Hemat Energi dengan “Earth Hour” Setiap Hari

1219

1219
Dalam masa-masa sekarang ini kita tentu sering mendengar istilah “Earth Hour”. Ini wajar, karena kegiatan yang dicetuskan oleh WWF dan Leo Burnett pada tahun 2007 tersebut saat ini sudah berkembang pesat dan tiap tahun mengalami penambahan aktifitas yang sangat signifikan. Pada tahun ini, kegiatan Earth Hour terlaksana pada tanggal 19 Maret 2016, yang ditandai dengan aktivitas pemadaman semua peralatan listrik mulai dari pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat. Termasuk di Indonesia.
Sebenarnya, bila dilihat sepintas, kegiatan Earth Hour pada dasarnya “hanya” berupa aktifitas pemadaman lampu di rumah-rumah dan perkantoran selama satu jam. Terdengar sederhana?

Memang benar, namun ternyata dampak Earth Hour pada konsumsi listrik sebuah kota atau negara sudah bisa dibuktikan secara statistik. Misalnya, tercatat dalam satu jam pemadaman itu, Bangkok ternyata bisa mengurangi pemakaian listrik hingga 73,34 megawatt. Lalu di Filipina pun tercatat adanya pengurangan konsumsi listrik sebesar 78,63 megawatt di Metro Manila dan 102,2 megawatt di Luzon. Daerah Ontario, Kanada bisa menghemat 900 megawatt. Lalu di Irlandia terjadi penurunan konsumsi listrik sebesar 50 megawatt, dan di Dubai terjadi penghematan listrik sampai sebesar 100 megawatt.

Angka-angka di atas bukan sekadar angka biasa, tapi membuktikan bahwa dengan sebuah aktifitas yang sederhana, bila dilakukan secara masif maka hasilnya akan signifikan.

Tapi “sayangnya”, Earth Hour hanya dilaksanakan setahun sekali sehingga efeknya yang terasa hanya berupa semacam “perayaan”, padahal pemakaian listrik di rumah-rumah terjadi setiap hari. Itu artinya, PR sebenarnya dari kita semua dalam urusan penghematan energi listrik adalah bukan lagi mengikuti aktifitas Earth Hour yang cuma sehari—sebenarnya bahkan hanya satu jam—namun ada pada 364 hari yang tersisa dalam setahun.

Masalahnya, menurut Eka Melisa (Direktur Program Iklim & Energi WWF Indonesia), selama ini pemahaman masyarakat tentang kegiatan hemat listrik masih terbatas pada tujuan untuk menghemat biaya tagihan listrik. Padahal semakin tinggi konsumsi listrik, maka akan semakin tinggi pula emisi karbon yang dihasilkan dari pembangkit listrik, dimana 60% diantaranya menggunakan bahan bakar fosil. Sementara pembakaran bahan bakar fosil adalah penyebab utama terjadinya pemanasan global, yang berdampak pada meningkatnya suhu bumi secara global.

Karena itulah maka konsep penghematan listrik harus disadari oleh setiap individu di dunia ini. Lalu kita sebagai ibu rumah tangga jelas-jelas merupakan kelompok yang setiap hari bersentuhan dengan alat-alat listrik, dimana daftarnya tidak akan pernah selesai. Beberapa peralatan standar yang akrab dengan kehidupan kita misalnya: seterika, mesin cuci, kulkas, pompa air listrik, dan televisi. Kadang ini bisa bertambah dengan peralatan lain seperti pemanggang listrik, dispenser, kompor listrik, atau pengering rambut.

Lalu, jujur saja selama ini kita semua tumbuh dengan alat-alat itu serta tidak bisa menghindar lagi, bahkan karena kita sudah terlalu terbiasa hidup dengan itu semua maka kebanyakan dari kita malah kekurangan akal jika harus hidup tanpa alat-alat listrik. Jika demikian apa yang harus kita lakukan? apakah kita harus membuang alat-alat itu?

Sebenarnya tidak harus seperti itu. Silahkan saja kita gunakan alat-alat tersebut untuk mempermudah tugas kita sebagai ratu rumah tangga. Namun tentu kita tidak mau juga jika disalahkan sebagai satu kelompok yang melakukan pemborosan listrik tingkat tinggi. Karena kita pun—sebagai warga dunia—tetaplah harus berpikir untuk menjaga kelestarian dunia tempat kita tinggal.

Sebenarnya, ada hal yang bisa kita lakukan setiap hari, yang jika tetap konsisten dilakukan maka dampaknya pasti bisaa lebih besar daripada program Earth Hour yang hanya satu jam itu.

Yang paling “mudah” adalah menyalakan alat-alat listrik hanya pada saat diperlukan dan memasang daya listrik dirumah sesuai kebutuhan. Lalu yang lebih baik lagi adalah kita pun harus menguasai cara-cara tradisional untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Misalnya, tahu cara mengulek bumbu dengan benar akan mengurangi ketergantungan kita pada blender, atau memasak nasi dengan menggunakan panci dan kompor akan mengurangi ketergantungan kita pada rice cooker.

Ini karena listrik tidak selamanya ada, maka saat itulah kadang kita mesti kembali pada cara-cara lama. Karena tindakan hemat listrik tidak terbatas untuk menghemat pengeluaran tapi juga merupakan tindakan bijak yang berguna bagi kepentingan orang banyak, di masa kini dan masa mendatang, dan saat ini sudah waktunya bagi kita semua untuk mulai mengubah gaya hidup boros listrik. karena listrik bukanlah hak milik perorangan,tapi milik kita bersama.[Feli Mulyani]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *