Kiat Menggapai Shalat Khusyu’

muhasabah

muhasabah

Sobat Sakinah, shalat adalah ibadah utama umat Islam. Shalat yang didirikan dengan sempurna akan melenyapkan semua bibit ujub, ghurur, bahkan kekejian dan kemunkaran. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya, “Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kekejian dan kemunkaran.” (QS. Al-Ankabut : 29).

Namun fungsi shalat ini hanya akan terwujud jika shalat ditegakkan dengan memenuhi semua rukun, sunnah, serta adab lahir dan batinnya. Dan elemen terpenting dalam adab lahir dan bathin ini, adalah kekhusyuan dalam pelaksanaannya. Khusyu’ merupakan tanda pertama bagi orang yang beruntung, sebagaimana firman Allah swt yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya” (QS. Al-Mukminun: 1-2).

Hati akan baik jika terdapat kekhusyuan di dalamnya, sebaliknya, hati akan rusak jika tak dilingkupi dengan kekhusyukan. Hati yang rusak antara lain ditandai dengan bercokolnya berbagai penyakit hati yang berbahaya. Misalnya saja, mencintai dunia dan berkompetisi dalam meraihnya, sehingga kehilangan orientasi akan kehidupan akhirat.

Oleh karenanya, menghadirkan kekhusyukan hati di dalam shalat itu sangat penting, agar fungsi shalat dapat tercapai dan kondisi hati pun akan menjadi lebih baik. Jika sampai hari ini masih sulit untuk kita menegakkan shalat dengan khusyuk, keenam kiat ini mudah-mudahan dapat membantu, yaitu :

  1. Hudurul qalb atau kehadiran hati. Ini bermakna mengosongkan hati dari hal-hal yang tak ada kaitannya dengan ibadah shalat. Maka selama mendirikan shalat, kita harus menjaga agar pikiran tidak berpaling kemana-mana, dan hati tetap mengingat Allah, sehingga kita tidak lalai dalam shalat dan makna hudurul qalb ini dapat kita tunaikan.
  2. Tafahhum, yaitu memahami makna ucapan dan perbuatan di dalam shalat. Setiap orang memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda terhadap apa yang dia ucapkan dan lakukan sepanjang ibadah shalat. Dan sudah menjadi kewajiban kita untuk terus meningkatkan pemahaman ini. Pemahaman di sini tak hanya sekadar memahami secara harfiah, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya. Misalnya saja, ucapan shalat yang mengandung makna memohon dan berharap, ataupun yang bertujuan memuji dan mengagungkan Allah SWT. Di sinilah shalat dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, karena shalat dapat mendorong kita untuk lebih memahami makna dari setiap ucapan dan gerakan shalat yang pada gilirannya akan mencegah dari perbuatan maksiat.
  3. Ta’zhim, atau pengagungan dan rasa hormat. Shalat juga harus diiringi dengan rasa hormat dan pengagungan kita kepada Allah SWT, karena pada hakikatnya, tujuan penciptaan kita adalah untuk mengabdi kepada-Nya, dan shalat merupakan sarana terpenting dari pengabdian.
  4. Haibah, yaitu rasa takut yang bersumber dari ta’zhim. Ini berbeda dengan ketakutan yang tidak bersumber dari rasa hormat, seperti ketakutan kita akan gigitan ular atau ancaman bahaya misalnya. Sebaliknya, haibah adalah rasa takut yang bersumber dari penghormatan dan pemuliaan kita kepada Allah.
  5. Raja’ atau harapan. Dalam menegakkan shalat, kita juga semestinya mengiringinya dengan harapan akan kebaikan dari shalat yang kita laksanakan, serta menguatkan keyakinan kita akan ganjaran kebaikan tersebut. Karena sesungguhnya Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya yang bermohon dan berharap, serta Allah melaknat hamba-Nya yang berputus asa akan rahmat-
  6. Haya’ atau rasa malu. Yaitu kondisi batin yang bersumber dari kesadaran kita akan dosa-dosa selama ini, sehingga hati kita pun akan terdorong untuk menjadi lebih khusyu dalam menegakkan shalat.

Keenam makna batiniyah ini hendaknya selalu kita upayakan dalam menunaikan shalat untuk mencapai kekhusyuan hati dan menghindarkan kita dari kelalaian. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya shalat itu ketetapan hati dan ketundukan diri.”

Kekhusyukan di dalam shalat merupakan barometer dan tanda bagi kekhusyuan hati. Insya Allah, hati yang khusyu akan bersih dari berbagai penyakit hati, menjauhkan pemiliknya dari sifat tercela, dan dalam kehidupan sehari-hari pun akan senantiasa dihiasi sifat-sifat terpuji serta akhlak yang mulia.

 

Referensi         : Kitab Tazkiyatun Nafs

Penulis             : Riawani Elyta

Editor              : Yeni Mulati Ahmad

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *