Ummahat

Porsi Ibu Mendidik Anak

Ummahat

Sumber gambar disini

Apa yang terbayangkan jika mendengar kata “Ibu”? Atau pernahkah kita bertanya, apakah tugas-tugas utama seorang Ibu? Jawabannya mudah, biasanya kita semua cenderung sepakat bahwa: seorang Ibu adalah perempuan yang telah menikah dan melahirkan anak, tugas-tugas utamanya adalah mendidik, merawat dan membesarkan anak-anaknya.

Lalu bagaimana jika pertanyaannya di balik: apa yang terbayang jika mendengar kata Anak dan apa tugas-tugas utama mereka? Biasanya dengan cara sederhana kita juga akan menjawab: Anak adalah seorang yang dilahirkan oleh sang ibu, tugas-tugasnya menaati orangtua, menghormati dan berbuat baik pada orang tua, serta menjaga nama baik mereka.

Sekarang, mari kita renungkan kedua hal di atas. Ternyata baik ibu dan anak semuanya memiliki tugas-tugas dan hak kewajiban saat berinteraksi. Sekilas kedua tugas itu tampak “berbeda”, yang satu bertugas mendidik, yang satu lagi bertugas untuk menghormati dan menjaga nama baik. Namun sebenarnya, jika dikaji lebih dalam, kedua tugas itu bersifat saling melengkapi. Karena secara logika saja, tidak mungkin seorang ibu bisa dengan mudah menjalankan tugasnya tanpa kehadiran anak, dan anak pun sebaliknya tak mungkin dia menjalankan perannya tanpa adanya orangtua.

Tapi sebenarnya, tugas orangtua sedikit lebih banyak dari itu. Sebab kelak kemampuan anak memenuhi tugasnya tersebut—mentaati, menghormati, berbuat baik, dan menjaga nama baik—sangat tergantung pada seberapa banyak orangtua itu mendidik anaknya. Definisi “seberapa banyak” bisa dibahas dari berbagai segi, bisa kualitas, bisa juga kuantitas. Jadi tanpa didikan yang cukup dari orang tua, jangan harap anak itu bisa paham tugas-tugas dia dalam hidup dan pola interaksi dengan orang tua. Hal ini senada dengan yang dikatakan Abdullah bin Umar r.a (Sebagai tafsir tersendiri dari QS. At Tahrim 6)

 

“Didiklah anak-anak pendidikan yang baik karena hal itu tanggung jawabmu, sementara kelak (jika dewasa) anak-anakmu bertanggung jawab untuk berbuat baik dan patuh padamu”

 

Nah, jadi untuk mencapai kondisi tersebut, berapa idealnya porsi orangtua dalam mendidik anak?

Sebelumnya kita harus tahu dulu bahwa dalam mendidik seseorang, aspek kepercayaan haruslah yang pertama kali dibangun. Kepercayaan, atau trustmenurut Jean-Jacques Rousseau adalah: psychological state comprising the intention to accept vulnerability based upon positive expectations of the intentions or behavior of another[1]. Dari sini jelas sebuah konsep kepercayaan pasti akan mendukung lancarnya sebuah proses pendidikan. Maka dari itu, porsi ideal ibu mendidik anaknya, harus diukur dari “seberapa lama waktu yang diperlukan sang ibu agar anaknya percaya padanya?”

Ternyata, memupuk kepercayaan—yang berujung pada pendidikan ini—harus sudah dimulai sejak anak kita lahir. Sebab pola hubungan anak dan—terutama—ibu sudah terbentuk sejak bayi. Hal ini bisa dibuktikan secara psikologis, Seperti yang dilansir oleh psychologytoday, bayi akan melepaskan gelombang besar oksitosin kepada siapapun yang mengasuhnya. Oksitosin adalah hormon cinta sekaligus hormon yang paling kuat dalam tubuh.

Berarti bisa disimpulkan, porsi ideal seorang ibu mendidik anak bila ditinjau secara kuantitas waktu sebenarnya berlangsung sejak mereka “berjumpa” untuk pertama kalinya. Makin banyak waktu yang dihabiskan dengan anak, makin besar rasa cinta yang akan terbentuk antar kedua belah pihak, dan makin besar rasa cinta itu maka makin besar juga rasa percaya antara mereka.

Ketika rasa percaya sudah tumbuh, maka bentuk pendidikan apapun yang diberikan oleh orang tua, sang anak akan bisa menerimanya dengan baik, karena dia sudah percaya akan kredibilitas, keilmuan, dan pengalaman orangtuanya.

Maka jelas, porsi ideal orang tua mendidik anak—jika diukur dengan waktu—berarti menjadi tugas seumur hidup, dan itu tidaklah mudah. Namun jangan khawatir, Allah sudah berjanji akan memberikan ganjaran besar pada siapapun orangtua yang memiliki anak shaleh, seperti As Syaikh Albani Rahimahullah katakan:

 

“Apa yang dilakukan oleh anak yang shalih dari amal-amal shalih maka sesungguhnya bagi kedua orang tuanya  pahala yang sepadan dengannya, tanpa mengurangi dari pahala anaknya sedikitpun; karena anak merupakan hasil jerih payah dan pembinaannya”

 

*****

[1]Rousseau, D. M., Sitkin, S. B., Burt, R. S., and Camerer, C. (1998). “Not so Different After All: A Cross-Discipline View of Trust,” in Academy of Management Review, 23, 393-404.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>