Category Archives: TSAQOFAH

Hemat Energi dengan “Earth Hour” Setiap Hari

1219
Dalam masa-masa sekarang ini kita tentu sering mendengar istilah “Earth Hour”. Ini wajar, karena kegiatan yang dicetuskan oleh WWF dan Leo Burnett pada tahun 2007 tersebut saat ini sudah berkembang pesat dan tiap tahun mengalami penambahan aktifitas yang sangat signifikan. Pada tahun ini, kegiatan Earth Hour terlaksana pada tanggal 19 Maret 2016, yang ditandai dengan aktivitas pemadaman semua peralatan listrik mulai dari pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat. Termasuk di Indonesia.
Sebenarnya, bila dilihat sepintas, kegiatan Earth Hour pada dasarnya “hanya” berupa aktifitas pemadaman lampu di rumah-rumah dan perkantoran selama satu jam. Terdengar sederhana? Continue reading

muhasabah

Tahun Baru, Mari Bermuhasabah!

muhasabahTahun 2016 sudah kita lewati. Dan tahun 2015 sudah kita tinggalkan. Banyak orang telah menyusun resolusinya untuk tahun yang baru datang ini seiring harapan, pencapaian target-target di tahun depan akan lebih baik dari tahun yang telah dilalui.

Memang, tak ada kewajiban kita untuk menyusun resolusi. Namun tak ada salahnya kita melakukan muhasabah dan introspeksi. Bahkan evaluasi diri ini sebaiknya kita lakukan setiap hari. Dan barangkali, momen akhir tahun seperti ini, adalah momen yang tepat untuk kita sejenak merenungi hari yang telah berlalu, perbuatan dan amal ibadah yang telah kita lakukan, dan kekurangan-kekurangan apa yang harus kita benahi.
Untuk membantu Sobat Sakinah melakukan evaluasi diri, berikut beberapa check-list pertanyaan yang dapat sahabat tanyakan kepada diri sendiri, dan apa yang akan sahabat lakukan untuk memperbaikinya di masa yang akan datang:
1. Check-list Hubungan Kita dengan Allah
– Bagaimana kualitas dan kuantitas ibadah kita di tahun ini?
– Sudahkah ibadah tersebut membawa perubahan positif dalam diri dan rutinitas kita sehari-hari?
– Sudahkah hati kita ikhlas dalam beribadah? Ataukah hanya sekadar menggugurkan kewajiban belaka?
– Ibadah apa yang akan kita tingkatkan di masa yang akan datang?
– Sudahkah kita mengajak diri untuk selalu bertaubat?
– Sudahkah kita meluangkan waktu setiap hari untuk merenungkan kekuasaan Allah dan meningkatkan rasa syukur kita kepadaNya? Atau justru kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi sehingga saat diterpa masalah kita spontan meresponnya dengan berkeluh kesah?

2. Check-list Hubungan Kita dengan Sesama Manusia
– Sudahkah kita mempererat silaturahim? Ataukah kita sudah merasa cukup dengan bertegur sapa lewat media sosial dan gadget?
– Pernahkah kita menyakiti hati manusia? Jika pernah, sudahkah kita meminta maaf, atau justru masih saling membenci dan mendiamkan?
– Bagaimana kualitas hubungan kita dengan keluarga? Sudahkah kita menjadikan mereka prioritas, atau justru memberikan mereka hanya waktu dan energi yang tersisa?
– Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah dan muamalah, dengan bersedekah, saling memberi hadiah, saling membantu sahabat dan saudara yang tengah dilanda kesusahan? Atau justru kita lebih disibukkan dengan urusan memenuhi kebutuhan sendiri?
– Adakah perbuatan kita yang merenggut hak-hak orang lain? Jika kita menyadarinya, sudahkah kita memperbaiki kekhilafan itu?
– Adakah kata-kata atau perbuatan kita yang menyakiti orang tua?
– Seberapa sering kita memberi perhatian kepada orang tua kita?
– Andai orang tua kita sudah meninggal dunia, apakah kita selalu mendoakannya?
– Bagaimanakah kualitas hubungan kita dengan pasangan hidup kita? Apakah semuanya tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kian harmonis, atau sebaliknya, lebih banyak hari kita lalui dengan saling berselisih paham dan menggenggam bara api?
– Apa yang sudah kita lakukan untuk memperbaiki hubungan yang kurang harmonis? Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah yang sudah terjalin baik?

3. Check-list Hubungan Kita dengan Diri Sendiri
– Sudahkah kita merasa bahagia?
– Apakah kebahagiaan itu kian mendekatkan kita kepada Allah atau sebaliknya?
– Sudahkah kita memberi apa yang dibutuhkan jasmani dan rohani kita? Atau justru memaksanya untuk bekerja terlalu keras dan membiarkan jiwa kita kering dari siraman rohani dan juga ilmu?
– Masihkah penyakit-penyakit hati bercokol dalam jiwa kita? Jika ada, sudahkah kita berusaha membersihkannya?
– Apa rencana kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi di masa yang akan datang? Baik dalam pengabdian kita kepada Allah, dalam akhlak perbuatan dan juga dalam hubungan kita dengan sesama umat manusia?

Jawablah semua pertanyaan dengan jujur, dan silakan sahabat tambahkan sendiri jika masih ada hal-hal lain yang perlu untuk diperbaiki dan dievaluasi.

Semoga tahun yang akan datang, kita semua tetap berada di bawah rahmat dan perlindungan Allah, dan diri kita semakin bertumbuh menuju insan kamil.
Penulis: Riawani Elyta
Editor : Yeni Mulati Ahmad

akhwat mesir

Lima Adab Dalam Menuntut Ilmu

akhwat mesir

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Bahkan setiap kita akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak, atas apa yang kita perbuat berdasarkan apa yang kita ketahui dan pelajari selama di dunia. Saking pentingnya kedudukan ilmu, hingga perintah pertama yang diturunkan Allah swt, yaitu “Bacalah”. mengandung makna tersirat bahwa setiap kita berkewajiban menuntut ilmu. Semua amal ibadah dan muamalah yang kita lakukan, harus berlandaskan ilmu yang benar. Bukan sekadar ikut-ikutan ataupun faktor kebiasaan orang-orang terdahulu.

Menuntut ilmu juga memiliki adab dan etika, agar ilmu yang kita serap tidak mudah berlalu dari ingatan, juga agar selalu terjaga pada jalan kebaikan. Berikut adalah 5 (lima) adab yang harus kita miliki dalam menuntut ilmu, yaitu :

  1. Menjaga Kebersihan Hati

Dalam menuntut ilmu, kita harus senantiasa menjaga hati agar tetap bersih dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan sebagainya. Ini dikarenakan ilmu adalah ibadahnya hati. Ilmu hanya bisa diserap dan dipahami dengan baik oleh hati yang bersih. Menuntut ilmu juga akan memperoleh berkah jika dilakukan dengan hati yang bersih. Jika seseorang menuntut ilmu dalam kondisi hati yang masih dikotori penyakit dan akhlak yang buruk, maka ilmu yang didapat, boleh jadi akan dimanfaatkannya untuk kepentingan tertentu dan menjurus pada kehancuran.

  1. Mengurangi Keterikatan Hati dengan Dunia

Kesenangan duniawi berpengaruh sangat besar dalam proses pencarian ilmu, karena bisa memalingkan hati dan pikiran dari konsentrasi dalam menuntut ilmu. Sulit bagi kita untuk mencapai pemahaman yang mendalam terhadap ilmu jika hati dan pikiran kita terpecah belah oleh urusan dunia. Oleh karenanya, jika kita ingin serius mendalami ilmu, sudah sepantasnya kita melepaskan sebagian keterikatan terhadap hal-hal duniawi dan memberi lebih banyak ruang bagi pemahaman ilmu di dalam jiwa kita.

  1. Tidak Bersikap Sombong

Dalam menuntut ilmu, kita juga tidak boleh bersikap sombong. Misalnya, hanya mau mencari ilmu dan mempercayai ucapan ulama dan guru yang termasyhur saja. Sebaliknya, kita sebaiknya membuka diri terhadap ilmu yang bermanfaat dan mengandung petunjuk kebenaran dari berbagai sumber. Sebuah kalimat bijak mengatakan, bahwa ilmu enggan mendatangi pemuda yang sombong laksana banjir yang enggan mendatangi tempat-tempat yang tinggi. Ilmu hanya bisa diraih dengan sikap tawadu dan khusyu’, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Qaf ayat 37 yang artinya :

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

Orang yang mempunyai hati pada ayat di atas mengandung makna orang yang menerima ilmu dengan sepenuh pemahaman. Ini tentunya harus diiringi dengan proses mendengar dan melihat secara fokus, serta menghadirkan hati dalam kondisi tawadu dan penuh rasa syukur agar ilmu yang dipelajari dapat diterima dengan baik dan bernilai keberkahan.

  1. Memiliki Skala Prioritas

Kemampuan yang terbatas begitupun keterbatasan usia kita membuat tak semua disiplin ilmu bisa kita pelajari dan kuasai. Oleh karenanya, kita harus memiliki skala prioritas dalam menuntut ilmu. Kita disarankan untuk mengambil intisari terbaik dari ilmu-ilmu yang ada dan mencurahkan perhatian pada ilmu yang mudah dipelajari lalu secara bertahap mempelajari ilmu pada tingkatan yang lebih tinggi.

Adapun ilmu yang harus kita jadikan prioritas adalah ilmu yang dapat meningkatkan keimanan dan rasa cinta kita kepada Allah swt, bukan sekadar ilmu yang berkembang dalam retorika dan perdebatan para ahli ilmu yang jika tidak dipahami dengan baik, justru bisa membawa kita pada perselisihan dan perpecahan.

  1. Memiliki Tujuan yang Baik

Seorang penuntut ilmu hendaknya meniatkan proses belajarnya dalam rangka memperindah batinnya demi mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang menuntut ilmu di jalan Allah samalah kedudukannya dengan para mujahid. Oleh karenanya, menuntut ilmu tidak boleh dilandasi oleh keinginan demi meraih kekuasaan, pangkat, popularitas, harta ataupun untuk menipu orang-orang yang kurang berilmu. Menuntut ilmu dengan tujuan yang tidak baik, hanya akan menggiring pelakunya pada kehancuran, sebaliknya, ilmu yang diniatkan untuk mencari ridho Allah akan mengangkat derajat pelakunya di sisi Allah, sebagaimana firmanNya dalam surat Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Semoga kita semua menjadi hamba Allah yang tak pernah berhenti menuntut ilmu, dan meniatkan proses kita dalam pencarian ilmu semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keridhoanNya.

Referensi : Hawwa, Said. Tazkiyatun Nafs. Solo : 2014. Era Adicitra Intermedia.

Penulis: Riawani Elyta

Do'a Orang Tua

Jangan Jadi Orang Tua Durhaka!

Do'a Orang TuaSuatu hari, saya membaca tulisan di sebuah blog yang bunyinya kira-kira begini :

Selama ini kita tahu bahwa Malin Kundang adalah anak durhaka, bagaimana kalau ternyata ada hal lain yang tidak kita ketahui, atau jika seandainya kedurhakaan Malin Kundang sebenarnya adalah disebabkan perbuatan orang tuanya?

Tulisan ini menyiratkan bahwa tak hanya anak-anak yang bisa menjadi durhaka, tetapi orang tua juga bisa menjadi orang tua yang “durhaka” jika mengabaikan hak dan kewajiban kepada anak-anaknya. Padahal, setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban di yaumul akhir kelak, termasuk pertanggungjawaban kita dalam memenuhi hak dan menjalankan kewajiban kita terhadap anak-anak.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).

Berikut adalah beberapa kewajiban yang harus kita lakukan sebagai orang tua terhadap anak-anak kita:

1. Memberi Nama yang Baik
Nama adalah salah satu tempat kita menitipkan doa. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk memberi nama yang baik kepada anak-anaknya, dengan harapan, sang anak akan memiliki akhlak dan budi pekerti seindah namanya.
Dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari qiyamat dengan namamu dan nama ayahmu, maka baguskanlah nama kalian”. [HR. Abu Dawud]

2. Menyusui
Menjadi kewajiban seorang ibu untuk menyusui anaknya sejak baru dilahirkan hingga usianya genap dua tahun. Air susu ibu adalah makanan pertama terbaik untuk bayi yang dapat meningkatkan imunitas juga mempererat ikatan antara sang anak dengan ibunya.
Kewajiban menyusui ini juga tertera di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 233 yang artinya:
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 233).

3. Memberi Nafkah
Di dalam surat Al Baqarah di atas juga tersirat kewajiban sang ayah, yaitu memberi nafkah kepada keluarganya. Sudah menjadi tanggung jawab ayah selaku kepala keluarga untuk mencukupi kebutuhan keluarganya termasuk anak-anaknya. Bahkan bagi seorang kepala keluarga, nafkah yang diberikan kepada keluarganya lebih besar nilainya dibandingkan uang yang diberikan kepada fakir miskin ataupun untuk memerdekakan budak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Satu dinar kamu infaqkan fii sabiilillah, satu dinar kamu pergunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya ialah yang kamu belanjakan untuk keluargamu”. [HR. Muslim]

4. Menyuruh Anak-anak Mendirikan Sholat
Sholat adalah tiang agama. Oleh karenanya, perintah sholat harus diajarkan dan ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya sedini mungkin. Terkait kewajiban akan perintah sholat ini, Allah swt berfirman yang artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kamilah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa.” [QS. Thaahaa : 132].

Selain itu, orang tua juga berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan pengetahuan agama yang baik dan benar, serta akhlak dan budi pekerti mulia. Orang tua hendaknya menjadi madrasah pertama bagi anak-anak dalam rangka mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi islam yang beraqidah kokoh dan bertakwa.

5. Mencarikan Jodoh Saat Anak Dewasa
Pernikahan adalah penyempurna separuh agama. Bagi orang tua yang telah memiliki anak yang sudah dewasa, sudah selayaknya mencarikan jodoh yang baik untuk anak-anaknya, dengan harapan, sang anak kelak dapat membangun rumah tangga yang samara dan meneruskan amanah untuk mendidik generasi yang berkualitas.

Allah swt berfirman: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. An-Nuur : 32]

6. Mendoakan Anak-Anaknya
Terakhir, orang tua wajib mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya. Boleh jadi di masa kecilnya seorang anak berperilaku bandel dan tidak penurut, tetapi berkat doa orang tua dan tidak putus asa dalam mendidik anak-anak, insya Allah kelak sang anak akan berubah menjadi anak yang sholeh dan penyejuk hati untuk keluarga.
Ini adalah salah satu doa bermohon kebaikan bagi keluarga:

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama…

 

Artinya: Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Furqaan : 74]
Referensi :

http://salampathokan.blogspot.com

http://muslim.or.id

https://www.islampos.com

Penulis
Riawani Elyta

Sultan-Salahuddin-MosqueV2

Kiat Membangun Spiritualitas di Era Digital

Sultan-Salahuddin-MosqueV2

 

Di tengah beragam informasi berita yang berseliweran di dunia maya termasuk sosial media, ada fenomena positif yang menarik untuk dicermati. Yaitu semangat pencerahan yang diwujudkan lewat share kultwit ceramah agama, kutipan kalimat-kalimat motivasi, juga tanya jawab yang berlangsung di twitter antara sang penceramah atau motivator dengan para followers-nya.

Sosial media Facebook pun tak ketinggalan turut meramaikan. Media yang kian variatif ini turut menjadi sarana para motivator dan pendakwah untuk membagikan ceramah singkat, kiat-kiat ibadah dan muamalah, nasehat-nasehat spiritual, dan belakangan, video-video kisah inspiratif pun turut menghiasi sosial media dan menjadi favorit para Facebookers untuk turut membagikannya di dinding akun mereka. Tak jarang, satu video mencapai angka hingga ratusan ribu kali dibagikan.

Di satu sisi, fenomena ini membawa angin segar dan seakan menjadi oase penyejuk di antara status dan linimasa yang menayangkan kabar hoax, mengadu domba, tendensius, mengintimidasi ataupun nyinyir tanpa tujuan. Bagi para pengakses sosial media, fenomena positif tersebut tentunya diharapkan dapat menjadi pengingat dan penggugah mereka untuk menjadi lebih baik dan turut serta dalam menyebarkan kebaikan.

Namun di lain sisi, kita tetap tak boleh mengabaikan pentingnya proses pemahaman dan pembelajaran dengan lebih mendalam. Proses yang hanya bisa dilakukan melalui aktivitas membaca, menganalisa, berdiskusi, menghadiri majelis taklim dan majelis ilmu, dan tentu saja mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang kita dapatkan melalui sosial media, sifatnya hanya sebagai pengingat, pembawa informasi, mengajak pada perenungan atau juga peringatan di tengah kesibukan yang terkadang membuat kita lalai. Namun untuk mengubah kondisi spiritual, pemahaman dan kesadaran menjadi lebih baik, tidak cukup hanya dilakukan dengan membaca dan membagikan hal-hal inspiratif yang bertebaran di sosial media.

Sedikit kekhawatiran mengemuka, bahwa para pengguna akun sosial media telah merasa cukup dengan apa yang mereka peroleh dari linimasa, status inspiratif di facebook, atau pencerahan sesaat dari video kisah-kisah inspiratif tersebut, padahal saat mereka meninggalkan layar gadget, semua pencerahan itupun dengan cepat akan terlupakan dari ingatan. Sehingga jika tak bijak dalam menyikapi, penyebaran ilmu dan informasi di era digital ini justru dapat mengarah pada pendangkalan. Ilmu yang dihadirkan dengan cara praktis dan instan, membuat fungsinya pun mengalami pendangkalan dengan hanya bergerak pada tataran informasi dan pengingat.

Oleh karenanya, beberapa hal perlu tetap kita lakukan agar penyebaran  ilmu dan pencerahan di era digital ini tidak memupus proses pendalaman ilmu yang sudah sepantasnya kita lakukan. Berikut diantaranya :

  1. Rutin membaca Al-Quran dan maknanya. Al-Quran merupakan sumber segala ilmu pengetahuan dan penyejuk hati yang paling mujarab. Rutinitas membaca Al-Quran akan mendorong kita untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang haq dan lurus serta terhindar dari mengalami kebingungan akibat perselisihan dan perbedaan pendapat yang disebarkan lewat sosial media. Membaca Al-Quran juga akan menjadi pengobat hati dan pelipur lara yang paling ampuh serta tak akan tergantikan dengan mengadukan persoalan di sosial media.
  2. Informasi yang diperoleh melalui dunia maya dan sosial media hendaknya menjadi pendorong untuk mencari tahu lebih jauh terhadap ilmu, juga makna dan hikmah dibaliknya. Misalnya saja, saat menonton video tentang poligami, kita sebaiknya tak hanya sekadar berhenti pada pemahaman terhadap apa yang ditayangkan lewat video, tetapi juga mencari dan mempelajari lebih jauh tentang aturan poligami di dalam Islam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan secara tak sadar membiarkan opini kita ikut tergiring untuk memojokkan Islam dari “pintu” poligami.
  3. Meluangkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu dan majelis taklim agar lebih berpeluang menyerap ilmu secara mendalam dan saling bertukar pikiran. Kalaupun sulit meluangkan waktu, setidaknya kita tetap berusaha mencari kesempatan untuk mendengarkan ceramah di televisi ataupun radio untuk memperoleh penjelasan yang lebih detail terhadap pembahasan ilmu keagamaan.
  4. Membaca buku-buku agama dan buku referensi. Aktivitas membaca mulai banyak ditinggalkan di era digital ini sebagai dampak eksplorasi dan pengemasan informasi secara lebih praktis dan menarik melalui sosial media dan dunia maya pada umumnya. Padahal, membaca buku tetap kita perlukan untuk menambah wawasan, menggiring pada pemikiran, perenungan dan analisa yang lebih kritis juga mendalam terhadap ilmu dan informasi serta memberikan kesan yang lebih berarti. Membaca buku, adalah salah satu upaya efektif untuk menyelamatkan kita dari mengalami pendangkalan dan merasa cukup dengan apa yang diperoleh dari sekadar status di sosial media ataupun artikel-artikel singkat di situs-situs dunia maya.
  5. Melakukan perjalanan dalam rangka mentadabburi alam ciptaan Allah, seperti menunaikan umrah, melakukan pendakian, mengunjungi destinasi wisata yang masih mempertahankan sisi natural alam dan lingkungan, dan sebagainya dalam rangka meningkatkan upaya kontemplasi kita terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah. Melakukan perjalanan juga akan memberi kita pengalaman spiritual yang tak bisa kita dapatkan hanya dengan berselancar di dunia maya.

 

Demikianlah diantara upaya-upaya yang semestinya tetap kita pertahankan di era digital, agar modernisasi tak lantas melemahkan semangat spiritualisme kita untuk memperdalam ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan pengabdian dan ketaatan kita kepada Allah swt. Wallahu alam bish shawab.

 

Penulis,

Riawani Elyta

Kuda

Suraqah bin Malik dan Dua Gelang Kisra

KISAH INDAH DI PERISTIWA HIJRAH #2

KudaDarun Nadwah terbakar amarah! Para pembesar kaum Kafir Quraisy berhasil membakar emosi para pemuda Quraisy dengan sebuah hasutan, bahwa Muhammad bin Abdullah adalah musuh besar yang harus segera mereka bunuh. Saat itu, Muhammad sedang dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Mereka khawatir sekali, saat sesampai di Madinah, Muhammad dan para pengikutnya akan semakin kuat.
Mereka, para pembesar seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan dan sebagainya, akhirnya membuat sebuah sayembara. Barangsiapa berhasil membunuh Muhammad, maka mereka akan memberi hadiah 100 ekor onta yang terbaik kualitasnya.

Seorang lelaki gagah, Suraqah bin Malik namanya, mendadak mengelus pedangnya. Seratus ekor onta itu sangat memotivasinya. Dia adalah seorang lelaki yang terkenal dengan kegagahannya di Nejd. Pemuda dari Bani Kinanah yang sangat disegani dan dihormati. Dia menyatakan diri sanggup mengejar dan membunuh Muhammad.

Debu mengepul saat kuda Suraqah menghentakkan kakinya, berlari kencang, memulai pengejarannya. Dengan bantuan orang-orangnya, Suraqah pun berhasil mendapatkan jejak Rasulullah. Dari kejauhan, dia melihat Rasulullah dan Abu Bakar as-Shidiq yang tengah berjalan menuju Madinah. Semangat Suraqah pun membuncah. Dia mempercepat laju kudanya. Namun, begitu jarak kudanya semakin dekat, mendadak kuda itu terjerembab. Suraqah tersentak kaget. Kuda yang dinaiki adalah kuda terbaik dan sangat terlatih, bagaimana mungkin bisa terjerembab?

Suraqah bangkit, lalu menaiki lagi kudanya dan mempersiapkan anak panahnya. Namun, setelah jarak semakin dekat, lagi-lagi kudanya terjerembab. Peristiwa itu terulang hingga tiga kali, sampai akhirnya Suraqah tersadar, bahwa sosok yang tengah dikejarnya itu memang bukan sosok biasa. Suraqah pun kembali mengejar Rasulullah, bukan untuk membunuh, tetapi untuk memohon ampun.

Muhammad tersenyum kepadanya, mengampuni dan berkata “Wahai Suraqah, bagaimana perasaanmu jika engkau memakai dua gelang Kisra?”

“Kisra bin Hurmuz?” Suraqah tertegun, tak paham dengan perkataan Muhammad Rasulullah. Kisra adalah kaisar Persia yang sangat termasyhur kala itu.

Akan tetapi, Rasulullah tak menjelaskan lebih mendetail. Beliau melanjutkan perjalanannya bersama Abu Bakar menuju Madinah. Suraqah, setelah peristiwa tersebut akhirnya bertaubat dan masuk Islam. Dia ikut bersama sahabat-sahabat lain berjuang menegakkan Al-Islam.

Alkisah, setelah Umar bin Khatab menjadi khalifah, kaum Muslimin berhasil mengalahkan Persia. Umar bin Khatab pun mencari gelang Kisra, dan menghadiahkan kepada Suraqah yang menerimanya dengan tangan gemetar dan penuh haru.

Ternyata, Rasulullah sudah meramalkan peristiwa itu. Subhanallah… [Admin].

Gambar diambil dari SINI.

[Ditulis oleh Afifah Afra. Ingin berinteraksi dengan Penulis? Follow akun Twitternya @afifahafra79 dan Like Fanpage AFIFAH AFRA].

j0178762

Aku Menangis Karena Takut Tak Mampu Menjagamu Lagi

 

KISAH INDAH DI PERISTIWA HIJRAH #1

j0178762

Kedua lelaki itu telah sampai pada mulut sebuah gua ketika mereka lihat para pengejar mereka sudah mulai mendekat. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk bersembunyi di dalam gua tersebut. Salah satu dari lelaki itu meminta untuk masuk terlebih dahulu guna membersihkan gua. Dia, Abu Bakar As-Sidiq pun dengan jeli mengawasi setiap sisi di ruangan sempit itu. Begitu terdapat lubang, dia pun menutupnya, khawatir jika dari lubang tersebut keluar binatang-binatang berbahaya. Setelah semua dirasa bersih, Abu Bakar pun mempersilakan sahabatnya yang mulia, Rasulullah SAW untuk masuk.

Mereka berdua berlindung di dalam gua kecil itu, alias Gua Tsur. Rasa tegang menguasai Abu Bakar ketika para pengejar terlihat telah begitu dekat dengan gua. Kaki-kaki mereka bahkan terlihat dari dalam gua. Mereka adalah orang-orang dari Suku Quraisy Paganis yang ingin menghalangi proses hijrah Rasulullah ke Madinah. Satu tujuan mereka: menghabisi Rasulullah SAW.

“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua,” bisik Abu Bakar, cemas. Tidak, Abu Bakar tidak mencemaskan dirinya sendiri. Jika lelaki-lelaki Quraisy yang kejam itu membunuhnya, Abu Bakar siap menghadapi kematian. Tetapi, Abu Bakar mencemaskan nasib Rasulullah SAW.

Namun dengan tersenyum tenang, Rasulullah menghibur sahabatnya terkasih itu. “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam segala kekuasaan, Allah…” ujar Rasulullah, sambil menepuk pelan bahu Abu Bakar.

Allah Maha Kuasa, termasuk Berkuasa untuk membuat para pengejar itu tak mencurigai bahwa di bawah mereka terdapat gua yang menjadi tempat bersembunyi dua orang yang tengah mereka cari. Pelan-pelan, para pengejar itu pun pergi.
Rasulullah SAW, karena begitu letih, akhirnya tertidur di pangkuan Abu Bakar. Lelaki itu membiarkan Rasulullah tertidur pulas, dan berusaha untuk tidak menganggunya. Saat itulah Abu Bakar tersadar, karena masih ada satu lubang yang terbuka di dalam gua. Pelan Abu Bakar mengangkat kakinya, dan menutup lubang tersebut dengan ibu jarinya.

Apa yang terjadi? Seekor ular berbisa mematuk kaki Abu Bakar. Rasa sakit dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh Abu Bakar. Wajahnya pucat pasi, akan tetapi Abu Bakar tak bersuara, takut Rasulullah terbangun. Namun, saking sakitnya, air mata mengucur dari pelupuk matanya. Tak sengaja air mata itu menetes ke Rasulullah, sehingga lelaki itu terbangun.

Rasulullah mengira Abu Bakar ketakutan karena pengejaran orang-orang yang hendak membunuhnya itu. Namun Abu Bakar menggeleng. “Ya Rasulullah, aku tidak pernah takut mati demi membela agama Allah.”

“Lalu apa yang terjadi hingga engkau menangis?” tanya Rasulullah lagi.
“Kakiku telah digigit ular, tubuhku lemas, aku menangis karena takut tidak akan bisa menjagamu lagi,” kata Abu Bakar.

Dengan lembut, Rasulullah pun mengusapkan ludahnya ke luka Abu Bakar. Dan atas izin Allah, luka Abu Bakar pun sembuh, dan rasa sakit itu hilang seketika.
Banyak peristiwa indah terjadi di saat-saat perjalanan Hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah, salah satunya adalah betapa besarnya kecintaan Abu Bakar as Shidiq kepada sahabatnya itu. Semoga kita bisa meneladani semangat para sahabat yang rela memberikan jiwa dan raganya untuk agama, dan Rasulullah tercinta.

Rasululah SAW segera memeriksa telapak kaki Abu Bakar. Setelah melihat adanya bekas gigitan ular, beliau langsung meludahinya.

Ajaib…serta merta rasa sakit di kaki Abu Bakar langsung sirna, hilang serta merta. Tidak lama kemudian Abu Bakar sudah merasa bugar lagi seperti sedia kala.

_________________________

Ditulis oleh Afifah Afra

Silakan follow akun Twitter @afifahafra79 dan Like Fanpage AFIFAH AFRA

11_Islamic_Illustration_11_watermark

Tahun Baru Hijriah, Momentum Untuk Berubah!

11_Islamic_Illustration_11_watermark

Tahun Baru Hijriah telah datang. Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1437!

Inilah saatnya kita memanfaatkan momentum ini untuk melakukan perubahan. Karena tahun baru menjanjikan harapan baru, sekaligus menjadi pengingat, bahwa waktu yang telah berlalu tak akan terulang lagi. Jadi, alangkah baiknya jika kita mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik daripada hari yang kemarin.
Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjadikan momentum tahun baru Hijriah sebagai titik perubahan:

1. Introspeksi
Introspeksi dalam konteks ini artinya melihat, mempertimbangkan dan merenungkan perbuatan kita di masa lampau. Diharapkan, melalui introspeksi ini kita dapat bercermin pada kekhilafan-kekhilafan di masa lalu dan berjanji untuk memperbaikinya. Dengan introspeksi kita juga dapat melihat hal-hal yang memerlukan peningkatan dalam diri kita di masa yang akan datang.
Tekait introspeksi ini, Allah swt berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok; dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

2. Melakukan Perencanaan
Ada baiknya kita menyiapkan rencana-rencana untuk mengisi sebagian besar waktu pada tahun baru ini dengan lebih baik dan bemakna. Perencanaan kita buat berdasarkan hasil introspeksi. Misalnya saja, tahun lalu kita selalu gagal menyisihkan uang belanja untuk ditabung, maka tahun ini, kita bisa memasukkannya dalam daftar rencana, yaitu berusaha semaksimal mungkin agar bisa menabung dari sisa uang belanja.

3. Memasang Target Baru
Tidak perlu memasang target yang terlalu muluk. Karena istiqomah pada hal yang kecil lebih disukai Allah daripada melakukan sesuatu yang positif secara menggebu-gebu pada awalnya, namun kemudian surut bahkan berhenti. Contohnya saja, tahun ini sahabat menargetkan untuk menambah jumlah tilawah, maka konsistenlah dengan target ini dan tingkatkan secara perlahan-lahan.

4. Berdoa Kepada Allah
Memohon terkabulnya doa tak hanya dilakukan di akhir perbuatan, namun lakukanlah bahkan saat sebelum kita memulai. Pintakanlah kepadaNya agar semua yang kita lakukan pada tahun ini demi meraih ridhoNya memperoleh berkah, kemudahan dan kebaikan bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

5. Jalani Dengan Tenang
Mengajak diri menuju perubahan tak perlu dilakukan dengan grasa-grusu. Tetaplah tenang dan nikmati prosesnya dengan rasa syukur dan tekad untuk terus belajar. Seandainya ada target yang belum tercapai, jangan langsung putus asa dan kecewa, tetapi kembalilah ke poin awal yaitu melakukan introspeksi dan merencanakan kiat-kiat baru agar pada masa yang akan datang, target tersebut berhasil kita capai bahkan berhasil pula kita lampaui.

Demikian beberapa kiat yang dapat sahabat lakukan untuk memaknai momentum Tahun baru Hijriah ini. Semoga tahun ini kita menjadi hamba yang lebih baik dan senantiasa berada di bawah tuntunan dan lindungan Allah swt.

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis 14 novel, non fiksi Sayap-sayap Sakinah dan Sayap-sayap Mawaddah.
Admin komunitas Be A Writer Community
Mentor kelas private novel Smart Writer.

FB : Riawani Elyta
twitter : @RiawaniElyta
blog : www.riawanielyta. com
IG : riawani_elyta

al-Matsurat 4 kover B

Pernak-Pernik Souvenir Islami

al-Matsurat 4 kover B

Apa yang terbayang dalam benak sahabat saat mendengar kata “souvenir Islami”? tentunya souvenir atau cinderamata yang melambangkan ciri-ciri islami, ataupun souvenir yang bisa diberikan untuk para tamu undangan pada acara-acara yang dianjurkan dalam Islam seperti acara walimahan (pernikahan) dan akikah, juga acara-acara perayaan lainnya seperti pengajian, syukuran, khataman, dan tahlilan.

Lalu, apa yang membedakan souvenir Islami dengan souvenir pada umumnya, seperti gantungan kunci, kipas, gelas dan barang hiasan lainnya?
Pertama – pada ciri-cirinya, di mana souvenir islami menunjukkan ciri kekhasan islam. Kedua – pada pemanfaatannya. Souvenir islami tak hanya sekadar menarik dalam penampilan, tetapi juga bermanfaat bagi pemiliknya.

Berikut beberapa contoh souvenir islami dan manfaatnya :
1. Tasbih ; dapat digunakan untuk berzikir,
2. Bros ; dapat digunakan sahabat muslimah untuk mempermanis penampilan bersama jilbab,
3. Surah yasin ; dapat dibaca saat tahlilan ataupun sebagai amalan rutin,
4. Sajadah ; dapat digunakan untuk melakukan ibadah sholat,
5. Kumpulan doa atau Al-Matsurat ; dapat diamalkan sebagai rutinitas harian,
6. dan sebagainya.

Adapun keutamaan memberi hadiah atau souvenir islami, antara lain sebagai berikut :
1. Ketika kita saling memberi sarana ibadah dalam bentuk souvenir islami, seperti tasbih, surah yasin atau sajadah, maka hal itu dapat menjadi wujud dakwah kita untuk mengajak dan menganjurkan orang lain beramal ibadah.
2. Selama orang yang menerima souvenir tersebut menggunakannya untuk keperluan ibadah, misalnya menggunakan tasbih untuk berzikir, menggunakan sajadah untuk sholat, maka insya Allah, selama itu pulalah nilai amal jariahnya akan mengalir pada kita.

Tradisi memberikan hadiah atau souvenir adalah sebuah perbuatan yang bernilai kebaikan, bermanfaat positif bagi si penerima, mewujudkan anjuran Rasulullah saw untuk saling memberi hadiah dalam rangka mempererat ikatan kasih sayang, dan insya Allah …..akan menjadi ladang amal jariah untuk sahabat yang melakukannya.Oleh karenanya, mari kita lestarikan kebiasaan memberi hadiah termasuk souvenir dalam bentuk barang-barang yang berciri islami dan bermanfaat.

Referensi :
www.binasyifa.com
www.refiza.com
www.riawanielyta.com
www.sunnah.or.id

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis nonfiksi Sayap-sayap Sakinah, Sayap-sayap Mawaddah dan 14 novel.
FB : Riawani Elyta
Twitter : @RiawaniElyta
Blog : www.riawanielyta.com
IG : riawani_elyta

__________________________________________________

Yuk, dapatkan paket buku keren ini, dan ikuti lomba resensinya. Info KLIK SINI!

 

Paket Sayap Sakinah-Mawaddah

4.1.1

Yuk, Mentradisikan Berbagi Souvenir Islami!

4.1.1

Dalam tradisi masyarakat kita, souvenir atau hadiah biasanya diberikan pada kesempatan-kesempatan dan momen spesial, termasuk pada acara-acara hari besar Islam. Dan tujuan utama dari pemberian souvenir atau hadiah ini adalah untuk mengungkapkan rasa terima kasih, penghormatan, dan kasih sayang.

Asal usul pemberian souvenir atau hadiah ini sebenarnya telah dimulai pada masa kerajaan. Ketika itu, pemberian hadiah pada umumnya terbagi atas 3 (tiga) cara, yaitu :

  • Pemberian hadiah oleh rakyat kepada raja sebagai bentuk ketaatan dan loyalitas
  • Pemberian hadiah dari tamu yang datang kepada raja sebagai wujud rasa hormat dan penghargaan
  • Pemberian hadiah pada seremoni tertentu di kerajaan seperti peringatan kenaikan tahta, perayaan hari kelahiran putra mahkota, dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, tradisi memberi hadiah ini tak hanya terbatas dilakukan dalam lingkungan kerajaan, tetapi juga diikuti oleh masyarakat umum, termasuk pemberian hadiah yang dilakukan pada seremoni ibadah sebuah agama.

Jika kita melihat lebih jauh ke belakang, Allah SWT telah menyebutkan tentang pemberian hadiah ini dalam Al-Quran pada kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis. Dalam kisah tersebut, Ratu Bilqis mengatakan: “Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (Q.S. An-Naml: 35).

Ketika itu, Ratu Bilqis bermaksud melunakkan hati Sulaiman a.s. dengan cara mengirimkan hadiah, dengan harapan Nabi Sulaiman akan membiarkan dirinya dan kaumnya untuk tetap menyembah matahari. Akan tetapi Sulaiman membalas mereka dengan berkata: “Kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang tidak kuasa mereka lawan.” (Q.S. an-Naml: 36-37)

Balasan Nabi Sulaiman ini mencerminkan ketaatan dan kekuatan tekad seorang Nabi utusan Allah. Pemberian hadiah tidak membuat keteguhan dan keyakinan Nabi Sulaiman melemah terhadap segala bentuk kemusyrikan.

Dalam istilah syar’i, hadiah bermakna memberikan sesuatu kepada orang tertentu dengan tujuan terwujudnya hubungan baik dan mendapatkan pahala dari Allah tanpa adanya permintaan dan syarat. Hukumnya diperbolehkan apabila tidak ada larangan syar’i. Disunnahkan apabila dalam rangka menyambung silaturrahim, kasih sayang dan rasa cinta. Disyariatkan apabila bertujuan untuk membalas budi dan kebaikan orang lain. Namun hukum pemberian hadiah ini bisa menjadi haram atau mendekati keharaman jika hadiah tersebut berupa barang haram ataupun pemberian dimaksud adalah atas niat tercela seperti menyogok ataupun seperti yang dilakukan ratu Bilqis kepada Nabi Sulaiman.

Islam pada dasarnya sangat menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah, karena hadiah dapat merekatkan kasih sayang, menguatkan hubungan sosial, dan menghilangkan permusuhan atau kedengkian. Hadiah juga dapat menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta dan kasih sayang di dalam hati.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, ”Saling memberi hadiahlah kalian, meskipun dengan sedikit tulang domba. Karena hal itu bisa memperkuat kasih sayang dan menghilangkan permusuhan.”

Dalam hadits yang lain pula beliau bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, agar kalian saling mencintai.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, Shahih al-Jami 3004, al-Irwa 1601).

Berdasarkan anjuran ini, maka tradisi pemberian hadiah termasuk souvenir adalah tradisi yang sangat baik untuk dilestarikan. Selain menjadi wujud kepatuhan terhadap anjuran Rasulullah SAW, dapat memperkuat ikatan silaturahim dan kasih sayang, pemberian hadiah atau souvenir khususnya souvenir yang bercirikan islami juga dapat menjadi sarana dakwah dan amal jariah.

Lebih lanjut tentang souvenir islami akan kita perbincangkan pada artikel mendatang.

Referensi :
www.binasyifa.com
www.refiza.com
www.riawanielyta.com
www.sunnah.or.id

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis nonfiksi Sayap-sayap Sakinah, Sayap-sayap Mawaddah dan 14 novel.
FB : Riawani Elyta
Twitter : @RiawaniElyta
Blog : www.riawanielyta.com
IG : riawani_elyta