Category Archives: SAMARA

flower-wallpaper-8

Agar Malam Pertama Penuh Berkah, Ini yang Harus Kalian Kerjakan

kawan imut-rayuan

Pengantin baru, ahai… malam pertama! Betapa mendebarkan. Konon, malam pertama selalu menjadi hal paling didambakan oleh sepasang pengantin.

Bahkan, menurut Konsultan Sayap Sakinah Center, dan pengisi Rubrik Harmoni Keluarga di MH FM Surakarta, Yeni M. Ahmad alias Afifah Afra, malam pertama adalah sesuatu yang selalu dikenang sepanjang masa pernikahan seseorang. Continue reading

emosi

Saat Hati Dilanda Cemburu….

emosi

Beberapa hari ini, Asti (bukan nama sebenarnya) gelisah bukan main. Mendadak saja suaminya, Arya, sering bercerita tentang teman satu angkatannya satu SMA, seorang perempuan, yang masih saja melajang, meski usia sudah hampir kepala empat. Asti gelisah, karena jarang sekali Arya bicara soal perempuan. Semakin gelisah, saat Asti tahu bahwa teman perempuan itu ternyata cantik, dan seorang wanita karir yang sukses.

Rasa cemburu merambati hati Asti. Apakah Arya tertarik dengan temannya itu? Bagaimana jika Arya ternyata berminat untuk poligami? Kisah semacam Asti dan Arya, tampaknya sering terjadi di sekitar kita. Asti cemburu. Apakah sikap Asti wajar?

Tentu sangat wajar. Justru jika Asti tak menyimpan rasa apapun, malah rasanya mengherankan. Cemburu itu salah satu tanda cinta. Jika Asti merasa cemburu, itu berarti Asti mencintai suaminya. Apakah ada istri yang tidak mencintai suaminya? Ada! Kita mengenal tipe rumah tangga ‘empty love’ di mana kehidupan rumah tangga hanya diikat oleh komitmen belaka, tanpa ada binar-binar mawaddah ataupun rahmah. Kapan-kapan, kita akan bahas masalah ini.

Namun, waspadailah rasa cemburu. Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda cemburu itu ada yang dicintai Allah dan ada juga yang dibenci-Nya. Adapun cemburu yang dicintai-Nya adalah cemburu karena rasa curiga. Sedangkan cemburu yang dibenci-Nya adalah cemburu yang bukan karena curiga.” (HR. Abu Dawud).

Apa maksud cemburu karena curiga? Yaitu cemburu yang didasarkan pada indikasi-indikasi atau tanda-tanda tertentu yang menimbulkan kecurigaan. Misal, seorang istri melihat suaminya berduaan dengan wanita yang bukan mahram di sebuah tempat yang romantis. Indikasi itu membuat dia waspada, terlebih ketika ada tanda-tanda bahwa pasangan kita akan berbuat sesuatu yang melanggar syariat. Kecurigaan itu membuat kita seyogyanya waspada dan mengingatkan pasangan kita untuk tidak melanggar batas-batas yang dibenarkan oleh agama.

Sedangkan cemburu yang dilarang adalah cemburu tanpa alasan dan melewati batas-batas kewajaran. Suatu saat, istri Umar bin Khattab pernah ikut shalat subuh dan isya berjamaah di masjid. Lalu ada yang menegur istri Umar, “Kenapa kamu keluar rumah, bukankah engkau tahu bahwa Umar tak menyukai hal ini dan dia pasti akan cemburu?”

“Apa alasan engkau melarangku?” Istri Umar pun menyebut sebuah hadist, “Janganlah kalian larang hamba-hamba Allah yang perempuan datang ke masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, ada juga kecemburuan-kecemburuan yang sifatnya manusiawi dan dimaafkan. Misal, kecemburuan antaristri sebagaimana yang terjadi antara istri Rasulullah yang satu dengan yang lain. Asal kecemburuan itu tidak sampai pada hal-hal yang melanggar syariat, hal tersebut termasuk dalam perkara wajar.

Lantas, bagaimana dengan kasus Asti di atas? Jika ada indikasi, sebenarnya indikasi tersebut masih cukup lemah. Sangat baik jika Asti mengedepankan prasangka baik kepada suaminya, dan bukan malah menjerumuskan diri kepada prasangka-prasangka negatif. Asti bisa dengan cara lembut dan mungkin dengan gaya bergurau mengingatkan suaminya, “Awas, lho Papa… jaga hati, jaga pandangan.”

Selain itu, momen cemburu tersebut bisa menjadi momen Asti untuk berbenah dan muhasabah. Sudahkah selama ini dia menjadi istri yang baik untuk Arya? Jika ternyata banyak kekurangan, Asti harus berupaya untuk memperbaikinya.

Ditulis oleh: Afifah Afra

Referensi:

Sheikh Abu Al-Hamd Rabee’, 2011, Membumikan Harapan Keluarga Islam Idaman, Lembaga Kajian Ketahanan Keluarga Indonesia (LK3I), Jakarta.

P0315417

HARUSKAH BERCERAI?

P0315417

Suatu hari, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Namun kali ini dia tidak seperti yang saya kenal sebelumnya. Dia sangat banyak berubah, tampak lebih pemurung dan lebih tertutup. Sesekali airmata membasahi pipinya, dengan hati-hati saya bertanya kenapa dan ada apa yang sudah terjadi perlahan dia menceritakan yang sudah terjadi.

Perceraian adalah alasan mengapa dia menjadi seperti ini, semua pasti memaklumi mengapa dia seperti ini tetapi yang sangat disayangkan perceraian terjadi karena dia sendiri yang mengajukannya, namun setelah bercerai dia malah terbelenggu rasa sesal kenapa dengan begitu emosi dan begitu mudah memutuskan untuk berpisah sementara permasalahan belum tertuntaskan. Yang lebih menyakitkan baru saja sebulan palu perceraian diketuk, pasangannya sudah memutuskan untuk menikah lagi.

Lepas dari cerita diatas, sebuah perceraian pasti menimbulkan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi suami istri dan keluarga masing-masing. Apalagi jika perceraian tersebut dipicu oleh permasalahan yang melibatkan keluarga sehingga memasuki gerbang permusuhan keluarga kedua belah pihak. Padahal mungkin permasalahan yang sebenarnya, suami istri tersebut kurang bisa mengeskplor atau mencurahkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Kesibukan diantara mereka, komunikasi yang tak lancar juga campur tangan dari pihak lain. Menyebabkan hubungan mereka semakin rengang, semakin rumit padahal akar cinta masih bersemi di hati masing-masing.

Kasus ini menjadi pelajaran untuk kita, tatkala ketidakharmonisan sedang melanda dalam rumah tangga. Janganlah langsung berfikir untuk bercerai karena mungkin bercerai pun belum tentu menjadi solusi dalam permasalahan ini. Penulis terkadang ngeri dengan beberapa selebritis yang mengomentari tentang perceraiannya, mereka mengatakan jalan cerai membuat kita lebih bisa akur dan berdamai ketimbang masih dalam ikatan suami istri. Hal ini sangat ditakutkan karena pernyataannya bisa menjadi rujukan banyak orang saat rumah tangganya sedang berada dalam permasalahan yang pelik. Semoga rumah tangga yang kita arungi selalu dilandaskan untuk memperoleh cinta Allah SWT agar dalam kondisi darurat pun kita akan selalu berpegang pada ketentuanNya.

Kontributor: Feli Mulyani