Saat Hati Dilanda Cemburu….

emosi

emosi

Beberapa hari ini, Asti (bukan nama sebenarnya) gelisah bukan main. Mendadak saja suaminya, Arya, sering bercerita tentang teman satu angkatannya satu SMA, seorang perempuan, yang masih saja melajang, meski usia sudah hampir kepala empat. Asti gelisah, karena jarang sekali Arya bicara soal perempuan. Semakin gelisah, saat Asti tahu bahwa teman perempuan itu ternyata cantik, dan seorang wanita karir yang sukses.

Rasa cemburu merambati hati Asti. Apakah Arya tertarik dengan temannya itu? Bagaimana jika Arya ternyata berminat untuk poligami? Kisah semacam Asti dan Arya, tampaknya sering terjadi di sekitar kita. Asti cemburu. Apakah sikap Asti wajar?

Tentu sangat wajar. Justru jika Asti tak menyimpan rasa apapun, malah rasanya mengherankan. Cemburu itu salah satu tanda cinta. Jika Asti merasa cemburu, itu berarti Asti mencintai suaminya. Apakah ada istri yang tidak mencintai suaminya? Ada! Kita mengenal tipe rumah tangga ‘empty love’ di mana kehidupan rumah tangga hanya diikat oleh komitmen belaka, tanpa ada binar-binar mawaddah ataupun rahmah. Kapan-kapan, kita akan bahas masalah ini.

Namun, waspadailah rasa cemburu. Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda cemburu itu ada yang dicintai Allah dan ada juga yang dibenci-Nya. Adapun cemburu yang dicintai-Nya adalah cemburu karena rasa curiga. Sedangkan cemburu yang dibenci-Nya adalah cemburu yang bukan karena curiga.” (HR. Abu Dawud).

Apa maksud cemburu karena curiga? Yaitu cemburu yang didasarkan pada indikasi-indikasi atau tanda-tanda tertentu yang menimbulkan kecurigaan. Misal, seorang istri melihat suaminya berduaan dengan wanita yang bukan mahram di sebuah tempat yang romantis. Indikasi itu membuat dia waspada, terlebih ketika ada tanda-tanda bahwa pasangan kita akan berbuat sesuatu yang melanggar syariat. Kecurigaan itu membuat kita seyogyanya waspada dan mengingatkan pasangan kita untuk tidak melanggar batas-batas yang dibenarkan oleh agama.

Sedangkan cemburu yang dilarang adalah cemburu tanpa alasan dan melewati batas-batas kewajaran. Suatu saat, istri Umar bin Khattab pernah ikut shalat subuh dan isya berjamaah di masjid. Lalu ada yang menegur istri Umar, “Kenapa kamu keluar rumah, bukankah engkau tahu bahwa Umar tak menyukai hal ini dan dia pasti akan cemburu?”

“Apa alasan engkau melarangku?” Istri Umar pun menyebut sebuah hadist, “Janganlah kalian larang hamba-hamba Allah yang perempuan datang ke masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, ada juga kecemburuan-kecemburuan yang sifatnya manusiawi dan dimaafkan. Misal, kecemburuan antaristri sebagaimana yang terjadi antara istri Rasulullah yang satu dengan yang lain. Asal kecemburuan itu tidak sampai pada hal-hal yang melanggar syariat, hal tersebut termasuk dalam perkara wajar.

Lantas, bagaimana dengan kasus Asti di atas? Jika ada indikasi, sebenarnya indikasi tersebut masih cukup lemah. Sangat baik jika Asti mengedepankan prasangka baik kepada suaminya, dan bukan malah menjerumuskan diri kepada prasangka-prasangka negatif. Asti bisa dengan cara lembut dan mungkin dengan gaya bergurau mengingatkan suaminya, “Awas, lho Papa… jaga hati, jaga pandangan.”

Selain itu, momen cemburu tersebut bisa menjadi momen Asti untuk berbenah dan muhasabah. Sudahkah selama ini dia menjadi istri yang baik untuk Arya? Jika ternyata banyak kekurangan, Asti harus berupaya untuk memperbaikinya.

Ditulis oleh: Afifah Afra

Referensi:

Sheikh Abu Al-Hamd Rabee’, 2011, Membumikan Harapan Keluarga Islam Idaman, Lembaga Kajian Ketahanan Keluarga Indonesia (LK3I), Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *