emosi

Mengendalikan Marah…

Saat kemarahan melanda tak jarang kita membanting barang-barang, memukul dan menyiksa anak-anak atau membentak pasangan terkadang mereka belum tentu bersalah. Hasil dari kemarahan yang  tak bisa dikendalikan adalah kerusakan pada diri sendiri, kerusakan pada anak-anak  atau pasangan serta pada barang-barang yang dijadikan sasaran kemarahan.

emosi

sumber gambar dari sini

Masih ingatkah kasus Ari Hanggara tahun 80anyang mengemparkan masyarakat Indonesia. Arie adalah seorang anak berusia tujuh tahun yang mendapatkan penyiksaan dari ayah kandung dan ibu tirinya. Hanya gara-gara Arie di cap nakal oleh mereka, kemarahan pun tak bisa dikendalikan, mereka menjadi gelap mata. Mereka terus saja menyiksa, memukul dan tidak memberinya makan dan minum hingga tewas. Kasus 30 tahun yang lalu, namun kini makin banyak lagi kasus yang ‘serupa’ yang intinya para pelaku tega menghajar korbannya hingga meninggal hanya gara-gara rasa marah.

Penelitian Dave Meier mengungkapkan bahwa otak manusia terdiri dari tiga susunan, yakni otak reptil berefungsi mengatur sistem otomatisasi tubuh dan pertahanan atau menghindar, sistem limbik (otak mamalia)berfungsi mengarahkan emosi dan otak neokorteks berfungsi untuk berfikir positif. Jika seseorang marah maka  Otak reftil lah yang bereaksi maka tubuh akan mirip seperti reptil yaitu membentak, membanting dan memukul tanpa berfikir akibat dari segala perbuatannya. Makanya sedapat mungkin otak neokorteks atau otak berfikirlah yang harus diaktifkan dengan cara merangsang emosi-emosi positif. Agar jika pun seseorang itu marah, maka marahnya tidak dilampiaskan dengan serta merta tetapi rasa marah akan hilang dengan sendirinya dengan dikendalikan, dengan cara melakukan relaksasi atau seperti yang diajurkan Rasulullah SAW, jika sedang marah maka bersabarlah, diamlah, tahan kemarahan. Jika sedang berdiri duduklah, jika masih marah maka berwudhulah.

Manusia memang dianugerahi nafsu, salah satunya nafsu marah namun hanya sebagian saja yang bisa mengendalikan nafsu marah tersebut.Aristoteles, seorang filsuf Yunani dalam The Nicomachean Ethics (350M)mengatakan “Siapa pun bisa marah, marah itu mudah. Namun marah kepada orang yang tepat dengan kadar sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah”. (fm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>