Stop Galau, Dear Ibu Rumah Tangga!

orang tuaMenjadi ibu idaman itu ternyata tak semudah sangkaan sebagian orang. Banyak para IRT yang akhirnya terjebak dalam kegalauan yang panjang. Hingga akhirnya merasa diri tidak pantas menjadi ibu, tidak bermanfaat, tidak sukses berbisnis, tak berdaya, tidak pintar masak, tidak pandai merapikan rumah, tidak mengerti bagaimana seharusnya mendidik anak. Lalu semakin iri ketika salah seorang teman kita bisnisnya sukses, anak-anaknya membanggakan, hebat hapalan Al-Qurannya, kegiatannya sebreg dan semakin harmonis bersama suaminya.

Ingin seperti mereka yang sukses, namun entah kenapa semua terasa begitu sulit, merasa tak berdaya dan merasa segala hal mustahil dicapai. Saat itu dunia begitu sempit, dada ini begitu sesak. Menangis meratapi nasib anak-anak yang malang karena punya ibu seperti ini, menuduh suami kecewa memiliki istri yang tidak produktif.

Alhasil, kita merasa stres sendiri, apalagi jika sang ibu suka menonton sinetron, semakin malang diri karena banyak adegan menyedihkan yang mirip dengan kondisi yang dialaminya. Pernahkah bunda merasakan demikian, terjebak dalam kegalauan yang panjang?

Yap, galau adalah Istilah keren jaman sekarang yang artinya menginginkan sesuatu namun tak kesampaian akhirnya hati terasa kacau, bingung, tidak mood, tidak nyaman dan merasa tak berdaya. Kenapa ya para ibu juga bisa terjebak dalam kegalauan? Seorang psikolog mengatakan setiap manusia pasti akan mengalami galau, namun kita tinggal memilih mau keluar atau tetap dalam kegalauan tersebut. Mereka yang sukses juga pasti pernah berada dalam kegalauan namun mereka mencari dan berusaha keluar dari kegalauan tersebut, dengan terus meng-upgrade diri dengan belajar karena satu-satunya penghalang kita untuk menjadi ibu idaman itu, hanya diri kita sendiri. Berikut merupakan sedikit garis besar kenapa para ibu juga bisa dilanda galau:

1. Terlena dengan zona nyaman
Memulai hidup baru bersama suami dan anak, membuat segala urusan para bunda hanya berkutat di rumah saja. Padahal tanpa kita belajar dan mendalami ilmu kerumahtanggaan, kita tidak bisa berkembang lagi dan semua akan stuck pada waktunya.

2. Lingkungan yang tidak mendukung
Ternyata tinggal di lingkungan juga bisa memicu kegalauan kita, saat lingkungan tidak memahami dan tidak mendukung maka muncullah perasaan terkekang dan terancam saat ingin mengejar harapanmu.

3. Negative thingking
Saat kita dikuasai oleh pikiran negatif maka kita akan kalah sebelum berperang, semakin terbebani, serba takut memulaimaka semakin terkungkunglah kita.

4. Takut mengambil resiko
Perubahan itu adalah perpindahan dari zona nyaman ke zona yang tidak nyaman. Meski meyakini bahwa jalan yang mendekatkan dengan impianmu sudah jelas, tetapi tetap ada rasa was-was dan takut tidak akan sesukses yang ia bayangkan.

5. Terpengaruhi oleh hal-hal yang tidak realistis
Perasaan ini muncul biasanya terpengaruhi oleh komentar-komentar orang lain, yang tidak paham situasinya. Lalu mulai berpikir hal-hal yang tidak realistis dengan pikiran ‘jika tidak begini terus bagaimana?’ dan ‘kalau gagal terus gimana’. Hal inilah yang membuat hidupmu semakin rumit.
Mari bunda kita move on dari kegalauan ini, karena kegalauan ini membuat kita semakin dewasa dan bijaksana. (Feli Mulyani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *