Lima Adab Dalam Menuntut Ilmu

akhwat mesir

akhwat mesir

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Bahkan setiap kita akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak, atas apa yang kita perbuat berdasarkan apa yang kita ketahui dan pelajari selama di dunia. Saking pentingnya kedudukan ilmu, hingga perintah pertama yang diturunkan Allah swt, yaitu “Bacalah”. mengandung makna tersirat bahwa setiap kita berkewajiban menuntut ilmu. Semua amal ibadah dan muamalah yang kita lakukan, harus berlandaskan ilmu yang benar. Bukan sekadar ikut-ikutan ataupun faktor kebiasaan orang-orang terdahulu.

Menuntut ilmu juga memiliki adab dan etika, agar ilmu yang kita serap tidak mudah berlalu dari ingatan, juga agar selalu terjaga pada jalan kebaikan. Berikut adalah 5 (lima) adab yang harus kita miliki dalam menuntut ilmu, yaitu :

  1. Menjaga Kebersihan Hati

Dalam menuntut ilmu, kita harus senantiasa menjaga hati agar tetap bersih dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan sebagainya. Ini dikarenakan ilmu adalah ibadahnya hati. Ilmu hanya bisa diserap dan dipahami dengan baik oleh hati yang bersih. Menuntut ilmu juga akan memperoleh berkah jika dilakukan dengan hati yang bersih. Jika seseorang menuntut ilmu dalam kondisi hati yang masih dikotori penyakit dan akhlak yang buruk, maka ilmu yang didapat, boleh jadi akan dimanfaatkannya untuk kepentingan tertentu dan menjurus pada kehancuran.

  1. Mengurangi Keterikatan Hati dengan Dunia

Kesenangan duniawi berpengaruh sangat besar dalam proses pencarian ilmu, karena bisa memalingkan hati dan pikiran dari konsentrasi dalam menuntut ilmu. Sulit bagi kita untuk mencapai pemahaman yang mendalam terhadap ilmu jika hati dan pikiran kita terpecah belah oleh urusan dunia. Oleh karenanya, jika kita ingin serius mendalami ilmu, sudah sepantasnya kita melepaskan sebagian keterikatan terhadap hal-hal duniawi dan memberi lebih banyak ruang bagi pemahaman ilmu di dalam jiwa kita.

  1. Tidak Bersikap Sombong

Dalam menuntut ilmu, kita juga tidak boleh bersikap sombong. Misalnya, hanya mau mencari ilmu dan mempercayai ucapan ulama dan guru yang termasyhur saja. Sebaliknya, kita sebaiknya membuka diri terhadap ilmu yang bermanfaat dan mengandung petunjuk kebenaran dari berbagai sumber. Sebuah kalimat bijak mengatakan, bahwa ilmu enggan mendatangi pemuda yang sombong laksana banjir yang enggan mendatangi tempat-tempat yang tinggi. Ilmu hanya bisa diraih dengan sikap tawadu dan khusyu’, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Qaf ayat 37 yang artinya :

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

Orang yang mempunyai hati pada ayat di atas mengandung makna orang yang menerima ilmu dengan sepenuh pemahaman. Ini tentunya harus diiringi dengan proses mendengar dan melihat secara fokus, serta menghadirkan hati dalam kondisi tawadu dan penuh rasa syukur agar ilmu yang dipelajari dapat diterima dengan baik dan bernilai keberkahan.

  1. Memiliki Skala Prioritas

Kemampuan yang terbatas begitupun keterbatasan usia kita membuat tak semua disiplin ilmu bisa kita pelajari dan kuasai. Oleh karenanya, kita harus memiliki skala prioritas dalam menuntut ilmu. Kita disarankan untuk mengambil intisari terbaik dari ilmu-ilmu yang ada dan mencurahkan perhatian pada ilmu yang mudah dipelajari lalu secara bertahap mempelajari ilmu pada tingkatan yang lebih tinggi.

Adapun ilmu yang harus kita jadikan prioritas adalah ilmu yang dapat meningkatkan keimanan dan rasa cinta kita kepada Allah swt, bukan sekadar ilmu yang berkembang dalam retorika dan perdebatan para ahli ilmu yang jika tidak dipahami dengan baik, justru bisa membawa kita pada perselisihan dan perpecahan.

  1. Memiliki Tujuan yang Baik

Seorang penuntut ilmu hendaknya meniatkan proses belajarnya dalam rangka memperindah batinnya demi mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang menuntut ilmu di jalan Allah samalah kedudukannya dengan para mujahid. Oleh karenanya, menuntut ilmu tidak boleh dilandasi oleh keinginan demi meraih kekuasaan, pangkat, popularitas, harta ataupun untuk menipu orang-orang yang kurang berilmu. Menuntut ilmu dengan tujuan yang tidak baik, hanya akan menggiring pelakunya pada kehancuran, sebaliknya, ilmu yang diniatkan untuk mencari ridho Allah akan mengangkat derajat pelakunya di sisi Allah, sebagaimana firmanNya dalam surat Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Semoga kita semua menjadi hamba Allah yang tak pernah berhenti menuntut ilmu, dan meniatkan proses kita dalam pencarian ilmu semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keridhoanNya.

Referensi : Hawwa, Said. Tazkiyatun Nafs. Solo : 2014. Era Adicitra Intermedia.

Penulis: Riawani Elyta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *