Category Archives: RESENSI

Cinta Suci Adinda dan Tahun Kebangkitan Novel Indiva

Cinta Suci Adinda-FIX

Keberadaan Penerbit Indiva sebenarnya tidak bisa dilepaskan dengan novel. Di awal berdirinya, Indiva telah menggebrak dunia perbukuan dengan berbagai novel yang khas, seperti De Winst (Afifah Afra), Livor Mortis (Deasylawati P), Rose (Sinta Yudisia) dan Jasmine (Riawani Elyta). Namun, beberapa tahun terakhir ini, Indiva mulai agak jarang menerbitkan novel. Ternyata, hal ini cukup dikeluhkan oleh pembaca. Beberapa pembaca setia Indiva mengaku rindu dengan hadirnya novel-novel inspiratif Indiva. Continue reading

Sayap Mawaddah_promo

Telah Terbit: Sayap-Sayap Mawaddah

Sepenggal Upaya Langgengkan Cinta

Ditulis oleh Afifah Afra

Dicopas dengan seizin penulis dari SINI

Sayap Mawaddah_promo

Sejatinya, cinta hanyalah perkara
Saling membuka diri
Saling memberi ruang
Untuk sejuta catatan tentangmu
Yang tersimpan di hatiku
Untuk sejuta catatan tentangku
Yang tersimpan di hatimu
Dan tentang waktu khusus
yang kita sediakan
Untuk membaca dan memahaminya
^^Afifah Afra^^
(Sayap-Sayap Mawaddah, hal 19)

Saya pernah termenung membaca sebuah quotes pernikahan dari Socrates yang terjemahnya kurang lebih begini: ”Menikahlah! Jika istrimu baik, kau akan hidup bahagia, jika istrimu jahat, maka kau akan jadi filsuf sepertiku.” Perkataan itu dilandaskan pada keyakinan Socrates, bahwa pernikahan itu seperti perjudian. Jika beruntung, kita akan menemukan pasangan yang tepat, dan kita akan hidup berbahagia. Jika kita kurang beruntung, mendapatkan pasangan yang cerewet, bawel, banyak aturan, menyebalkan dan sebagainya, kita tentu akan menderita selamanya. Namun, kata Socrates, dalam penderitaan tersebut, kita akan ditempa untuk menjadi bijak, dan oleh karenanya, kita akan menjadi filsuf.

Hm, begitu ya penilaian Socrates! Jadi, jika begitu, apakah para konselor pernikahan, para motivator bijak yang sangat filosofis itu jangan-jangan memiliki kehidupan yang sama dengan Socrates. Terus penulis-penulis yang senang menulis kisah-kisah romantis, dengan pasangan yang mirip pangeran berkuda putih atau puteri salju yang baik hati itu, jangan-jangan aslinya memiliki kehidupan yang bertolak belakang dengan apa yang diceritakan? Waduh, pikiran yang berbahaya!

Betulkah pernikahan itu sebuah perjudian? Aah… kudu mikir keras. Memang sih, mungkin banyak para pemuda-pemudi yang saat menikah tidak menggunakan banyak pertimbangan. Begitu ketemu, suka, lalu ngajak ke KUA. Sukanya pun kadang suka yang sangat bersifat fisik, misal karena doski cantik atau tampan seperti bintang film, atau tajir dengan kekayaan yang cukup menghidupi tujuh keturunan. Agama menjadi pertimbangan kesekian, bahkan seringkali tidak penting. Maka, sangat wajar jika yang muncul akhirnya adalah kekecewaan demi kekecewaan.

Ya, pernikahan ibarat buah segar. Pernah melihat rangkaian buah anggur yang dipajang menawan? Dari tampilan kulitnya saja yang merah merona, akan mampu menyedot rasa ketertarikan yang besar dari siapapun yang menatapnya. Kita penasaran, menatapnya berlama-lama, ingin mengulik isinya, mencicipi rasanya, membayangkan kelezatannya. Sementara, bagi yang telah mencecap nikmatnya, sepertinya tak sabar untuk mengabarkan kepada dunia, seberapa buncah kebahagiaan kita. Namun, memang ada juga yang mendadak memuntahkan anggur yang terlanjur dikunyah, karena ternyata daging buahnya kecut, busuk, atau berisi ulat. Tentu, kita tak menginginkan hal ini terjadi pada kita, bukan? (Sayap-Sayap Mawaddah, halaman 7).

Untungnya, dalam konsep pernikahan menurut keyakinan yang saya anut, yakni Islam, berbagai spekulasi yang mengarah pada perjudian ditekan hingga taraf minimalis. Berbagai antisipasi, mulai bagaimana memilih jodoh, ikhtiar dengan melibatkan Allah SWT, hingga visi dan misi dalam pernikahan, membuat sebuah rumah tangga Islami yang benar-benar dibentuk dengan keimanan yang kuat, dengan sendirinya memiliki fondasi yang kokoh. Bukan berarti saat berjalannya kehidupan rumah tangga tak ada goncangan. Tetapi, fondasi yang kuat akan membuat segala goncangan terasa lebih mudah mengatasinya. Bagaimana membentuk fondasi yang kuat dalam rumah tangga sudah saya tulis bersama Riawani Elyta di buku “Sayap-Sayap Sakinah” yang sudah rilis setahun silam. Alhamdulillah, sambutan buku pertama kami tersebut sangat positif.

Nah, pada kesempatan ini, saya dan partner saya mencoba mempertajam tema dengan membuat sekuel buku tersebut, yakni “Sayap-Sayap Mawaddah.” Buku tersebut kami tulis sejak beberapa bulan silam, akan tetapi baru mendapat kesempatan terbit jelang lebaran tahun ini. Mohon doanya agar buku ini sukses di pasaran, dan mampu memberikan manfaat secara optimal untuk generasi muda muslim di negeri ini khususnya, maupun dunia pada umumnya.

GAMBARAN ISI

Sakinah, menurut para ulama, adalah hadiah dari Allah untuk sepasang suami-istri yang menikah dalam rangka menyempurnakan separuh agama. Modal sakinah, jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan mawaddah dan rahmah. Inilah sesungguhnya pilar penting dalam sebuah pernikahan.
Seri Sayap Sakinah adalah buku yang saya tulis bersama Riawani Elyta. Selain itu, kami juga dibantu oleh para kontributor, antara dr. Ahmad Supriyanto (menulis artikel “Seksualitas dalam Mawaddah), dan 5 pemenang lomba menulis “Miracle of Love in Marriage” yaitu Fathimatuzzahra, Irhayati Harun, Arinda Shafa, Rufaidah Umar dan Andika Yudhi Hidayati. Secara khusus, kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada para kontributor yang telah membuat buku ini menjadi semakin kaya.

Jika dalam buku pertama, yakni Sayap-Sayap Sakinah, kami lebih menekankan pada konsep-konsep dasar pernikahan, mulai dari persiapan pernikahan, walimah hingga tahap-tahap adaptasi sepasang pengantin baru. Sementara, dalam buku kedua, Sayap-Sayap Mawaddah, secara mendetil penulis memaparkan pilar mawaddah, alias cinta yang khusus terjalin antarsepasang manusia yang berlawanan jenis, yang telah syah sebagai suami istri. Pilar ini penting untuk dikaji, karena secara manusiawi, manusia memiliki hasrat terhadap lawan jenis. Islam tidak hendak menghilangkan hasrat tersebut, namun dikelola dalam sebuah ikatan cinta yang sakral, dan dijadikan sebagai sarana regenerasi manusia itu sendiri. Di satu sisi, inilah yang membuat sebuah pernikahan seringkali terasa begitu indah.

InsyaAllah, melengkapi buku ketiga Sayap-Sayap Rahmah, akan kami susun untuk melengkapi trilogi Sayap Sakinah ini. Tak ada yang kami harapkan selain keridhaan Allah SWT, serta kemanfaatan sebesar-besarnya dari terbitnya buku ini.

Selamat berburu buku ini, membaca, mencermati dan menghayati maknanya. Dan jika ada kebaikan, doakan agar kami para penulis mendapatkan pahala dari-Nya.

DATA BUKU

Judul : Sayap-Sayap Mawaddah
Penulis : Afifah Afra, Riawani Elyta dan contributor
ISBN : 978-602-1614-65-5
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Harga : Rp 36.000,-
Ukuran : 13 cm x 19 cm
Tebal : 208 halaman

Buku ini bisa didapatkan di toko buku seluruh Indonesia (Gramedia, Togamas, Restu Agung, Karisma, Luwes dan sebagainya).

Pemesanan online:
0819.0471.5588 (Dira)
0878.3538.8493 (Deasy)

Atau klik http://www.tokobukuafra.com/sayap-sayap-mawaddah

Kover Sayap Sakinah 1 muka

Sayap-Sayap Sakinah, Paket Lengkap Nikah

Kover Sayap Sakinah 1 mukaSalah satu misteri terbesar dalam kehidupan ini adalah jodoh dan perjodohan. Nikah dan pernikahan. Kisah-kisah sejati yang menakjubkan seputar perjodohan, tergores begitu giras, tercetak begitu rancak, terlukis begitu manis. Masing-masing Bani Adam memiliki cerita sendiri. Dan biasanya, cerita-cerita itu terbingkai dalam sebuah keistimewaan yang mengesankan. Bagaimana dengan Anda? Pasti Anda memiliki kisah sendiri.

Dan, ibarat sebuah rajutan, jodoh dan nikah tentunya membutuhkan seperangkat peralatan dan bahan. Ilmu, pengalaman, berbagai persiapan, perlu digali sedalam-dalamnya. Terlebih, rajutan kehidupan pra dan pascapernikahan, tak selalu berupa sulaman indah. Ada kalanya membutuhkan perjuangan yang luar biasa.

Pernikahan bukan sekadar episode penyambung prosesi walimah, melainkan sebuah ibadah, yang mampu menggenapkan separuh dien sepasang muslim dan muslimah. Dan, inilah buku yang akan menuturkan proses menggapai sakinah, mawaddah dan rahmah.
Buku ini terbagi atas dua fase: pra – pernikahan dan setelah menjalani pernikahan.

Pada bagian pra-pernikahan, pembaca akan diajak menelusuri persiapan sebelum memasuki gerbang pernikahan, mulai dari pencarian jodoh, pertimbangan penting sebelum menikah, hingga merencanakan walimah.

Pada bagian menjalani pernikahan pula, buku ini akan mengupas pernak-pernik berumah tangga dan solusinya, diantaranya tentang menghadapi tahun-tahun awal pernikahan, penyesuaian dengan pasangan, cinta dalam pernikahan, juga beberapa topik sensitif, seperti poligami dan tak kunjung berjodoh.

Dituturkan dalam bahasa yang ringan mengalir, buku ini akan menjadi sahabat anda yang hendak dan telah menikah. Bersama meraih hikmah, untuk menggapai pernikahan yang sakinah dan barokah. Sangat cocok untuk Anda yang hendak, sedang, atau telah menikah. Ditulis dengan gaya bercerita yang khas, membuat Anda tak harus mengerutkan jidat saat mencoba memahami manik-manik hikmahnya. Selamat membaca!
***

“Pernikahan bukan hanya sekedar penyatuan dua jiwa. Tapi juga penyatuan dua keluarga, dua tradisi, dua dunia.” (hal. 217)

Saat menyadari bahwa buku ini bukanlah novel saya sempat berfikir, “Apakah saya bisa menikmatinya?” Apalagi sejujurnya saya kadang merasa digurui oleh buku-buku Islami populer. Bahasan tentang pernikahan pun jarang menjadi pilihan saya. Mungkin karena saya menolak untuk galau. Baca buku tentang pernikahan terkadang  membuat harapan untuk segera menikah jadi membuncah. Padahal kenyataannya, calon pun masih rahasia ilahi.

Ternyata dugaan saya meleset. Buku ini bahasanya mengalir bahkan terasa indah. Ada sisi humor yang diselipkan. Ada juga penjelasan logis untuk berbagai argumen. Realistis.

Buku Sayap-Sayap Sakinah membahas pernikahan dengan sasaran pembaca yang cukup luas. Mulai dari mereka yang masih lajang dan belum punya calon, mereka yang sedang mempersiapkan hari besarnya, hingga mereka yang sudah menikah.

Buku ini menjabarkan pandangan kedua penulis, Mbak Afifah Afra dan Riawani Elyta, tentang pernikahan. Mereka mengetengahkan berbagai contoh tentang kehidupan pernikahan. Baik yang mereka alami sendiri maupun yang dialami oleh orang-orang di sekitar mereka. Secara khusus, mereka mengetengahkan tentang bagaimana Islam mengatur tentang pernikahan ini.

Saya jatuh cinta sejak pertama kali membaca prolognya. Sajak pembukanya saja sudah mempesona. Afifah Afra menulis:

Suamiku,
Aku mengizinkanmu untuk menikah
Hingga empat kali
Pertama menikahiku
Lalu menikahiku
Menikahiku
Dan terakhir, menikahiku

Pembuka yang manis. Namun juga jelas mewakili perasaan banyak perempuan. Namun di saat yang sama menyiratkan tentang kesadaran bahwa memang Islam menghalalkan seorang laki-laki menikahi 4 perempuan.

Salah satu bahasan yang paling membuat saya terkesan adalah chapter Oh, Mitsaaqon Gholiidzo. Di bagian ini, Afifah Afra menjabarkan tentang betapa hebatnya “akad nikah”. Bahwa frase Mitsaaqon Gholiidzo ini maknanya sangat besar dan sakral. Sebab frase tersebut di dalam Al-Quran juga dipakai saat menyebutkan tentang sumpah setia dari Bani Israil yang saat janji mereka diambil, telah siap dihukum oleh Allah dengan ditimpakan sebuah gunung di atas kepala mereka. Hal ini seperti yang disebutkan dalam surat An-Nisa ayat 154. Selain itu istilah Mitsaaqon Gholiidzo juga digunakan saat membahas tentang perjanjian yang diambil dari 5 Rasul. Hal ini tercantum di surat al-Ahzab ayat 7. Ini membuat saya semakin menyadari tentang besarnya pernikahan di sisi-Nya.

Ada pula chapter Sepasang Sendal Menuju Surga. Saya suka bagian ini karena dengan jelas menyampaikan bahwa pasangan suami-istri itu seharusnya setara. Sama-sama meng-upgrade diri. Sama-sama terus belajar. Sama-sama punya tanggung jawab dalam membesarkan anak dan mengurus rumah. Bahasa yang dipakai dalam bagian ini seperti sebuah catatan personal. Sehingga rasanya saya membaca isi hati yang coba disampaikan penulis kepada pasangannya.

Bahasan-bahasan lain dalam buku ini juga menarik diikuti. Kedua penulis menceritakan tentang betapa indahnya malam pertama dan masa bergelimang madu (honey moon) dengan gaya bahasa yang indah, sopan, dan juga logis.

Di sisi lain, penulis juga mencoba berbagi pendapat mereka tentang “pacaran”, tentang keyakinan bahwa calon suami sudah pasti akan menjadi suami. Mereka mengingatkan pembaca untuk tidak membiarkan keyakinan semacam itu membesar menjadi kesombongan. Tetap menyerahkan segala hal pada ketentuan-Nya. Sebab ada kasus nyata dimana undangan sudah disebar, gedung dan catering sudah dipesan, namun karena kehendak-Nya pernikahan tidak bisa dilangsungkan.

Penulis juga mengingatkan kepada pembaca yang sudah melangsungkan pernikahan dan tengah mengarungi bahtera rumah tangga agar tetap memperhatikan arah bahteranya. Mengingatkan agar mereka menjaga pergaulan agal tidak jatuh dalam kondisi yang bisa mengarah perselingkuhan. Mereka juga memberi tips agar pernikahan tidak mengalami empty love, serta memberi saran bagaimana sebaiknya kondisi empty love ini dihadapi jika sudah terlanjur terjadi.

Buku ini sungguh paket lengkap. Bisa menjadi bacaan yang mempersiapkan para lajang untuk memilh pendamping hidup dan juga mempersiapkan diri hingga pernikahan dilangsungkan. Buku ini juga menjadi pengingat bagi mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan. Mengingatkan bahwa walimah itu hanyalah cover dari buku tebal pernikahan. Tak perlu megah, seharusnya esensi pernikahannyalah yang di”megah”kan. Buku ini juga menjadi pegangan yang enak dibaca bagi pasangan suami-istri agar bisa terus menjaga kelangsungan pernikahan mereka. Agar sakinah mawaddah warahmah benar-benar melingkupi pernikahan mereka.

Buku ini bisa jadi bekal bagi pembaca khususnya diri saya pribadi dalam mempersiapkan diri menjalani kehidupan pernikahan. Baca buku ini tidak bikin galau. Tapi sajak-sajak Mbak Afifah Afra yang bikin saya melting (>_<)

DATA BUKU
Penulis: Afifah Afra & Riawani Elyta
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva Press
Cetakan: Pertama, Ramadhan 1435 H./ Juli 2014
Jumlah hal.: 248 halaman
ISBN: 978-602-1614-22-8

 

Ditulis oleh: Atria Dewi Sartika*)
@atriasartika

 

*) Posting ini juga bisa dibaca di http://atriadanbuku.blogspot.com/2014/08/sayap-sayap-sakinah.html#more