pend-karakter

MEMUTUS MATA RANTAI KEKERASAN DI SEKOLAH

pend-karakter

Sumber gambar dari sini

Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh peristiwa meninggalnya, seorang siswa SMP yang diduga mengalami kelelahan saat mengikuti kegiatan MOS. Yang paling disesalkan kasus begini sebenarnya bukan kali ini saja terjadi, namun mengapa tak pernah bercermin dari kejadian masalalu. Padahal MENDIKBUD sudah ada pelarangan kegiatan MOS atau OSPEK yang mengandung unsur perpeloncoanpada tahun1999. Menurut Wikiedia perpeloncoan adalah praktik ritual dan aktivitas lain yang melibatkan pelecehan, penyiksaan, atau penghinaan saat proses penyambutan seseorang ke dalam suatu kelompok.

Pada awalnya MOS/OSPEK adalah ajang orientasi para siswa atau mahasiswa mengenal mereka senang, membuat mereka terkesan dan termotivasi berada dalam lingkungan sekolahnya yang baru. Namun pada pelaksanaannya yang kepanitiaan dipegang oleh para senior-seniornya yang entahdari mana mulanya aktivitas perpeloncoan dan pemberian tugas-tugas kepada para juniornya tidak masuk akal dan membebankan secara mental dan ekonomi itu terjadi dan mengakar sekarang. Para senior-seniornya yang juga masih berstatus pelajar atau mahasiswa terdakang tidak menjajaki dulu kondisi kesehatan para adik barunya sehingga tak pelak jatuhnya korban jiwa.

Data yang diperoleh dari berbagai sumber banyak kasus MOS/OSPEK yang di warnai perpeloncoan sehingga mengakibatkan kematian. Tahun  2003 Wahyu Hidayat dari IPDN masih di kampus yang sama tahun 2007, Cliff Mutu juga menambah daftar  panjang kasus kekerasan di kampus tersebut. Di tahun 2013 Fikri dari ITN,tahun lalu Amanda dan Roy Aditya Per­kasa, siswa baru di sebuah SMA Negeri di Pro­vinsi Jawa Ti­mur. Dan baru-baru ini Evan Chritoper Situmorang dari SMP Flora Bekasi.

Orang tua menitipkan anak-anaknya pada lembaga sekolah atau kampus agar anak-anak mereka dididik dengan pendidikan yang terbaik dan sekolah seyogyanya adalah tempat berkembangnya potensi, mental dan fisik anak sehingga para orang tua dengan susah payah mendaftarkan dan mencari biaya agar anak-anak mereka bisa bersekolah.Namun kenyataannya di sekolahanak-anak diperlakukan semena-mena dan jatuhnya korban jiwa seakan mengukuhkan nyawa anak kita tak lagi berharga di mata institusi pendidikan.

Kak Seto Mulyadi, pemerhati menegaskan agar kegiatan MOS/OSPEK yang memakan korban ini harus di stop dan dihentikan, karena alih-alih mengajarkan siswa-siswa me   ngenal lingkungan sekolah, kedisiplinan serta ketahanan mental dan ujian  fisik yang terlalu berat malah menimbulkan karakter negatif yang tumbuh seperti dendam, ketakutan dan trauma. Dari berbagai kasus yang terjadi seolah tak ada sangsi tegas dari pemerintah sehingga kegiatan ini terus berulang, seolah mata rantai yang tak bisa ditemukan ujungnya.

Pada akhirnya semua berharap ketuntasan kasus ini dengan sangsi hukum yang tegas, sesuai dengan undang-undang pendidikan yang mengatakan bahwa siswa dilindungi dari segala tindak kekerasan baik itu oleh kepala sekolah, guru maupun teman-temannya. Dibutuhkan empati, kerjasama yang baik dan solid antara lapisan masyarakat, seperti pemerintah, pihak pendidikan dan orang tua agar kasus semacam ini tidak terulang kembali dan generas kita anak tumbuh menjadi generasi yang unggul dan berprestasi. (fm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>