Category Archives: PUISI

86_176

Kepada Anakku

86_176

Tanganku sibuk sepanjang hari..
Aku tak punya waktu luang
Bila kau ajak aku bermain, Kujawab “Ibu tak sempat, Nak !”
Aku mencuci baju, menjahit, memasak, semua untukmu.
Tapi bila Kau tunjukkan buku ceriteramu,
atau mengajakku bercanda,
Kujawab, “Sebentar, Sayang…”
Di malam hari kutidurkan kamu, kudengarkan doamu, kupadamkan lampu…..
Lalu ku berjingkat meninggalkanmu….
Kalau saja aku tinggal barang satu menit lagi…
Sebab hidup itu singkat, tahun-tahun bagai berlalu…
Bocah cilik tumbuh begitu cepat…
Kamu tak lagi berada di sisi Ibu…
Membisikan rahasia-rahasia kecilmu…
Buku-buku dongengmu entah kemana….
Tak ada lagi ajakan bermain…
Tak ada lagi cium selamat malam…
Tak kudengar lagi doamu…
Semua itu milik masa lalu…
Tanganku dahulu sibuk…sekarang diam…
Hari-hari terasa panjang membentang…
Kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu…
Menyambutmu hangat di sisiku…
Memberimu waktu dari hatiku….
Kita melakukan banyak kekeliruan dan kesalahan,
tapi kejahatan kita yang utama adalah mengabaikan anak, menyepelekan MATA AIR KEHIDUPAN.
Banyak kebutuhan kita dapat ditunda
tapi Anak TIDAK DAPAT MENUNGGU !!!
Kini saat tulang belulangnya dibentuk, darahnya dibuat, dan nalurinya dikembangkan….padanya kita tidak dapat menjawab “BESOK…” , sebab ia dijuluki “HARI INI”

GABRIELA MISTRAL
( Children Winner Of Nobel Prize Poetry )

Makna Cinta

(Petikan Puisi Rumi)

Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar
Namun bila Cinta datang, aku malu atas keteranganku.
Walau lidah mampu menguraikan dengan terang
Namun tanpa lidah Cinta menjadi lebih terang.

Kalam dan pena begitu terburu-buru menulis tentangnya
Begitu sampai di depan Cinta kata-kata luluh berantakan
Akal tak berdaya menguraikan cinta, bagaikan keledai di dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan

Matahari membuktikan keberadaannya sendiri melalui sinarnya
Jika bukti telah datang janganlah wajahmu berpaling darinya
Cinta yang tergantung pada warna bukanlah cinta
Warna mudah luntur, begitulah cinta sesaat harus kau enyahkan.
Cinta sesaat harus diganti cinta hakiki
Dan apa saja selain “Aku” harus dienyahkan darimu

Petikan puisi Jalaluddin Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M

Sayap-Sayap Sakinah

Kita adalah sepasang sayap
Diciptakan-Nya tuk mengangkasa
Susuri hidup penuh dinamika
Beri aku kuatmu saat ku lelah
Kuberi akasku saat kau lemah
Beri aku sinarmu saat ku redup
Kuberi hangatku saat kau kuyup


Kita adalah sepasang sayap
Sayap-sayap sakinah
Yang tak pernah lelah
Melangkah bersama menuju jannah


(Afifah Afra)