa pun bisa marah, marah itu mudah. Namun marah kepada orang yang tepat dengan kadar sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah”. (fm)