Pentingnya Percaya Diri

0204H002

 

Suatu sore Annisa sedang menggambar pemandang setelah selesai, dia lalu memperihatkannya pada sang ayah dengan berkata “Ayah gambarnya jelek yah, aku enggak bisa gambar bagus yah!”

Sang ayah terkejut kenapa Annisa begitu tak percaya diri memperlihatkan karyanya, lalu ayahnya  berkata “Kata siapa jelek? Ini bagus loh…”

Annisa hanya terdiam. Setelah kejadian itu sang ayah semakin penasaran dengan Annisa apa yang telah terjadi, padahal Annisa pernah menjuarai sebuah lomba mengambar. Penyelidikan sang ayah akhirnya berhasil, tenyata Annisa sering mendapat tekanan dari neneknya. Dia harus selalu menang dan selalu bagus mengambar, beberapa kali Annisa memperlihatkan hasil gambarnya sang nenek mengatakan gambarnya jelek, kurang warna dan katanya dia kurang sabar mewarnainya. Sang nenek mungkin ada benarnya namun cara menyampaikannya kurang tepat, sehingga alih-alih menjadi motivasi malah membuat Annisa kurang percaya diri, tertekan dan stress.

Dalam kasus ini dapat ditarik pelajaran bahwa kepercayaan diri pada seseorang terutama anak-anak sangatlah penting dibentuk dari lingkungan terdekatnya terlebih dahulu. Setelah itu dengan mudah dia akan mengembangkan bakatnya karena dia merasa yakin dan aman akan diterima oleh dunia.Begitulah bila anak sering mendapat tekanan dan diberikan keraguan karena cara-cara pengasuhan yang kurang tepat, maka salah satu kisahnya bisa seperti Annisa di atas.

Berikut ini kutipan tulisan dari artikel dr. Zulehah Hiidayati, Ketua komunitas Rumah Parenting mengenai beberapa hal yang menyebabkan anak tidak percaya diri:

1. Memarahi anak

Seorang anak yang dimarahi akan merasa direndahkan, dijatuhkan, disakiti, sehingga rasa percaya dirinya akan turun.

2. Tidak mendengarkan anak

Kadang kita sebagai orang tua memperlakukan anak seakan menjadi obyek. Anak menjadi objek yang diurusi setiap hari oleh orang tua. Padahal seorang anak perlu ditempatkan menjadi seseorang yang perlu didengarkan suaranya. Pada usia 1,5 s.d. 3,5 tahun anak memasuki masa negativistik, yang salah satunya ditandai dengan mengungkapkan penolakan. Ketika ia menolak makan, sebenarnya ia menyatakan diri untuk dihargai keberadaanya dengan didengarkan keinginan, kesulitannya, ketidaksukaan, ataupun pendapat lainnya. Ia tidak ingin hanya disuruh-suruh. Mengabaikan perasaan mereka, pikiran mereka, membuat mereka merasa tidak berharga.

3. Kurang bahasa cinta

Sudahkah menyentuh anak anda hari ini? Masih banyak anak yang dibesarkan hanya diberi makan, minum, dimandikan, dan berbagai kegiatan rutin lainnya. Mereka dibesarkan secara fisik, tapi jiwa mereka kurang dirawat dengan kasih sayang. Kasih sayang dirasakan oleh anak melalui bahasa cinta melalui kata-kata, sentuhan, maupun respon kita secara keseluruhan. Anak yang kurang bahasa cinta, merasa tidak dicintai, tidak berharga, dan kurang percaya diri.

4. Penggunaan kata jangan dan tidak yang kurang tepat

Kata jangan sering kita dengar di keseharian, “jangan lari”, “jangan naik tangga”, “jangan pegang gelas”, “jangan keluar rumah”, “tidak boleh main air”, dan sebagainya. Kata jangan dan tidak memang diperlukan untuk melarang sesuatu hal yang dikategorikan berbahaya. Penggunaannya pada area yang kurang tepat justru akan membuat anak takut untuk bereksplorasi.

5. Kurang predikat positif

Berbagai predikat negatif yang bertebaran di keseharian, “adik kan masih kecil”, “dasar nakal”, “cerewet”, “cengeng”, “pemalu”, dan sebagainya berulang terdengar oleh anak. Masih ingat penelitian air oleh Masaru Emoto? Ternyata predikat itu tidak hanya terdengar oleh telinga anak kita, tapi direkam oleh seluruh komponen air yang merupakan 90% bagian tubuh anak. Bagaimana seorang anak bisa percaya diri ketika ia diyakinkan sebaliknya oleh orang-orang yang ada di sekitarnya?

6. Kurang apresiasi

Seorang anak masih belajar. Makan masih berantakan, ada yang masih sulit membiasakan diri dengan berbagai buah dan sayur. Mandi masih belum bersih. Mainan masih sering lupa ia bereskan. Ia ingin menggambar namun masih seperti coretan. Ketika kita kurang mengapresiasi usaha-usahanya yang tampak kecil, lebih parah lagi malah dimarahi, maka sang anak selalu berada dalam situasi serba salah. Sepertinya semua yang dilakukan salah. Hasilnya adalah kurang percaya diri. (Feli Mulyani).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *