Category Archives: Psikologi

Stop Galau, Dear Ibu Rumah Tangga!

orang tuaMenjadi ibu idaman itu ternyata tak semudah sangkaan sebagian orang. Banyak para IRT yang akhirnya terjebak dalam kegalauan yang panjang. Hingga akhirnya merasa diri tidak pantas menjadi ibu, tidak bermanfaat, tidak sukses berbisnis, tak berdaya, tidak pintar masak, tidak pandai merapikan rumah, tidak mengerti bagaimana seharusnya mendidik anak. Lalu semakin iri ketika salah seorang teman kita bisnisnya sukses, anak-anaknya membanggakan, hebat hapalan Al-Qurannya, kegiatannya sebreg dan semakin harmonis bersama suaminya. Continue reading

Jangan Mau Jadi Orang “Nyebelin”!

Tahquamenon_Falls_Upper_Falls,_Upper_Peninsula,_Michigan

Disenangi dan diterima oleh orang lain, adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Jika ditanya, apakah ada orang normal yang ingin dibenci orang lain? Pasti tidak ada. Berusaha lapang dada dan menerima ketika dibenci orang lain, mungkin banyak yang melakukannya. Tapi sengaja melakukan sesuatu untuk dibenci banyak orang adalah sebuah hal yang aneh dan tak masuk akal. Continue reading

pend-karakter

MEMUTUS MATA RANTAI KEKERASAN DI SEKOLAH

pend-karakter

Sumber gambar dari sini

Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh peristiwa meninggalnya, seorang siswa SMP yang diduga mengalami kelelahan saat mengikuti kegiatan MOS. Yang paling disesalkan kasus begini sebenarnya bukan kali ini saja terjadi, namun mengapa tak pernah bercermin dari kejadian masalalu. Padahal MENDIKBUD sudah ada pelarangan kegiatan MOS atau OSPEK yang mengandung unsur perpeloncoanpada tahun1999. Menurut Wikiedia perpeloncoan adalah praktik ritual dan aktivitas lain yang melibatkan pelecehan, penyiksaan, atau penghinaan saat proses penyambutan seseorang ke dalam suatu kelompok.

Pada awalnya MOS/OSPEK adalah ajang orientasi para siswa atau mahasiswa mengenal mereka senang, membuat mereka terkesan dan termotivasi berada dalam lingkungan sekolahnya yang baru. Namun pada pelaksanaannya yang kepanitiaan dipegang oleh para senior-seniornya yang entahdari mana mulanya aktivitas perpeloncoan dan pemberian tugas-tugas kepada para juniornya tidak masuk akal dan membebankan secara mental dan ekonomi itu terjadi dan mengakar sekarang. Para senior-seniornya yang juga masih berstatus pelajar atau mahasiswa terdakang tidak menjajaki dulu kondisi kesehatan para adik barunya sehingga tak pelak jatuhnya korban jiwa.

Data yang diperoleh dari berbagai sumber banyak kasus MOS/OSPEK yang di warnai perpeloncoan sehingga mengakibatkan kematian. Tahun  2003 Wahyu Hidayat dari IPDN masih di kampus yang sama tahun 2007, Cliff Mutu juga menambah daftar  panjang kasus kekerasan di kampus tersebut. Di tahun 2013 Fikri dari ITN,tahun lalu Amanda dan Roy Aditya Per­kasa, siswa baru di sebuah SMA Negeri di Pro­vinsi Jawa Ti­mur. Dan baru-baru ini Evan Chritoper Situmorang dari SMP Flora Bekasi.

Orang tua menitipkan anak-anaknya pada lembaga sekolah atau kampus agar anak-anak mereka dididik dengan pendidikan yang terbaik dan sekolah seyogyanya adalah tempat berkembangnya potensi, mental dan fisik anak sehingga para orang tua dengan susah payah mendaftarkan dan mencari biaya agar anak-anak mereka bisa bersekolah.Namun kenyataannya di sekolahanak-anak diperlakukan semena-mena dan jatuhnya korban jiwa seakan mengukuhkan nyawa anak kita tak lagi berharga di mata institusi pendidikan.

Kak Seto Mulyadi, pemerhati menegaskan agar kegiatan MOS/OSPEK yang memakan korban ini harus di stop dan dihentikan, karena alih-alih mengajarkan siswa-siswa me   ngenal lingkungan sekolah, kedisiplinan serta ketahanan mental dan ujian  fisik yang terlalu berat malah menimbulkan karakter negatif yang tumbuh seperti dendam, ketakutan dan trauma. Dari berbagai kasus yang terjadi seolah tak ada sangsi tegas dari pemerintah sehingga kegiatan ini terus berulang, seolah mata rantai yang tak bisa ditemukan ujungnya.

Pada akhirnya semua berharap ketuntasan kasus ini dengan sangsi hukum yang tegas, sesuai dengan undang-undang pendidikan yang mengatakan bahwa siswa dilindungi dari segala tindak kekerasan baik itu oleh kepala sekolah, guru maupun teman-temannya. Dibutuhkan empati, kerjasama yang baik dan solid antara lapisan masyarakat, seperti pemerintah, pihak pendidikan dan orang tua agar kasus semacam ini tidak terulang kembali dan generas kita anak tumbuh menjadi generasi yang unggul dan berprestasi. (fm)

anak puasa

Kejujuran itu yang Terpenting

Bagi anak-anak yang baru belajar berpuasa, hari-harinya memang sangat berat dan panjang. Tak jarang akhirnya mereka merengek dan menangis agar bisa berbuka puasa. Rengekan dan tangisan  bisa jadi adalah bukti kejujuran, bahwa mereka benar-benar menunjukan sudah tidak kuat menahan lapar dan dahaga. Kita perlu hargai itu dari pada mereka mengaku kuat puasa  tetapi tanpa sepengatahuan kita mereka makan dan minum, jika itu terjadi sesungguhnya anak-anak telah membohong diri sendiri.Padahal makna puasa tidak hanya selesai menahan lapar dan haus saja, namun lebih dari itu tentang bagaimana melatih pengendalian diri dan mendidik kejujuran.

Kenapa kejujuran? Karena kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran. Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain. Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.

Seperti yang dipaparkan oleh Rasulullah SAW bahwa puasa itu adalah ibadah yang paling rahasia atau ibadah sirriyah karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT. Maka itu kejujuran sangat dituntut dan kesabaran dilatih serta kepekaan selalu dilihat Allah SWT, meski saat kita sedang sendiri bisa dengan leluasa dapat makan dan minum. Namun jika kejujuran sudah menjadi pegangan maka hal itu tak akan mungkin dilakukan karena sadar sedang berpuasa dan sangat yakin ada yang Maha melihat yang kelak akan meminta pertanggungjawaban. Jika alasan kita tidak berpuasa dibenarkan oleh aturan-aturanNya maka tak mengapa berbuka namun tetap wajib menganti/mengqadanya di lain hari.

Begitupun dengan anak-anak meski belum sepenuhnya wajib menjalankan ibadah puasa karena mereka belum akil balig namun mengajak dan membiasakan mereka berpuasa dengan kejujuran adalah hal yang baik seraya menjelaskan kepada anak-anak apa arti, makna, dan manfaat berpuasa. Jika tidak dimulai dari sekarang menjelaskan hikmah dan pentingnya bulan ramadhan sejak dini, maka bulan ramadhan yang Allah SWT istimewakan akan jatuh seperti “ritual tahunan” dan bahkan menjadi beban saat mereka menjalankannya. Padahal jika sebulan ini mereka menjalankan puasa  penuh dengan kejujuran maka hal ini merupakan kebanggaan yang luar biasa. (fm)

ortu tengkar

JANGAN MENJADI ORANGTUA YANG GAGAL

ortu tengkar

ilustrasi diambil disini

 

Anak adalah anugerah, pelengkap kebahagiaan serta investasi berharga untuk orang tuanya di dunia dan akhirat, sehingga tak jarang kehadiran anak dalam sebuah keluarga begitu dinantikan. Namun beberapa hari terakhir kita dikejutkan, ternyata ada orang tua yang begitu tega dan tanpa merasa bersalah menelantarkan anak-anaknya. Kasus ini mengejutkan semua pihak serta yang lebih mengejutkan lagi kasus ini berujung pada penyalahgunaan narkoba.

Data Departemen Sosial selama beberapa tahun terakhir mencatat sekitar 1,1 juta anak di Indonesia yang kini terlantar dan jumlahnya kini semakin bertambah. Penelantaran anak adalah di mana orang dewasa yang bertanggung jawab pada anak tersebut, gagal untuk menyediakan kebutuhan memadai untuk berbagai keperluan, termasuk fisik (kegagalan untuk menyediakan makanan yang cukup, pakaian, atau kebersihan), emosional (kegagalan untuk memberikan pengasuhan atau kasih sayang). Banyak yang menjadi alasan orang tua menelantarkan anak diantaranya kemiskinan dan kecanduan obat-obatan terlarang. Hal ini sangat disayangkan terjadi penelantarkan anak, sama juga dengan kita mengabaikan masa tua kita sendiri, karena di masa tua nanti anak-anaklah yang menjadi penerus, pengurus kita serta doa anak adalah tabungan dunia dan akhirat orang tuanya.

Psikolog dari Klinik Terpadu Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Jane Cindy, mengatakan anak yang ditelantarkan bisa mengalami dampak psikologis, yaitu merasa ditolak oleh kedua orang tuanya, tidak memiliki kemampuan bersosialisasi sehingga berdampak anak bertumbuh menjadi individu yang penyendiri, tertutup, egosentris serta tidak mampu mengembangkan rasa empati. Dan yang lebih bahaya lagi anak yang ditelantarkan orang tuanya akan mengalami trauma berkepanjangan. Semoga kasus ini bukan merupakan fenomena gunung es, dengan kepercayaan tinggi masih banyak para orang tua yang betul-betul mendidik anak-anaknya dengan cinta, mengasuh dengan ilmu dan menjaganya dengan penuh keimanan. (fm)

bisnis

Biarkan Anak Belajar Berbisnis

Keisya masih sekolah di Taman Kanak-kanak tetapi semangatnya berbisnis dengan berjualan permen patut diacungi jempol. Tanpa malu dan ragu Keisya menjajakan dagangan kepada teman-temannya, guru dan para ibu yang menunggu di luar sekolah. Keisya menjual permen hasil kreasi dia dan sang bunda, terbuat dari minuman serbuk dengan berbagai rasa lalu di campur susu sehingga membentuk bola-bola permen.

Meski kadang permen yang ia jajakan tak laku semua namun ia senyum dan tenang saja menanggapinya, dia berkata “Enggak apa-apa belum habis juga, nanti sore mau keliling di sekitar rumah dan besok temen-temen juga pasti beli lagi” katanya optimis. Apa yang Keisya lakukan ini sangat membanggakan dia tanpa sadar belajar sesuatu, belajar promosi, belajar kreatif dan belajar akuntansi, namun dia masih sangat membutuhkan bimbingan dan dukungan dari orang tua dan guru.

Seperti yang dipaparkan psikolog anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, anak-anak yang mengenal dunia bisnis atau wirausaha sejak dini, akan mendapati manfaat untuk bekal masa depan kelak karena akan menumbuhkan jiwa wirausaha dan menjadi pribadi yang kreatif. Kak Seto menambahkan, memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar berbisnis (berwirausaha) sejak kecil bukan berorientasi mencari uang. Melainkan lebih untuk melatih kemandirian, dengan mengandalkan kreativitasnya. Kak Seto menolak anggapan bahwa anak yang belajar bisnis sejak kecil, akan menjadi “mata duitan”. Tujuan melatih kewirausahaan sejak dini lebih untuk memberikan kesempatan pada anak untuk tumbuh menjadi pribadi kreatif karena sang anak merasa dihargai dan lebih percaya diri dalam mengembangkan potensinya. (FM)

contoh-cincin-pernikahan

Perjanjian Pranikah, Pentingkah?

contoh-cincin-pernikahan

Ditulis oleh: Riawani Elyta

Perjanjian pranikah, atau prenuptial agreement (prenup), yaitu perjanjian secara tertulis antara kedua belah pihak dan dilakukan sebelum menikah, serta memiliki konsekuensi dalam pelaksanaannya yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak.

Sebenarnya, perjanjian pranikah ini sudah tercantum di dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Pasal 29 tahun 1974 yang menyebutkan: “Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga tersangkut.”

Tetapi, pada kenyataannya belum banyak pasangan di negeri ini yang merasa perlu mengikat diri di dalam perjanjian tertulis sebelum melangsungkan pernikahan. Sebagian menganggap bahwa ini adalah wujud pandangan pesimis terhadap lembaga pernikahan, ada juga yang menganggap bahwa perjanjian ini hanya akan membuat kedua pasangan merasa terkekang dan dibayang-bayangi rasa khawatir apabila melanggar ketentuan yang telah disepakati secara tertulis.

Perjanjian pranikah biasanya berisi hal-hal yang disepakati oleh kedua calon pasangan, termasuk hal-hal menyangkut kepemilikan dan penggunaan aset atau harta, dan apa konsekuensi yang akan mereka hadapi andai salah satu atau beberapa butir kesepakatan itu dilanggar.

Pertanyaannya sekarang, sudah sejauh mana perjanjian pranikah ini penting untuk dilakukan oleh calon pasangan yang akan menikah? Jika tidak dilakukan, apa kira-kira efeknya terhadap kehidupan berumah tangga nantinya?

Tentunya, kadar “kepentingan” ini sangat bergantung dengan kondisi kedua calon pasangan. Jika memang kondisi keduanya memerlukan adanya sebuah pengikat secara tertulis, misalnya saja kedua calon pasangan, untuk suatu sebab harus hidup terpisah selama beberapa tahun karena sang calon suami atau calon istri akan menempuh pendidikan di luar negeri misalnya, atau pun kedua calon pasangan berasal dari kultur yang jauh berbeda, salah satunya adalah orang asing misalnya, sehingga diperlukan adanya kesepakatan yang benar-benar mengikat di luar proses saling memahami yang diharapkan bisa berjalan secara natural, maka tentu tak ada salahnya untuk melakukan perjanjian pranikah.

Dalam perjanjian tersebut, hendaknya disepakati hal-hal yang tetap mengutamakan keadilan dan keseimbangan antara kedua belah pihak, hingga tak ada pihak yang merasa dirugikan atau diperlakukan tidak adil. Bahkan, tak sedikit calon pasangan yang mencantumkan hal-hal secara mendetail terkait penggunaan aset dalam rumah tangga termasuk pembagian harta gono-gini andai oleh suatu sebab yang tak dapat dipertahankan lagi, pernikahan harus berakhir dengan kata cerai.

Namun di sini, tanpa bermaksud menganggap sepi manfaat dari perjanjian pranikah semacam ini, hukum Islam sebenarnya telah mengatur hal-hal yang terkait dengan kehidupan berumah tangga dan berkeluarga. Aturan yang universal dan nilai kemaslahatannya tetap relevan sampai kapan pun.

Sebut saja tentang pengaturan hak dan kewajiban mencari nafkah antara suami dan istri. Di mana kewajiban mencari nafkah adalah terletak pada suami, sementara terhadap sang istri, hukumnya adalah dibolehkan, sepanjang itu memperoleh izin suami, dapat membantu menopang perekonomian keluarga dan sang istri tetap mematuhi aturan-aturan Islam dalam bekerja.

Begitu pun terhadap keadilan dalam hal keuangan, sang suami wajib menafkahi istrinya, sementara harta sang istri untuk suami dianggap sebagai sedekah. Dalam hal mendidik anak, keduanya wajib untuk sama-sama turun tangan, namun porsi terbesar adalah di tangan para ibu. Karena ibu adalah sosok guru di dalam keluarga dan dengan naluri kasih sayangnya, ibu merupakan sosok yang tepat untuk mendidik dan membesarkan anak-anak dengan sentuhan kasih sayang yang lebih optimal.

Kesimpulannya, penting atau tidaknya melakukan perjanjian pranikah, semua kembali kepada masing-masing calon pasangan. Semakin rentan kondisi keduanya terhadap hal-hal yang dapat memicu terjadinya kesalahpahaman, seperti hidup yang terpaksa saling berjauhan, perbedaan kultur yang tajam, atau pun perbedaan sangat prinsipil dalam hal pengelolaan aset keluarga, maka melakukan perjanjian pranikah dapat dijadikan alternatif untuk meminimalisir konflik di dalam rumah tangga dan keluarga di kemudian hari.

 

Referensi :

-Sayap-sayap Sakinah. Buku non fiksi Riawani Elyta bersama Afifah Afra (Indiva Media Kreasi : 2014).

Foto ilustrasi: google

Dipublikasi di Ummi online edisi 8 April 2015

Photo-0129

Bercerai Itu Boleh, Tetapi…

Photo-0129

Perceraian!  Rumah tangga yang digoyang prahara. Tak usah menanyakan kedahsyatan rasa yang bergelora di hati para pelakunya. Sebab, sekadar mendengar saja, kita pun seakan tengah dilontarkan pada trampolin emosi yang mengguncang adrenalin. Apalagi, jika berita itu menimpa orang-orang terdekat kita.

Ya, beberapa waktu terakhir ini, saya merasa terkaget-kaget dengan berbagai kejadian yang mampir di folder memori saya. Bukan, bukan saya pelaku utamanya. Hanya saja, jika pada beberapa kasus semacam itu sebelumnya saya hanya menjadi penonton belaka, kali ini saya terseret dalam lingkaran yang lebih dalam. Bukan sekadar pengamat, tetapi mungkin sudah menjadi pelaku, meski hanya figuran. Bahkan juga menjadi tempat untuk mencurahkan perasaan.

Perceraian telah terjadi di orang-orang terdekat saya. Dan, terjadinya pun dalam waktu yang berdekatan. Mulai dari famili, hingga sahabat.

Bahwa dalam sebuah rumah tangga ada konflik, saya tentu tahu. Apalagi, saya juga tidak berasal dari keluarga yang benar-benar ‘selamat sejahtera’ mengarungi kehidupan berumah-tangga. Pun beberapa tetangga juga mengalami badai kehidupan yang tak bisa dibilang ringan, dan saya menyaksikan. Dalam dosis yang lebih ringan, tentu konflik-konflik kecil juga pernah saya rasakan saat mengarungi bahtera rumah tangga bersama suami saya tercinta. Semua merupakan pelengkap, karena secangkir kopi tak akan terasa nikmat jika kita sajikan semata berisi gula.

Akan tetapi, kata ‘cerai’ bagi saya terdengar begitu asing, dan mungkin tak percaya jika bisa terjadi pada orang-orang di sekitar saya. Jadi, mendadak saya merasa begitu naïf, polos, dan lugu, saat badai rumah tangga berujung perceraian itu ternyata menginduksi kehidupan saya. Bermacam-macam penyebabnya. Dan, saya tak hendak mencoba mengupasnya di sini.
Satu tesa yang ingin saya sampaikan di postingan ini adalah CINTA SAJA TAK CUKUP. Ya, meski banyak lagu-lagu, syair-syair, roman-roman dinyanyikan, dipuisikan dan didendangkan, yang isinya mengupas-tuntas keajaiban cinta, bagi saya, untuk meniti kehidupan rumah tangga tak cukup hanya bermodal cinta.

Modal pertama dalam berumah tangga adalah IMAN. Dalam konsep keyakinan saya, nikah memiliki bobot separuh agama. Jadi, menikah adalah dalam rangka menyempurnakan ibadah. Karena itu, mempertahankan pernikahan juga sebenarnya dalam rangka mempertahankan kesempurnaan ibadah kita. Apa sih, yang kita cari di dunia ini selain tunduk menghamba kepada-Nya? Bukankah tujuan penciptaan manusia, adalah untuk beribadah kepada-Nya? Saya meyakini, jika para ahlul ibadah susah payah bangun malam, menangis terisak-isak saat merindu rabb-nya, berlapar-dahaga dalam shiyam-nya, sesungguhnya perjuangan menjaga keutuhan berumah tangga, bisa jadi sama, atau lebih besar nilainya di mata Allah.

Iman yang kuat, akan melahirkan sebuah VISI BERUMAH TANGGA yang juga kuat, yakni keluarga yang sakinah-mawadah-warahmah, yang merupakan batu-bata terbentuknya umat yang rabbaniyyah, dan menjadi sarana pengkaderan generasi muslim yang berkualitas.
Berkualitaskah generasi yang akan kita lahirkan, jika saban hari melihat kedua orangtuanya bertengkar? Apakah Anda yakin, bahwa anak-anak Anda akan tumbuh dengan baik meskipun akhirnya keputusan besar itu Anda tempuh? BERCERAI!

Sejarah mungkin mencatat perceraian-perceraian yang secara agama mungkin diperbolehkan. Tetapi sejarah juga mencatat, bahwa sebagian besar perceraian itu dimurkai Allah, karena memang melahirkan serangkaian panjang mafsadat, alih-alih menjadi sebuah manfaat.

Tentu saya tak ingin memvonis orang-orang yang bercerai itu sebagai orang-orang yang tersesat. Ada, banyak sekali, hal-hal yang membuat keputusan berat itu terpaksa ditempuh. Ada banyak curahan air mata yang mengalir, yang membuat rasa empati ini mengalir sederas curahan air mata mereka.

Tapi, satu yang perlu dicatat: Jangan cukup hanya dengan cinta. Kau harus membungkus semuanya dengan IMAN. Insya Allah rumah tangga kita akan diselamatkan oleh-Nya. Tetapi, seandainya pun kita telah menerapkan hal tersebut dan ternyata kita tak mampu berbuat banyak, itu ujian. Semoga kuat menghadapinya. Dan sebisa mungkin, mari kita berusaha agar generasi penerus kita tak terinduksi oleh kegagalan orang tuanya dalam membina rumah tangga.

Ditulis oleh Afifah Afra

Sumber: www.afifahafra.net

merpati-love

Pasangan Tak Sesuai Hati…

Kebahagian dan keindahan pernikahan untuk sebagian pasangan biasanya terasa hanya sampai dua atau tiga bulan saja,  karena masih ada aroma-aroma Honeymoon. Setelah itu, kehidupan baru benar-benar telah di jalani bersama, ketika kebiasaan-kebiasaan baik dan buruk pasangan yang dulu tak tampak kini terlihat jelas, berbahagia jika kebiasaan-kebiasaan pasangan lebih banyak baiknya namun manusia tak akan pernah luput dari kekurangan.

merpati-love

sumber gambar dari sini

Setiap pasangan tentu ingin kehidupan rumah tangganya harmonis berjalan mulus-mulus saja, tanpa ada tanjakan, tikungan dan belokan. Pada kenyataannya permasalahan demi permasalahan dalam kehidupan muncul tanpa diduga, ditambah dengan kekecewaan akan kebiasaan pasangan yang tak sesuai menjadikan permasalahan kian rumit.  Hingga muncul sebuah pemikiran, “Seandainya saya menikah dengan yang lain, pasti tidak akan begini…”. Hal ini menambah permasalahan yang rumit manjadi perselisihan dan konflik yang tak ada ujungnya.

Psikolog Dra. Juliani,Mpsi dalam sebuah artikel mengungkapkan jika pasangan belum sesuai dengan keinginan kita, ikhlas dan bersabarlah serta ber-positive thinkingmenghadapinya agar kita tidak mengalami kekecewaan berkepanjangn. Sikap ikhlas akan menumbuhkan sifat memaafkan dan berpikir positif, mengingat-ingat kebaikan yang dimiliki pasangan bukankah ketika kita memutuskan untuk memilih atau menerima dia menjadi pendamping hidup, karena kita melihat adanya kebaikan dalam dirinya bukan. Serta berusahalah kita sadari bahwa semua orang berusaha hidup dengan cara yang paling baik menurut mereka, tinggal kitamenghargai niat baik mereka.

Setelah menyadari bahwa kita hanyalah manusia lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya, hati akan terasa lebih lapang dan kekecewaan. Selebihnya kita luruskan kembali niat kita menikah. Jika pernikahan kita lakukan semata-mata dalam rangka menaati perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah, niscaya tak akan ada perasaan kekecewaan dan penyesalan dalam kehidupan pernikahan. (fm)

emosi

Mengendalikan Marah…

Saat kemarahan melanda tak jarang kita membanting barang-barang, memukul dan menyiksa anak-anak atau membentak pasangan terkadang mereka belum tentu bersalah. Hasil dari kemarahan yang  tak bisa dikendalikan adalah kerusakan pada diri sendiri, kerusakan pada anak-anak  atau pasangan serta pada barang-barang yang dijadikan sasaran kemarahan.

emosi

sumber gambar dari sini

Masih ingatkah kasus Ari Hanggara tahun 80anyang mengemparkan masyarakat Indonesia. Arie adalah seorang anak berusia tujuh tahun yang mendapatkan penyiksaan dari ayah kandung dan ibu tirinya. Hanya gara-gara Arie di cap nakal oleh mereka, kemarahan pun tak bisa dikendalikan, mereka menjadi gelap mata. Mereka terus saja menyiksa, memukul dan tidak memberinya makan dan minum hingga tewas. Kasus 30 tahun yang lalu, namun kini makin banyak lagi kasus yang ‘serupa’ yang intinya para pelaku tega menghajar korbannya hingga meninggal hanya gara-gara rasa marah.

Penelitian Dave Meier mengungkapkan bahwa otak manusia terdiri dari tiga susunan, yakni otak reptil berefungsi mengatur sistem otomatisasi tubuh dan pertahanan atau menghindar, sistem limbik (otak mamalia)berfungsi mengarahkan emosi dan otak neokorteks berfungsi untuk berfikir positif. Jika seseorang marah maka  Otak reftil lah yang bereaksi maka tubuh akan mirip seperti reptil yaitu membentak, membanting dan memukul tanpa berfikir akibat dari segala perbuatannya. Makanya sedapat mungkin otak neokorteks atau otak berfikirlah yang harus diaktifkan dengan cara merangsang emosi-emosi positif. Agar jika pun seseorang itu marah, maka marahnya tidak dilampiaskan dengan serta merta tetapi rasa marah akan hilang dengan sendirinya dengan dikendalikan, dengan cara melakukan relaksasi atau seperti yang diajurkan Rasulullah SAW, jika sedang marah maka bersabarlah, diamlah, tahan kemarahan. Jika sedang berdiri duduklah, jika masih marah maka berwudhulah.

Manusia memang dianugerahi nafsu, salah satunya nafsu marah namun hanya sebagian saja yang bisa mengendalikan nafsu marah tersebut.Aristoteles, seorang filsuf Yunani dalam The Nicomachean Ethics (350M)mengatakan “Siapa pun bisa marah, marah itu mudah. Namun marah kepada orang yang tepat dengan kadar sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar dan dengan cara yang baik, bukanlah hal yang mudah”. (fm)