Category Archives: TSAQOFAH

kabah17

Ibadah Qurban, Hukum dan Keutamaannya

kabah17

Tak lama lagi, umat Islam akan menyambut Hari Raya Idul Adha. Dan setelah ibadah Idul Adha selesai dilaksanakan, akan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Ibadah kurban adalah ibadah yang dianjurkan bagi umat Islam. Sebagian ulama menetapkan hukumnya sebagai wajib, sebagian pula menetapkannya sebagai sunat muakad bagi yang mampu, dan penetapan yang kedua inilah yang lebih banyak disepakati.

Adapun dalil yang mendasarinya salah satunya adalah firman Allah swt dalam surat Al-Kautsar ayat 2 yang artinya : “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.”

Selanjutnya, jenis hewan qurban yang ditetapkan oleh syariat adalah jenis hewan ternak, sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hajj ayat 34 yang artinya :
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahimatul an’am (binatang ternak) yang telah direzkikan Allah kepada mereka”
Berikut adalah beberapa hikmah dan keutamaan bagi umat Islam yang melaksanakan ibadah qurban, yaitu :

1. Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim a.s., sekaligus memperkuat keyakinan kita akan buah kesabaran dan ketaatan kepada Allah SWT.

2. Ibadah qurban lebih baik nilainya daripada bersedekah dengan uang yang senilai harga hewan kurban. Ibnul Qayyim berkata : “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu dan qiron meski dengan sedekah berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan kurban (udhiyah)”.

3. Mendapat pahala yang berlimpah. Dari Zaid ibn Arqam, mereka berkata: “’Wahai Rasulullah SAW, apakah kurban itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.’ Mereka menjawab, ‘Apa yang kami peroleh dengan kurban itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan’. Mereka menjawab, ‘Kalau bulu-bulunya?’ Rasulullah menjawab, ‘Setiap satu helai bulunya juga kebaikan’.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

4. Merupakan ibadah utama
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada amal yang lebih utama pada hari-hari (tasyriq) ini selain berkurban. Para sahabat berkata, “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad. Kecuali seseorang yang keluar dari rumahnya dengan mengorbankan diri dan hartanya di jalan Allah lalu dia tidak kembali.” *HR. Bukhari).

Semoga kita termasuk hamba yang menyuburkan ibadah kurban sebagai amalan yang dianjurkan, dan semoga diri kita dilimpahi dengan kebaikan dari ibadah kurban. Amin.

Referensi :
www.rumaysha.com
www.rukunislam.com
www.rumahzakat.org

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis nonfiksi Sayap-sayap Sakinah, Sayap-sayap Mawaddah dan 14 novel.
FB : Riawani Elyta
Twitter : @RiawaniElyta
Blog : www.riawanielyta.com
IG : riawani_elyta

Ummahat

TIPS MENJADI WANITA PRODUKTIF #2

Ummahat

Meneruskan artikel terdahulu tentang Tips Menjadi Wanita Produktif #1, berikut ini adalah tips-tips lanjutan untuk menjadi wanita yang produktif :

4. Terus Menambah Wawasan, Pergaulan dan Kreativitas
Agar senantiasa produktif, tentu saja produktivitas harus dijaga. Dan di antara “bahan bakar” yang dapat menjaga produktivitas, adalah dengan terus menambah wawasan, memperluas pergaulan dan meningkatkan kreativitas. Wawasan bermanfaat untuk memperkaya ilmu pengetahuan kita, pergaulan dapat membantu kita memperluas relasi, jaringan, memperoleh ide dan peluang baru serta menambah silaturahim. Dan kreativitas pula akan membuat hasil karya kita terus mengalami pembaharuan, tidak stagnan dan monoton. Yang terakhir ini sangat penting jika produktivitas sahabat terkait dengan profesi. Misalnya saja sahabat adalah seorang desainer web. Maka kreativitas adalah amunisi penting untuk sahabat mengembangkan desain-desain baru yang tentu saja akan berpeluang menarik lebih banyak calon customer.

5. Mengurangi Kegiatan yang Kurang Bermanfaat
Mengambil waktu sejenak untuk refreshing sangat diperlukan. Tetapi jangan sampai terlena hingga waktu lebih banyak terpakai untuk hal-hal yang awalnya hanya diniatkan untuk refreshing. Contohnya saja, berlama-lama chatting di media sosial, cuci mata di mal hingga berjam-jam, dan sebagainya. Selain dapat mengurangi tingkat produktivitas, refreshing yang berlebihan juga dapat menguras energi yang seharusnya dapat digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

6. Menjaga Kesehatan Fisik dan Psikis
Kesehatan adalah modal penting untuk mendukung produktivitas. Maka perlu tetap dijaga baik itu kesehatan fisik maupun psikis. Menjaga kesehatan fisik dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang bergizi, istirahat dan olahraga yang cukup, serta menjauhi hal-hal yang dapat merugikan kesehatan. Sementara untuk menjaga kesehatan psikis, cara terbaik adalah dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan amalan yang dicintaiNya, seperti sholat malam, berzikir, mengaji, mengikuti majelis ta’lim, bersedekah dan sebagainya.

Demikianlah tips sederhana agar menjadi seorang wanita yang produktif. Semoga tips ini bermanfaat dan mari kita isi waktu kita dengan produktivitas yang positif.

Penulis:
Riawani Elyta
Penulis nonfiksi Sayap-sayap Sakinah, Sayap-sayap Mawaddah dan 14 novel.
Saat ini juga aktif sebagai kontributor media online, mentor kelas menulis online dan admin di komunitas Be A Writer.
FB : Riawani Elyta
Twitter : @RiawaniElyta
Blog : www.riawanielyta.com
IG : riawani_elyta

orang tua

TIPS MENJADI WANITA PRODUKTIF #1

Ummahat

Wanita adalah makhluk Tuhan yang dibekali dengan kemampuan multitasking. Namun demikian, kemampuan yang tidak diiringi dengan manajemen waktu dan tenaga yang baik, bisa mengakibatkan kelelahan, pekerjaan tidak terselesaikan dengan baik, dan terkadang juga berefek pada psikis dan emosional.

Sahabat Sakinah barangkali pernah bertemu dengan wanita yang seolah-olah tak pernah kehabisan energi. Berbagai peran baik internal maupun eksternal dapat dilakoninya dengan optimal. Rumah tangga terurus, anak-anak terpelihara, kontribusi pada masyarakat pun tak kurang aktifnya. Atau dengan kata lain, sosoknya layak disebut sebagai wanita yang produktif.

Inginkah sahabat menjadi seorang wanita yang produktif ? Berikut diantara tips-tips yang dapat sahabat lakukan :

1. Buat Jadwal Rutinitas Harian
Meskipun aktivitas sehari-hari hanya berkutat seputar hal-hal yang sama, membuat jadwal harian dapat membantu sahabat untuk mengatur waktu dengan lebih efektif. Sahabat dapat melakukannya secara sederhana dengan kertas dan pena, lalu catatlah tugas-tugas dan aktivitas apa yang biasanya sahabat lakukan mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Catat juga berapa banyak waktu yang sahabat perlukan untuk masing-masing tugas dan aktivitas. Sahabat mungkin akan terkejut bahwa ternyata masih ada celah waktu yang bisa digunakan untuk melakukan aktivitas tambahan yang bermanfaat ataupun sejenak memanjakan tubuh dengan melakukan perawatan atau beristirahat.

2. Biasakan Melakukan Perencanaan
Terkadang, kita merasa tidak perlu berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu yang sudah menjadi “santapan” harian kita. Padahal, hanya dengan menyisihkan sedikit waktu untuk menyiapkan rencana sebelum memulai, pekerjaan kita insya Allah akan selesai dengan lebih baik. Contohnya saja ketika sahabat berencana akan ke pasar untuk membeli keperluan dapur. Sesampai di pasar sahabat lalu membeli semua kebutuhan yang memang biasanya dibeli, namun saat pulang ke rumah, sahabat baru menyadari bahwa ternyata ada beberapa bahan penting yang belum dibeli ataupun sebaliknya, bahan-bahan yang sahabat beli ternyata stoknya menumpuk di rumah. Akibatnya, sahabat harus kembali ke pasar untuk membeli bahan yang tidak ada.
Andai saja sahabat mau meluangkan waktu untuk merencanakan apa yang akan dibeli, tentu lebih banyak waktu dan energi yang bisa dihemat, bukan?

3. Lakukan Aktivitas Sesuai Passion
Produktivitas biasanya berbanding lurus dengan motivasi. Semakin tinggi motivasi maka akan semakin besar pula produktivitasnya. Dan salah satu motivasi terbesar adalah melakukan aktivitas sesuai passion. Oleh sebab itu, selain melakukan tugas-tugas wajib sebagai seorang ibu, tak ada salahnya sahabat melakukan aktivitas tambahan sesuai passion. Seperti menjahit, berkebun, melakukan kegiatan amal, menulis, dan sebagainya. Aktivitas berdasarkan passion ini biasanya akan dilakukan dengan senang hati dan dengan sendirinya akan mendorong pelakunya menajdi seorang yang giat dan produktif.

(Bersambung ke Tips Menjadi Wanita Produktif #2)

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis nonfiksi Sayap-sayap Sakinah, Sayap-sayap Mawaddah dan 14 novel.
Saat ini juga aktif sebagai kontributor media online, mentor kelas menulis online dan admin di komunitas Be A Writer.
FB : Riawani Elyta
Twitter : @RiawaniElyta
Blog : www.riawanielyta.com
IG : riawani_elyta

Do'a Orang Tua

Doa Orangtua

Terkadang hati kita begitu pilu dan sedih ketika anak-anak, tidak selalu menurut semua yang kita perintahkan bahkan tak jarang berujung dengan  amarah yang tak terkendali. Kehadiran anak-anak memang merupakan ujian bagi orang tuanya, meski mereka darah daging kita terkadang sangat sulit mengendalikannya. Mungkin diantara kita sering kehilangan kesabaran saat menghadapi anak-anak, namun segala perilaku anak-anak kembali tercermin pada kedua orangtuanya maka mendidiknya dengan penuh cinta dan doa.

Ya, terkadang sebagai orang tua kita melupakan senjata utama; doa dan cinta pada anak-anak. Kita lupa, Bukankah anak-anak kita sesungguhnya adalah milik Allah? Bukankah yang menggenggam hati mereka dan yang berkuasa untuk mengubah dan memperbaiki mereka adalah doa kepada Allah SWT. Terutama di bulan ramdhan yang sangat istimewa ini Allah menyediakan waktu yang ‘spesial’ untuk kita memanjatkan doa. Berikut ini adalah waktu-waktu mustajabnya doa pada bulan Ramadhan : ‘

Waktu Sahur

Pada saat sahur inilah sebuah do’a mudah diterima sebagaimana disampaikan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

 

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
Artinya: “Allah SWT turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari).

Saat Berpuasa

Puasa adalah ibadah yang diwah=jibkan bagi seluruh umat Islam. Saat berpuasa adalah waktu mustajabah untuk berdo’a sebagaimana disampaikan oleh hadist Nabi Muhammad:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Ada tiga golongan yang doa mereka tidak ditolak: (1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, (2) imam yang adil dan (3) doa orang yang dizalimi.” (HR Tirmidzi 3522).

Saat Berbuka Puasa

Berbuka puasa disunnahkan untuk disegerakan. Pada saat berbuka puasa, berdo’a mudah diterima oleh Allah sebagaimana hadist Nabi Muhammad:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzalimi.”

 

Doa adalah harapan yang bisa sampaikan pada-Nya, untaian kata dengan makna yang ditandai dengan keikhlasan jiwa dan juga usaha dari orang tua untuk buah hatinya, berharap mereka menjadi pribadi yang berahlak dan bermoralDan sorang tua selalu berusaha menjadi role model kebaikan dan kelembutan dalam mendidik, membimbing dan mengasuh mereka. (fm)

ibu-hamil

Saat Hamil Bolehkah Ikut Berpuasa

Saat bulan puasa tiba, terkadang memunculkan rasa dilema tersendiri bagi para wanita yang sedang mengandung. Haruskah ikut berpuasa atau tidak, kekhawatiran akan kondisi janin-nya jika diajak berpuasa dan keinginan menjalani puasa dengan segala kondisi yang ada. Sehingga memunculkan pertanyaan bolehkah wanita yang sedang hamil berpuasa?

ibu-hamil

sumber gambar dari sini

Menurut Dr. Bambang Suyono, SpOG melakukan ibadah puasa meski sedang hamil sebenarnya tidak akan memengaruhi kondisi kesehatan bayi yang dalam kandungan, perubahan pola makan si ibu tidak akan membuat bayi Anda kekurangan persediaan gizi dan makanan. Mengapa? Karena bayi di kandungan mendapatkan asupan makanannya dari plasenta melalui aliran darah. Jadi meski pola makan Anda berubah, asalkan Anda tetap mengonsumsi makanan sehat yang dibutuhkan selama kehamilan ini, maka bayi di kandungan akan tetap mendapatkan kecukupan zat gizi dan mineral penting untuk pertumbuhannya. Meski demikian, Dr. Bambang mengingatkan para ibu yang sedang hamil tidak memaksakan diri berpuasa jika kondisi kehamilannya kurang sehat. Puasa memang tidak akan secara langsung mempengaruhi kondisi janin, tapi justru kondisi si ibu sendiri, apakah dia sehat dalam menjalankan ibadah puasa atau tidak.

Hal ini senada dengan paparan Syekh Ibn Baz, rahimahullah berkata,”Wanita hamil dan menyusui, hukumnya seperti orang sakit. Jika berat bagi mereka berpuasa, maka dibolehkan bagi mereka berbuka. Dan mereka harus mengqadha (menggantinya) ketika dirinya sudah mampu berpuasa, seperti orang sakit. Sebagian ulama berpendapat, cukup bagi keduanya memberi makan (satu orang miskin untuk setiap satu hari tidak berpuasa). Ini merupakan pendapat lemah yang tidak dikuatkan. Yang benar adalah dia harus mengqadha, seperti musafir atau orang sakit.

anak puasa

Anak-Anak dan Bulan Ramadhan

Anak-anak sangat antusias menyambut bulan ramadhan, mereka akan mengalami keseruan shalat tarawih, tadarus dan merasakan kebersamaan saat makan sahur dan berbuka yang tak akan pernah mereka alami dibulan-bulan selain ramadhan. Namun bagi orang tua terutama ibu dengan buah hati yang baru belajar shaum, baru belajar shalat tarawih di masjid bulan ramadhan akan menjadi bulan yang penuh tantangan. Membayangkan sulitnya membangunkan anak-anak saat makan sahur sepertinya sudah membuat para ibu menggigil.

anak puasa

sumber gambar dari sini

Belum lagi saat siang mendengar rengekan anak yang lapar dan haus, padahal diwaktu-waktu biasa mereka sangat sulit diajak makan dan minum. Para orang tua terutama ibu selalu bergembira menyambut hadirnya bulan ramadhan namun se-gembira saat mereka belum memiliki buah hati. Bahkan ada ibu yang merasa ribet dan tidak enjoy menjalani bulan ramadhan karena harus menhadapi anak-anaknya yang terkadang membuat jengkel, sehingga membuatnya tidak fokus beribadah.

Menurut Yuria Pratiwi Cleopatra, seorang pakar parenting mengatakan sebetulnya para orang tua terutama ibu bisa menjalani ramadhan dengan indah, damai dan menyenangkan sekaligus mengajak anak-anaknya juga bisa fokus beribadah. Berikut beberapa tips bagaimana menjalani ramadhan bersama anak-anak yang baru menjalaninya :

  1. Mengetahui kapan anak-anak mulai bisa diajak berpuasa?

Para ibu tidak perlu dengan tegas ‘menyuruh’ anak kecil puasa kalau itu merepotkan, mereka belum wajib melaksanakan puasa, kewajiban puasa baru berlaku saat mereka berusia baligh. Dalam Islam, tidak ada perintah mengajarkan puasa pada anak usia dini, namun memberikan anak pengertian tentang puasa sejak mereka usia 3 tahun, bahwa orang dewasa tidak makan dan minum sampai maghrib. Adakalanya anak-anak TK mulai diperkenalkan puasa di sekolahnya.

  1. Mendukung dan menyemangati jika mereka ingin ikut berpuasa

Jika anak usia TK/ pra SD ternyata bersemangat dan sangat ingin ikut puasa, maka tugas kita adalah memberi support. Setiap malam kita tanya, apakah mereka mau dibangunkan untuk sahur? Apakah besok mau lanjut puasa? Sifatnya tawaran saja, tidak memaksa. Kalau ternyata anak memutuskan berbuka, maka kita berikan haknya. Kalau ingin melanjutkan kita bantu mereka. Jangan sampai anak sudah lemas, haus dan lapar malah dimarahi ibunya yang kesal.

  1. Memberi reward bagi anak yang shaum.

Apakah ini membuat anak tidak ikhlas? Mungkin anak memang belum paham tentang ikhlas. Yang kita latihkan adalah proses fisik shaumnya dulu. Insya Allah anak akan belajar ikhlas pada tahun-tahun berikutnya setelah secara fisik dia mampu shaum.

  1. Tetap memperhatikan kebutuhan gizi dan kalori anak-anak selama berpuasa.

Kita perlu membantu anak mengatur asupan makanannya agar nutrisi tetap terjaga selama puasa, saat sahur memberika mereka makanan yang kayak serat, protein dan susu. Saat berbuka pun tetap diatur tidak perlu menyiapkan tajil yang berlebihan. Rasulullah pun hanya mencontohkan tajil hanya dengan air dan kurma saja, sekalian mengajarkan banyak khasiatnya mereka memakan kurma. Setelah shalat maghrib bisa menyantap makanan ‘antara’ seperti sup, puding, susu atau makanan lain yang banyak mengandung air. Setelah Isya dan tarawih baru dilanjut makan berat. Namun bila anak sudah mengantuk setelah Isya, makan beratnya bisa dimajukan setelah maghrib.

  1. Membuat acara makan sahur yang gembira dan semangat.

Terutama di awal ramadhan anak-anak sulit dibangunkan, buat suasana seseru mungkin dengan menyediakan menu kesukaan anak-anak atau sekali-sekali deliveryagar mereka gembira dan bersemangat. Biasanya setelah seminggu tubuh kita sudah menyesuaikan diri, sehingg tidak sulit lagi untuk bangun sahur.

  1. Menikmati ramadhan ini disetiap detiknya.

Yang paling penting adalah menjaga agar para orang tua terutama ibu tetap tenang,menjalani dan menghadapi ramadhan. Tidak perlu banyak kecemasan dan kekhawatiran, tidak perlu mempersulit diri dengan berbagai aturan yang ketat dan ideal. Nikmati saja ramadhan ini sebagai bulan refreshing, perbanyaklah me time untuk beribadah dan bermesraan dengan sang Khaliq.(fm)

orang tua

Menjadi Orang Tua yang Bijak

orang tua

sumber gambar dari sini

Memperhatikan anak-anak saat tidur adalah yang sangat mengharukan, betapa tidak melihat wajah yang mereka begitu lugu dan polos juga tak berdaya. Saat itu hilanglah perasaan marah dan kesal atas segala kelakuan dan tingkah mereka yang menjengkelkan, berganti kasih sayang yang dalam dan keinginan untuk selalu melindungi mereka. Itulah sikap para orang tua yang menjadikan anak-anak mereka adalah anugerah terindah dari Allah SWT, mereka menjaganya melebihi penjagaan terhadap diri mereka sendiri dan orang tua berusaha semaksimal mungkin memperbaiki pola asuh mereka, agar anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan karena hakekatnya setiap orang tua merupakan manusia biasa yang tak selamanya selalu benar dalam ucapan maupun tindakan. Berikut ini tips menjadi orang tua yang bijak

1. Berpikir positif

Kenapa harus selalu berfikir positif? Karena orang tua selalu dituntut untuk menyikapi segala hal yang menyangkut kehidupan sang anak. Tuntun dan berikanlah anak ruang untuk berpikir dan mengambil keputusan yang baik dan benar, terutama dalam hal pendidikan dan kehidupan sosialnya.

2. Memahami kondisi

Sosok orang tua yang bijak tentu harus tahu kapan waktunya untuk serius dan bercanda, mejadi sahabat atau terkadng menjadi penasehat anak, karena peranan orang tua sangatlah dibutuhkan untuk menjadi penasehat yang baik dengan pemikiran yang matang, bukan sebagai penentu sebuah keputusan.

3. Cerminkan kasih sayang

Kasih sayang adalah “modal” utama bagi sang anak untuk menjadi kuat, tabah dan tak merasa sendiri dalam menjalani hidup. Karena sikap inijustru akan membentuk emosi yang positif akan membantu anak untuk tetap ulet menghadapi semua tantangan dalam hidup dan di masa-masa sulit mereka.

4. Kenali pribadi anak

Banyak dari orang tua yang seakan-akan tahu benar bagaimana cara mencukupi semua kebutuhan sang anak dan membesarkannya. Namun pada kenyataannya tak semua orang tua dapat dengan mudah mengenali kepribadian sang anak. oleh karenanya pahami dan selamilah karakter masing-masing anak sehingga Anda tahu kapan dan bagaimana caranya melakukan pendekatan dan bersikap kepada anak.

5. Meminta maaf saat berbuat salah

Belajarlah dari pengalaman saat Anda pernah menjadi seorang anak di masa lalu dimana mungkin Anda juga pernah melakukan apa yang dilakukan saat ini oleh anak Anda. Berbuat salah adalah hal yang manusiawi, wajar dan bisa saja terjadi kepada siapapun orangnya tanpa memandang usia. Jika Anda merasa memiliki salah terhadap anak, meminta maaflah. Meminta maaf bukanlah hal yang memalukan yang dapat mencederai harga diri yang dimiliki oleh orang tua, namun meminta maaf yang tulus justru akan membuat Anda menjadi orang tua yang sempurna dimata sang anak. (fm)

ramadhan

Mengajak Anak Belajar Puasa

Ramadhan tinggal hitungan hari sudahkah kita mempersiapkan diri dan anak-anak kita menyambutnya? Jika belum marilah segera mungkin kita persiapkan diri, keluarga dan anak-anak kita seperti yang Rasulullah lakukan menjelang ramadhan. Beliau mempersiapkan dirinya untuk amaliyah secara maximal dan optimal lalu beliau senantiasa mengumpulkan para sahabatnya menyampaikan kepada mereka hikmah dan keutamaan-keutamaan puasa di bulan Ramadhan. Beliau memompa semangat para sahabat agar mereka gembira dalam menyongsong bulan penuh berkah ini.

ramadhan

sumber gambar dari sini

Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardukan atas kamu berpuasa didalamnya. Dibuka semua pintu syurga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala setan. Didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa tiada kebajikan pada malam itu, maka sungguh tak akan ada kebajikan atasnya.”(HR Ahmad, Nasa’I, Baihaqi dari Abu Hurairah)

Indah sekali untaian hadist diatas, betapa Allah SWT membuka kesempatan lebar-lebar pada hamba-hamba Nya untuk mendekatkan diri dan berlomba-lomba untuk mencapai derajat tertinggi dihadapan Allah SWT. Maka sangat disayangkan jika kita dan anak-anak melewatkan puasa di bulan ramadhan.Seperti yang kita tahu puasa di bulan ramadhan merupakan rukun Islam yang ke-empat, statusnya menjadi wajib bagi orang-orang yang mampu. Namun bagi anak-anak yangbelum mencapai akil balig, bulan ramadhan adalah bulan pembiasaan agar mereka kelak benar-benar tak ada beban menjalankannya dan mereka akan senantiasa merindukan bulan ramadhan.

Berikut ini beberapa tips untuk orangtua untuk mempersiapkan anak berpuasa yang dikutip dari blog anakku.net:

  1. Perkenalkan segala hal tentang puasa, sampaikan secara berulang dengan pendekatan yang berbeda. Sehingga pada saat mencapai bulan puasa, anak sudah memahami arti puasa, bagaimana menjalankan puasa dan mengerti manfaat puasa. Hal ini memudahkan orangtua saat harus merubah ritme tidur dan makannya.
  2. Buatlah suasana di rumah yang bernuansa puasa. Misalnya dengan menyimpan seluruh makanan dan minuman agar tidak mengganggu anak berpuasa. Aktifitas keluarga disesuaikan dengan bulan puasa. Bila perlu lagu bernuansa Islami dapat diperdengarkan selama bulan puasa pada anak.
  3. Ajaklah anak berpuasa bertahap. Jangan terlalu memaksakan anak agar berpuasa penuh pada anak yang baru mulai menjalankan ibadah puasa. Jelaskan pada anak pentingnya puasa, namun mintalah anak untuk jujur pada anda saat ia sudah merasa sangat tidak tahan berpuasa. Mungkin puasa dapat dimulai dengan setengah hari, kemudian tiga perempat hari dan kemudian penuh.
  4. Bila anak sudah mampu puasa, pada saat ia ingin berbuka pada hal belum waktunya, alihkan perhatiannya dengan mengajaknya mengerjakan aktifitas lain yang tidak terlalu melelahkan seperti menggambar, mendengarkan lagu, dan lainnya.
  5. Hendaknya orangtua menjadi model yang baik bagi anaknya. Berilah contoh pada anak cara berpuasa yang benar, dan beri tips pada anak bagaimana menyiasati rasa lapar dan haus dengan hal yang positif.
  6. Sediakan makanan yang bergizi, jangan terlalu banyak menyediakan makanan kaleng, makanan yang terlalu manis. Variasi makanan sebaiknya jangan terlalu banyak, karena anak cenderung ingin mencoba semua makanan. Pastikan anak minum yang cukup di saat sahur.
  7. Sahur sebaiknya dilakukan mendekati imsak, dan berbukalah tepat waktu.(fm)
Muhammad SAW

TAK BOLEHKAH AKU MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR?

Muhammad SAW

(Gambar diambil dari sini)

Sobat Sakinah, bagaimana jika kita tiba-tiba diberi jaminan diampuni segala dosa dan sudah pasti masuk surga? Mungkin kita akan larut dalam kegembiraan, lalu berperilaku lupa daratan. Pikiran kita, untuk apa susah payah beribadah, toh kita sudah dijamin masuk surga.

Tunggu! Coba Sobat cermati kisah yang sangat terkenal tentang kemuliaan akhlak Rasulullah SAW ini.

Diceritakan kembali oleh Imam Al Ghazali, bahwa suatu ketika ‘Atha menemui istri Rasulullah, Aisyah r.a. Ia berkata, “Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang menakjubkan yang anda lihat dari Rasulullah SAW.”

Aisyah menangis sambil berkata, “Bagaimana tidak menakjubkan, pada suatu malam beliau mendatangiku, lalu pergi bersamaku ke tempat tidur hingga kulitku menempel dengan kulitnya. Kemudian beliau berkata, “Wahai putri Abu Bakar, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanku.”

Aisyah pun menjawab, “Saya tidak akan menghalangi keinginan Anda.”

Rasulullah Saw pun berwudhu, kemudian beliau shalat, lalu menangis hingga air matanya bercucuran membasahi dadanya. Beliau rukuk, lalu menangis. Beliau sujud, lalu menangis. Beliau berdiri lagi, lalu menangis lagi. Demikian seterusnya beliau lakukan sambil menangis hingga datang azan Subuh

Rupanya Aisyah menyaksikan apa yang terjadi pada diri Rasulullah Saw. la merasa penasaran dan berniat menanyakan keadaan suaminya itu.

Setelah menunaikan shalat Subuh, Aisyah kemudian bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, apa yang membuat Anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang.”

Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menghendaki agar menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Banyak orang melakukan sesuatu karena takut ancaman atau menginginkan sesuatu. Jika ancaman menghilang, atau sesuatu yang diinginkan, maka aktivitas kebaikan itu terhenti. Adapun Rasulullah, meski segalanya telah dijamin, beliau tetap beridabah tak kenal lelah dalam rangka bersyukur. Fabiayyi aala irabbikuma tukadziban.

Menurut para cendekiawan, motivasi seseorang dalam beramal memang ada tiga. Pertama, karena takut akan ancaman. Kedua, karena berharap akan penghargaan. Terakhir… ini yang terjadi pada Rasulullah SAW. Beramal karena cinta.

Bagaimana dengan kita?

IMG00724-20120923-1724

Indahnya Sikap Tawakal

IMG00724-20120923-1724

Kesulitan hidup, bagi manusia adalah sebuah ketentuan Allah. Ia akan ada seiring dengan kehidupan manusia itu sendiri. Tak akan ada satu orang pun yang bisa luput dari kesulitan.

Allah berfirman, “Laqad khalaqnal insaana fii kabad,” artinya, “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (kesulitan).” (QS Al-Balad: 4).

Kesulitan itu, bagi orang-orang beriman adalah sebuah ujian, di mana dengan ujian tersebut, maka akan terlihat bahwa orang tersebut benar-benar beriman ataukah tidak.

Allah berfirman, “Ahasibannaasu an-yutrakuu an-yaquuluu aamannaa wahum laa yuftanuun.” Artinya, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabuut: 2).

Dengan demikian, sudah sangat jelas, bahwa ujian berupa kesulitan hidup, adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari pada setiap manusia. Kesulitan tersebut, akan membuat seseorang meningkat kualitasnya. Jika setiap seseorang berhasil menyelesaikan sebuah kesulitan yang kecil, maka Allah akan memberikan kesulitan dengan tingkat yang lebih. Persis seperti seseorang yang bersekolah mulai dari jenjang TK, SD hingga sarjana—bahkan pasca sarjana, yang tingkat ujiannya tentu tidak akan sama.

 

Makna Tawakal

Sikap seorang mukmin ketika menghadapi ujian adalah bertawakal. Secara bahasa, tawakal berasal dari kata wakalah yang artinya mewakilkan, atau menyerahkan diri. Sedangkan secara istilah, tawakal berarti: berserah dirinya seorang hamba kepada Allah dalam setiap urusan. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, bahwa kalimat yang diucapkan oleh Ibrahim AS ketika dilempar ke dalam api oleh Namrudz, serta yang diucapkan Nabi Muhammad SAW ketika diprovokasi agar takut kepada orang kafir adalah: “Hazbunallaahu wa ni’mal wakiil”, Allahlah yang mencukupi kami dan sebaik-baik tempat kami berserah diri (tawakkal).

Perlu ditegaskan, bahwa tawakal haruslah dilakukan setelah ikhtiar, sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah, “Ikatlah tali ontamu dan bertawakallah.” Karena, Allah tidak akan serta merta menurunkan pertolongan begitu saja dari langit. Bahkan ketika membentuk sebuah karakter pun, membutuhkan proses. Misalnya, ketika kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan kita sifat sabar. Maka, ‘Jawaban Allah’ atas doa kita tersebut barangkali adalah anak kita yang selalu saja rewel minta perhatian, objek dakwah yang selalu saja minta dimanja … dan seterusnya. Allah telah memberi sarana kepada kita untuk bersabar. Jika dengan berbagai keadaan krusial tadi kita ternyata mampu bersabar, berarti doa kita memang terkabul.

Aktivitas nyata, memang begitu tegas digariskan dalam Islam. Dari penciptaan manusia, anatomi tubuh kita saja telah disketsa untuk banyak bekerja. Kita punya dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga. Sedangkan mulut kita hanya satu. Artinya, kita harus sangat lebih banyak bekerja, mendengar, melihat daripada sekadar berbicara. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, begitu banyak kita dapatkan perintah-perintah untuk beraktivitas. Pasca menunaikan shalat Jum’at misalnya, kita diperintahkan untuk bertebaran mencari karunia Allah di atas bumi.

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10).

Kita tidak dianjurkan untuk mengurung diri di masjid, berdzikir dan berdoa, namun BERAKTIVITAS. Alias BERIKHTIAR. Begitulah jawaban Musa a.s. ketika Bani Israil memintanya fasilitas yang lebih.

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah: 21).

Musa meminta mereka berikhtiar untuk menyerbu Palestina, baru setelah itu mereka bertawakal kepada Allah. Akan tetapi, apa jawaban kaum Musa?

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah: 24).

Betapa pengecut jawaban kaum Nabi Musa, yakni Bani Israil alias Yahudi yang selanjutnya akan mendapat laknat dari Allah SWT.

Betapa pentingnya berikhtiar secara optimal, difirmankan Allah SWT,

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du: 11).

Kewajiban manusia adalah berikhtiar dan berdoa. Kemudian ketika ikhtiar itu telah purna, telah terjalankan dengan optimal, barulah kita bertawakal. Tawakal ini adalah implementasi pengakuan kita akan eksistensi Allah Yang Maha Berkehendak. Bahwa segala sesuatu yang tersketsa di muka bumi ini, bukanlah buah dari kecemerlangan ikhtiar kita akan tetapi karena semata-mata Izin-Nya.

Tawakal akan membebaskan kita dari belitan stres jika ikhtiar yang kita angap maksimal, ternyata membentur batu karang. Tawakal juga akan melahirkan evaluasi yang mendalam, apakah ikhtiar kita benar-benar sebuah itqonul amal, sebuah ahsanul amal. Maka, insya Allah kita akan terhindar dari sikap takabur, justru sebaliknya, akan menjadi pribadi yang senantiasa rendah hati serta senantiasa melakukan perbaikan.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Ditulis oleh Ummi Arfan.