Category Archives: Tumbuh Kembang Anak

Do'a Orang Tua

Jangan Jadi Orang Tua Durhaka!

Do'a Orang TuaSuatu hari, saya membaca tulisan di sebuah blog yang bunyinya kira-kira begini :

Selama ini kita tahu bahwa Malin Kundang adalah anak durhaka, bagaimana kalau ternyata ada hal lain yang tidak kita ketahui, atau jika seandainya kedurhakaan Malin Kundang sebenarnya adalah disebabkan perbuatan orang tuanya?

Tulisan ini menyiratkan bahwa tak hanya anak-anak yang bisa menjadi durhaka, tetapi orang tua juga bisa menjadi orang tua yang “durhaka” jika mengabaikan hak dan kewajiban kepada anak-anaknya. Padahal, setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban di yaumul akhir kelak, termasuk pertanggungjawaban kita dalam memenuhi hak dan menjalankan kewajiban kita terhadap anak-anak.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).

Berikut adalah beberapa kewajiban yang harus kita lakukan sebagai orang tua terhadap anak-anak kita:

1. Memberi Nama yang Baik
Nama adalah salah satu tempat kita menitipkan doa. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk memberi nama yang baik kepada anak-anaknya, dengan harapan, sang anak akan memiliki akhlak dan budi pekerti seindah namanya.
Dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari qiyamat dengan namamu dan nama ayahmu, maka baguskanlah nama kalian”. [HR. Abu Dawud]

2. Menyusui
Menjadi kewajiban seorang ibu untuk menyusui anaknya sejak baru dilahirkan hingga usianya genap dua tahun. Air susu ibu adalah makanan pertama terbaik untuk bayi yang dapat meningkatkan imunitas juga mempererat ikatan antara sang anak dengan ibunya.
Kewajiban menyusui ini juga tertera di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 233 yang artinya:
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 233).

3. Memberi Nafkah
Di dalam surat Al Baqarah di atas juga tersirat kewajiban sang ayah, yaitu memberi nafkah kepada keluarganya. Sudah menjadi tanggung jawab ayah selaku kepala keluarga untuk mencukupi kebutuhan keluarganya termasuk anak-anaknya. Bahkan bagi seorang kepala keluarga, nafkah yang diberikan kepada keluarganya lebih besar nilainya dibandingkan uang yang diberikan kepada fakir miskin ataupun untuk memerdekakan budak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Satu dinar kamu infaqkan fii sabiilillah, satu dinar kamu pergunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya ialah yang kamu belanjakan untuk keluargamu”. [HR. Muslim]

4. Menyuruh Anak-anak Mendirikan Sholat
Sholat adalah tiang agama. Oleh karenanya, perintah sholat harus diajarkan dan ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya sedini mungkin. Terkait kewajiban akan perintah sholat ini, Allah swt berfirman yang artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kamilah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa.” [QS. Thaahaa : 132].

Selain itu, orang tua juga berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan pengetahuan agama yang baik dan benar, serta akhlak dan budi pekerti mulia. Orang tua hendaknya menjadi madrasah pertama bagi anak-anak dalam rangka mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi islam yang beraqidah kokoh dan bertakwa.

5. Mencarikan Jodoh Saat Anak Dewasa
Pernikahan adalah penyempurna separuh agama. Bagi orang tua yang telah memiliki anak yang sudah dewasa, sudah selayaknya mencarikan jodoh yang baik untuk anak-anaknya, dengan harapan, sang anak kelak dapat membangun rumah tangga yang samara dan meneruskan amanah untuk mendidik generasi yang berkualitas.

Allah swt berfirman: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. An-Nuur : 32]

6. Mendoakan Anak-Anaknya
Terakhir, orang tua wajib mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya. Boleh jadi di masa kecilnya seorang anak berperilaku bandel dan tidak penurut, tetapi berkat doa orang tua dan tidak putus asa dalam mendidik anak-anak, insya Allah kelak sang anak akan berubah menjadi anak yang sholeh dan penyejuk hati untuk keluarga.
Ini adalah salah satu doa bermohon kebaikan bagi keluarga:

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama…

 

Artinya: Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Furqaan : 74]
Referensi :

http://salampathokan.blogspot.com

http://muslim.or.id

https://www.islampos.com

Penulis
Riawani Elyta

ortu tengkar

JANGAN MENJADI ORANGTUA YANG GAGAL

ortu tengkar

ilustrasi diambil disini

 

Anak adalah anugerah, pelengkap kebahagiaan serta investasi berharga untuk orang tuanya di dunia dan akhirat, sehingga tak jarang kehadiran anak dalam sebuah keluarga begitu dinantikan. Namun beberapa hari terakhir kita dikejutkan, ternyata ada orang tua yang begitu tega dan tanpa merasa bersalah menelantarkan anak-anaknya. Kasus ini mengejutkan semua pihak serta yang lebih mengejutkan lagi kasus ini berujung pada penyalahgunaan narkoba.

Data Departemen Sosial selama beberapa tahun terakhir mencatat sekitar 1,1 juta anak di Indonesia yang kini terlantar dan jumlahnya kini semakin bertambah. Penelantaran anak adalah di mana orang dewasa yang bertanggung jawab pada anak tersebut, gagal untuk menyediakan kebutuhan memadai untuk berbagai keperluan, termasuk fisik (kegagalan untuk menyediakan makanan yang cukup, pakaian, atau kebersihan), emosional (kegagalan untuk memberikan pengasuhan atau kasih sayang). Banyak yang menjadi alasan orang tua menelantarkan anak diantaranya kemiskinan dan kecanduan obat-obatan terlarang. Hal ini sangat disayangkan terjadi penelantarkan anak, sama juga dengan kita mengabaikan masa tua kita sendiri, karena di masa tua nanti anak-anaklah yang menjadi penerus, pengurus kita serta doa anak adalah tabungan dunia dan akhirat orang tuanya.

Psikolog dari Klinik Terpadu Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Jane Cindy, mengatakan anak yang ditelantarkan bisa mengalami dampak psikologis, yaitu merasa ditolak oleh kedua orang tuanya, tidak memiliki kemampuan bersosialisasi sehingga berdampak anak bertumbuh menjadi individu yang penyendiri, tertutup, egosentris serta tidak mampu mengembangkan rasa empati. Dan yang lebih bahaya lagi anak yang ditelantarkan orang tuanya akan mengalami trauma berkepanjangan. Semoga kasus ini bukan merupakan fenomena gunung es, dengan kepercayaan tinggi masih banyak para orang tua yang betul-betul mendidik anak-anaknya dengan cinta, mengasuh dengan ilmu dan menjaganya dengan penuh keimanan. (fm)

mendidik-anak-tangan-hand

HARUSKAH MENJADI ORANGTUA YANG OVERPROTEKTIF?

Kita semua menyadari lingkungan kita belum sepenuhnya bisa benar-benar “bersahabat” dengan anak-anak bahkan semakin hari kondisinya semakin membahayakan anak. Di mulai dari tontonan TV di rumah, jajanan yang tak sehat, narkoba yang selalu mengintai serta pergaulan bersama teman-temannya di luar atau di dalam sekolah. Sehingga orang tua selalu diliputi rasa khawatir dan mereka sekuat tenaga berusaha berupaya menjamin dan melindungi anak-anaknya dari hal-hal yang bisa mengganggu perkembangan dan masa depan anak-anak.

mendidik-anak-tangan-hand

sumber gambar disini

Dari rasa cemas dan khawatir ini maka para orangtua menjadi lebih overprotektif terhadap anak-anaknya. Protektif itu adalah sifat orang untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang disayanginya. Bila longgar, membuat anak bisa lalai, bila over aspek perkembangan kemandirian anak bisa terganggu. Hal ini yang kerap membingungkan para orangtua di satu sisi ingin melindungi anak, di sisi lain takut anaknya terkungkung dan tidak berkembang.

Menurut psikolog Indri Savitri MPsi, rasa khawatir dan bersikap melindungi memang harus diberikan namun  harus tepat penerapannya. Pada anak-anak usia dini, pengasuhan secara fisik atau kontak fisik sangat dibutuhkan. Keberadaan orang tua di samping anak, selain membuat anak-anak merasa aman dan nyaman juga membentuk bonding atau ikatan kuat antara anak dan orang tua. selain itu anak-anak memerlukan pengasuhan yang bersifat telling. Begini  nak, begitu nak, serta anak melihat langsung  apa yang dilakukan orang tua untuk ditirunya. Mereka masih perlu dituntun terus, ditunjukkan mana baik mana buruk, yang boleh dan tidak boleh serta membekali anak dengan kepercayaan dan kejujuran, selain itu mengajarkan anak untuk selalu berdoa memohon perlindungan Allah SWT. (fm)

tumbuh-kembang-anak-7

1000 Hari Pertama Kehidupan Anak

tumbuh-kembang-anak-7

sumber gambar disini

Kita semua tentu menginginkan anak-anak kelak cerdas dan memiliki masa depan yang cerah, dan kita semua menyadari sebagai orang tua, tanggung jawab kita mendidik anak adalah sebuah aktifitas yang berlangsung seumur hidup. Bila diibaratkan sedang membangun rumah, pasti semua diawali dengan desain di atas kertas sebelum diwujudkan dengan semen dan batu. Begitupun pendidikan anak, kita sebagai orang tua pasti sudah memiliki desain masing-masing di otak kita, bahkan beberapa dari kita sudah memetakannya di atas kertas. Semua itu kita rancang dengan sebuah harapan, bahwa penerapan dari desain itu lambat laun akan membentuk anak kita sesuai dengan sebuah konsep yang kita bayangkan.

Saat desain kita yang sangat bagus itu mulai diimplementasikan lewat susunan batu dan semen, mau tidak mau, suka tidak suka, seberapa bagus atau tingginya rumah itu,tentu harus dimulai dari pondasinya terlebih dahulu bukan? Begitupun pendidikan anak, tanpa pondasi yang kuat maka segala yang sudah kita susun bisa-bisa akan jatuh berantakan. Alih-alih membuat anak tumbuh sesuai bayangan kita, malah bisa jadi kita yang tidak bisa mengendalikan pertumbuhan psikis dan pengetahuan mereka.

Karena itulah pemerintah telah menerapkan konsep pentingnya 1000 Hari Pertama kehidupan anak sejak september 2012, dimana ditekankan pentingnya masa1000 hari kehidupan anak mulai dari dalam kandungan sampai usia dua tahun. Psikolog Dra Ratih A Ibrahim,MM mengatakan 1000 hari pertama ini sangat penting karena pada masa itu adalah masa krusial bagi perkembangan anak karena merupakan periode penting berkembangannya otak anak yang akan menjadi pondasi dalam membangun kemampuan kognitif, sosial, dan psikomotor anak. Hal ini menjadi sangat penting bagi calon orang tua agar segera mempersiapkan diri agar mampu menjadikan calon anaknya kelakmemiliki masa depan yang cerah.

Menjalani 1000 hari pertama itu dengan memenuhi kebutuhan mendasar anak yaitu nutrisi yang cukup karena penentu pertumbuhan otak dan stimulasi yang tepat dapat mengembangkan seluruh aspek kecerdasaan dalam diri anak meliputi kognisi, fisik dan psikososial anak dan yang terpenting adalah terjalinnya ikatan emosional dengan orang tua, karena kita merupakan pihak-pihak yang harus memenuhi kebutuhan anak dan membimbing anak agar lebih terarah, menemani anak belajar dan bereskplorasi serta memberikan kasih sayang setiap saat. (fm)

music-note

LAGU UNTUK ANAK-ANAK

Sepulang sekolah Annisa dengan tergesa menghampiri Bundanya “Bun..bun sebel!” sang bunda yang sedang memasak segera menghampirinya “Kenapa sebel?”, Nisa menceritakan unek-uneknya “sebel tadi diketawai temen-temen, gara-gara aku nanyain arti Janda Bodong, aku kan ga ngerti bun”. Sang ibu tertegun dan kembali lagi bertanya “Memang Nisa denger dari mana kata itu?”. “Tadi pas jam istirahat, temen-temen kan pada ngumpul di bangku paling belakang terus mereka nyanyi-nyanyi dan joget-joget gitu”. Karena penasaran sang bunda besok berencana ke sekolah, memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata sang bunda benar-benar kaget bukan kepalang, anak-anak yang belum genap 8 tahun itu dengan fasih dan lancar benyanyi, bahkan diantara mereka ada yang berjoget ala seorang pedangdut yang terkenal di televisi.

music-note

sumber gambar dari sini

Rasa khawatir dan miris Bunda Annisa juga dialami juga oleh para orang tua lainnya, khawatir semakin hilangnya masa keemasan anak-anak yang sangat penting bagi perkembangan mereka, baik fisik, psikologi, maupun biologis. Seharusnya pada masa ini anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain, selayaknya permainan anak dan bernyanyi dengan lagu dan gaya khasnya mereka. Menurut filsuf, John Locke anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Anak-anak ibarat kaset kosong yang akan mulai merekam semua hal dalam memori mereka. Apa pun yang didengar dan dilihatnya, dalam waktu singkat mereka akan bisa merekam dan menirunya.

Dan anak-anak sangat responsif terhadap lagu-lagu dan musik, namun sayangnya pada saat ini jarang sekali lagu-lagu yang khusus untuk anak-anak sehingga mereka mendengarkan lagu-lagu dewasa baik pop maupun dangdut dan lama kelamaan mereka hafal syair dan nadanya. Padahal Lirik dan syair lagu dewasa kebanyakan mengenai hubungan pacaran, perselingkuhan, galau, cumbu rayu, putus asa, cemburu dan masih banyak lagi. Kata-kata yang belum waktunya dimengerti oleh anak-anak. Hal ini akan memberikan dampak buruk bagi perkembangan psikologis dan jika sering didengarkan berulang-ulang akan masuk ke alam bawah sadar mereka, memberikan pemahaman yang salah dan berdampak bagi moralnya sehingga tumbuhlah generasi-generasi muda yang dewasa sebelum waktunya berkepribadian rapuh, mellow, rentan terluka, dan hanya berfokus pada cinta yang semu.

Marilah kita perdengarkan kembali lagu-lagu anak era tahun 90an namun lebih penting lagi perdengarkan muratal Al-quran dan shalawat. Sudah saatnya para orang tua bahu-membahu memberikan teladan dan pengertian yang benar kepada anak-anaknya mengenai lagu-lagu yang belum layak mereka dengar dan  nyanyikan. Jika ternyata anak-anak kita memiliki bakat dan kecerdasan musikal, sekuat tenaga kita arahkan mereka ke musik-musik yang positif.(fm)

anak-nonton-tv

Anak-anak dan Televisi

Pada masa sekarang ini televisi seolah menjadi barang yang wajib ada di setiap rumah, televisi terkadang menjadi alat yang di utamakan dan di pentingkan. Dari pagi sampai malam terkadang tidak pernah berhenti melibatkan televisi dalam kehidupan kita, televisi sangat memanjakan mata setiap orang yang melihatnya denganmenawarkan berbagai hiburan dan acarayang disajikan berbagai stasiun televisi dari film, sinetron, acara olahraga hingga berita artis idola. Akhirnya kita tidak sadar dan lupa waktu telah duduk berjam-jam untuk menontonnya.

anak-nonton-tv

sumber gambar dari sini

Kotak ajaib itu memang menyajikan berbagai hiburan dan menambah pengetahuan bagi pemirsanya, kita dapat mengetahui berbagai informasi dari belahan dunia serta informasi terbaru yang sedang hangat diperbicangkan.Sebagai orang tua, kita sudah sangat tahu dan mengerti tentang manfaat dan bahaya sebuah televisi terutama untuk anak-anak, dampak negatif yang ditimbulkan dari tanyangan TV selain anak-anak kehilangan waktu produktif, televisi juga menampilkan kekerasan, pornografi, budaya konsumerisme serta menjadikan televisi referensi idola sehingga anak-anak akan patuh dan menurut pada televisi.

Dari bahaya yang ditimbulkan oleh televisi ada sebagian orang tua yang benar-benar menghilangkan televisi dari kehidupan mereka dengan mencari alternatif sumber informasi dan hiburan lewat berbagai hal, namun ada juga para orang tua yang masih kesulitan menghilangkannya tentu dengan berbagai alasan. Berikut ini beberapa tips mengatasi televisi yang dikutip dari buku Creative Parenting Today karya Andi Yudha Asfandiyar, seorang pemerhati dan praktisi dunia anak:

  1. Batasi waktu menonton anak dan orang tua! Dengan begitu, anak akan mencontoh kedisiplinan orangtua dalam menonton.
  2. Buat kesepatakan dengan anak, acara apa saja yang boleh ditonton.
  3. Dampingi anak ketika menonton televisi, berikan komentar pada tayangan tersebut.
  4. Saat menonton sediakan mainan edukatif sepeti puzzle,lego dan buku-buku interaktif lainnya sehingga perhatian mereka teralihkan dan perlahan-lahan mereka akan melupakan televisi.
  5. Ajak anak jalan-jalan terutama pada hari libur, karena pada saat itulah orangtua sangat sulit menghindarkan anak dari nonton televisi seharian.
  6. Ajaklah anak membersihkan rumah bersama.Percaya atau tidak, kegiatan ini bisa menjadi acara yang mengasikan bagi anak.
  7. Ajaklah anak-anak bermain bersama. Anak selalu antusias jika diajak bermain, terutama oleh orang tuanya.

Ajak anak bersilaturahmi. Mengunjungi saudara, apalagi sebelum pergi, anak diberi tugas spesial memilihkan oleh-oleh untuk saudaranya.

anak-sholat-di-masjid

Mengajar Anak Shalat

anak-sholat-di-masjidKeinginan utama semua orangtua pada anak-anak adalah ingin anak-anaknya rajin menjalankan Shalat sejak mereka kecil. Lebih baik lagi jika mereka terbiasa mengerjakannya, tanpa harus selalu diingatkan dan disuruh oleh orang tuanya. Namun kenyataannya masih jauh dari harapan, anak usia remaja pun yang seharusnya sudah paham pentingnya shalat masih saja, absen dan lalai mengerjakannya.

Di jama nsekarang orang tua semakin cemas dan panik tatkala anak-anaknya susah sekali mengerjakan shalat, padahal mereka sudah menyekolahkan mereka kesekolah unggulan berbasis islamic school dan menyuruh mereka privatemengaji dengan bayaran yang sangat tinggi. Namun saat kembali ke rumah, mereka susah sekali mengerjakan shalat. Banyak sekali alasan-alasan yang mereka berikan. “Bentar lagi ya Bun aku masih cape!” atau “Nunggu iklan ya Bun, BoBoy-nya lagi seru!”

Menanamkan dan membiasakan anar agar shalat 5 waktu adalah kewajiban orang tua, tanggung jawab ini sungguh berat untuk para orang tua terlebih saat ini taktik menguji anak semakin bervariasi serta godaan media yang sulit dihindarkan, terkadang membuat sebagian orang tua akhirnya terbawa emosi dan amarah. Akhirnya anak benar-benar menyerjakan shalat dengan perasaan tertekan dan takut dengan orang tua, bukan karena Allah.

Menurut praktisi parenting, anak-anak sebetulnya tahu bahwa shalat itu wajib, shalat itu harus tepat waktu namun mereka belum memahami sepenuhnya makna shalat yang sebenarnya, apa manfaat shalat dan apa pengaruhnya terhadap hidup mereka.

Jadi kita harus memberikan pemahaman dulu, ajak mereka berdialog dengan bahasa mereka.Latihan secara perlahan agar menjadi sebuah pembiasaan, disini orang tua benar-benar menjadi contoh teladan, misal saat adzan berkumandan, ibu menghentikan aktifitasnya di dapur lalu mengajak anak-anak shalat atau sang ayah yang sedang menonton mematikan TV lalu mengajak mereka shalat di masjid. Lalu berikan motivasi saat mereka terlihat jenuh dan bosanserta reward saat anak melakukan shalat dengan baik. [fm]

Photo-0149

Mencermati Tumbuh Kembang Bayi

Setiap ibu pasti tidak akan melewatkan tumbuh kembang buah hatinya, dimulai saat masih berbentuk janin hingga setelah kelahirannya. Dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun dinikmatinya dengan perasaan takjub dan bahagia, karena buah hati kian tumbuh dengan segala keajaibannya. Kasih sayang, pengasuhan yang baik dan respon positif dari ibu-lah yang membuat perkembangan bayi menjadi optimal.
 
Namun setiap bayi memiliki masa tumbuh kembang yang berbeda, karena faktor-faktor pertumbuhan seorang bayi tidak sama.Meski begitu kita tetap harus mengenali tahapan demi tahapan tumbuh kembang bayi agar tetap terkontrol dengan baik, sehingga jika ada sesuatu yang menghambat tumbuh kembangnya maka bisa kita periksa lebih awal.
 
Pada usia 0 bulan, perkembangan fisik dan motorik bayi lebih dominan, karena bayi memiliki gerakan refleks,memiliki kepekaan terhadap sentuhan, dan sedikit demi sedikit sudah bisa tersenyum.Lalu pada bulan kedua dan empat bayi mulai mengerti jika ia menangis maka ia akan mendapatkan sesuatu, entah susu, entah popoknya diganti atau digendong dan dipeluk.  Serta bayi pun mulai bereksperimen dan  belajar prinsip sebab akibat, ketika dia mengoyangkan atau menekan mainan maka akan keluar bunyi-bunyian dan juga mendapatkan reaksi dari sekitarnya.
 
The Urban Child Institute—sebuah lembaga yang sudah banyak melakukan studi tentang perkembangan bayi dan anak—menyimpulkan bahwa: setelah diteliti lebih lanjut, touch (sentuhan fisik), talk(mengajak berbicara), dan play (bermain dengan menggerakkan fisiknya) memang merupakan tiga hal yang sangat mendasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, dan biasanya para ibulah yang paling sering menerapkan ketiganya bukan?
 
Maka jelas, tumbuhkembang seorang anak bergantung pada ketiga hal di atas, dan salah satu komponen dari sana adalah: pelukan (touch). Dalam sebuah penelitian, ditemukan fakta bahwa pelukan ternyata dapat mengubah perilaku anak, mengurangi depresi dan meningkatkan kekebalan tubuh. Pelukan juga memberi energi baru pada tubuh lelah menjadi segar, serta meningkatkan jumlah hemoglobin atau sel darah merah ketika seseorang disentuh.
 
Lebih jauh lagi, manfaat pelukan tidak hanya efektif pada masa anak-anak saja. Tapi juga bisa membantu anak yang beranjak remaja untuk menghadapi masa pubernya. Karena pelukan dapat membangun konsep diri yang positif, Merangsang perkembangan sel otak, Mengurangi stress, mengurangi emosi negatif seperti kesepian, cemas dan frustasi, Mengatasi rasa takut serta transfer energi. Lebih hebatnya lagi, pelukan juga ternyata memiliki efek bolak-balik. Misalnya: jika kita memeluk anak sebelum berangkat kerja, hal ini juga akan membuat kita tenang pergi bekerja, fokus, bahagia, dan menjadi produktif.
 

Betapa senangnya bila bayi tumbuh jadi anak bahagia. Senyumnya dapat kita nikmati setiap saat, ia pun  menjalani hidupnya dengan penuh percaya diri. [fm]

IMG00005-20120218-1426

Yuk, Pupuk Kemandirian Anak!

Bayangkan kejadian ini: “Suatu sore sang Kakak yang baru duduk di kelas satu SD menyiapkan air panas  untuk mandi adiknya, yang baru berumur empat tahun. Air panasnya ia simpan dalam ember lalu disiapkan mainan bebek plastik, Sang adikpun gembira dan bersiap-siap untuk segera terjun dalam ember.  Setelah itu sang kakak juga menyiapkan baju untuk dipakai adiknya setelah mandi.”
Apa yang dilakukan sang kakak buat kita orang dewasa adalah pekerjaan yang mudah dan tak istimewa. Namun bagi anak yang masih berumur tujuh tahun, hal itu sangat menantang dan penuh perjuangan.Dari sini kita tahu bahwa sang kakak sudah belajar bagaimana peduli, bersimpati dan empati kepada adiknya dan orang-orang di sekitarnya.
Lebih jauh dari itu, sang kakak sudah belajar mandiri tidak bergantung pada orang tua atau sama si bibi tetapi sang kakak lebih hebat lagi karena ia bisa melakukannya untuk diri sendiri juga orang lain.
Kemandirian pada anak umumnya dikaitkan dengan kemampuan anak untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Apakah itu makan sendiri, memakai baju sendiri, dan menalikan sepatunya sendiri tanpa harus tergantung pada bantuan orang lain. Anak yang mempunyai rasa mandiri akan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan dapat mengatasi kesulitan yang terjadi. Disamping itu anak yang mempunyai kemandirian akan memiliki stabilitas emosional dan ketahanan yang mantap dalam menghadapi tantangan dan tekanan didalam kehidupannya (Hogg & Blau, 2004).
Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Di dalam keluarga, orang tualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.
Terkait dengan pola asuh dan kemandirian anak, sebuah penelitian tentang hubungan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak usia prasekolah, didapatkan hasil bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara pola asuh dan kemandirian dengan kemampuan menyelesaikan masalah. Anak yang lebih mandiri mengatakan bahwa dirumah mereka sering dibiasakan untuk melakukan atau memilih sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan. Seperti, berpakaian sendiri, memakai sepatu sendiri, belajar makan sendiri dan kadang-kadang orang tua mengajak anak untuk melakukan hal-hal kecil dalam membantu pekerjaan rumah. Sementara anak yang tampak kurang mandiri, mereka mengatakan bahwa mereka jarang dilibatkan dalam memilih atau melakukan sesuatu hal, dansegalanya lebih banyak ditentukan oleh orang tua. Seperti, pada saat makan di rumah orang tua selalu menyuapinya, atau ketika anak meminta sesuatu, orang tua otomatis selalu menurutinya
Sebenarnya, tidak hanya pada anak-anak, tetapipada orang-orang dewasa juga, terutama suami istri. Misalnya dalam hal pekerjaan rumahistri tentunya mampu untuk memyelesaikan pekerjaan rumah sendiri, tetapi akan berbeda ketika suami sengaja menyempatkan diri membantu dan membersihkan rumah sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang kepada istrinya, dan sebaliknya, sang istri pun membantu suami, menyiapakan segala keperluan kantor. Keduanya saling berterima kasih, saling membantu dan saling meringankan beban masing-masing. Ikatan cinta dan kasih sayang akan semakin erat.[fm]
intifadah

Anakku, Pahlawanku #3

Peran Ibu Dalam Menumbukan Sifat Kepahlawanan
Jika melihat sekilas biografi orang-orang besar tadi, tampak betul bahwa peran ibu dalam membentuk karakter mereka sangatlah signifikan. Kita sering mendengar kata Al-Ummu madrasatun ula. Seorang ibu adalah sekolah yang pertama, yang dimaksud adalah sekolah untuk anak-anaknya. Ada juga sebuah syair Arab yang berbunyi: “Al ummu madrasatun idzaa a’dadtahaa a’dadta sya’baan thayyibal a’raaq” (ibu adalah sebuah sekolah, jika pandai dipersiapkan, maka yang kita persiapkan sebenarnya adalah satu bangsa yang baik dasarnya).

Apa yang bisa dilakukan seorang ibu untuk melahirkan para pahlawan dari rumahnya?
1.       Pendidikan Keimanan
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6).
Rasul bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, bagaimana agar anak tetap dalam keadaan tauhid yang murni—tidak lantas berubah menjadi yahudi, nashrani atau majusi, inilah tugas terpenting orang tua.
Cara paling mudah yang telah ditempuh Rasulullah saw. dalam menanamkan pondasi keimanan kepada anak-anak adalah sebagai berikut:
•     Membimbing anak-anak untuk mengucap kata “Allah”, kemudian dilanjutkan dengan kalimat tauhid, sekaligus menjelaskan maknanya dalam bahasa yang sederhana.
•     Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah saw. pada awal-awal usia sehingga mereka mulai bisa memahami pada usia tamyiz.
•     Mengajarkan Al-Qur’an, dimulai dari ayat-ayat pendek sembari menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an.
•     Membiasakan melakukan shalat pada usia 7 tahun dan ibadah-ibadah lainnya yang telah mampu dilaksanakan.
•     Mulai diperkenalkan dengan konsep halal dan haram.
2.       Pendidikan Akhlak (Adab)
Akhlak adalah pancaran dari kekuatan akidah yang dimiliki seseorang. Artinya, jika keimanan telah terpancang kuat dalam jiwa seseorang, maka dengan sendirinya ia punya dorongan untuk melakukan sesuatu yang baik. Misalnya, ketika seseorang telah meyakini firman Allah, “(Lukman berkata), ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya)…” (QS. Luqman: 16), maka dengan sendirinya ia akan termotivasi untuk senantiasa berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk—meskipun perbuatan buruk yang kadarnya hanya seberat biji sawi.
Akhlak merupakan suatu hal yang secara spontan muncul jika berhadapan dengan sesuatu. Misalnya, seorang anak akan segera mengeluarkan uang ketika berhadapan dengan yang membutuhkan, tanpa harus berpikir panjang dan menimbang-nimbang. Jadi, akhlak adalah sesuatu yang muncul dari alam bawah sadar, yang terjadi karena kebiasaan.
Keluarga adalah wahana yang terbaik untuk terbentuknya akhlak-akhlak yang mulia. Penanaman kebiasaan yang baik, hendaknya memang dilakukan sedini mungkin, dan ini adalah prestasi terbaik yang berikan orang tua kepada anak-anaknya. Rasul bersabda, “Tidak ada pemberian yang terbaik yang diberikan seorang ayah (orang tua) kepada anaknya selain adab yang mulia.” (HR. Tirmidzi).
Orang tua perlu bersikap tegas dalam membiasakan akhlak yang baik ini. Rasul bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat di saat mereka berusia 7 tahun, serta pukul mereka pada usia 10 tahun jika mereka enggan melaksanakannya dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan lain-lain dengan sanad hasan).
Selain tegas, faktor keberhasilan yang terpenting lainnya adalah kesinambungan dan pentahapan. Sebab, segala sesuatu memang tercipta dalam tahap-tahap—tidak ada istilah 1000 candi dalam semalam. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu melalui tahap demi tahap (dalam kehidupan).” (QS. al-Insyiqaq: 19).
3.       Pendidikan Fisik
Pendidikan fisik juga suatu hal yang penting, karena tanpa fisik yang kuat, fitrah, potensi dan bakat yang dimiliki anak tidak akan termanfaatkan secara optimal untuk hal-hal yang berguna bagi umat. Pendidikan fisik dilakukan dalam beberapa hal, misalnya:
Dalam Masalah Kebersihan, Kerapian dan Keindahan
1.      Menjaga kebersihan, baik kebersihan badan, pakaian, tempat tidur, dan sebagainya. Rasul bersabda,“Bersih-bersihlah, karena sesungguhnya Islam itu bersih.” (HR Ibnu Hibban).
2.      Menutup tubuh dengan pakaian yang bisa melindungi diri dari cuaca. Allah berfirman, “Hai anak-anak Adam, sungguh telah kami turunkan kepada kalian pakain yang menutupi aurat kalian dan perhiasan.” (QS. al-A’raf: 26).
3.      Mengajari anak untuk tampil rapi, indah dan pintar berhias dengan hiasan yang syar’i. Biasakan mereka untuk tampil dengan pakaian yang baik, rapi, bersih, indah dan menarik. Allah berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid…” (QS. al-A’raf: 31). Dari Abu Darda, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kamu hendak datang kepada saudara-saudaramu seagama, maka bersihkan dan indahkan kendaraan kamu dan juga pakaian kamu, sehingga kamu itu tampak bagaikan tahi lalat tubuh di kalangan orang-orang (indah dan menonjol); karena sesungguhnya Allah itu tidak menyukai pakaian kumal dan sengaja berpakaian kumal.” (HR. Abu Dawud).
Dalam Masalah Makanan dan Minuman
1.      Memakan dan meminum sesuatu yang halal serta thayyib. Thayyib di sini berarti bahwa makanan tersebut berkualitas, baik dari gizi maupun lainnya, misalnya tidak busuk, tidak mengandung zat yang berbahaya dan sebagainya. Allah berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi…” (QS. al-Baqarah: 168).
2.    Tidak makan dan minum secara berlebihan“…Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Berolahraga
Senantiasa berolahraga, selain membuat tubuh kuat, rajin berolahraga juga akan membuat kita terhindar dari berbagai penyakit berat. Rasulullah bersabda, “Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Bukhari).
4.       Pendidikan Akal (Intelektual)
Akal adalah satu anugerah kepada manusia yang sangat diperhatikan dalam Islam. Hanya orang-orang berakallah yang terkena berbagai kewajiban dalam Islam. Rasul bersabda, ““Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari 3 golongan, di antaranya: orang gila sampai dia kembali sadar.” (HR. Abu Dawud). Dan Islam sangat mencela orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk berpikir. Firman-Nya, “Dan mereka berkata, ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk: 10).
Produk dari akal adalah ilmu. Pujian Allah terhadap orang-orang yang berilmu, menjadi motivasi sekaligus penyadaran bahwa aktivitas menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi setiap mukmin, termasuk anak-anak kita. “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. al-Mujadilah: 11).
Pendidikan akal dimulai dari pemberian gizi yang baik, yang akan membantu optimalisasi pertumbuhan otak. Menurut para ahli, dari bayi mulai lahir hingga berusia 3 tahun, kapasitas otaknya tumbuh hingga 90% kapasitas dewasanya. Inilah yang disebut periode emas (golden age). Jika pada umur-umur ini orang tua lalai untuk memberi gizi yang dibutuhkan otak, serta tidak menstimulasi otak dengan maksimal, maka akan ada kesempatan emas yang terengut dan tak akan datang kembali pada umur-umur selanjutnya. Tak heran, pada anak-anak yang dididik dengan baik, ternyata berhasil memperlihatkan prestasi yang begitu dahsyat, seperti hapal 30 juz Al-Qur’an dalam usia 5 tahun.
Sungguh, potensi yang tersimpan dalam otak manusia begitu luar biasa. Dari otak yang hanya seberat 1,5 kg ini terdapat bermilyar-milyar sel saraf. Richard Restak M.D, seorang ilmuwan, mengatakan bahwa otak manusia bisa menyimpan informasi lebih banyak dari seluruh perpustakaan di dunia. Inilah mengapa Allah SWT selalu menegur manusia dalam firman-firman-Nya, “afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak berakal)”, “la’allakum tatafakkarun (mudah-mudahan kamu berpikir),” dan sebagainya.
5. Pendidikan Kejiwaan (Psikis)
Pendidikan kejiwaan—yakni memunculkan emosi dan spiritual yang matang—harus semakin digencarkan di zaman ini, di mana revolusi teknologi telah memungkinkan anak-anak kita mendapatkan pendidikan intelektual lebih baik dari zaman sebelumnya. Kecerdasan akal yang tak diimbangi dengan kecerdasan psikis, sering memunculkan anomali-anomali yang mengejutkan. Masih ingatkah Anda tentang seorang Cho Seung Hui yang membantai mahasiswa di kampus Universitas Virginia Tech beberapa masa yang lalu? Konon, Cho Seung Hui adalah seorang yang sangat cerdas, namun sangat labil dalam masalah emosi. Ia pun berhasil tampil sebagai pembunuh berdarah dingin. Menghamburkan lebih dari 170 peluru, ia berhasil menghabisi 32 nyawa dan setelah itu ia membunuh dirinya sendiri.
Di dalam Islam, pendidikan kejiwaan telah ditekankan. Misalnya, kita dilarang melaknat anak-anak kita. Rasulullah saw. bersabda, “…Melaknat seorang muslim sama dengan membunuhnya.” (HR. Bukhari). Jika yang dilaknat adalah anak-anak kita, tentu lebih tragis lagi. Anak-anak memiliki hati seputih kertas dan selembut sutera. Hardikan dari orang-orang—khususnya yang ia cintai—akan mencipta luka di hati yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya. Selain mencipta luka, juga akan menurunkan rasa percaya diri, serta menjadikannya belajar melaknat orang lain pula. Ingatlah puisi Dorothy Law Nolte berikut ini:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri
Inilah rahasia mengapa Rasulullah mengatakan kepada seorang lelaki yang mengaku tak pernah mencium anaknya, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kamu jika Allah mencabut rasa kasih sayang dalam hatimu.” (HR. Bukhari).
Usamah bin Zaid r.a. berkata, “Rasulullah saw. pernah mendudukkan saya (saat masih kecil) di atas salah satu pahanya dan mendudukkan Al-Hasan di atas pahanya yang lain, kemudian Rasulullah memeluk kami berdua lalu berdoa, ‘Ya Allah, sayangilah kedua anak ini, karena saya menyayangi keduanya.” (HR. Bukhari).
Sikap menyayangi, mendukung, bersahabat, memberi dorongan serta pujian, bertoleransi dan melakukan anak dengan baik, akan sangat berpengaruh terhadap aspek kejiwaan anak. Sebaliknya, sikap mencela, mengacuhkan, memusuhi dan menghina, hanya akan membuat si anak senantiasa berkecamuk dalam pemikiran-pemikiran negatif, yang berdampak pada mental yang tak stabil.
6. Pendidikan Sosial
Kekuatan umat islam adalah ketika mereka bergabung dalam satu jamaah. Itulah mengapa, Allah lebih mencintai amalan-amalan yang dikerjakan secara bersama-sama. Shalat misalnya, pahalanya lebih banyak jika dilakukan secara berjamaah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. ash-Shaff: 4).
Sedangkan salah satu perekat jamaah yang paling baik, setelah akidah adalah ukhuwah. Maka, sejak dini seorang anak harus dilatih untuk bisa bersosialisasi, bermasyarakat dan menerapkan hak-hak ukhuwah. Rasulullah saw. bersabda, “…Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lainnya; ia tak boleh saling menyakiti, merendahkan dan menghina…” (HR. Muslim).
Seorang anak harus diajari untuk berinteraksi dengan orang lain, dimulai dari lingkungan terkecilnya, yakni keluarga, yakni ayah, ibu dan saudara-saudara. Interaksi yang harmonis, bisa jadi berasal dari kita, kaum ibu. Jika ibu bisa mengambil peran secara baik, maka perseteruan kakak dan adik tak akan terjadi di luar batas kewajaran. Peran ini—menurut Ummu Harits, dalam buku Mengelola Persaingan Kakak Adik—adalah sebagai mediator, penengah yang adil. Jika seorang ibu sudah memihak, maka ia telah mengajari anak untuk bersikap tidak netral, yang akan membekas di sanubari sang anak. Menanamkan kesadaran kepada anak-anak yang lebih tua, seringkali lebih mudah. Akan tetapi, jangan suruh mereka untuk selalu mengalah kepada si kecil. Apalagi sampai menurunkan martabat sang kakak di depan adik, misalnya dengan berkata, “Kamu nakal!” Jika Anda hendak menasihati si kakak, sebaiknya di ruang khusus yang terpisah dengan adiknya—demikian juga sebaliknya.
Interaksi dengan orang di luar keluarga juga harus dibangun. Ajari anak untuk menghargai yang lebih tua—misalnya dengan mencium tangannya saat bertemu—serta menyayangi yang lebih muda—misalnya dengan membelai rambutnya secara lembut. Selain itu, jangan terlalu membatasi pergaulan anak-anak kita, misalnya dengan selalu mengurung diri di rumah karena takut jika dipengaruhi pergaulan anak-anak di sekitar rumah kita. Anak-anak juga perlu bersosialisasi, namun pantaulah mereka selalu, dan berilah konter atas apa-apa yang Anda anggap tidak tepat, yang berasal dari lingkungan sekitar, tentu saja dengan cara yang bijak.
Sekaligus untuk menanamkan kebiasaan beribadah secara jamaah, sangat baik jika orang tua—terutama ayah—mengajak anak-anaknya untuk ke masjid setiap shalat 5 waktu. Jika mereka berbuat keributan di masjid, ini menjadi entry point untuk memahamkan bahwa mereka harus menjaga ketenangan saat melihat orang lain beribadah. Wallahu a’lam bish-shawwab.
7. Pendidikan Seksual
Pada beberapa masyarakat, mereka menganggap tabu memberikan pendidikan seksual kepada anak-anaknya, sehingga informasi tentang seks justru didapat dari pihak luar, yang terkadang hanya berupa informasi sepotong-sepotong yang malah menyesatkan. Pendidikan seksual diawali sejak kanak-kanak, yakni dari pengenalan perbedaan antara lelaki dan perempuan yang diikuti dengan pembedaan cara berpakaian, cara bermain dan sebagainya. Anak-anak lelaki dan perempuan juga harus mulai diajarkan untuk terpisah tempat tidurnya.
Ketika anak memasuki masa tamyiz (pra pubertas, sekitar 7-10 tahun), ajarilah ia untuk meminta izin ketika memasuki tempat-tempat pribadi—seperti kamar tidur—baik milik orang tua atau anggota keluarga yang lain. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu.  Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu…” (QS. an-Nuur: 58).
Ketika anak memasuki usia pubertas (remaja), maka anak mulai dipahamkan dengan sistem reproduksi seperti haid dan mimpi basah, serta berbagai konsekuensi yang harus ditanggung. Akan tetapi, pada masa-masa ini, hendaklah mereka dijauhkan dari berbagai macam hal yang dapat merangsang gairah seksual. Mereka juga harus telah menutup aurat.
Sedangkan bila anak telah memasuki usia siap menikah, maka ajarkanlah padanya etika jimak, serta berbagai hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, seperti hamil, melahirkan, menyusui dan sebagainya. Sedangkan pada anak lelaki, kewajiban untuk memberi nafkah lebih ditekankan dibanding perempuan.
8. Pendidikan Finansial
Masalah finansial, mulai dari cara mencari ma’isyah, mengatur ma’isyah, memanfaatkan hingga tanggung jawab yang berkaitan dengan hal tersebut seperti zakat, infak, sedekah, harus sejak dini ditanamkan kepada anak. Kepada anak lelaki, tanamkan kepada mereka, bahwa tanggung jawab lelaki adalah memberi nafkah kepada anak istrinya. Kepada perempuan, didiklah untuk bisa qanaah dan tidak mengeluh dengan kesempitan rezeki yang mungkin akan dirasakan. Ajarkanlah mereka nilai uang, serta sikap menghargai uang. Jangan gelontorkan uang saku secara berlebihan, meskipun Anda mampu untuk itu. Bantulah mereka untuk merencanakan keuangan mereka, termasuk menabung dan belajar investasi.
Akan tetapi, perlu diingat, mengajari anak hidup hemat, bukan berarti membentuk mereka untuk menjadi pelit. Justru mereka harus dirangsang untuk bersikap dermawan. Setelah anak beranjak agak besar, ajari mereka untuk mencari penghasilan, misalnya dengan berdagang. Jangan tekankan pada hasil, tetapi lebih pada semangat mereka untuk berusaha mandiri. Pelan-pelan, jiwa wirausaha mereka akan terpupuk. Bagaimanapun, menjadi seorang pengusaha adalah cara yang lebih baik untuk mandiri secara finansial. Rasulullah bersabda, “Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Bukhari).
9. Pendidikan Leadership
Rasulullah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin…” (HR. Bukhari). Hadits tersebut menginspirasikan kepada kita, bahwa leadership (sikap kepemimpinan) merupakan suatu hal yang harus dimiliki setiap orang, karena setiap orang adalah pemimpin—minimal memimpin diri sendiri.
Membangkitkan rasa kepemimpinan dimulai dari membantu anak untuk memahami dirinya sendiri, mengetahui peta diri—positif negatifnya, mengoptimalkan yang positif dan meminimalisir yang negatif, dan oleh karenanya, anak mampu menjadi diri sendiri. Bukan sebaliknya, senantiasa melindungi si anak dengan kebesaran nama Anda dan suami, serta berharap anak-anak Anda akan mendapatkan kemudahan dengan berlindung di bawah ‘sayap’ Anda. Ingatlah, tak akan selamanya Anda bersama dengannya. Suatu saat, anak-anak yang Anda timang-timang itu, harus berjalan di atas muka bumi sebagai dirinya sendiri, yang memiliki tanggung jawab terhadap keluarga mereka.
Usai anak mampu berjalan di garis lurus—yakni garis yang sesuai dengan potensi dan bakat mereka, bantulah agar ia mampu membentuk tim. Pada saat ia berada di tim, tak harus ia menjadi ketua untuk menumbuhkan leadership-nya. Cukup jika ia mampu bersikap amanah terhadap apa-apa yang dibebankan kepada mereka, berarti sikap kepemimpinannya mulai terbentuk.


Pada anak-anak yang lebih tua, apalagi yang sulung, tuntutan untuk memiliki sikap kepemimpinan biasa lebih tinggi. Biasanya, secara otomatis, anak akan mampu memimpin adik-adiknya. Akan tetapi, jangan biarkan mereka mendominasi anak-anak yang lebih muda, dan jangan biarkan pula anak-anak yang lebih muda merasa terus hidup di bawah bayang-bayang mereka, bahkan merasa nyaman dan enjoy selamanya. Berilah jatah bergilir kepada mereka untuk menjadi pemimpin. Misalnya, Anda membuat kegiatan rihlah keluarga ke tempat wisata. Anda bisa mengarahkan forum keluarga untuk memilih—misalnya Syahidah sebagai ketua panitia. Besoknya, ketika Anda kedatangan tamu dari keluarga mertua, pilihlah Ramadhan sebagai ketua panitia. Begitu seterusnya.

Bagian Ketiga Dari Tiga Tulisan
Ditulis Oleh Afifah Afra