Mendidik Anak Tanpa Marah-Marah, mungkinkah?

2075

2075

Salah satu tantangan berat bagi orang tua, adalah bagaimana mendidik anak-anak di rumah dalam suasana yang selalu kondusif, tenang dan bebas acara marah-marah. Bagi orang tua yang berkarakter lembut dan tak gampang emosi, ataupun memiliki anak yang anteng dan penurut, mungkin hal ini tidak terlalu sulit untuk diwujudkan. Tetapi, yang lebih sering terjadi adalah hal sebaliknya. Orang tua yang mudah tersulut emosi atas kelakuan anak ditambah faktor lelah bekerja, pikiran mumet oleh persoalan, harapannya terhadap si anak tidak tercapai, dan sebagainya, sementara si anak cenderung suka membantah, kritis bahkan melawan.

Nah, jika kita termasuk dalam kategori kondisi yang kedua, bagaimana caranya supaya kita dapat memperbaiki keadaan dan tidak lagi melibatkan emosi (kemarahan) yang berlebihan saat mendidik anak-anak? Berikut beberapa kiatnya :

1. Menjaga diri untuk tetap tenang
Emosi atau kemarahan gampang tersulut jika diri kita sedang berada dalam kondisi negatif. Oleh karenanya, tenangkan diri terlebih dahulu sebelum menghadapi anak-anak. Kalau perlu tarik napas dalam-dalam dan istigfar di dalam hati, minta pertolongan Allah agar kita lebih mampu menahan diri dari telanjur melampiaskan kemarahan. Jika ada persoalan yang membebani pikiran, atau raga kita sedang kelelahan, ambil waktu bagi diri sendiri untuk mengatasi hal tersebut sampai kita siap menghadapi anak-anak dalam kondisi tenang.

2. Belajar untuk sabar dan ikhlas
Boleh jadi ini adalah poin terberat. Bukan hal mudah untuk menumbuhkan kesabaran yang optimal dan menjaga hati tetap ikhlas dalam kondisi dan situasi apapun. Namun ini jugalah yang menjadi penangkal paling manjur untuk meredam kemarahan. Dan untuk meraih keduanya, cara yang paling tepat adalah dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah, melakukan hal-hal yang diridhoiNya dan menjaga diri dari melakukan apa yang dilarang. Maka yakinlah, Allah juga akan mempermudah kita untuk membangun kesabaran dan keikhlasan kita termasuk dalam menghadapi dan mendidik anak-anak.
3. Tataplah mata anak-anak kita
Saat sang anak membantah atau melawan, dan kemarahan kita pun tersulut karenanya, cobalah sejenak menatap mata mereka. Dan biarkan mereka membalas tatapan kita atau sebaliknya akan menunduk atau memalingkan pandangan. Dalam apapun kondisinya, percayalah, mata anak-anak tetap akan menunjukkan sisi kebeningan hati, kepolosan dan rasa sayangnya kepada kita. Dan dengan menatapnya, perlahan-lahan emosi kita juga akan terkikis dan kitapun menyadari bahwa kemarahan bukanlah reaksi yang tepat terhadap perbuatan mereka. Jika perlu, barengi dengan senyum. Karena senyum juga membawa efek positif terhadap suasana hati, baik hati kita sendiri maupun orang yang kita hadapi.

4. Sampaikan isi hati kita
Jika anak-anak sudah memasuki usia sekolah, pra remaja atau remaja, jangan sungkan untuk mengatakan apa yang kita inginkan dan apa yang membuat kita marah, tentunya dengan penyampaian yang jelas serta tidak menggunakan kata-kata kasar atau mengintimidasi. Karena terkadang, anak-anak justru tidak mengerti bahwa perbuatan mereka sudah memancing kemarahan orang tua.

Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Maka sudah semestinya kita menjaga mereka sesuai perintah Allah dan menanamkan rasa cinta serta ketaatan mereka kepada Allah. Dan dalam melakukan tugas serta tanggung jawab tersebut, hendaklah kita melandasinya dengan rasa cinta pula kepada Allah dan semata-mata mengharapkan ridhoNya. Insya Allah, segala hambatan dan kesulitan akan lebih mudah kita hadapi dengan pertolongan Allah.

Penulis,
Riawani Elyta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *