Category Archives: PERNIKAHAN

bunga-mawar-putih01

Bisakah Menikah Tak Berlandaskan Cinta?

Pertanyaan itu muncul pada suatu pagi, saat berbincang dengan seseorang yang akhirnya merasa tidak kuat menjalani pernikahan yang awalnya karena perjodohan dari orang tua, padahal pasangan tersebut sudah melewati 10 tahun pernikahan telah dikaruniai dua orang anak. Alasan yang ia kemukakan adalah dia tidak mencintai pasangannya, selama usia pernikahan telah mencoba belajar “mencintai” pasangannya namun cekcok semakin sering dan rasa jenuh semakin tak bisa dihindari. Akhirnya menyerah, dia berencana mengajukan cerai dan menitipkan anak-anak yang masih balitapada neneknya, sementara ia ingin pergi menikmati masa-masa sendiri.

bunga-mawar-putih01

sumber gambar dari sini

Sang Khalik memang menciptakan manusia berpasangan dan fitrah adalah manusia ingin menemukan pasangan sejatinya.Dalam pencariannya banyak jalan harus dilalui sampai ia benar-benar menemukan pasangan yang sudah Allah SWT siapkan. Ada yang bertemu dengan jalan sama-sama satu sekolah, organisasi atau komunitas merasa cocok lalu pendekatan hingga akhirnya melangkah ke arah lebih serius, ada juga seperti kasus diatas melalui perjodohan oleh orangtua. Meski saat ini bukan zaman siti nurbaya namun perjodohan oleh orang tua masih tetap ada, perjodohan tidak selalu membawa dampak negatif tetapi harus ada kesiapan mental yang lebih dan penerimaan yang mendalam saat menjalaninya.

Sasa Esa Agustina, pengurus majalah Percikan Iman dan penulis buku Jangan Galau Ukhti, mengatakan menikah haruslah berlandaskan cinta, setiap pasangan yang akan menikah baik melalui perjodohan atau pun tidak tetap harus menemukan chemistry saling tertarik, rasa cinta dan kecocokan pada setiap pasangan tetap harus ada, tidak bisa dinafikan begitu saja. Tidak boleh ‘asal comot’ asal mendapat status menikah walau tak ada cinta karena desakan keluarga. Kekuatan cinta inilah basis kehidupan cinta secara keseluruhan, karena cinta adalah bekal yang tak lekang oleh waktu, tak lekang oleh usia. Kala badai rumah tangga menerpa sekencang apapun, insyaAllah bisa bertahan.Jika chemistry tidak juga tercipta dalam sebuah hubungan maka bicarakan baik-baik dengan calon pasangan dan keluarga, agar jalan keluar dari permasalahan ini segera teratasi.

Bercermin dari kasus diatas, pasangan tersebut ternyata belum menemukan chemistry dalam hubungannya. Mereka pun membiarkan begitu saja hingga akhirnya menjadi jurang pemisah yang menyeramkanalhasil anak-anak pun menjadi korban,kehadiran mereka pun tak bisa menyelamatkannya. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Walahu’alam. (fm)

contoh-cincin-pernikahan

Keajaiban Sebuah Pernikahan

contoh-cincin-pernikahanKeajaiban dan kebahagiaansebuah pernikahan adalah saat pasangan suami istri sama-sama saling menyayangi, mengasihi dan saling menjaga satu sama lainnya. Apalagi jika Allah SWT adalah landasannya dan niat ibadah adalah sarananya, tentu pernikahan tersebut akan selalu diliputi Sakinah, Mawadah dan Warahmah. Suami istri adalah sepasang kekasih yang pancaran kasih sayang dan cinta mereka hampir tidak terbatas, terpenuhinya segala kebutuhan lahir dan batin secara paripurnaitulah janji rasulullah bagi umatnya yang mengikuti sunahnya.Pernikahan memiliki banyak manfaat dan hikmah, diantaranya untuk memelihara manusia dari mendekati dan melakukan zina. Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia (menikah) dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu (menikah) hendaknya ia berpuasa, sebab ia (puasa) dapat mengendalikan (hawa nafsu) mu.”

Dalam al-Mu’jamul Wasith hal 403 disebutkan, “Zina ialah seseorang bercampur dengan seorang wanita tanpa melalui akad yang sesuai dengan syar’i.”Zina dinyatakan sebagai perbuatan yang melanggar hukum yang harus diberi hukuman setimpal, karena mengingat akibat yang ditimbulkan sangat buruk. Hubungan bebas dan segala bentuk diluar ketentuan agama adalah perbuatan yang membahayakan dan mengancam keutuhan masyarakat dan merupakan perbuatan yang sangat nista.perbuatan zina memberi dampak negatif terhadap kesehatan jasmani pelaku yang sulit diobati atau disembuhkan, bahkan dapat mengancam kelangsungan hidup pelakunya. Perbuatan itu akan memicu munculnya berbagai penyakit, seperti AIDS, penyakit sifilis, penyakit herpes, penyakit kelamin, dan penyakit kotor lainnya. Beberapa pihak telah mengklaim bahwa penyebab terbesar mewabahnya penyakita AIDS adalah karena sex bebas atau dengan kata lain zina. Seperti di Subang, di klaim bahwa AIDS 73%  sementara di Kupang sampai 98% disebabkan oleh perilaku sex bebas remaja.

Efek gencarnya globalisasi, kecangihan teknologi yang memicu terjadinya perzinahan serta sebagian masyarakat menganggap sepele sebuah pernikahan oleh karena itu, perlu suatu kondisi yang menjadi dasar kuat di mulai dari kuatnya ikatan keluarga, lingkungan dan negara mencegah dan menghindarkan dari perbuatan-perbuatan zina yang saat ini sudah dirasa ‘biasa’ padahal memicu penderitaan yang panjang serta mendapat murka Allah SWT.

karangan-bunga1

Rasa Sakinah

Dalam hidup berumahtangga dengan sendirinya akan terpola hak dan kewajiban suami istri, meski setiap rumah tangga akan memiliki pola dengan khasnya tersendiri.  Suami akan sibuk dengan segudang aktifitasnya di kantor yang membuatnya pulang larut malam atau sampai berhari-hari tidak pulang dan sang istri sibuk dengan rutinitas pekerjaan rumah serta anak-anak, membuatnya kelelahan dan mengantuk di sore hari padahal masih harus menunggu sang suami pulang.Terkadang kesibukan-kesibukan ini membuat komunikasi suami istri akan datar saja dan cenderung rengang hingga sulitlah menciptakan rasa sakinah, mawadah dan warahmah.

karangan-bunga1

sumber gambar disini

Dalam kondisi seperti ini rentan sekali suami dan istri ini emosinya“meledak” karena keduanya merasa haknya tak terpenuhi padahal mereka sudah melakukan kewajiban dengan sebaik mungkin. Bisa saja suami marah saat mendapati sang istri tengah tertidur lelap karena kelelahan atau istri yang marah sama suami karena merasa kurang diperhatikan suami. Lalu apa yang akan terjadi jika keduanya sudah sama-sama melampiaskan rasa jengkelnya.

Ust. Cahyadi Takariawan, Trainer & Konselor pernikahan mengatakan dalam kehidupan berumah tangga, suami dan istri masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang sudah mutlak namun dalam menjalani hak dan kewajiban mereka harus selalu membingkainya dengan suasana cinta dan kasih sayang. Agar mereka dapat memahami dan menikmati hak dan kewajiban masing-masing sehingga terciptalah rasa sakinah dalam rumah tangga mereka.

Jika suami dan istri memilih untuk mengerti dan memahami kondisi masing-masing, maka akan muncul rasa syukur di mereka karena telah di anugerahkan pasangan yang begitu rela berkorban untuknyadan terbesitlah doa dari hati yang tengah bersyukur itu. Ya,rasasakinah itu tidak akan terwujud pada mereka yang hatinya selalu di penuhi kejengkelan, emosi dan amarah.Rasa sakinah adalah dambaan setiap pasangan namun menciptakan dan mewujudkannya penuh dengan perjuangan (fm)

contoh-cincin-pernikahan

Positif Negatif Nikah Muda

Sudah sejak lama wacana pernikahan muda menjadi perbincangan di sekitar kita, kaum ilmuwan dan agama memiliki pandangan yang kadang berbeda untuk urusan yang satu ini. Apalagi di Indonesia, usia pasangan yang menikah rata-rata terjadi antara 25 hingga 27 tahun. Kebiasaan itulah yang menyebabkan usia pengantin yang berada di bawah itu biasanya masih dipandang aneh.
Kalau kita bicara soal nikah muda, ini sebenarnya adalah sebuah hal yang tidak bisa diplot begitu saja, sebab pernikahan (atau jodoh) termasuk ke dalam konsep freewill yang merupakan hak prerogatif Tuhan (selain juga rejeki dan kematian). Artinya, bisa saja kita adalah orang yang setuju pada konsep nikah muda, berbagai planning dan usaha sudah kita lakukan untuk mewujudkan konsep tersebut, tapi kalau jodoh belum datang, kita bisa apa?
Tapi memang ada baiknya jika kita meninjau konsep nikah muda dari kedua sisi, positif dan negatif. Hal ini penting agar kita tidak terkesan men-judgesesuatu secara hitam putih. Sebab segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki sisi baik dan buruk, tinggal kita saja yang harus menentukan pilihan.
Keuntungan menikah muda antara lain: kala itu pasangan sedang dalam masa bersemangat. Sehingga saat memulai rumah yang tangga, ada energi besar untuk mengurus keluarga. Begitu juga soal kondisi kesehatan, biasanya di usia muda kondisi fisik masih baik, sehingga kesiapan untuk bekerja keras, menjalani kehamilan, dan berbagai aspek lain tentu akan lebih bagus.
Lalu yang penting adalah kedua pasangan akan punya banyak waktu untuk mengenal karakter masing-masing. Mungkin awalnya ada sedikit konflik, tetapi bukankah konflik merupakan bumbu rumah tangga? Jika pasangan usia muda bisa mengelola konflik dengan baik, ikatan pernikahan justru semakin kencang.
Lalu kelemahannya: biasanyakedua pasangan akan kaget dengan rutinitas baru setelah menikah, bahkan tidak sedikit yang melihat pasangannya berubah, tidak lagi sempurna dan manis seperti saat pacaran. Pasangan yang tidak bisa mengelola perubahan ini biasanya akan depresi dan tertekan, tidak bahagia dengan pernikahannya. Apalagi kita sama-sama tahu, merawat dan mengasuh anak bukan pekerjaan mudah, mereka (terutama perempuan) yang menikah di usia muda seringkali mengorbankan karir untuk mengurus anaknya. Beberapa diantara mereka merasa menyesal karena pengorbanan ini tidak menghasilkan materi.
Secara psikologis, nikah muda bisa mendatangkan neoretis depresi, atau depresi berat. Jika orang yang terkena depresi itu termasuk pribadi introvert(tertutup) akan membuat seseorang menarik diri dari pergaulan. Dia menjadi pendiam, tidak mau bergaul, bahkan menjadi seorang yang schizoprenia atau dalam bahasa awam yang dikenal orang adalah gila. Sedang depresi berat pada pribadi ekstrovert (terbuka) maka dia akan terdorong melakukan hal-hal aneh untuk melampiaskan amarahnya. Seperti, perang piring, anak dicekik dan sebagainya. Dengan kata lain, secara psikologis kedua bentuk depresi sama-sama berbahaya.
Lebih parah lagi, seiring berjalannya waktu, beberapa pasangan akan merasakan bahwa cinta yang awalnya menggebu jadi datar dan hanya sekedar formalitas saja. Tidak jarang pada pasangan yang menikah muda, rentan perselingkuhan dan perceraian.

Itulah sisi positif dan negatif nikah muda, setelah disajikan fakta ini maka selanjutnya terserah kita.apapun pilihan akhirnya, pernikahan adalah soal pilihan. Di usia berapapun kita menikah, selama bisa mengatasi rintangan dengan baik, maka pernikahan akan menjadi media yang memberi kebahagiaan dan pelajaran menyenangkan.[fm]

perempuan-2B1000

Istri Bertipe 1000, 1 atau 000?


Kita tentu sering mendengar hadist Rasulullah yang artinya seperti ini:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (Muttafaq Alaihi dan Imam Lima).

Terkait dengan hadist tersebut, dalam sebuah kesempatan, Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc., pernah menguraikan suatu hal yang menarik. “Agama, ibarat angka satu. Lalu tiga hal yang lain adalah angka nol di belakang angka satu. Angka sempurna adalah 1000. Tetapi jika agama dihilangkan, tinggallah tiga buah nol yang sama sekali tak ada artinya,” papar beliau.

Uraian dari Ustadz Hatta itu bisa dijabarkan demikian. Perempuan memiliki agama yang bagus, nilainya adalah 1. Jika dia juga cantik, nilainya jadi 10. Jika selain cantik, dia berasal dari keturunan yang baik, nilainya menjadi 100. Dan, apabila dia memiliki harta melimpah—kaya raya, nilainya menjadi 1000.

Jadi, wanita yang memiliki empat hal tersebut, harta, keturunan, kecantikan dan agama, bisa dikatakan bernilai 1000. Orang-orang semacam Ratu Bilqis atau Bunda Khadijah, adalah sosok-sosok wanita tipe ini. Siapa sih, yang tak mendambahkan pasangan semacam ini?

Akan tetapi, jika yang dimiliki hanya kecantikan, harta, dan keturunan, sementara agamanya buruk, dia ibarat bernilai 000, yang artinya nol belaka. Angka nol jelas lebih buruk ketimbang sekadar angka 1, yakni perempuan yang ‘hanya’ memiliki agama semata. Sayang, banyak pemuda yang terpedaya dan lebih bernafsu mengejar nol-nol yang sebenarnya hanya penyempurna semata.

Bagus, sih, punya istri bertipe 1000. Tetapi, perempuan tipe ini jarang sekali. Kalaupun ada, apa iya selevel dengan si pemuda? Ketimbang sibuk mengejar nol-nol fatamorgana, bagaimana jika lebih berkonsentrasi mengejar si angka 1? [U.S.].
akhwat-2Bmesir

17 Perempuan Yang Haram Dinikah

Anda lelaki yang sudah siap menikah? Umur sudah cukup, penghasilan lumayan, sudah siap lahir batin untuk menikah. Mengapa masih menunda pernikahan? Lihatlah, di kanan-kiri Anda, para perempuan siap Anda lamar.
Ops, tapi hati-hati! Ada 17 jenis perempuan yang terlarang untuk Anda nikahi. Sudah tahukah siapa saja mereka? 15 jenis perempuan terlarang tertera dalam Al-Quran surat An-Nisa: 22-24. Sedangkan yang ke-16 tertera di Al-Quran surat Al-Baqarah: 221, dan ke-17 dalilnya bisa Anda cek di surat An-Nuur: 3.
Siapa saja mereka?
  1. Ibu kandung
  2. Ibu tiri, baik yang masih terikat pernikahan dengan ayah, atau sudah dicerai atau ditinggal mati ayah Anda
  3. Anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya
  4. Saudara perempuan, baik kandung, seayah maupun seibu
  5. ‘Ammah, alias saudara perempuan ayah, baik kandung, seayah maupun seibu
  6. ‘Khalaah, alias saudara perempuan ibu, baik kandung, seayah maupun seibu
  7. Anak perempuan saudara laki-laki
  8. Anak perempuan saudara perempuan
  9. Wanita yang pernah menyusui. Menurut Syaikh Yusuf Qardhawi, minimal lima kali susuan yang mengenyangkan. Susuan yang mengenyangkan adalah susuan anak yang melepaskan puting dengan sendirinya karena kenyang.
  10. Saudara perempuan sepersusuan. Syarat susuannya sama dengan nomor 9
  11. Ibu sang istri (mertua)
  12. Rabiibah, yaitu putri dari istri yang telah dijimak (digauli). Jika belum digauli, tak mengapa dinikahi.
  13.  Istri anak (menantu)
  14. Menghimpun 2 perempuan yang bersaudara dalam satu waktu sebagai istri. Sementara, jika bergantian, misal setelah kakaknya meninggal lalu menikahi adiknya, hal tersebut diperbolehkan
  15. Perempuan yang bersuami
  16. Perempuan musyrik/kafir. Adapun perempuan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani, Al-Quran membolehkan mereka dinikahi. Sebaliknya, perempuan muslimah dilarang menikah dengan lelaki ahli kitab. Akan tetapi, jika kita melihat bahwa tujuan pernikahan adalah membentuk bahan baku bangunan umat yang Islami, syarat dan ketentuan berlaku pada bahasan ini. Kita akan mencoba membahasnya di lain kesempatan.
  17.  Perempuan pezina. Yakni perempuan yang terang-terangan menjadikan zina sebagai profesinya, misalnya pelacur.

Demikianlah 17 jenis perempuan yang haram dinikahi.


Sumber: Halal & Haram, Dr. Yusuf Qardhawi
pic_sss

Bolehkah Menikah Karena Terpaksa?

Orang Indonesia tentu mengenal cerita Siti Nurbaya, yang selain bukunya masih beredar di perpustakaan-perpustakaan, juga sinetronnya yang tayang di TVRI belasan tahun silam, sempat ngetop di kalangan masyarakat. Kisah Siti Nurbaya yang menikah paksa, sepertinya juga merupakan cerminan realitas masyarakat. Bukan hanya zaman dahulu, zaman sekarang, perjodohan paksa pun masih banyak terjadi. Bukan perjodohannya yang dilarang, tetapi paksaan itulah yang harus dikritisi. Bolehkan menikah karena terpaksa?

Dalam buku Halal-Haram, DR. Yusuf Qardhawi menukil sebuah hadist riwayat  Ibnu Majah, tentang seorang gadis yang mengadu kepada Rasulullah. Dia melaporkan, bahwa ayahnya telah mengawinkannya dengan sepupunya, padahal dia tidak menyukainya. Lalu Nabi menyerahkan permasalahan itu kepada sikap si gadis. Dan gadis itu berkata, “Sebenarnya saya rela dengan perlakuan ayah saya, tetapi saya ingin memberitahukan kepada kaum perempuan, bahwa seorang ayah tidak boleh memaksakan kehendaknya dalam hal ini.”

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Janda lebih berhak atas dirinya dibanding walinya. Sedangkan gadis diminta izin tentang urusan dirinya. Izinnya adalah diamnya.” (H.R. Muttafaqun ‘Alaih).

Diam di sini merujuk pada sikap sebagian besar gadis yang biasanya malu mengungkapkan isi hatinya, sehingga tidak bisa ditafsiri begitu saja. Diam, namun terisak-isak dengan wajah merah-padam yang menunjukan bahasa tubuh penolakan, tentu tak bisa dikatakan sebagai kesediaan menikah. Wallahu a’lam.

Tetapi, hal ini menjadi peringatan serius bagi para gadis. Jika memang Anda tidak bersedia menikah dengan lelaki yang melamar Anda, ungkapkan dengan jelas, namun cara yang baik, sehingga tidak menyakiti. Penolakan kasar tentu akan menimbulkan perasaan tidak enak, bahkan terluka di pihak pelamar. Anda harus terbuka, tetapi tetap menjaga perasaan. [U.S.].
dafoddil

Menjaga Kehormatan Istri

Sembari berlinang air mata, Shafiyah mendatangi Rasulullah SAW, suaminya. Pengaduannya mengalir dari mulutnya, dan disimak dengan seksama oleh Rasul. Ternyata, Shafiyah baru saja berselisih dengan Aisyah dan Hafshah. Kata Hafshah dan Aisyah kepada Shafiyah, “Kami ini lebih mulia kedudukannya di mata Rasulullah di mata kamu!”

Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, berbeda dengan istri-istri lainnya, berasal dari Yahudi, khususnya Bani Nadhir. Betapa terpukulnya Shafiyah mendengarkan perkataan kedua madunya itu. Yahudi memang kaum yang banyak disebut-sebut keburukannya di dalam Al-Quran. Apalagi, Bani Nadhir juga berkhianat kepada Kaum Muslimin dan akhirnya terjadi peperangan. Seluruh Bani Nadhir akhirnya diusir dari Madinah.

Mendengar pengaduan istrinya, Nabi dengan penuh kasih berkata, “Tidakkah engkau mengatakan kepada mereka berdua, ‘Bagaimana kalian lebih mulia dariku, sementara suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun, dan pamanku adalah Musa.’”

Shafiyah memang keturunan dari Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Israel bin Ishaq bin Ibrahim. Dia dikenal sangat jelita dan berkulit putih. Sebelum menikah dengan Muhammad SAW, Shafiyah pernah menikah dua kali dengan pemuka dari kalangan Yahudi. Setelah masuk Islam, dia menerima pinangan Rasulullah SAW.

Kita bisa melihat, betapa Rasulullah sangat memperhatikan dan menjaga kehormatan istrinya, meski dia berasal dari bangsa yang sangat memusuhi Rasulullah. Rasul berusaha membesarkan hati istrinya, dan bahkan pernah mendiamkan salah seorang istrinya, Zainab, yang mencela Shafiyah sebagai perempuan Yahudi.

Alih-alih menjaga kehormatan, kadang kita melihat para suami malah dengan santainya membeberkan aib dan keburukan pasangannya di depan orang lain. Demikian juga sebaliknya. Bukankah istri atau suami adalah pakaian kita? Jika dia kumal, sesungguhnya kita pun kumal. Membeberkan ‘kekumalan istri’, bukankah sama dengan membeberkan kekumalan diri? [U.S.].
flower-2B2

Menikahlah, Karena Ini Sunnahku

Johan galau bukan main. Usianya sudah masuk kepala tiga, namun belum juga memiliki pasangan sah (istri). Sebenarnya, Johan sudah bekerja. Penghasilannya pun lumayan. Namun, Johan merasa bahwa untuk bisa menjadi seorang suami dan ayah yang gagah, dia harus memiliki penghasilan berlimpah. Paling tidak, dia punya rumah, mobil sendiri, dan simpanan yang cukup. Masak istri ditaruh di rumah kontrakan, begitu pikirnya. Tetapi, meski telah bekerja sekeras-kerasnya, Johan tetap belum juga mendapatkan apa yang diinginkannya.

Kalau kita melihat masyarakat kita, orang-orang yang berpikiran seperti Johan, ternyata cukup banyak jumlahnya. Orang yang memilih menunda pernikahan dengan alasan belum siap. Padahal, secara umur, dia sudah lebih dari cukup. Selain alasan ketidaksiapan, ada pula yang memilih membujang karena tak mau direpoti dengan anak dan istri. Bahkan, ada pula sahabat Rasul yang pernah mendatangi Rasulullah dan mengatakan bahwa tak ingin menikah karena ingin fokus beribadah.

Tiga orang sahabat pernah datang kepada Rasulullah dan bertekad untuk shalat malam dan puasa terus menerus, juga menjauhi perempuan dan tidak menikah selama-lamanya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, bukankah aku ini orang yang paling bertakwa kepada Allah, tetapi aku tetap berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, juga menikah. Barangsiapa membenci sunnahku, berarti ia bukan dari ummatku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ya, menikah adalah sunnah Rasul. Dalam Islam, menikah bukan sebuah perkara main-main. Afifah Afra, dalam buku “Panduan Amal Wanita Shalihah” bab Rumah Tangga menuliskan sebagai berikut:

Rumah tangga, bagi seorang muslim adalah hal yang sangat urgen. Islam memandang bahwa keluarga merupakan kebutuhan pokok dalam hidup bermasyarakat, yakni bahwa keluarga merupakan pondasi bagi sebuah masyarakat. Baik-buruknya keluarga, akan berpengaruh terhadap baik-buruknya masyarakat. Masyarakat Islami, terdiri dari keluarga-keluarga yang Islami. Mereka ibarat batu bata-batu bata berkualitas tinggi. Sedangkan masyarakat jahiliyah, dibentuk dari keluarga-keluarga yang abai terhadap perintah Allah dan justru melaksanakan apa-apa yang dilarang Allah SWT. Itulah batu bata-batu bata yang keropos. Seperti apa tingkat kekokohan ‘bangunan’ sebuah masyarakat, tengoklah bagaimana kualitas keluarga-keluarga yang menyusunnya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. an-Nisa’: 1).

Dari ayat tersebut, jelas terlihat, bahwa dari sepasang lelaki dan perempuan, akan berkembang biak menjadi lelaki dan perempuan yang banyak. Kualitas lelaki dan perempuan yang banyak itu, akan sangat dipengaruhi oleh kualitas sepasang lelaki dan perempuan yang menurunkan banyak generasi tersebut. Kesimpulannya, bahwa umat yang bertauhid, pertama kali dibentuk oleh keluarga yang juga bertauhid; sedangkan keluarga yang bertauhid, terbentuk dari sepasang lelaki dan perempuan yang juga bertauhid. Tanpa adanya lelaki dan perempuan beriman yang membentuk keluarga yang juga beriman, tak mungkin Islam tegak di muka bumi ini sebagai sebuah agama yang bersifar rahmatan lil ‘alamin.

Oleh karenanya, dorongan untuk berumah tangga sangat kuat dalam Islam. Perjodohan antara seorang lelaki dengan seorang perempuan, adalah bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. ar-Rum: 21).

Nah, masih ada yang belum tergerak hatinya untuk menikah? [US].

a-capuccino1

Cobaan Istri Saat Miskin, Cobaan Suami Saat Kaya

Ada hal menarik yang diungkapkan oleh Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc., M.Ag., pada saat mengisi Seminar Pranikah yang diselenggarakan kerjasama Penerbit Indiva Media Kreasi, Sayap Sakinah Center dan LAZIS UNS beberapa waktu yang lalu. Kata beliau, “Cobaan istri, adalah saat suami tak punya apa-apa. Sedangkan cobaan suami, adalah ketika dia sudah memiliki apa-apa.”

Lebih lanjut ditegaskan oleh Ustadz Hatta, bahwa banyak kasus para istri tak sabar melihat suaminya tak mampu memberikan banyak nafkah. Sementara, setelah sang suami bergelimang kekayaan, giliran suaminya yang tak sabar untuk segera ‘buka cabang’ alias poligami. Repotnya, ‘buka cabang’ itu seringkali tidak melalui proses ilegal, sehingga akhirnya yang muncul adalah selingkuh.

Kemiskinan, memang banyak membuat para istri mengeluh. Sekilas bisa dimaklumi, karena kebutuhan hidup, kian lama memang kian tinggi. Tetapi, sesungguhnya tak ada suami–khususnya para suami yang bertanggungjawab–yang menginginkan kondisi tersebut terjadi. Secara sunnatullah, manusia memang diberikan beberapa ujian, salah satunya ujian kekurangan harta. Al-Quran juga menyebutkan. Maka, bersabar–dengan terus memotivasi suami, serta berupaya ikut serta mencari tambahan penghasilan, tentu jauh lebih mulia ketimbang kesana kemari mengumbar keluhan.

Sementara, kekayaan, sering membuat para suami lupa daratan, sehingga akhirnya memilih ‘menyakiti’ si istri dengan sibuk mencari kemungkinan untuk poligami. Ops, sebenarnya poligami itu bukan sesuatu yang dilarang agama, tetapi syarat dan ketentuan berlaku, lho. Syarat utama adalah ADIL. Alih-alih bersikap adil, sering pada praktiknya para suami justru menjadi poligami sebagai kesempatan mengumbar hawa nafsunya.

Lepas dari itu, sepasang suami istri harus terus menerus menjaga visi dan komitmennya dalam membentuk rumah tangga. Menurut mbak Afifah Afra, nikah itu bukan sekadar legitimasi ketika “Aku suka elo, elo suka aku”. Tetapi, menikah adalah sebuah proses suci yang menginisiasi terbentuknya masyarakat Islami. Keluarga sakinah, ada batu bata terbentuknya masyarakat yang rabbaniyyah. “Jadi, para suami dan istri harus benar-benar menyadari misi suci ini. Keluarga yang tak sakinah, ibarat batu bata keropos. “Terbayang, kan, jika sebuah bangunan dibentuk dari bahan yang keropos? Ambruk, dong!” pungkas beliau. [US].