Kiat Membangun Spiritualitas di Era Digital

Sultan-Salahuddin-MosqueV2

Sultan-Salahuddin-MosqueV2

 

Di tengah beragam informasi berita yang berseliweran di dunia maya termasuk sosial media, ada fenomena positif yang menarik untuk dicermati. Yaitu semangat pencerahan yang diwujudkan lewat share kultwit ceramah agama, kutipan kalimat-kalimat motivasi, juga tanya jawab yang berlangsung di twitter antara sang penceramah atau motivator dengan para followers-nya.

Sosial media Facebook pun tak ketinggalan turut meramaikan. Media yang kian variatif ini turut menjadi sarana para motivator dan pendakwah untuk membagikan ceramah singkat, kiat-kiat ibadah dan muamalah, nasehat-nasehat spiritual, dan belakangan, video-video kisah inspiratif pun turut menghiasi sosial media dan menjadi favorit para Facebookers untuk turut membagikannya di dinding akun mereka. Tak jarang, satu video mencapai angka hingga ratusan ribu kali dibagikan.

Di satu sisi, fenomena ini membawa angin segar dan seakan menjadi oase penyejuk di antara status dan linimasa yang menayangkan kabar hoax, mengadu domba, tendensius, mengintimidasi ataupun nyinyir tanpa tujuan. Bagi para pengakses sosial media, fenomena positif tersebut tentunya diharapkan dapat menjadi pengingat dan penggugah mereka untuk menjadi lebih baik dan turut serta dalam menyebarkan kebaikan.

Namun di lain sisi, kita tetap tak boleh mengabaikan pentingnya proses pemahaman dan pembelajaran dengan lebih mendalam. Proses yang hanya bisa dilakukan melalui aktivitas membaca, menganalisa, berdiskusi, menghadiri majelis taklim dan majelis ilmu, dan tentu saja mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang kita dapatkan melalui sosial media, sifatnya hanya sebagai pengingat, pembawa informasi, mengajak pada perenungan atau juga peringatan di tengah kesibukan yang terkadang membuat kita lalai. Namun untuk mengubah kondisi spiritual, pemahaman dan kesadaran menjadi lebih baik, tidak cukup hanya dilakukan dengan membaca dan membagikan hal-hal inspiratif yang bertebaran di sosial media.

Sedikit kekhawatiran mengemuka, bahwa para pengguna akun sosial media telah merasa cukup dengan apa yang mereka peroleh dari linimasa, status inspiratif di facebook, atau pencerahan sesaat dari video kisah-kisah inspiratif tersebut, padahal saat mereka meninggalkan layar gadget, semua pencerahan itupun dengan cepat akan terlupakan dari ingatan. Sehingga jika tak bijak dalam menyikapi, penyebaran ilmu dan informasi di era digital ini justru dapat mengarah pada pendangkalan. Ilmu yang dihadirkan dengan cara praktis dan instan, membuat fungsinya pun mengalami pendangkalan dengan hanya bergerak pada tataran informasi dan pengingat.

Oleh karenanya, beberapa hal perlu tetap kita lakukan agar penyebaran  ilmu dan pencerahan di era digital ini tidak memupus proses pendalaman ilmu yang sudah sepantasnya kita lakukan. Berikut diantaranya :

  1. Rutin membaca Al-Quran dan maknanya. Al-Quran merupakan sumber segala ilmu pengetahuan dan penyejuk hati yang paling mujarab. Rutinitas membaca Al-Quran akan mendorong kita untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang haq dan lurus serta terhindar dari mengalami kebingungan akibat perselisihan dan perbedaan pendapat yang disebarkan lewat sosial media. Membaca Al-Quran juga akan menjadi pengobat hati dan pelipur lara yang paling ampuh serta tak akan tergantikan dengan mengadukan persoalan di sosial media.
  2. Informasi yang diperoleh melalui dunia maya dan sosial media hendaknya menjadi pendorong untuk mencari tahu lebih jauh terhadap ilmu, juga makna dan hikmah dibaliknya. Misalnya saja, saat menonton video tentang poligami, kita sebaiknya tak hanya sekadar berhenti pada pemahaman terhadap apa yang ditayangkan lewat video, tetapi juga mencari dan mempelajari lebih jauh tentang aturan poligami di dalam Islam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan secara tak sadar membiarkan opini kita ikut tergiring untuk memojokkan Islam dari “pintu” poligami.
  3. Meluangkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu dan majelis taklim agar lebih berpeluang menyerap ilmu secara mendalam dan saling bertukar pikiran. Kalaupun sulit meluangkan waktu, setidaknya kita tetap berusaha mencari kesempatan untuk mendengarkan ceramah di televisi ataupun radio untuk memperoleh penjelasan yang lebih detail terhadap pembahasan ilmu keagamaan.
  4. Membaca buku-buku agama dan buku referensi. Aktivitas membaca mulai banyak ditinggalkan di era digital ini sebagai dampak eksplorasi dan pengemasan informasi secara lebih praktis dan menarik melalui sosial media dan dunia maya pada umumnya. Padahal, membaca buku tetap kita perlukan untuk menambah wawasan, menggiring pada pemikiran, perenungan dan analisa yang lebih kritis juga mendalam terhadap ilmu dan informasi serta memberikan kesan yang lebih berarti. Membaca buku, adalah salah satu upaya efektif untuk menyelamatkan kita dari mengalami pendangkalan dan merasa cukup dengan apa yang diperoleh dari sekadar status di sosial media ataupun artikel-artikel singkat di situs-situs dunia maya.
  5. Melakukan perjalanan dalam rangka mentadabburi alam ciptaan Allah, seperti menunaikan umrah, melakukan pendakian, mengunjungi destinasi wisata yang masih mempertahankan sisi natural alam dan lingkungan, dan sebagainya dalam rangka meningkatkan upaya kontemplasi kita terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah. Melakukan perjalanan juga akan memberi kita pengalaman spiritual yang tak bisa kita dapatkan hanya dengan berselancar di dunia maya.

 

Demikianlah diantara upaya-upaya yang semestinya tetap kita pertahankan di era digital, agar modernisasi tak lantas melemahkan semangat spiritualisme kita untuk memperdalam ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan pengabdian dan ketaatan kita kepada Allah swt. Wallahu alam bish shawab.

 

Penulis,

Riawani Elyta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *