165ca70c-e9e8-451f-b9d2-652027d3b3db

Haruskah selalu memenuhi keinginan anak?

Aku ingin begini… aku ingin begitu

Ingin ini… ingin itu banyak sekali….

Semua.. semua dapat dikabulkan

Dapat dikabulkan dengan kanton ajaib

(Lagu Doraemon)

 

            Benar jika ada yang mengatakan bahwa manusia itu tak akan pernah merasa puas akan sesuatu, itu merupakan hukum alam yang menyelimuti diri setiap manusia dewasa tak terkecuali anak-anak. Mereka juga memiliki berbagai macam keinginan yang selalu ingin mereka dapatkan dengan segera mungkin, seperti pengalan lagu diatas semua beres hanya dengan adanya kantong ajaib atau kehadiran para peri dan bidadari-bidadari yang biasa hadir dalam sinetron-sinetron yang dengan sukarela mengabulkan semua keinginan-keinginan para tokoh utamanya.

 

Sikap-sikap anak seperti ini yang terkadang membingungkan orang tua, disisi lain mereka ingin membahagiakan sang anak tetapi terkadang keinginan mereka tidak sesuai dengan kondisi keuangan orang tua. Para orang tua tentu akan memprioritaskan keinginan anak yang memang sesuai dengan kebutuhannya namun bagaimana jika keinginan mereka hanya sekedar keinginan yang sebetulnya mereka tidak terlalu membutuhkannya. Misalnya anak merengek ingin dibelikan Ipad terbaru atau anak ingin selalu membeli mainan padahal mainan sudah menupuk di kamarnya atau meminta uang saku lebih besar dari jatah biasanya.

Jika sudah memiliki keinginan tertentu biasanya anak-anak menguji kita dengan beberapa jurus ala andalan mereka, seperti marah-marah, merengek, mengancam dan sampai mengeluarkan taktik fisik semua jurus itu mereka keluarkan agar orang tua menyerah dan memberikan apa yang mereka inginkan.

Menurut Ketua Suryani Institute For Mental Health (SIMH) Prof Dr L.K Suryani, kecenderungan sebagian besar para orang tua saat ini memberikan fasilitas dan kenikmatan hidup yang berlebihan pada anak-anak sehingga mereka kurang memiliki daya juang yang tinggi padahal seiring dengan kemajuan teknologi dan arus globalisasi, anak-anak semakin pandai, semakin kritis dan semakin banyak keinginannya namun di sisi lan mentalnya semakin melemah dan mereka mudah putus asa dan down. Akan lebih baik jika anak di ajak diskusi terlebih dahulu tentang seberapa penting keinginan mereka, ajak juga mereka memahami kondisi ekonomi dan keuangan keluarga agar mereka mengerti bahwa kebutuhan keluarga itu sangat banyak dan kompleks.

Sesekali ajak mereka ketempat orang-orang yang bekerja sangat keras hanya untuk mendapatkan berlembar-lembar uang, misalnya mengajak mereka ke pasar atau ke terminal di sana terlihat aktifitas-aktifitas bekerja. Melihat abang-abang yang memanggul berat ton-ton beras, kuli bangunan, para penyemir sepatu, para tukang ojek, para supir angkot,pemulung dan para pedagang yang terkadang harus melawan kantuk dan dingin mengelar dagangan pada dini hari. Dengan begitu anak akan sangat menghargai uang, karena untuk mendapatkannya kadang kaki jadi kepala, kepala menjadi kaki. (fm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>