8047

6 Trik Agar Anak Melek Finansial

8047

Uang bukan segalanya, namun kekurangan uang bisa menjadi akar permasalahan dan konflik dari banyak hal. Ketika kita dikaruniai anak, secara otomatis kita juga diberi tanggung jawab untuk mengasuh anak tersebut untuk menjadi manusia yang baik. Mendidik anak adalah sebuah proses yang tidak bisa diulang dengan pertaruhan antara kegagalan dan keberhasilan. Salah satu pendidikan yang seyogyanya diberikan kepada anak adalah pendidikan kecerdasan finansial. Tujuan jangka panjang dari pendidikan ini adalah agar anak bisa mengembangkan keterampilan mengelola uang yang mantap dan positif sehingga di kemudian hari anak tidak memiliki ketergantungan finansial terhadap orangtuanya, memperkecil konflik keluarga akibat kekurangan uang, menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap diri dan keluarganya kelak  serta bisa berkontribusi positif sebesar-besarnya untuk kemaslahatan umat lewat sedekah tanpa batas.  Kesuksesan secara materi memang bukanlah tolak ukur keberhasilan seseorang, namun memiliki keluasan rejeki agar bisa berbagi sebanyak mungkin adalah salah satu bentuk  keberhasilan pendidikan terhadap seorang anak.

Tulisan ini akan dibagi dalam beberapa bagian.  Bagian pertama meliputi pengenalan dasar pengelolaan finansial  lewat penerapan uang saku.

UANG SAKU – PENGELOLAAN DASAR UANG

Ketika anak menginjak usia lima atau enam tahun, konsep uang saku sudah bisa diperkenalkan. Umumnya jika anak telah tahu fungsi uang sebagai alat pertukaran dan telah tahu membedakan nilai nominal uang, kita sudah boleh menerapkan pemberian uang saku. Berikut beberapa prinsip yang bisa diterapkan daam pemberian uang saku:

  1. Buat perjanjian antara orang tua dan anak

Sebelum anak menerima uang saku, buat perjanjian dengan anak tentang penggunaan uang saku yang meliputi tiga hal peruntukan ; untuk dibelikan barang atau makanan/minuman (jajan)  yang dibutuhkannya, untuk ditabung dan untuk disedekahkan

Termasuk di sini mendiskusikan besarnya uang saku yang bisa diterima sang anak, waktu pemberian uang saku(harian atau mingguan) dan jumlah uangnya.

  1. Bersikap tegas dan konsisten

Jika sang anak telah menghabiskan uang sakunya sebelum waktunya, tetaplah konsisten untuk tidak memberikan uang tambahan. Jika anak berpikir dia akan memperoleh tambahan uang begitu uang sakunya habis, maka dia tak akan pernah belajar mengelola uang saku.

  1. Jangan mengaitkan uang saku dengan hukuman atau pencapaian/prestasi

Seorang anak memperoleh uang saku karena dia adalah bagian dari keluarga dan tidak ada hubungannya dengan prestasi ataupun perbuatan buruk yang mengakibatkan hukuman baginya.

  1. Menjadikan menabung sebagai bagian dari perjanjian uang saku

Kebiasaan menabung seumur hidup adalah proses yang harus dimulai sedini mungkin. Ajarkan juga bahwa jika sang anak menginginkan uang maka menabung adalah salah satu cara terbaik untuk mencapai hal tersebut. Berikan dompet dan celengan untuk membantunya menyimpan uang. Mulanya sahabat Sakinah bisa mencatatkan jumlah tabungan tersebut di depan anak dan seiring pertambahan usia, anak akan bisa mencatat sendiri jumlah tabungannya. Sebaiknya ajarkan anak anda bersabar untuk menabung pertama kalinya tanpa tergoda keinginan untuk mengambilnya. Misalnya selama tiga bulan, lalu tunjukkan kepadanya jumah tabungannya dan berikan motivasi bahwa jika menabung lebih lama lagi, maka dia bisa memiliki tabungan yang lebih banyak. Tentunya semakin bertambahnya usia, pemahaman tentang penggunaan tabungan untuk hal – hal yang positif juga harus ditanamkan.

  1. Menetapkan persentase pembagian uang saku

Ajari anak kita untuk membagi uang sakunya. Biasanya mengikuti pola yang diterapkan oleh orangtuanya. Misalnya 10% untuk sedekah, 30% untuk tabungan dan sisanya, 60% untuk memenuhi kebutuhan sang anak.

Khusus untuk sedekah, ajak anak memberikan sendiri sedekahnya untuk mengembangkan kebiasaan berbagi sedini mungkin dan mengajarkan nilai spiritual bahwa harta yang abadi adalah sedekah kita. Termasuk di sini menanamkan kebiasaan bersyukur terhadap kelebihan yang diberikan Alah kepada kita. Nilai tambahan dari penanaman nilai ini adalah kecerdasan spiritual, sosial dan intrapersonal yang terasah. Kebiasaan berbagi ini juga bisa dikembangkan dengan mengajari anak misalnya dengan mentraktir atau membelikan hadiah untuk teman atau anggota keluarga yang lain.

  1. Memberikan selamat dan terus memotivasi anak untuk terus menerapkan kebiasaan baik, boleh juga dengan memberikan hadiah kecil misalnya membuatkan makanan kesukaannya atau mengajaknya berjalan-jalan atau mentraktirnya.

Semua hal di atas tentu memerlukan kesabaran dalam menjalankannya. Namun tujuan jangka panjang yang diperoleh dari semua usaha itu tentu akan membuat kita selalu termotivasi untuk memberikan pendidikan finansial terbaik untuk anak-anak kita. Dengan demikian akan membentuk karakter positif pada anak yaitu memiliki kesadaran dan tanggung jawab finansial yang kokoh dan mantap sejak dini.

Sebagian sumber tulisan diambil dari : Buku “ Making Allowance” – Lermitte, Merritt

Penulis: Risa Mutia & Riawani Elyta

Editor: Yeni Mulati Ahmad & Tim SSC

ARTIKEL-ARTIKEL PENDIDIKAN ANAK SILAKAN BACA DI SINI!

keuangan-usaha

6 Kiat Memulai Bisnis di Rumah

keuangan-usahaSuatu hari, seorang kenalan bercerita tentang keinginannya untuk berhenti bekerja dan memulai bisnis di rumah. Alasannya agar bisa mengasuh anak dan punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga.

Tentu, niat untuk bekerja di rumah adalah niat yang baik. Tetapi, ada beberapa hal harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja dan memulai bisnis di rumah. Berikut diantaranya :

  1. Sholat Istikharah

Dalam mengambil keputusan, terutama keputusan penting yang menyangkut prioritas hidup dan keluarga, kita sebaiknya memohon pertolongan Allah agar ditunjukkan pilihan yang terbaik. Caranya adalah dengan melakukan sholat istikarah dan berdoa dengan khusyu. Terkadang, keputusan itu tidak langsung datang seusai sholat, tetapi kita tidak boleh putus asa. Teruslah melakukan sholat dan berdoa dengan khusyu sampai pikiran kita dibukakan dengan petunjuk dariNya.

  1. Persiapan Mental

Saat memutuskan untuk berhenti bekerja, ada banyak perubahan akan kita hadapi. Mulai dari perubahan lingkungan, lingkup pergaulan, sumber penghasilan, termasuk omongan miring orang-orang di sekitar kita yang menyayangkan keputusan tersebut. Oleh karenanya, ada baiknya kita mempersiapkan mental untuk menghadapi semua perubahan yang cukup drastis ini. Jika mental tidak siap, maka sedikit saja muncul hal yang kurang menyenangkan, kita akan mudah merasa kecewa dan menyesali keputusan.

  1. Pengetahuan

Untuk memulai bisnis dibutuhkan perencanaan yang matang dan pengetahuan tentang bisnis itu sendiri. Bisnis bukanlah sulap yang dapat terjadi begitu saja. Melainkan butuh usaha, kerja keras dan strategi. Oleh karenanya, persiapkan diri dengan pengetahuan seputar ilmu bisnis dan prakteknya saat telah memiliki niat untuk berbisnis di rumah.

  1. Riset

Sebelum mulai berbisnis, lakukan riset terlebih dulu terhadap kebutuhan orang-orang di lingkungan kita, sehingga mudah untuk memilih jenis produk yang akan dipasarkan. Sesuaikan juga dengan minat dan hobi kita. Karena melakukan bisnis yang seiring sejalan dengan apa yang kita minati, akan membuat kita merasa bahagia dan nyaman melakukannya.

  1. Finansial

Bisnis adalah sebuah proses yang dinamis dan tidak langsung bertumbuh dalam sekejap. Juga tidak ada yang bisa memastikan bisnis akan berjalan lancar begitu kita memulainya. Tak jarang, bisnis baru menunjukkan perkembangan yang signifikan setelah melalui jangka waktu berbulan-bulan atau bahkan hingga bertahun-tahun. Oleh sebab itu, sebaiknya cek dulu kesiapan finansial kita sebelum banting setir ke dunia bisnis. Minimal, kita masih punya tabungan atau aset pribadi yang cukup untuk biaya kebutuhan dasar selama setahun ke depan saat memutuskan untuk mulai berbisnis. Dengan demikian, jika ternyata bisnis kita tak berjalan sesuai harapan, atau menemui batu sandungan di awal prosesnya, kita tidak akan langsung jatuh kolaps dan kesulitan memikirkan biaya hidup.

  1. Manajemen waktu

Pikirkan juga bagaimana kita akan mengatur waktu jika berbisnis di rumah. Bagaimana membagi waktu untuk mengasuh anak, pekerjaan rumah tangga dan untuk urusan bisnis itu sendiri. Jangan sampai niat kita untuk berbisnis di rumah karena ingin selalu dekat dengan anak justru menjadi bumerang saat kita keteteran membagi waktu.

Berbisnis di rumah adalah sebuah aktivitas yang mengasyikkan dan menghasilkan jika kita mengetahui trik-trik menghadapi dan menjalankannya. Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah swt agar niat baik dan usaha kita senantiasa dipermudah dan rejeki kita pun memperoleh berkah.

Selamat berbisnis di rumah :-)

 

Penulis

Riawani Elyta

akhwat mesir

Lima Adab Dalam Menuntut Ilmu

akhwat mesir

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Bahkan setiap kita akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak, atas apa yang kita perbuat berdasarkan apa yang kita ketahui dan pelajari selama di dunia. Saking pentingnya kedudukan ilmu, hingga perintah pertama yang diturunkan Allah swt, yaitu “Bacalah”. mengandung makna tersirat bahwa setiap kita berkewajiban menuntut ilmu. Semua amal ibadah dan muamalah yang kita lakukan, harus berlandaskan ilmu yang benar. Bukan sekadar ikut-ikutan ataupun faktor kebiasaan orang-orang terdahulu.

Menuntut ilmu juga memiliki adab dan etika, agar ilmu yang kita serap tidak mudah berlalu dari ingatan, juga agar selalu terjaga pada jalan kebaikan. Berikut adalah 5 (lima) adab yang harus kita miliki dalam menuntut ilmu, yaitu :

  1. Menjaga Kebersihan Hati

Dalam menuntut ilmu, kita harus senantiasa menjaga hati agar tetap bersih dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan sebagainya. Ini dikarenakan ilmu adalah ibadahnya hati. Ilmu hanya bisa diserap dan dipahami dengan baik oleh hati yang bersih. Menuntut ilmu juga akan memperoleh berkah jika dilakukan dengan hati yang bersih. Jika seseorang menuntut ilmu dalam kondisi hati yang masih dikotori penyakit dan akhlak yang buruk, maka ilmu yang didapat, boleh jadi akan dimanfaatkannya untuk kepentingan tertentu dan menjurus pada kehancuran.

  1. Mengurangi Keterikatan Hati dengan Dunia

Kesenangan duniawi berpengaruh sangat besar dalam proses pencarian ilmu, karena bisa memalingkan hati dan pikiran dari konsentrasi dalam menuntut ilmu. Sulit bagi kita untuk mencapai pemahaman yang mendalam terhadap ilmu jika hati dan pikiran kita terpecah belah oleh urusan dunia. Oleh karenanya, jika kita ingin serius mendalami ilmu, sudah sepantasnya kita melepaskan sebagian keterikatan terhadap hal-hal duniawi dan memberi lebih banyak ruang bagi pemahaman ilmu di dalam jiwa kita.

  1. Tidak Bersikap Sombong

Dalam menuntut ilmu, kita juga tidak boleh bersikap sombong. Misalnya, hanya mau mencari ilmu dan mempercayai ucapan ulama dan guru yang termasyhur saja. Sebaliknya, kita sebaiknya membuka diri terhadap ilmu yang bermanfaat dan mengandung petunjuk kebenaran dari berbagai sumber. Sebuah kalimat bijak mengatakan, bahwa ilmu enggan mendatangi pemuda yang sombong laksana banjir yang enggan mendatangi tempat-tempat yang tinggi. Ilmu hanya bisa diraih dengan sikap tawadu dan khusyu’, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Qaf ayat 37 yang artinya :

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

Orang yang mempunyai hati pada ayat di atas mengandung makna orang yang menerima ilmu dengan sepenuh pemahaman. Ini tentunya harus diiringi dengan proses mendengar dan melihat secara fokus, serta menghadirkan hati dalam kondisi tawadu dan penuh rasa syukur agar ilmu yang dipelajari dapat diterima dengan baik dan bernilai keberkahan.

  1. Memiliki Skala Prioritas

Kemampuan yang terbatas begitupun keterbatasan usia kita membuat tak semua disiplin ilmu bisa kita pelajari dan kuasai. Oleh karenanya, kita harus memiliki skala prioritas dalam menuntut ilmu. Kita disarankan untuk mengambil intisari terbaik dari ilmu-ilmu yang ada dan mencurahkan perhatian pada ilmu yang mudah dipelajari lalu secara bertahap mempelajari ilmu pada tingkatan yang lebih tinggi.

Adapun ilmu yang harus kita jadikan prioritas adalah ilmu yang dapat meningkatkan keimanan dan rasa cinta kita kepada Allah swt, bukan sekadar ilmu yang berkembang dalam retorika dan perdebatan para ahli ilmu yang jika tidak dipahami dengan baik, justru bisa membawa kita pada perselisihan dan perpecahan.

  1. Memiliki Tujuan yang Baik

Seorang penuntut ilmu hendaknya meniatkan proses belajarnya dalam rangka memperindah batinnya demi mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang menuntut ilmu di jalan Allah samalah kedudukannya dengan para mujahid. Oleh karenanya, menuntut ilmu tidak boleh dilandasi oleh keinginan demi meraih kekuasaan, pangkat, popularitas, harta ataupun untuk menipu orang-orang yang kurang berilmu. Menuntut ilmu dengan tujuan yang tidak baik, hanya akan menggiring pelakunya pada kehancuran, sebaliknya, ilmu yang diniatkan untuk mencari ridho Allah akan mengangkat derajat pelakunya di sisi Allah, sebagaimana firmanNya dalam surat Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Semoga kita semua menjadi hamba Allah yang tak pernah berhenti menuntut ilmu, dan meniatkan proses kita dalam pencarian ilmu semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keridhoanNya.

Referensi : Hawwa, Said. Tazkiyatun Nafs. Solo : 2014. Era Adicitra Intermedia.

Penulis: Riawani Elyta

850085

MEMAHAT PESONA SEORANG MUSLIMAH

850085

Sebelum kedatangan Islam bersama tuntunannya yang membawa rahmat bagi seisi alam (rahmatal lil ‘alamin), kedudukan seorang wanita sangatlah rendah bahkan hina. Memang, terdapat beberapa wanita non muslim yang mendapatkan posisi tinggi seperti Cleopatra, Ratu Seba dan permaisuri Orchid, permaisuri terakhir kekaisaran negeri China. Sayangnya jumlah mereka teramat sedikit, dan memerlukan perjuangan luar biasa untuk mencapai posisi tersebut. Dan meskipun sejarah kehidupan mereka banyak yang berakhir tragis, namun tinta sejarah tetap mencatat mereka sebagai wanita-wanita yang hebat pada masanya.

Kehadiran Islam telah mengangkat derajat kaum wanita, di mana para muslimah juga memiliki peluang yang sama dengan kaum pria untuk melakukan amal ibadah untuk mencapai ridha dan cinta Allah SWT.

Sayangnya, kemajuan peradaban tak sekonyong-konyong membuat wanita mendapatkan posisi istimewa sebagaimana Islam telah mengaturnya. Segudang problematika harus dihadapi kaum wanita dalam balutan sistem yang jauh dari nilai-nilai Islam sehingga membuat banyak wanita terdampar dalam kehinaan yang kadangkala juga diakibatkan oleh kebodohan mereka sendiri.

Untungnya, Islam telah memberi tuntunan kepada muslimah agar terhindar dari kehinaan walaupun harus hidup dalam sistem yang tak kondusif terhadap perkembangan Islam. Jawabannya secara sederhana namun kompleks termaktub dalam tiga poin besar, yakni Cantik, Cerdas dan Sholehah. Kecantikan yang dimaksud adalah kecantikan luar dan dalam.

Kecantikan itu terpancar dari dalam diri melalui pribadi dan sikap yang menarik. Berikut uraian singkatnya :
 Jadikanlah Ghadhul Basyar (menundukkan pandangan) sebagai hiasan kedua mata, maka mata akan semakin bening dan jernih
 Oleskan lipstik kejujuran pada bibir maka ucapan yang terlahir dari bibir akan semakin manis
 Gunakan pemerah pipi berupa rasa malu
 Pakailah sabun istigfar untuk membersihkan dosa dan kesalahan
 Rawatlah rambut dengan jilbab Islami yang akan melindungi dari pandangan kaum pria
 Pakailah giwang kesopanan pada kedua telinga
 Hiasilah kedua tangan dengan gelang tawadhu, jari dengan cincin ukhuwah dan leher dengan kalung kesucian
 Bedakilah wajah dengan air wudhu yang kelak akan bercahaya di akhirat

Untuk mendapatkan kecantikan luar tentunya sahabat Sakinah harus menerapkan pola hidup sehat, sadar gizi, makan dengan teratur, berolahraga, menjaga kebersihan diri, pakaian dan lingkungan, cukup istirahat serta melakukan perawatan rutin yang tentunya tidak harus mahal dengan kosmetika yang halal dan aman. Penting dicatat bahwa fisik yang menarik bukanlah untuk menarik perhatian laki-laki yang bukan mahram melainkan untuk membuat Allah semakin menyayangi kita karena Allah menyukai keindahan dan kebersihan. Tentunya untuk itu semua diperlukan kesabaran, kerja keras dan disiplin serta selalu ingat bahwa kita adalah cerminan dari ajaran yang kita anut, sehingga wajib bagi kita untuk tampil sesuai aturan yang telah digariskan oleh Islam.

Hal selanjutnya yang wajib dimiliki seorang muslimah adalah kecerdasan. Kecerdasan diperoleh dengan menuntut ilmu secara sungguh-sungguh. Untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, DR. Ali Al Qohthoni memaparkan caranya sebagai berikut :

 Berdoa kepada Allah agar diberi ilmu yang bermanfaat
 Bersungguh-sungguh dan berkeinginan keras dalam mencari ilmu dan mengharapkan ridha Allah terutama dalam mengkaji kitab Al Quran dan Sunnah.
 Menjauhi maksiat dengan bertakwa kepada Allah SWT
 Tidak sombong dan tidak malas menuntut ilmu
 Ikhlas karena Allah SWT
 Mengamalkan ilmu secara terus-menerus

Selanjutnya muslimah itu haruslah sholehah. Dalam surah An Nisa ayat 34, Allah berfirman yang artinya. “Wanita sholehah ialah qonitat (yang taat kepada Allah) serta hafizhat (memelihara diri) oleh karena Allah telah memelihara mereka.”

Kesholehan lekat dengan makna ketaatan seperti yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul. Sedangkan memelihara diri dalam makna luas termasuk memelihara keluarga dan amanah yang diberikan karena kelak semua amanah tersebut harus kita pertanggungjawabkan di pengadilan Allah.

Untuk memenuhi kriteria muslimah sebagaimana yang telah diatur dalam Islam, seorang muslimah harus berusaha tanpa henti memahat pesona dirinya dengan meningkatkan kualitas untuk tujuan meraih ridha dan cinta Allah. Dengan mengetahui hakikat penciptaan diri dan tujuan penciptaan kita disertai usaha-usaha untuk terus hidup dengan tuntunan Islam yang syamil mutakamil, utuh menyeluruh dan sempurna, maka kita akan terhindar dari kehinaan duniawi dan akan mendapatkan tempat yang istimewa sebagaimana keistimewaan yang diberikan dalam tujuan penciptaan kita. Oleh karenanya, marilah bersama-sama kita berusaha meningkatkan kualitas diri meliputi kecerdasan, kecantikan hakiki dan menjadikan diri kita sebagai wanita sholehah yang merupakan sebaik-baik perhiasan dunia.

Sumber: sebagian tulisan ini diambil dari Agenda Muslimah
Penulis
Risa Mutia
Riawani Elyta

Editor: Afifah Afra

roti goreng

Resep Roti Goreng 2 in 1, Enaaak!

roti goreng

Musim hujan… malas beli jajanan, tapi diam di rumah perut malah kriut-kriut.

Bagaimana kalau kita bikin camilan yang pas sekali untuk dinikmati musim hujan begini. Dan dari satu resep ini, Sahabat Sakinah bisa menghasilkan 2 macam makanan ringan lho.

Yuk simak resepnya berikut ini!

 

 

Bahan :

300 gr tepung terigu cakra

200 gr tepung terigu segitiga

100 gr gula pasir

5 gr ragi instant

2 kuning telur

200 ml air es

100 gr margarine

1 sdt baking powder

Minyak goreng

 

Bahan Isi:

Abon

Muisjes cokelat

 

Cara Membuat:

  1. Campur tepung, gula, fermipan, baking powder, aduk rata.
  2. Masukkan telur dan air sambil diuleni perlahan-lahan
  3. Ketika adonan sudah tercampur rata, tambahkan margarine, uleni sampai kalis dan adonan tidak lengket di tangan
  4. Istirahatkan adonan selama kira-kira 30 menit atau mengembang dua kali
  5. Timbang adonan @30 gram, isi dengan bahan isi dan bulatkan. Jika mengisinya dengan abon, bentuk adonan seperti pastel. Jika mengisinya dengan cokelat, bentuk bulat adonan
  6. Biarkan kira-kira 1 jam sampai mengembang sekali lagi
  7. Goreng dengan minyak banyak dan panas sedang
  8. Hidangkan hangat-hangat

 

Untuk 30 buah

 

Penulis

Riawani Elyta

Do'a Orang Tua

Jangan Jadi Orang Tua Durhaka!

Do'a Orang TuaSuatu hari, saya membaca tulisan di sebuah blog yang bunyinya kira-kira begini :

Selama ini kita tahu bahwa Malin Kundang adalah anak durhaka, bagaimana kalau ternyata ada hal lain yang tidak kita ketahui, atau jika seandainya kedurhakaan Malin Kundang sebenarnya adalah disebabkan perbuatan orang tuanya?

Tulisan ini menyiratkan bahwa tak hanya anak-anak yang bisa menjadi durhaka, tetapi orang tua juga bisa menjadi orang tua yang “durhaka” jika mengabaikan hak dan kewajiban kepada anak-anaknya. Padahal, setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban di yaumul akhir kelak, termasuk pertanggungjawaban kita dalam memenuhi hak dan menjalankan kewajiban kita terhadap anak-anak.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).

Berikut adalah beberapa kewajiban yang harus kita lakukan sebagai orang tua terhadap anak-anak kita:

1. Memberi Nama yang Baik
Nama adalah salah satu tempat kita menitipkan doa. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk memberi nama yang baik kepada anak-anaknya, dengan harapan, sang anak akan memiliki akhlak dan budi pekerti seindah namanya.
Dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari qiyamat dengan namamu dan nama ayahmu, maka baguskanlah nama kalian”. [HR. Abu Dawud]

2. Menyusui
Menjadi kewajiban seorang ibu untuk menyusui anaknya sejak baru dilahirkan hingga usianya genap dua tahun. Air susu ibu adalah makanan pertama terbaik untuk bayi yang dapat meningkatkan imunitas juga mempererat ikatan antara sang anak dengan ibunya.
Kewajiban menyusui ini juga tertera di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 233 yang artinya:
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 233).

3. Memberi Nafkah
Di dalam surat Al Baqarah di atas juga tersirat kewajiban sang ayah, yaitu memberi nafkah kepada keluarganya. Sudah menjadi tanggung jawab ayah selaku kepala keluarga untuk mencukupi kebutuhan keluarganya termasuk anak-anaknya. Bahkan bagi seorang kepala keluarga, nafkah yang diberikan kepada keluarganya lebih besar nilainya dibandingkan uang yang diberikan kepada fakir miskin ataupun untuk memerdekakan budak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Satu dinar kamu infaqkan fii sabiilillah, satu dinar kamu pergunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya ialah yang kamu belanjakan untuk keluargamu”. [HR. Muslim]

4. Menyuruh Anak-anak Mendirikan Sholat
Sholat adalah tiang agama. Oleh karenanya, perintah sholat harus diajarkan dan ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya sedini mungkin. Terkait kewajiban akan perintah sholat ini, Allah swt berfirman yang artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kamilah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa.” [QS. Thaahaa : 132].

Selain itu, orang tua juga berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan pengetahuan agama yang baik dan benar, serta akhlak dan budi pekerti mulia. Orang tua hendaknya menjadi madrasah pertama bagi anak-anak dalam rangka mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi islam yang beraqidah kokoh dan bertakwa.

5. Mencarikan Jodoh Saat Anak Dewasa
Pernikahan adalah penyempurna separuh agama. Bagi orang tua yang telah memiliki anak yang sudah dewasa, sudah selayaknya mencarikan jodoh yang baik untuk anak-anaknya, dengan harapan, sang anak kelak dapat membangun rumah tangga yang samara dan meneruskan amanah untuk mendidik generasi yang berkualitas.

Allah swt berfirman: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. An-Nuur : 32]

6. Mendoakan Anak-Anaknya
Terakhir, orang tua wajib mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya. Boleh jadi di masa kecilnya seorang anak berperilaku bandel dan tidak penurut, tetapi berkat doa orang tua dan tidak putus asa dalam mendidik anak-anak, insya Allah kelak sang anak akan berubah menjadi anak yang sholeh dan penyejuk hati untuk keluarga.
Ini adalah salah satu doa bermohon kebaikan bagi keluarga:

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama…

 

Artinya: Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Furqaan : 74]
Referensi :

http://salampathokan.blogspot.com

http://muslim.or.id

https://www.islampos.com

Penulis
Riawani Elyta

SSS 350x350 px

Pengumuman Lomba Menulis Resensi Seri Sayap Sakinah 2015

Sayap Mawaddah_promoAssalamu’alaikum…

Hai, Sobat Sakinah… semoga kabar Sobat senantiasa dalam naungan rahmat, hidayah dan berkah dari Allah SWT. 

Alhamdulillah, setelah menyeleksi sekitar 40 naskah yang masuk ke panitia Lomba Menulis Resensi Seri Sayap Sakinah, tim juri yang terdiri dari:

Afifah Afra

Riawani Elyta

Tim Redaksi Indiva Media Kreasi

Telah memutuskan pemenang lomba tersebut sebagai berikut:

Juara 1: Koko Nata Kusuma
Juara 2: Eni Lestari
Juara 3: Ria Mustika Fasha

Juara Harapan1: Teguh Wibowo
Juara Harapan2: Sri Darmawati
Juara Harapan 3: Hari Setiawan

Selanjutnya, mohon kepada para pemenang untuk mengirimkan:

a. Alamat lengkap dan nomor HP yang bisa dihubungi

b. Nomor rekening

Ke email sayapsakinah@gmail.com untuk pengiriman hadiahnya.

Selamat untuk para pemenang!

Wa’alaikumussalam

Catatan: Tim Sayap Sakinah akan memuat resensi pemenang di web ini secara berurutan.

Sultan-Salahuddin-MosqueV2

Kiat Membangun Spiritualitas di Era Digital

Sultan-Salahuddin-MosqueV2

 

Di tengah beragam informasi berita yang berseliweran di dunia maya termasuk sosial media, ada fenomena positif yang menarik untuk dicermati. Yaitu semangat pencerahan yang diwujudkan lewat share kultwit ceramah agama, kutipan kalimat-kalimat motivasi, juga tanya jawab yang berlangsung di twitter antara sang penceramah atau motivator dengan para followers-nya.

Sosial media Facebook pun tak ketinggalan turut meramaikan. Media yang kian variatif ini turut menjadi sarana para motivator dan pendakwah untuk membagikan ceramah singkat, kiat-kiat ibadah dan muamalah, nasehat-nasehat spiritual, dan belakangan, video-video kisah inspiratif pun turut menghiasi sosial media dan menjadi favorit para Facebookers untuk turut membagikannya di dinding akun mereka. Tak jarang, satu video mencapai angka hingga ratusan ribu kali dibagikan.

Di satu sisi, fenomena ini membawa angin segar dan seakan menjadi oase penyejuk di antara status dan linimasa yang menayangkan kabar hoax, mengadu domba, tendensius, mengintimidasi ataupun nyinyir tanpa tujuan. Bagi para pengakses sosial media, fenomena positif tersebut tentunya diharapkan dapat menjadi pengingat dan penggugah mereka untuk menjadi lebih baik dan turut serta dalam menyebarkan kebaikan.

Namun di lain sisi, kita tetap tak boleh mengabaikan pentingnya proses pemahaman dan pembelajaran dengan lebih mendalam. Proses yang hanya bisa dilakukan melalui aktivitas membaca, menganalisa, berdiskusi, menghadiri majelis taklim dan majelis ilmu, dan tentu saja mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang kita dapatkan melalui sosial media, sifatnya hanya sebagai pengingat, pembawa informasi, mengajak pada perenungan atau juga peringatan di tengah kesibukan yang terkadang membuat kita lalai. Namun untuk mengubah kondisi spiritual, pemahaman dan kesadaran menjadi lebih baik, tidak cukup hanya dilakukan dengan membaca dan membagikan hal-hal inspiratif yang bertebaran di sosial media.

Sedikit kekhawatiran mengemuka, bahwa para pengguna akun sosial media telah merasa cukup dengan apa yang mereka peroleh dari linimasa, status inspiratif di facebook, atau pencerahan sesaat dari video kisah-kisah inspiratif tersebut, padahal saat mereka meninggalkan layar gadget, semua pencerahan itupun dengan cepat akan terlupakan dari ingatan. Sehingga jika tak bijak dalam menyikapi, penyebaran ilmu dan informasi di era digital ini justru dapat mengarah pada pendangkalan. Ilmu yang dihadirkan dengan cara praktis dan instan, membuat fungsinya pun mengalami pendangkalan dengan hanya bergerak pada tataran informasi dan pengingat.

Oleh karenanya, beberapa hal perlu tetap kita lakukan agar penyebaran  ilmu dan pencerahan di era digital ini tidak memupus proses pendalaman ilmu yang sudah sepantasnya kita lakukan. Berikut diantaranya :

  1. Rutin membaca Al-Quran dan maknanya. Al-Quran merupakan sumber segala ilmu pengetahuan dan penyejuk hati yang paling mujarab. Rutinitas membaca Al-Quran akan mendorong kita untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang haq dan lurus serta terhindar dari mengalami kebingungan akibat perselisihan dan perbedaan pendapat yang disebarkan lewat sosial media. Membaca Al-Quran juga akan menjadi pengobat hati dan pelipur lara yang paling ampuh serta tak akan tergantikan dengan mengadukan persoalan di sosial media.
  2. Informasi yang diperoleh melalui dunia maya dan sosial media hendaknya menjadi pendorong untuk mencari tahu lebih jauh terhadap ilmu, juga makna dan hikmah dibaliknya. Misalnya saja, saat menonton video tentang poligami, kita sebaiknya tak hanya sekadar berhenti pada pemahaman terhadap apa yang ditayangkan lewat video, tetapi juga mencari dan mempelajari lebih jauh tentang aturan poligami di dalam Islam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan secara tak sadar membiarkan opini kita ikut tergiring untuk memojokkan Islam dari “pintu” poligami.
  3. Meluangkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu dan majelis taklim agar lebih berpeluang menyerap ilmu secara mendalam dan saling bertukar pikiran. Kalaupun sulit meluangkan waktu, setidaknya kita tetap berusaha mencari kesempatan untuk mendengarkan ceramah di televisi ataupun radio untuk memperoleh penjelasan yang lebih detail terhadap pembahasan ilmu keagamaan.
  4. Membaca buku-buku agama dan buku referensi. Aktivitas membaca mulai banyak ditinggalkan di era digital ini sebagai dampak eksplorasi dan pengemasan informasi secara lebih praktis dan menarik melalui sosial media dan dunia maya pada umumnya. Padahal, membaca buku tetap kita perlukan untuk menambah wawasan, menggiring pada pemikiran, perenungan dan analisa yang lebih kritis juga mendalam terhadap ilmu dan informasi serta memberikan kesan yang lebih berarti. Membaca buku, adalah salah satu upaya efektif untuk menyelamatkan kita dari mengalami pendangkalan dan merasa cukup dengan apa yang diperoleh dari sekadar status di sosial media ataupun artikel-artikel singkat di situs-situs dunia maya.
  5. Melakukan perjalanan dalam rangka mentadabburi alam ciptaan Allah, seperti menunaikan umrah, melakukan pendakian, mengunjungi destinasi wisata yang masih mempertahankan sisi natural alam dan lingkungan, dan sebagainya dalam rangka meningkatkan upaya kontemplasi kita terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah. Melakukan perjalanan juga akan memberi kita pengalaman spiritual yang tak bisa kita dapatkan hanya dengan berselancar di dunia maya.

 

Demikianlah diantara upaya-upaya yang semestinya tetap kita pertahankan di era digital, agar modernisasi tak lantas melemahkan semangat spiritualisme kita untuk memperdalam ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan pengabdian dan ketaatan kita kepada Allah swt. Wallahu alam bish shawab.

 

Penulis,

Riawani Elyta

pempek lenjer

Lezatnya Pempek, Yuk Bikin Sendiri!

pempek lenjerSiapa sahabat Sakinah yang doyan makan pempek? Sesekali kita bikin sendiri yuk! Bagaimana caranya? Simak resepnya ya…

Bahan-bahan/bumbu-bumbu :

400 gram daging ikan tenggiri dihaluskan

350 gram tepung sagu

1/2 sendok makan garam

1 bungkus kaldu instan (jika suka)

1000 ml air untuk merebus

minyak untuk menggoreng
Bahan Bubur Tepung:

50 gram tepung terigu protein sedang

400 ml air

4 siung bawang putih parut
Bahan Kuah Cuko:

50 gram asam jawa

250 gram gula merah disisir halus

1.000 ml air

1 sendok teh garam
Bumbu Halus Cuko:

10 siung bawang putih

1 sendok makan ebi seduh

 

Cara Membuat :

  1. Rebus bahan bubur tepung sambil diaduk sampai meletup-letup. Angkat dan dinginkan.
  2. Uleni daging tenggiri sampai kalis. Tambahkan bubur tepung, garam, dan kaldu instan. Uleni sampai kalis.
  3. Masukkan tepung sagu sedikit-sedikit sambil diaduk rata. Bentuk bulat atau lonjong
  4. Rebus dalam air mendidih sampai terapung.
  5. Kuah cuko : rebus bahan cuko sampai larut. Saring. Tambahkan bumbu halus cuko. Masak sampai mendidih.
  6. Goreng pempek dalam minyak yang sudah dipanaskan sampai matang.
  7. Hidangkan pempek bersama kuah cuko. Bisa ditambah irisan timun dan soun bila suka.

Selamat mencoba :-)

Penulis :

Riawani Elytapempek lenjer

 

hujan

Bagaimana Cara Shalat Istisqo?

hujanAkhir-akhir ini Sobat Sakinah mungkin sering mendengar kata “Shalat istisqo”. Ya, seruan untuk melaksanakan shalat istisqo kita dengar di mana-mana, dan sangat baik jika kita mengikuti shalat tersebut. Maklum saja, kemarau panjang akibat efek El-Nino, ditambah dengan berbagai perilaku teledor sebagian dari pengusaha perkebunan, telah membuat Indonesia mengalami darurat asap dari kebakaran hutan yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mematikan api, namun ternyat sulit sekali. Maka, hujan menjadi harapan satu-satunya agar kebakaran tersebut padam dan udara normal kembali.
Apa itu istisqo? Secara bahasa artinya meminta air (maksudnya air minum). Sedangkan secara istilah, istisqo berarti memohon (kepada Allah SWT), agar diturunkannya as-saqo, alias hujan di sebuah tempat, dengan tata cara dan aturan yang sesuai dengan tuntutan Rasulullah. Menurut mayoritas ulama, shalat istisqo dihukumi sunnah muakkadah, alias sangat dianjurkan, khususnya ketika kemarau benar-benar telah menciptakan kekeringan di mana-mana. Rasulullah saw. dan juga para sahabat pernah melakukan shalat istisqo saat musibah kekeringan menimpa negeri mereka saat itu.

Dalil dari shalat ini adalah berasal dari hadits dari Aisyah r.a. yang artinya sebagai berikut:

“Orang-orang mengadu kepada Rasulullah saw. tentang musim kemarau yang panjang. Kemudian beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan.
Aisyah berkata, ‘Rasulullah saw. keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau saw. bertakbir dan memuji Allah Azza wa Jalla, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian.’
Kemudian beliau mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. (QS. Al-Fatihah: 2-4). Laa ilaha illallahu yaf’alu maa yuriid. allahumma antallahu laa ilaha illa antal ghaniyyu wa nahnul fuqara’. Anzil alainal ghaitsa waj’al maa anzalta lanaa quwwatan wa balaghan ilaa hiin (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan).’
Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: ‘Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya.’” (HR. Abu Daud no.1173).

Bagaimana Pelaksanaannya?
Shalat istisqo dianjurkan dilakukan di lapangan, waktunya bebas, kecuali waktu-waktu yang memang dilarang untuk shalat, dan khususnya tentu saat terjadi kekeringan. Sebagian besar ulama menyebutkan bahwa tatacaranya mirip dengan shalat Id, yaitu dua rakaat, dengan takbir rakaat pertama tujuh kali dan rakaat kedua bertakbir lima kali, serta terdapat khutbah sesudah shalat, tanpa didahului dengan adzan dan iqomah.

Sangat dianjurkan agar shalat istisqo ini dilakukan dengan penuh ketundukan (tawadhu), rendah hati, dan jauh dari kesombongan. Ini sebagaimana hadits nabi yang artinya “Rasulullah saw. berjalan menuju tempat shalat dengan penuh ketundukan, tawadhu’, dan kerendahan hati hingga tiba di tempat shalat. Lalu beliau berkhutbah tidak sebagaimana biasanya, melainkan beliau tidak henti-hentinya berdoa, merendah, bertakbir dan melaksanakan shalat dua raka’at sebagaimana beliau melakukan shalat ‘id.” (HR. Tirmidzi no.558, ia berkata: “Hadits hasan shahih”).

Ya, dalam keadaan kekeringan yang melanda, kebakaran hutan yang terus menerus, dan musibah asap yang menimpa jutaan manusia, tentu kita memang harus benar-benar instrospeksi. Maksiat apa yang telah kita buat; kesalahan, kezaliman, perilaku buruk apa yang telah kita toreh… semua harus kita musabahahi dengan penuh ketundukan. Tiada daya dan kekuatan, dan tiada sebaik-baik penolong, kecuali Allah Azza wa Jalla. [ADMIN].

Ditulis oleh Afifah Afra. Dari berbagai sumber.

Sumber gambar dari sini.