Prestasi Semu atau Prestasi Sejati?

piala12

piala12Bel tanda jam sekolah sudah selesai tetapi Caca masih belum beranjak dari bangku kelasnya, ia tertegun melihat hasil ulangan yang baru dibagikan guru. Caca menangis hasil ujian kali ini dia mendapatkan nilai hanya 70 padahal ia sudah berusaha belajar dengan baik. Caca takut pulang ke rumah, dia takut di marahi oleh mamanya yang selalu menekankan Caca agar setiap ujian dia harus mendapatkan nilai 100. Caca pun memutar otak dengan membuat contekan agar ulangan besok ia mendapatkan nilai yang bagus.

Harapan sang Mama tentu sangat wajar karena semua orang tua tentu menginginkan anak-anaknya mendapat nilai yang istimewa, agar menjadi juara kelas dan menjadi kebanggaan mereka. Namun terkadang keinginan tersebut tidak selalu terwujud karena berbagai hal yang mempengaruhinya. Sehingga tidak jarang para orang tua memberikan tekanan pada anak-anaknya agar mendapat nilai bagus dan tak jarang pula orang tua melabeli anak dengan kata “bodoh” dan tak berprestasi tatkala harapannya tidak pernah bisa diwujudkan sang anak. Apakah benar seorang anak di cap pintar dan berprestasi ketika hasil ujian semua mata pelajaran bernilai 100?

Menurut wikipedia arti prestasi dapat dicapai dengan mengandalkan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual, serta ketahanan diri dalam menghadapai situasi segala aspek kehidupan. Senada dengan paparan Ayah Edy seorang Pakar Parenting, bahwa seorang anak dikatakan berprestasi ketika dia berhasil memiliki etika, prilaku dan moral yang baik karena Prestasi yang sesungguhnya tidak bisa diukur dengan angka. Sementara masih ada sebagian dari kita yang masih keliru mengartikan kata prestasi, dikatakan berprestasi ketika anak mendapat nilai 100 tetapi jiwa anak tertekan secara emosional dan anak terdorong untuk melakukan ketidak jujuran. Maka kita para perlu merubah mindset yang sudah di tanamkan oleh orang tua kita dan sistem sekolah kita selama bertahun-tahun lamanya tentang arti prestasi yang sesungguhnya bagi anak. Ayah Edy juga mengingatkan bahwa mau jadi apa pun anak-anak kita kelak misal jadi seorang dokter, guru atau profesi lain, tentu yang diharapkan kejujuran dan rasa tanggungjawab mereka mengemban anamah ketimbang pintar namun tidak jujur dan tidak bisa di percaya.

Prestasi sejati adalah keberhasilan ketika anak-anak kita punya etika, prilaku dan moral yang baik, jujur serta bisa di percaya. Sementara kepintaran itu mudah sekali di latih, dan jika tekun berlatih apapun bisa kita lakukan dengan baik dan semakin baik dari waktu ke waktu. Tentu semua keputusan tetap berada di tangan orang tua, apakah kita akan mendorong anak-anak mendapatkan prestasi yang semu atau prestasi yang sejati.(fm)

#ilustrasi dari google

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *