2075

Mendidik Anak Tanpa Marah-Marah, mungkinkah?

2075

Salah satu tantangan berat bagi orang tua, adalah bagaimana mendidik anak-anak di rumah dalam suasana yang selalu kondusif, tenang dan bebas acara marah-marah. Bagi orang tua yang berkarakter lembut dan tak gampang emosi, ataupun memiliki anak yang anteng dan penurut, mungkin hal ini tidak terlalu sulit untuk diwujudkan. Tetapi, yang lebih sering terjadi adalah hal sebaliknya. Orang tua yang mudah tersulut emosi atas kelakuan anak ditambah faktor lelah bekerja, pikiran mumet oleh persoalan, harapannya terhadap si anak tidak tercapai, dan sebagainya, sementara si anak cenderung suka membantah, kritis bahkan melawan.

Nah, jika kita termasuk dalam kategori kondisi yang kedua, bagaimana caranya supaya kita dapat memperbaiki keadaan dan tidak lagi melibatkan emosi (kemarahan) yang berlebihan saat mendidik anak-anak? Berikut beberapa kiatnya :

1. Menjaga diri untuk tetap tenang
Emosi atau kemarahan gampang tersulut jika diri kita sedang berada dalam kondisi negatif. Oleh karenanya, tenangkan diri terlebih dahulu sebelum menghadapi anak-anak. Kalau perlu tarik napas dalam-dalam dan istigfar di dalam hati, minta pertolongan Allah agar kita lebih mampu menahan diri dari telanjur melampiaskan kemarahan. Jika ada persoalan yang membebani pikiran, atau raga kita sedang kelelahan, ambil waktu bagi diri sendiri untuk mengatasi hal tersebut sampai kita siap menghadapi anak-anak dalam kondisi tenang.

2. Belajar untuk sabar dan ikhlas
Boleh jadi ini adalah poin terberat. Bukan hal mudah untuk menumbuhkan kesabaran yang optimal dan menjaga hati tetap ikhlas dalam kondisi dan situasi apapun. Namun ini jugalah yang menjadi penangkal paling manjur untuk meredam kemarahan. Dan untuk meraih keduanya, cara yang paling tepat adalah dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah, melakukan hal-hal yang diridhoiNya dan menjaga diri dari melakukan apa yang dilarang. Maka yakinlah, Allah juga akan mempermudah kita untuk membangun kesabaran dan keikhlasan kita termasuk dalam menghadapi dan mendidik anak-anak.
3. Tataplah mata anak-anak kita
Saat sang anak membantah atau melawan, dan kemarahan kita pun tersulut karenanya, cobalah sejenak menatap mata mereka. Dan biarkan mereka membalas tatapan kita atau sebaliknya akan menunduk atau memalingkan pandangan. Dalam apapun kondisinya, percayalah, mata anak-anak tetap akan menunjukkan sisi kebeningan hati, kepolosan dan rasa sayangnya kepada kita. Dan dengan menatapnya, perlahan-lahan emosi kita juga akan terkikis dan kitapun menyadari bahwa kemarahan bukanlah reaksi yang tepat terhadap perbuatan mereka. Jika perlu, barengi dengan senyum. Karena senyum juga membawa efek positif terhadap suasana hati, baik hati kita sendiri maupun orang yang kita hadapi.

4. Sampaikan isi hati kita
Jika anak-anak sudah memasuki usia sekolah, pra remaja atau remaja, jangan sungkan untuk mengatakan apa yang kita inginkan dan apa yang membuat kita marah, tentunya dengan penyampaian yang jelas serta tidak menggunakan kata-kata kasar atau mengintimidasi. Karena terkadang, anak-anak justru tidak mengerti bahwa perbuatan mereka sudah memancing kemarahan orang tua.

Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Maka sudah semestinya kita menjaga mereka sesuai perintah Allah dan menanamkan rasa cinta serta ketaatan mereka kepada Allah. Dan dalam melakukan tugas serta tanggung jawab tersebut, hendaklah kita melandasinya dengan rasa cinta pula kepada Allah dan semata-mata mengharapkan ridhoNya. Insya Allah, segala hambatan dan kesulitan akan lebih mudah kita hadapi dengan pertolongan Allah.

Penulis,
Riawani Elyta

saaaaaaaaaa

Awas, Jangan Asal Masuk Ke Pesantren!

saaaaaaaaaa

Memilih lembaga pendidikan bagi si buah hati, adalah salah satu prioritas bagi para orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya mendapat pendidikan terbaik. Dan untuk itu terdapat berbagai alternatif yang terkadang membingungkan. Contohnya saja saat harus memilih menyekolahkan anak di pesantren ataupun sekolah umum. Keduanya, pasti ada plus dan minus.
Jika orang tua ingin menyekolahkan anaknya di pesantren, berikut beberapa poin yang dapat  dipertimbangkan, yaitu:
1. Niat
Setiap orang tua tentu memiliki niat yang baik terhadap pendidikan anaknya. Namun tak ada salahnya untuk memeriksa ulang niat kita. Apakah karena memang menginginkan anak memperoleh pendidikan agama yang lebih baik di dalam lingkungan yang baik pula, atau justru karena ingin melepaskan sebagian tanggung jawab kita? Merasa bahwa dengan menyerahkan anak kepada pesantren maka tanggung jawab kita mendidik anak dalam hal agama pun telah selesai?
Perlu diingat, bahwa tugas utama mendidik anak ada pada orang tua. Terutama pendidikan agama, karakter dan akhlak mulia. Oleh karenanya, mari luruskan niat kita terlebih dulu sebelum memutuskan menyerahkan tanggung jawab itu kepada lembaga pendidikan.

2. Usia dan Kesiapan Anak
Dari sisi psikologi, anak di bawah usia 12 tahun membutuhkan lebih banyak waktu untuk bermain, bersenang-senang dan merasakan kedekatan dengan orang tuanya. Jadi disarankan untuk tidak buru-buru menyekolahkan anak di pesantren saat usianya masih di bawah 12 tahun, kecuali jika pesantren tersebut mudah dijangkau ataupun sang anak tetap diperkenankan pulang ke rumah pada waktu-waktu tertentu.

Kesiapan anak juga perlu menjadi perhatian. Meskipun sudah memasuki usia pra remaja dan remaja, tidak semua anak merasa siap untuk masuk pesantren. Tak sedikit pula yang mempersepsikan pesantren sebagai tempat “buangan”, bagi anak-anak yang bermasalah. Jadi, jika memang serius ingin menyekolahkan anak di pesantren, sejak awal perlu ditanamkan kepada anak tentang dunia pesantren yang sesungguhnya. Jika memungkinkan, anak bisa diajak berkunjung ke pesantren terdekat untuk merasakan atmosfir lingkungannya.

3. Informasi yang Akurat
Pelajari terlebih dulu informasi yang akurat juga detail tentang pesantren tujuan. Bagaimana komposisi pendidikan akademis dan agamisnya, lingkungannya, para pendidik dan santri lulusannya, sumber literasinya, juga ruang lingkup pengajarannya. Apakah pesantren berbasis modern atau salafi, dan sebagainya.

Bagi sahabat yang masih ragu, berikut beberapa poin plus yang dimiliki pesantren yaitu :
1. Pesantren menerapkan pendidikan IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional) dan SQ (kecerdasan spiritual) secara proporsional sehingga diharapkan para santri lulusannya tak hanya cerdas intelejensi tetapi juga memahami dan melaksanakan ajaran agama dengan kaffah serta mampu bersosialisasi dengan baik di tengah masyarakat
2. Ikatan persaudaraan di pesantren lebih kokoh karena para santri memiliki waktu interaksi dan komunikasi antar santri lebih panjang dibandingkan dengan sekolah umum
3. Lingkungan pesantren lebih terjaga dari kontaminasi pengaruh negatif seperti budaya hedonis, narkoba, tawuran, pergaulan bebas dan sebagainya.
4. Pesantren mengajarkan ilmu hidup yang berharga yaitu kemandirian dan rasa tanggung jawab.

Memilihkan lembaga pendidikan yang tepat bagi anak, sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua. Memang, tidak ada lembaga pendidikan yang bisa menjamin bahwa anak kita akan terbentuk menjadi seperti yang kita inginkan. Tetapi, dengan memilihkannya lembaga pendidikan yang mampu memberinya banyak bekal hidup seperti di pesantren, insya Allah bukan hal sulit untuk membentuk sebuah generasi penerus bangsa yang berkualitas, baik dari sisi pengetahuan, karakter, juga ketaatannya dalam menjalankan perintah-perintah Allah.

Referensi :
www.kompasiana.com
www.dmaarif.blogspot.co.id

Penulis,
Riawani Elyta

kebakaran hutan

Indonesia Darurat Asap, Mari Bantu Mereka!

kebakaran hutan“Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [Q.S. Ar-Rûm/30:41]

Telah memasuki bulan ketiga, beberapa provinsi di tanah air mengalami kabut asap sangat parah akibat pembakaran hutan. Yang terparah adalah di Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah khususnya Palangkaraya. Bahkan info terakhir menyebutkan, bahwa angka ISPU telah melewati angka 3000. Sementara batas tertinggi untuk level berbahaya adalah pada angka 300. Lantas, seperti apakah gerangan kondisi udara yang kini dihirup oleh saudara-saudara kita itu?

Tak cukup sampai di situ, beberapa kali berita menyedihkan turut menghiasi media cetak, media online dan layar kaca, tentang korban yang jatuh akibat dampak bencana ini. Mulai dari angka penderita ISPA yang telah melampaui angka ratusan ribu jiwa, hingga yang merenggut korban nyawa dari kalangan anak-anak. Selain para lansia dan anak-anak, masih ada satu golongan lagi yang mengalami ancaman kesehatan terbesar, siapa lagi kalau bukan para ibu hamil. Ya. Udara dengan kadar pencemaran sangat tinggi tak hanya membahayakan kesehatan sang ibu, tetapi juga kesehatan janin. Kadar udara bersih yang mungkin hanya tersisa kurang dari lima persen, tak kurang berbahayanya dengan kekurangan oksigen. Dan janin yang kekurangan oksigen, ataupun janin yang ibunya terpaksa menghirup udara pada level berbahaya, sangat beresiko terhadap gangguan syaraf, cacat pertumbuhan hingga kehilangan nyawa. Astagfirullahal azim.

Mungkin, kita juga turut merasa prihatin bercampur gerah, akan nasib saudara-saudara kita dan lambatnya solusi terhadap kasus tersebut. Kegeraman pada pemerintah pun mencuat di mana-mana. Sementara itu, para petugas dan relawan terus berjibaku memadamkan api pembakaran hutan dari terus membesar.
Sebagai warga Indonesia dan sesama muslim, sudah sepantasnya kita menjadi bagian dari solusi atas bencana ini. Mari kita tunjukkan kepedulian dan tindakan nyata untuk meringankan beban saudara-saudara kita di sana. Berikut 5 (lima) cara yang bisa kita lakukan:

1. Ringankan lisan dan hati kita untuk berdoa dengan khusyu, meminta pertolonganNya untuk menurunkan hujan dan menyingkirkan asap tebal yang telah berbulan-bulan menaungi mereka, serta mengembalikan kehangatan sinar matahari yang telah lama mereka rindukan. Memang, jika kita bercermin dari ayat di atas, boleh jadi, bencana ini adalah bentuk “edukasi” Sang Maha Pencipta kepada para perusak alam agar menyadari akibat dari perbuatan. Namun, sungguh tak ada salahnya kita mendoakan curahan ampunan dan rahmatNya kepada saudara-saudara kita yang merasakan akibat nyata dari perbuatan tersebut.

2. Ringankan rejeki yang kita peroleh untuk disumbangkan pada mereka, kita salurkan pada lembaga-lembaga yang amanah dan benar-benar menggunakannya secara tepat dan solutif. Misalnya, untuk pengadaan masker N95, tabung oksigen dan obat-obatan, untuk membiayai tim relawan dan swadaya masyarakat yang berupaya memadamkan api, dan sebagainya.

3. Ringankan jari kita untuk membagikan berita yang akurat dan situasi terkini di daerah-daerah bencana lewat media sosial. Bagikan beserta niat dan status untuk menghimbau dan menggugah, bukan diiringi caci maki dan umpatan kepada pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Meski banyak yang meragukan usaha viral ini, setidaknya ini adalah upaya kita untuk menggalang kesadaran bersama akan apa yang sesungguhnya terjadi dan bersama-sama pula menggugah kesadaran kita akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

4. Ringankan kemauan kita untuk belajar lebih banyak akan hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga lingkungan, memperbaiki kerusakan lingkungan dan mencegah terjadinya bencana akibat kerusakan lingkungan di masa datang. Barangkali saja, dari pembelajaran itu kita dapat menemukan cara solutif untuk membantu mengatasi persoalan yang menimpa saudara-saudara kita di wilayah bencana.

Selain itu, meski kita tidak berada di wilayah tersebut, bukan berarti lingkungan kita benar-benar terbebas dari ancaman kerusakan dan pencemaran. Lihatlah sekeliling kita, pada sungai yang menjadi tempat pembuangan sampah, pada jalan raya yang mengakumulasi polusi udara dan kendaraan, pada ruang hijau yang kian terpinggir, tersingkirkan oleh gedung-gedung pencakar langit, pada udara yang kian terasa panas dan kering, pada sumber air bersih yang kian sulit diperoleh, tidakkah semua itu menunjukkan bahwa sesungguhnya kondisi alam kita saat ini, hanya menunggu waktu saja untuk kelak mengancam kualitas kehidupan? Tidakkah kita menyadari bahwa sebesar apapun materi yang kita kumpulkan hari ini, tak akan mampu membeli udara dan air bersih saat semua itu sudah tak lagi ada?

Penulis:
Riawani Elyta

Sumber foto: www.rmoljakarta.com

donat kentang edit 2

Resep Potato Dougnut, Wow Lezaaat!

donat kentang edit 2

Sahabat Sakinah, mungkin ada di antara sobat yang sedang mencari ide untuk bekal si kecil atau camilan sore di rumah? Bagaimana kalau kita bikin cemilan klasik yang selalu disukai anak-anak: Potato Doughnut atau Donat Kentang? Di sini juga ada tips supaya rasa kentangnya lebih kuat dan lezatnya tidak kalah dari donat-donat bakery.

Yuk simak resepnya:

 

Bahan:
300 gr tepung terigu cakra
200 gr tepung terigu segitiga biru
400 gr kentang (direbus / kukus, haluskan)
100 gr gula pasir
5 gr ragi instant
2 butir kuning telur
75 gr margarine
100 ml air dingin
1 sdt baking powder

Cara membuat:
1. Campur tepung, gula, ragi instan, aduk rata
2. Masukkan kentang halus dan telur, uleni sambil menambahkan margarine, air dan baking powder sampai adonan kalis dan tidak lengket di tangan. Bulatkan
3. Diamkan adonan selama 45 menit. Uleni lagi, timbang 40 gram dan dibulatkan
4. Diamkan sampai adonan mengembang lagi
5. Goreng dengan panas sedang
6. Setelah dingin, gulingkan ke dalam gula halus, atau diberi topping dark chocolate cair, parutan keju, cokelat roti, dan lain-lain

Untuk 40 buah

Tips:
1. Agar rasa kentangnya lebih kuat, haluskan kentang kukus dengan cara diparut
2. Gunakan margarine untuk cake dan cookies atau ganti 25 gr margarine dengan butter agar rasanya lebih gurih
3. Jika sahabat ingin membuatnya untuk bekal sekolah si kecil keesokan harinya, adonan bisa dibuat pada malam hari. Setelah adonan dibagi kecil-kecil dan dibulatkan serta mengalami fermentasi kedua, adonan bisa disimpan di kulkas dan digoreng keesokan paginya.

Selamat mencoba!
Penulis:
Riawani Elyta

Kuda

Suraqah bin Malik dan Dua Gelang Kisra

KISAH INDAH DI PERISTIWA HIJRAH #2

KudaDarun Nadwah terbakar amarah! Para pembesar kaum Kafir Quraisy berhasil membakar emosi para pemuda Quraisy dengan sebuah hasutan, bahwa Muhammad bin Abdullah adalah musuh besar yang harus segera mereka bunuh. Saat itu, Muhammad sedang dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Mereka khawatir sekali, saat sesampai di Madinah, Muhammad dan para pengikutnya akan semakin kuat.
Mereka, para pembesar seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan dan sebagainya, akhirnya membuat sebuah sayembara. Barangsiapa berhasil membunuh Muhammad, maka mereka akan memberi hadiah 100 ekor onta yang terbaik kualitasnya.

Seorang lelaki gagah, Suraqah bin Malik namanya, mendadak mengelus pedangnya. Seratus ekor onta itu sangat memotivasinya. Dia adalah seorang lelaki yang terkenal dengan kegagahannya di Nejd. Pemuda dari Bani Kinanah yang sangat disegani dan dihormati. Dia menyatakan diri sanggup mengejar dan membunuh Muhammad.

Debu mengepul saat kuda Suraqah menghentakkan kakinya, berlari kencang, memulai pengejarannya. Dengan bantuan orang-orangnya, Suraqah pun berhasil mendapatkan jejak Rasulullah. Dari kejauhan, dia melihat Rasulullah dan Abu Bakar as-Shidiq yang tengah berjalan menuju Madinah. Semangat Suraqah pun membuncah. Dia mempercepat laju kudanya. Namun, begitu jarak kudanya semakin dekat, mendadak kuda itu terjerembab. Suraqah tersentak kaget. Kuda yang dinaiki adalah kuda terbaik dan sangat terlatih, bagaimana mungkin bisa terjerembab?

Suraqah bangkit, lalu menaiki lagi kudanya dan mempersiapkan anak panahnya. Namun, setelah jarak semakin dekat, lagi-lagi kudanya terjerembab. Peristiwa itu terulang hingga tiga kali, sampai akhirnya Suraqah tersadar, bahwa sosok yang tengah dikejarnya itu memang bukan sosok biasa. Suraqah pun kembali mengejar Rasulullah, bukan untuk membunuh, tetapi untuk memohon ampun.

Muhammad tersenyum kepadanya, mengampuni dan berkata “Wahai Suraqah, bagaimana perasaanmu jika engkau memakai dua gelang Kisra?”

“Kisra bin Hurmuz?” Suraqah tertegun, tak paham dengan perkataan Muhammad Rasulullah. Kisra adalah kaisar Persia yang sangat termasyhur kala itu.

Akan tetapi, Rasulullah tak menjelaskan lebih mendetail. Beliau melanjutkan perjalanannya bersama Abu Bakar menuju Madinah. Suraqah, setelah peristiwa tersebut akhirnya bertaubat dan masuk Islam. Dia ikut bersama sahabat-sahabat lain berjuang menegakkan Al-Islam.

Alkisah, setelah Umar bin Khatab menjadi khalifah, kaum Muslimin berhasil mengalahkan Persia. Umar bin Khatab pun mencari gelang Kisra, dan menghadiahkan kepada Suraqah yang menerimanya dengan tangan gemetar dan penuh haru.

Ternyata, Rasulullah sudah meramalkan peristiwa itu. Subhanallah… [Admin].

Gambar diambil dari SINI.

[Ditulis oleh Afifah Afra. Ingin berinteraksi dengan Penulis? Follow akun Twitternya @afifahafra79 dan Like Fanpage AFIFAH AFRA].

j0178762

Aku Menangis Karena Takut Tak Mampu Menjagamu Lagi

 

KISAH INDAH DI PERISTIWA HIJRAH #1

j0178762

Kedua lelaki itu telah sampai pada mulut sebuah gua ketika mereka lihat para pengejar mereka sudah mulai mendekat. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk bersembunyi di dalam gua tersebut. Salah satu dari lelaki itu meminta untuk masuk terlebih dahulu guna membersihkan gua. Dia, Abu Bakar As-Sidiq pun dengan jeli mengawasi setiap sisi di ruangan sempit itu. Begitu terdapat lubang, dia pun menutupnya, khawatir jika dari lubang tersebut keluar binatang-binatang berbahaya. Setelah semua dirasa bersih, Abu Bakar pun mempersilakan sahabatnya yang mulia, Rasulullah SAW untuk masuk.

Mereka berdua berlindung di dalam gua kecil itu, alias Gua Tsur. Rasa tegang menguasai Abu Bakar ketika para pengejar terlihat telah begitu dekat dengan gua. Kaki-kaki mereka bahkan terlihat dari dalam gua. Mereka adalah orang-orang dari Suku Quraisy Paganis yang ingin menghalangi proses hijrah Rasulullah ke Madinah. Satu tujuan mereka: menghabisi Rasulullah SAW.

“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua,” bisik Abu Bakar, cemas. Tidak, Abu Bakar tidak mencemaskan dirinya sendiri. Jika lelaki-lelaki Quraisy yang kejam itu membunuhnya, Abu Bakar siap menghadapi kematian. Tetapi, Abu Bakar mencemaskan nasib Rasulullah SAW.

Namun dengan tersenyum tenang, Rasulullah menghibur sahabatnya terkasih itu. “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam segala kekuasaan, Allah…” ujar Rasulullah, sambil menepuk pelan bahu Abu Bakar.

Allah Maha Kuasa, termasuk Berkuasa untuk membuat para pengejar itu tak mencurigai bahwa di bawah mereka terdapat gua yang menjadi tempat bersembunyi dua orang yang tengah mereka cari. Pelan-pelan, para pengejar itu pun pergi.
Rasulullah SAW, karena begitu letih, akhirnya tertidur di pangkuan Abu Bakar. Lelaki itu membiarkan Rasulullah tertidur pulas, dan berusaha untuk tidak menganggunya. Saat itulah Abu Bakar tersadar, karena masih ada satu lubang yang terbuka di dalam gua. Pelan Abu Bakar mengangkat kakinya, dan menutup lubang tersebut dengan ibu jarinya.

Apa yang terjadi? Seekor ular berbisa mematuk kaki Abu Bakar. Rasa sakit dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh Abu Bakar. Wajahnya pucat pasi, akan tetapi Abu Bakar tak bersuara, takut Rasulullah terbangun. Namun, saking sakitnya, air mata mengucur dari pelupuk matanya. Tak sengaja air mata itu menetes ke Rasulullah, sehingga lelaki itu terbangun.

Rasulullah mengira Abu Bakar ketakutan karena pengejaran orang-orang yang hendak membunuhnya itu. Namun Abu Bakar menggeleng. “Ya Rasulullah, aku tidak pernah takut mati demi membela agama Allah.”

“Lalu apa yang terjadi hingga engkau menangis?” tanya Rasulullah lagi.
“Kakiku telah digigit ular, tubuhku lemas, aku menangis karena takut tidak akan bisa menjagamu lagi,” kata Abu Bakar.

Dengan lembut, Rasulullah pun mengusapkan ludahnya ke luka Abu Bakar. Dan atas izin Allah, luka Abu Bakar pun sembuh, dan rasa sakit itu hilang seketika.
Banyak peristiwa indah terjadi di saat-saat perjalanan Hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah, salah satunya adalah betapa besarnya kecintaan Abu Bakar as Shidiq kepada sahabatnya itu. Semoga kita bisa meneladani semangat para sahabat yang rela memberikan jiwa dan raganya untuk agama, dan Rasulullah tercinta.

Rasululah SAW segera memeriksa telapak kaki Abu Bakar. Setelah melihat adanya bekas gigitan ular, beliau langsung meludahinya.

Ajaib…serta merta rasa sakit di kaki Abu Bakar langsung sirna, hilang serta merta. Tidak lama kemudian Abu Bakar sudah merasa bugar lagi seperti sedia kala.

_________________________

Ditulis oleh Afifah Afra

Silakan follow akun Twitter @afifahafra79 dan Like Fanpage AFIFAH AFRA

11_Islamic_Illustration_11_watermark

Tahun Baru Hijriah, Momentum Untuk Berubah!

11_Islamic_Illustration_11_watermark

Tahun Baru Hijriah telah datang. Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1437!

Inilah saatnya kita memanfaatkan momentum ini untuk melakukan perubahan. Karena tahun baru menjanjikan harapan baru, sekaligus menjadi pengingat, bahwa waktu yang telah berlalu tak akan terulang lagi. Jadi, alangkah baiknya jika kita mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik daripada hari yang kemarin.
Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjadikan momentum tahun baru Hijriah sebagai titik perubahan:

1. Introspeksi
Introspeksi dalam konteks ini artinya melihat, mempertimbangkan dan merenungkan perbuatan kita di masa lampau. Diharapkan, melalui introspeksi ini kita dapat bercermin pada kekhilafan-kekhilafan di masa lalu dan berjanji untuk memperbaikinya. Dengan introspeksi kita juga dapat melihat hal-hal yang memerlukan peningkatan dalam diri kita di masa yang akan datang.
Tekait introspeksi ini, Allah swt berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok; dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

2. Melakukan Perencanaan
Ada baiknya kita menyiapkan rencana-rencana untuk mengisi sebagian besar waktu pada tahun baru ini dengan lebih baik dan bemakna. Perencanaan kita buat berdasarkan hasil introspeksi. Misalnya saja, tahun lalu kita selalu gagal menyisihkan uang belanja untuk ditabung, maka tahun ini, kita bisa memasukkannya dalam daftar rencana, yaitu berusaha semaksimal mungkin agar bisa menabung dari sisa uang belanja.

3. Memasang Target Baru
Tidak perlu memasang target yang terlalu muluk. Karena istiqomah pada hal yang kecil lebih disukai Allah daripada melakukan sesuatu yang positif secara menggebu-gebu pada awalnya, namun kemudian surut bahkan berhenti. Contohnya saja, tahun ini sahabat menargetkan untuk menambah jumlah tilawah, maka konsistenlah dengan target ini dan tingkatkan secara perlahan-lahan.

4. Berdoa Kepada Allah
Memohon terkabulnya doa tak hanya dilakukan di akhir perbuatan, namun lakukanlah bahkan saat sebelum kita memulai. Pintakanlah kepadaNya agar semua yang kita lakukan pada tahun ini demi meraih ridhoNya memperoleh berkah, kemudahan dan kebaikan bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

5. Jalani Dengan Tenang
Mengajak diri menuju perubahan tak perlu dilakukan dengan grasa-grusu. Tetaplah tenang dan nikmati prosesnya dengan rasa syukur dan tekad untuk terus belajar. Seandainya ada target yang belum tercapai, jangan langsung putus asa dan kecewa, tetapi kembalilah ke poin awal yaitu melakukan introspeksi dan merencanakan kiat-kiat baru agar pada masa yang akan datang, target tersebut berhasil kita capai bahkan berhasil pula kita lampaui.

Demikian beberapa kiat yang dapat sahabat lakukan untuk memaknai momentum Tahun baru Hijriah ini. Semoga tahun ini kita menjadi hamba yang lebih baik dan senantiasa berada di bawah tuntunan dan lindungan Allah swt.

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis 14 novel, non fiksi Sayap-sayap Sakinah dan Sayap-sayap Mawaddah.
Admin komunitas Be A Writer Community
Mentor kelas private novel Smart Writer.

FB : Riawani Elyta
twitter : @RiawaniElyta
blog : www.riawanielyta. com
IG : riawani_elyta

j0178066

Kiat Langsing Dengan Terapi Air Putih

j0178066

Memiliki berat badan di atas normal atau mengalami obesitas tentunya tidak menyenangkan ya sahabat. Selain rentan berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, kolesterol, asam urat dan sebagainya, obesitas juga berdampak pada estetika. Tidak ada wanita yang suka disebut gemuk, juga terasa sulit mencari pakaian dengan ukuran yang pas. Tak heran, jika banyak wanita yang rela bersusah payah, menahan rasa lapar hingga mengeluarkan banyak uang agar bisa memiliki berat badan yang normal dan terlihat langsing.

Ada banyak metode ditawarkan untuk mencapai berat badan ideal, namun diantara semua metode itu, salah satu cara yang paling praktis dan nyaris nol biaya, adalah dengan terapi air putih. Sebuah fakta cukup mengejutkan dikemukakan oleh Prof. Yoo Taiwoo, Kepala Klinik Doctor U’s Body Mind and Life training Korea, bahwa kekurangan 1-2% cairan dalam waktu lama dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi kronis tanpa kita menyadarinya. Ini dikarenakan dehidrasi kronis tidak menimbulkan rasa haus berlebihan dan gejala-gejala seperti yang terlihat pada dehidrasi akut, yaitu kondisi di mana seseorang kekurangan cairan mulai dari 3% hingga 11%.

Tetapi, seseorang yang mengalami dehidrasi kronis akan mengalami gejala sulit membedakan rasa haus dan lapar. Ketika tubuh kekurangan air, seharusnya dia merasa haus. Tetapi dia justru merasakan lapar dan mengatasinya dengan makan. Hal ini membuat tubuhnya tetap kekurangan cairan, sementara di sisi lain asupan makanan justru bertambah. Inilah yang membuat seorang penderita dehidrasi kronis cenderung bertambah gemuk.

Oleh karenanya, sahabat yang saat ini mengalami kegemukan, boleh jadi salah satu faktor pemicunya adalah karena mengalami dehidrasi kronis. Dan kondisi ini bisa disembuhkan dengan terapi air putih melalui beberapa tips berikut ini :

1. Cukupi kebutuhan air putih
Meskipun tidak ada angka kecukupan yang pasti, rata-rata ahli medis menyarankan untuk memenuhi kecukupan hidrasi dengan minum air putih minimal dua liter per hari. Jumlah ini wajib ditambah jika kita banyak berkeringat atau sering beraktivitas di luar rumah.

2. Kenali rasa lapar
Saat kita merasa lapar, jangan buru-buru mencari solusinya dengan menyantap makanan. Cobalah tunda sejenak dan rasakan lebih saksama, apakah kita memang benar-benar lapar atau yang sesungguhnya terjadi adalah kita sedang membutuhkan cairan. Bagi sahabat yang mengalami dehidrasi kronis, kondisi ini pada awalnya mungkin sedikit sulit dikenali, tetapi dengan mematuhi poin 1 di atas dan menerapkannya secara rutin, perlahan-lahan sahabat akan lebih mudah mengidentifikasi kondisi tubuh yang tengah memerlukan makanan atau cairan sehingga dapat pula mengatasinya dengan cara yang tepat.

3. Kurangi rasa lapar dengan minum air putih
Menjelang waktu makan besar tiba, misalnya saat makan siang atau makan malam, cobalah terlebih dulu mengonsumsi segelas air putih hangat. Ini akan mengurangi rasa lapar dan keinginan untuk makan berlebihan selain juga membantu kecukupan hidrasi.

4. Konsumsi lebih banyak air putih jika kita seorang tea or coffee lover
Kopi dan teh memiliki sifat diuretik yang dapat menguras cairan tubuh. Kopi dapat mengeluarkan air dari tubuh hingga dua kali lipat dari volume yang diminum, sementara teh 1,5 kali lipatnya. Jadi jika kita minum 100 ml kopi, tubuh akan kehilangan 200 ml air yang dikeluarkan lewat urine. Oleh karenanya, kita sebaiknya minum lebih banyak air putih jika sulit menghilangkan kebiasaan untuk minum teh atau kopi setiap hari.

5. Minum air putih dengan cara yang disukai
Sebagian orang enggan minum air putih karena tidak suka dengan rasanya. Ini bisa disiasati dengan minum air putih sesuai cara yang disukai. Misalnya saja, meminumnya dalam keadaan dingin. Sepanjang tidak mengonsumsinya ketika cuaca tengah panas-panasnya, atau baru habis berolahraga, air putih dingin relatif aman. Hanya saja, mengonsumsinya saat dingin juga tidak boleh berlebihan karena dapat memicu perut kembung dan flu.

Terapi air putih adalah cara praktis yang dapat kita lakukan untuk membantu proses penurunan berat badan, dan proses ini tentu saja tidak dapat berlangsung yang instan. Jika kita menginginkan berat badan ideal secara lebih efektif, tentunya harus didukung dengan mengatur pola makan, memperhatikan jenis dan jumlah asupan, juga berolahraga secara teratur. Namun apa yang lebih penting, dengan mencukupi kebutuhan hidrasi setiap hari, insya Allah tubuh kita akan terhindar dari dehidrasi kronis, kesehatan tubuh akan tetap terjaga dan peningkatan kondisi fisik akan kita rasakan dari waktu ke waktu.

Referensi :
– Taiwoo, Yoo. Menjadi Cantik dalam 2 Minggu dengan Air Putih. Bandung. Penerbit Qanita : 2015.
– www.riawanielyta.com
Penulis :
Riawani Elyta
Penulis 14 novel, non fiksi Sayap-sayap Sakinah dan Sayap-sayap Mawaddah.
Admin komunitas Be A Writer Community
Mentor kelas private novel Smart Writer.
FB : Riawani Elyta
twitter : @RiawaniElyta
blog : www.riawanielyta. com
IG : riawani_elyta

853029

5 Kiat Menghemat Belanja Dapur

F577052853029

Kenaikan harga barang termasuk barang-barang kebutuhan dapur terkadang cukup memusingkan ya sahabat Sakinah. Apalagi jika tidak diimbangi dengan kenaikan uang belanja. Oleh karenanya, mau tidak mau, kita harus pintar-pintar menyiasati uang belanja agar tetap mencukupi biaya hidup khususnya belanja dapur. Mengingat belanja dapur, sangat erat hubungannya dengan kebutuhan pokok sehari-hari yaitu makanan.

Nah, berikut ini terdapat 5 (lima) kiat yang dapat sahabat coba untuk menghemat belanja dapur, yaitu :

1. Berbelanja bahan makanan sekali seminggu
Untuk bahan makanan yang tahan lama seperti ayam, ikan, daging, telur, bumbu kering dan sebagainya, lebih baik membelinya cukup sekali dalam seminggu. Ini mengingat semakin sering kita keluar rumah untuk berbelanja, maka pengeluaran juga akan bertambah besar. Selain untuk biaya transportasi, juga untuk membeli “godaan” saat berbelanja. Misalnya saat bertemu toko pakaian yang baru buka, atau toko yang sedang diskon besar-besaran, atau juga ingin mencoba jajanan baru, dan sebagainya.
Sementara untuk bahan makanan mentah yang tidak tahan lama seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, sahabat dapat membelinya dua atau tiga hari sekali. Pastikan untuk membeli bahan makanan ini dalam keadaan segar sehingga dapat bertahan beberapa hari di dalam kulkas.

2. Siapkan bumbu dasar sendiri
Saat ini, telah banyak yang menjual bumbu racik siap pakai, baik yang dikemas secara instan buatan pabrik maupun yang digiling secara manual dan dijual di pasar tradisional.
Nah, kita juga bisa membuat bumbu dasar sendiri dengan resep dari internet atau buku-buku resep. Umumnya bumbu dasar ini meliputi bumbu dasar merah, putih, kuning dan oranye. Keuntungan membuat bumbu dasar sendiri, selain lebih hemat, juga lebih higienis dan praktis, karena setiap kali memasak, kita cukup mengambilnya sesuai keperluan dan tidak perlu menggiling lagi.

3. Cek isi kulkas sebelum berbelanja
Ini penting kita lakukan sebelum pergi berbelanja. Tujuannya adalah untuk meminimalisir kemungkinan membeli bahan makanan yang sudah ada sehingga dapat mencegah pemborosan. Pengecekan isi kulkas juga dapat dilakukan bersamaan dengan membersihkan dan menata isi kulkas sehingga kulkas kita pun selalu berada dalam keadaan bersih dan rapi.

4. Buat daftar menu untuk seminggu
Membuat daftar menu untuk seminggu dapat membantu sahabat menentukan bumbu dan bahan makanan yang akan dibeli serta mencegah dari kemungkinan membeli bahan atau bumbu secara berlebihan. Cara ini juga dapat mengantisipasi bahan dan bumbu dari tidak terpakai dan membusuk dalam penyimpanan hingga akhirnya dibuang.

5. Kreatif di akhir minggu
Akhir minggu atau akhir bulan seringkali menjadi masa “krisis” bahan makanan dapur. Tetapi, sebaiknya jangan dulu buru-buru membeli makanan di restoran kecuali jika kita memang sudah menganggarkan dana untuk itu. Coba cek lagi isi kulkas sahabat dan padu-padankan bahan makanan yang ada untuk menyajikan hidangan baru. Misalnya saja telur dan tahu dapat sahabat gabungkan untuk dibuat masakan gulai. Bakwan, telur dan sayur sawi dapat dicincang dan dicampur untuk membuat oseng-oseng. Sisa bakso, wortel dan soun dapat dikombinasikan untuk membuat sup campur, dan sebagainya.

Dengan menghemat belanja dapur berdasarkan kiat-kiat sederhana di atas, kenaikan harga barang insya Allah tidak akan membuat kita pusing kepala apalagi sampai mengurangi kepulan asap dapur. Selamat berbelanja dengan hemat 

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis nonfiksi Sayap-sayap Sakinah, Sayap-sayap Mawaddah dan 14 novel.
Mentor kelas menulis online Smart Writer dan admin komunitas Be A Writer.
FB : Riawani Elyta
Twitter : @RiawaniElyta
Blog : www.riawanielyta.com
IG : riawani_elyta

P0315417

HARUSKAH BERCERAI?

P0315417

Suatu hari, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Namun kali ini dia tidak seperti yang saya kenal sebelumnya. Dia sangat banyak berubah, tampak lebih pemurung dan lebih tertutup. Sesekali airmata membasahi pipinya, dengan hati-hati saya bertanya kenapa dan ada apa yang sudah terjadi perlahan dia menceritakan yang sudah terjadi.

Perceraian adalah alasan mengapa dia menjadi seperti ini, semua pasti memaklumi mengapa dia seperti ini tetapi yang sangat disayangkan perceraian terjadi karena dia sendiri yang mengajukannya, namun setelah bercerai dia malah terbelenggu rasa sesal kenapa dengan begitu emosi dan begitu mudah memutuskan untuk berpisah sementara permasalahan belum tertuntaskan. Yang lebih menyakitkan baru saja sebulan palu perceraian diketuk, pasangannya sudah memutuskan untuk menikah lagi.

Lepas dari cerita diatas, sebuah perceraian pasti menimbulkan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi suami istri dan keluarga masing-masing. Apalagi jika perceraian tersebut dipicu oleh permasalahan yang melibatkan keluarga sehingga memasuki gerbang permusuhan keluarga kedua belah pihak. Padahal mungkin permasalahan yang sebenarnya, suami istri tersebut kurang bisa mengeskplor atau mencurahkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Kesibukan diantara mereka, komunikasi yang tak lancar juga campur tangan dari pihak lain. Menyebabkan hubungan mereka semakin rengang, semakin rumit padahal akar cinta masih bersemi di hati masing-masing.

Kasus ini menjadi pelajaran untuk kita, tatkala ketidakharmonisan sedang melanda dalam rumah tangga. Janganlah langsung berfikir untuk bercerai karena mungkin bercerai pun belum tentu menjadi solusi dalam permasalahan ini. Penulis terkadang ngeri dengan beberapa selebritis yang mengomentari tentang perceraiannya, mereka mengatakan jalan cerai membuat kita lebih bisa akur dan berdamai ketimbang masih dalam ikatan suami istri. Hal ini sangat ditakutkan karena pernyataannya bisa menjadi rujukan banyak orang saat rumah tangganya sedang berada dalam permasalahan yang pelik. Semoga rumah tangga yang kita arungi selalu dilandaskan untuk memperoleh cinta Allah SWT agar dalam kondisi darurat pun kita akan selalu berpegang pada ketentuanNya.

Kontributor: Feli Mulyani