Category Archives: PERNIKAHAN

P0315417

HARUSKAH BERCERAI?

P0315417

Suatu hari, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Namun kali ini dia tidak seperti yang saya kenal sebelumnya. Dia sangat banyak berubah, tampak lebih pemurung dan lebih tertutup. Sesekali airmata membasahi pipinya, dengan hati-hati saya bertanya kenapa dan ada apa yang sudah terjadi perlahan dia menceritakan yang sudah terjadi.

Perceraian adalah alasan mengapa dia menjadi seperti ini, semua pasti memaklumi mengapa dia seperti ini tetapi yang sangat disayangkan perceraian terjadi karena dia sendiri yang mengajukannya, namun setelah bercerai dia malah terbelenggu rasa sesal kenapa dengan begitu emosi dan begitu mudah memutuskan untuk berpisah sementara permasalahan belum tertuntaskan. Yang lebih menyakitkan baru saja sebulan palu perceraian diketuk, pasangannya sudah memutuskan untuk menikah lagi.

Lepas dari cerita diatas, sebuah perceraian pasti menimbulkan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi suami istri dan keluarga masing-masing. Apalagi jika perceraian tersebut dipicu oleh permasalahan yang melibatkan keluarga sehingga memasuki gerbang permusuhan keluarga kedua belah pihak. Padahal mungkin permasalahan yang sebenarnya, suami istri tersebut kurang bisa mengeskplor atau mencurahkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Kesibukan diantara mereka, komunikasi yang tak lancar juga campur tangan dari pihak lain. Menyebabkan hubungan mereka semakin rengang, semakin rumit padahal akar cinta masih bersemi di hati masing-masing.

Kasus ini menjadi pelajaran untuk kita, tatkala ketidakharmonisan sedang melanda dalam rumah tangga. Janganlah langsung berfikir untuk bercerai karena mungkin bercerai pun belum tentu menjadi solusi dalam permasalahan ini. Penulis terkadang ngeri dengan beberapa selebritis yang mengomentari tentang perceraiannya, mereka mengatakan jalan cerai membuat kita lebih bisa akur dan berdamai ketimbang masih dalam ikatan suami istri. Hal ini sangat ditakutkan karena pernyataannya bisa menjadi rujukan banyak orang saat rumah tangganya sedang berada dalam permasalahan yang pelik. Semoga rumah tangga yang kita arungi selalu dilandaskan untuk memperoleh cinta Allah SWT agar dalam kondisi darurat pun kita akan selalu berpegang pada ketentuanNya.

Kontributor: Feli Mulyani

Love__Mom_by_MooMyFire

Tipe Keluarga Ibrahim, Nuh, Firaun Atau Abu Lahab?

Love__Mom_by_MooMyFire

Di dalam Al-Quran, berbagai tipe keluarga telah dicontohkan. Sebagai manusia tinggal memilih, mau dijadikan seperti apa keluarga kita. Apakah seperti keluarga Ibrahim, keluarga Nabi Nuh, keluarga Fir’aun, atau keluarga Abu Lahab?

Keluarga Nabi Ibrahim adalah tipe keluarga ideal. Ayah, ibu, dan anak, semua tunduk, patuh, bertakwa kepada Allah SWT dengan keimanan yang sempurna. Sang ayah, adalah Rasulullah kekasih Allah, dan semua anaknya, Ishaq dan Ismail, juga menjadi nabi. Istri-istri Ibrahim, juga semulia-mulia wanita. Bayangkan, demi menjalankan perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim “tega” meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di sebuah padang pasir yang tandus. Hajar pun tidak mengeluh, karena dia tahu, itu semua adalah ujian keimanan dari Allah SWT. Ketika Ismail menangis meminta air, sementara persediaan air sudah habis, Hajar pun berlari-larian dari Bukit Shofa ke Bukit Marwa sebanyak tujuh kali untuk mencari air. Ternyata, mukzizat justru datang dari entakan kaki Ismail, dimana air mengucur menjadi telaga Zamzam.

Selain keluarga Ibrahim, dalam Al-Quran juga dicontohkan tipe keluarga Nuh. Nabi Nuh a.s. adalah nabiyullah yang tentu sangat shalih dan memiliki keimanan yang sangat kuat. Tetapi, Nabi Nuh ternyata memiliki istri dan anak-anak yang mendurhakainya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Allah membuat perumpamaan bagi orang yang ingkar: istri Nuh dan istri Luth, mereka adalah istri dua orang hamba di antara hamba-hamba Kami yang saleh. Tetapi mereka berkhianat (kepada suami-suaminya). Maka mereka tiada berdaya suatu apapun terhadap Allah. Kepada mereka dikatakan, ‘Masuklah kamu ke dalam neraka jahanam bersama orang yang masuk (ke dalamnya)’.” (QS. At-Tahrim: 10).

Lalu bagaimana dengan tipe ketiga? Yaitu keluarga Firaun. Jika pada keluarga Nabi Nuh, yang mendurhakai adalah istri, pada keluarga ini, yang beriman ternyata justru istri Firaun, yaitu Asiyah binti Muzahim. Ketika Firaun tahu keimanan istrinya, dia sangat murka, dan menyuruh orang-orangnya untuk menyiksa Asiyah. Dalam keadaan disiksa, Asiyah berdoa, “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (QS. At-Tahrim:11).

Keempat, tipe keluarga Abu Lahab. Ini tipe sempurna dalam masalah kekufuran. Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, sangat aktif memusuhi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Segala upaya mereka lakukan untuk mencelakai Rasulullah SAW. Mereka berdua pun diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai hamba yang akan masuk ke dalam neraka. “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS. Al-Lahab: 1-2).
Jadi, itulah empat tipe keluarga yang ada dalam Al-Quran. Tentu kita menginginkan tipe seperti keluarga Ibrahim, bukan? Tetapi, yang ideal terkadang sulit kita peroleh. Maka, jika sebagian dari kita ditakdirkan memiliki istri yang sulit diatur, tetaplah bersabar sebagaimana nabi Nuh. Meski sebagian anak-anaknya mengikuti istrinya, toh sebagian anak yang lain beriman sebagaimana ayahnya. Demikian juga, Asiyah, meskipun suaminya adalah pendurhaka nomor satu, dia tetap bertahan dalam keimanan, dan bahkan mendidik putra angkatnya, Musa yang kelak menjadi seorang nabi.
Mari hindari menjadi keluarga semacam Abu Lahab. Melihat pasangan tak bisa diharapkan, lalu putus asa dan ikut-ikutan menjadi durhaka. Na’udzubillah.

 

Afifah Afra: Penulis adalah CEO PT Indiva Media Kreasi dan Sekjen BPP Forum Lingkar Pena. Telah menulis lebih dari 50 judul buku. Silahkan kunjungi blognya CATATAN AFIFAH AFRA

flower_1

KETIKA API CINTA MULAI MEREDUP

flower_1

Memasuki gerbang pernikahan seolah memasuki hutan belantara yang sebelumnya belum terjamah oleh kita, dalam menjelajahinya kadang kita menemukan pemandangan yang indah, sejuk dan ketentraman namun tak jarang pula rintangan, ilalang yang sangat tinggi, ancaman hewan buas tanjakan yang terjal dan sulitnya bertahan karena semakin menipisnya perbekalan. Meski ada peta atau panduan perjalanan tetapi terkadang banyak yang salah arah sehingga banyak yang tersesat dan berbalik arah.

Begitulah liku pernikahan pun saat kita dengan begitu bersemangat dalam memulai dan memasukinya dengan api cinta yang bergejolak, namun jika tak memiliki panduannya dan mampu menjaga gejolaknya lama kelamaan gejolaknya akan meredup dan padam. Permasalahan demi permasalahan akan selalu datang menguji sebuah pernikahan, tentu ujian itu agar ikatan kita dengan pasangan semakin kuat bukan semakin mengendur dan lepas.

Seperti yang dialami oleh sepasang suami istri yang sudah mengarungi pernikahan selama 15 tahun, mereka mengawali semua dengan semangat cinta yang tinggi meski ada perbedaan meski saat itu tak menjadi permasalahan untuk kedua pasangan namun ternyata menjadi pemicu.Karena perbedaan itu tak diselesaikan diawal-awal pernikahan akhirnya menjadi bom yang mematikan, membuat mereka tampil dengan dingin dan penuh kepalsuan. Bagaimana tidak palsu masing-masing tak bisa menceritakan hal yang sebenarnya, sampai akhirnya muncul idaman-idaman lain dihati mereka. Bukannya menyelesaikan malah menambah keruwetan saja dengan kehadiran mereka.

Menurut psikolog DRA. Rieny Hasan setiap perilaku yang kita tampilkan adalah sarana untuk memuaskan kebutuhan dalam diri. Contoh kalau terasa haus, kita akan mencari air dan minum. Kalau terasa kepanasan saat berjalan dibawah teri matahari maka mencari perlindungan dengan membuka payung atau mencari tempat yang teduh. Begitupun dalam pernikahan saat ada permasalahan yang tak terselesaikan dengan baik, hal itu malah menjadi sumbatan dan mencari perlindungan dan sarana pemuasan diluar. Kasus seperti ini banyak sekali ditemui dalam masyarakat kita, kurangnya keterbukaan, saling memahami dan belajar untuk fokus pada masalah yang sebenarnya. Memperbaiki komunikasi yang tersumbat dengan memperbanyak kebersamaan serta saling menyakinkan untuk mempertahankan pernikahan ini. (fm)

Ijab

Jangan Ragu Untuk Menikah

Ijab

Sumber gambar disini

           

Keraguan dan ketakutan untuk segera melangkang ke jenjang pernikahan, tentu setiap pasangan pernah merasakannya. Terutama bagi kaum pria banyak tuntutan yang harus ia miliki sebelum memutuskan naik ke pelaminan, seperti tabungan yang cukup serta penghasilan yang tetap. Dengan dua hal itu saja seorang pria dikatakan telah “siap dan layak” untuk menikah. Namun apakah sebuah pernikahan harus selalu diorientasikan pada kemapanan secara ekonomi?

Seorang pemerhati keluarga pra dan pacsa nikah, mengatakan sebenarnya modal utama untuk menikah bukan kondisi keuangan saat ini, melainkan mental dan keseriusan yang kuat dalam diri seorang  pria untuk menjemput rezeki dan bertanggung jawab menafkahi. Karena percuma saja seorang pria telah memiliki penghasilan tetap pun tidak menjamin, jika pria tersebut tidak memiliki mental bertanggung jawab dan menafkahi maka istri dan anak-anaknya pun akan terlantar secara ekonomi.

Untuk itu sebaiknya belum memiliki tabungan dan penghasilan tetap jangan menjadi alasan untuk menunda menikah, tetapi yang perlu dibenahi adalah sikap mental untuk menjemput rezeki dan mental untuk menafkahi. Bila kedua hal ini sudah siap dijalani maka jangan ragu untuk menikah karena hal itu telah menunjukkan seorang pria siap untuk bertanggung jawab secara ekonomi sebagai seorang kepala keluarga. Serta jangan berkecil hati karena Allah SWT akan senantiasa menolong, seperti tertera dalam hadist berikut.

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)[1]

contoh-cincin-pernikahan

Perjanjian Pranikah, Pentingkah?

contoh-cincin-pernikahan

Ditulis oleh: Riawani Elyta

Perjanjian pranikah, atau prenuptial agreement (prenup), yaitu perjanjian secara tertulis antara kedua belah pihak dan dilakukan sebelum menikah, serta memiliki konsekuensi dalam pelaksanaannya yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak.

Sebenarnya, perjanjian pranikah ini sudah tercantum di dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Pasal 29 tahun 1974 yang menyebutkan: “Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga tersangkut.”

Tetapi, pada kenyataannya belum banyak pasangan di negeri ini yang merasa perlu mengikat diri di dalam perjanjian tertulis sebelum melangsungkan pernikahan. Sebagian menganggap bahwa ini adalah wujud pandangan pesimis terhadap lembaga pernikahan, ada juga yang menganggap bahwa perjanjian ini hanya akan membuat kedua pasangan merasa terkekang dan dibayang-bayangi rasa khawatir apabila melanggar ketentuan yang telah disepakati secara tertulis.

Perjanjian pranikah biasanya berisi hal-hal yang disepakati oleh kedua calon pasangan, termasuk hal-hal menyangkut kepemilikan dan penggunaan aset atau harta, dan apa konsekuensi yang akan mereka hadapi andai salah satu atau beberapa butir kesepakatan itu dilanggar.

Pertanyaannya sekarang, sudah sejauh mana perjanjian pranikah ini penting untuk dilakukan oleh calon pasangan yang akan menikah? Jika tidak dilakukan, apa kira-kira efeknya terhadap kehidupan berumah tangga nantinya?

Tentunya, kadar “kepentingan” ini sangat bergantung dengan kondisi kedua calon pasangan. Jika memang kondisi keduanya memerlukan adanya sebuah pengikat secara tertulis, misalnya saja kedua calon pasangan, untuk suatu sebab harus hidup terpisah selama beberapa tahun karena sang calon suami atau calon istri akan menempuh pendidikan di luar negeri misalnya, atau pun kedua calon pasangan berasal dari kultur yang jauh berbeda, salah satunya adalah orang asing misalnya, sehingga diperlukan adanya kesepakatan yang benar-benar mengikat di luar proses saling memahami yang diharapkan bisa berjalan secara natural, maka tentu tak ada salahnya untuk melakukan perjanjian pranikah.

Dalam perjanjian tersebut, hendaknya disepakati hal-hal yang tetap mengutamakan keadilan dan keseimbangan antara kedua belah pihak, hingga tak ada pihak yang merasa dirugikan atau diperlakukan tidak adil. Bahkan, tak sedikit calon pasangan yang mencantumkan hal-hal secara mendetail terkait penggunaan aset dalam rumah tangga termasuk pembagian harta gono-gini andai oleh suatu sebab yang tak dapat dipertahankan lagi, pernikahan harus berakhir dengan kata cerai.

Namun di sini, tanpa bermaksud menganggap sepi manfaat dari perjanjian pranikah semacam ini, hukum Islam sebenarnya telah mengatur hal-hal yang terkait dengan kehidupan berumah tangga dan berkeluarga. Aturan yang universal dan nilai kemaslahatannya tetap relevan sampai kapan pun.

Sebut saja tentang pengaturan hak dan kewajiban mencari nafkah antara suami dan istri. Di mana kewajiban mencari nafkah adalah terletak pada suami, sementara terhadap sang istri, hukumnya adalah dibolehkan, sepanjang itu memperoleh izin suami, dapat membantu menopang perekonomian keluarga dan sang istri tetap mematuhi aturan-aturan Islam dalam bekerja.

Begitu pun terhadap keadilan dalam hal keuangan, sang suami wajib menafkahi istrinya, sementara harta sang istri untuk suami dianggap sebagai sedekah. Dalam hal mendidik anak, keduanya wajib untuk sama-sama turun tangan, namun porsi terbesar adalah di tangan para ibu. Karena ibu adalah sosok guru di dalam keluarga dan dengan naluri kasih sayangnya, ibu merupakan sosok yang tepat untuk mendidik dan membesarkan anak-anak dengan sentuhan kasih sayang yang lebih optimal.

Kesimpulannya, penting atau tidaknya melakukan perjanjian pranikah, semua kembali kepada masing-masing calon pasangan. Semakin rentan kondisi keduanya terhadap hal-hal yang dapat memicu terjadinya kesalahpahaman, seperti hidup yang terpaksa saling berjauhan, perbedaan kultur yang tajam, atau pun perbedaan sangat prinsipil dalam hal pengelolaan aset keluarga, maka melakukan perjanjian pranikah dapat dijadikan alternatif untuk meminimalisir konflik di dalam rumah tangga dan keluarga di kemudian hari.

 

Referensi :

-Sayap-sayap Sakinah. Buku non fiksi Riawani Elyta bersama Afifah Afra (Indiva Media Kreasi : 2014).

Foto ilustrasi: google

Dipublikasi di Ummi online edisi 8 April 2015

gambar-taman-bunga-mawar

Menciptakan Rumah tangga Beraroma Surga

Sebuah pernikahaan yang tidak biasa dan sangat menyentuh terjadi beberapa saat yang lalu. Yang membuat tidak biasa dan menyentuh hati adalah mahar yang diberikan sang calon suami pada sang istri, bukan perhiasaan emas atau jumlah uang yang mentereng seperti lazimnya sebuah pernikahan di masyarakat kita. Mahar yang diberikan yaitu berupa hafalan 30 juz Alquran untuk sang istri, sebelum mengucapkan ijab qabul. Sang calon suami terlebih dulu melafalkan hafaln Alquran di depan majelis taklim seharian penuh, hafalan tersebut dibacakan selama 24 jam terhitung sejak hari Jumat pukul 08.00 WIB dan berakhir pada sabtu pukul 08.00 WIB keesokan paginya. Banyak tamu undangan dikabarkan menitikkan air mata saat momen bahagia itu. Terutama saat memasuki juz ke-30. Begitu selesai menyelesaikan hapalannya, ijab qobul pernikahan dilakukan.

gambar-taman-bunga-mawar

sumber gambar dari sini

Perasaan yang menyenangkan dan membahagiaakan bagi sang calon istri dan keluarga, karena memilih pasangan dengan standar agamabaik akhlaknya, bukan karena harta, srata,pekerjaan, bukan pula karenarupa parasnya. Sepertinya buat mereka terasa mudah sekali menciptakan keluarga sakinah, mawadah dan warahmah dan sudah dapat terbayangkan rumah tangga mereka aka selalu diliputi dengan aroma surga. Karena keduanya sudah terbentuk dari keluarga yang sudah memiliki landasaan keimanan dan tidak mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi. Lalu bagaimana kita yang ingin merasakan hal yang sama, menciptakan keluarga sakinah, mawadah dan warahmah tetapi ternyata pasangan kita belum se-saleh yang kita inginkan.

Menurut Dr.H. Aam Amirudin, Pembina Yayasan Percikan Iman. Berusaha mensalehkan pasangan bukan hal yang mudah namun hal ini sangat perlu dilakukan agar terciptanya sakinah, mawadah dan warahmah dengan mengajak terlibat dalam kebajikan, misalnya mengajaknya berpuasa sunah, shalat berjamah, menghafal quran bersama dan lain-lain. Sangat perlu diperhatikan tutur kata dan bahasa yang baik sehingga pasangan kita tidak merasa digurui atau dipaksa, selain itu hindari bersikap sombong karena merasa diri sudah saleh karena akan berakibat fatal yang bisa berujung pertengkaran.

Yang terpenting adalah sabar serta istiqomah karena satu atau dua kali ajakan tidak membuat pasangan langsung berubah menjadi pribadi yang saleh. Selebihnya kita pasrahkan semua pada Allah SWT lewat doa-doa karena Allah-lah Maha pembolak-balik hati. Semoga kita dapat mewujudkan keluarga sakinah, mawadah dan warahma agar rumah tangga senantiasa beraroma surga, amin.(fm)

flower_1

Bersih dan Wangi Saat Mendatangi Istri

flower_1

Bayu kecewa bukan main. Ketika dia baru sampai di halaman rumah setelah seminggu tugas di luar kota, rasa kangen kepada istrinya membuat dia ingin secara dramatis memeluk sang istri begitu perempuan itu menyambutnya. Tak dinyana, ketika mendekat, sang istri menolaknya halus, “Ih, Mas Bayu bauuu!”

Sebenarnya, Bayu tak perlu kecewa. Secara alamiah, semua orang tentu tak menyukai bau yang tak sedap. Bahkan, Rasulullah SAW pun menyadari hal itu. Abu Rafi’ r.a. berkata, “Nabi Saw pada suatu hari pernah menggilir istri-istri beliau, beliau mandi tiap kali selesai berhubungan bersama ini dan ini. Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, bukankah lebih baik engkau cukup sekali mandi saja?’ Beliau menjawab, ‘Seperti ini lebih suci dan lebih baik serta lebih bersih.’” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Islam adalah agama yang menganjurkan seseorang untuk menjaga kebersihan, karena kebersihan badan adalah pancaran iman. Selain bersih, memakai parfum—khususnya pada lelaki, sangat dianjurkan. Rasulullah berkata, “Empat macam di antara sunnah-sunnah para Rasul yaitu: berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah.” (HR. Tirmidzi).

Demikian juga untuk para istri, saat hendak bertemu dengan suaminya. Silakan memakai wewangian, berhias, dan tampil secantik-cantiknya. Para lelaki juga perlu memberi kesempatan kepada para istri untuk berhias. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Jabir. Dari Jabir, dia berkata, “Kami pernah pergi beserta Nabi dalam sebuah peperangan. Tatkala kami kembali ke Madinah, kami hendak masuk (ke rumah-rumah kami), sabdanya, ‘Sabarlah, masuklah kamu pada malam—yakni waktu Isya, supaya istri-istri yang lama ditinggal suaminya yang kusut masai bersisir dan berhias.’” (Muttafaq-Alaihi).

Jadi, jika Anda dalam perjalanan pulang dari bepergian, mungkin Anda bisa mengabari istri Anda, “Darling, aku udah sampai Semarang, sejam lagi sampai Solo.” Jangan langsung nongol begitu saja, kecuali saat Anda hendak memberikan kejutan untuknya.

Ditulis Oleh Afifah Afra (@afifahafra79).

Photo-0129

Bercerai Itu Boleh, Tetapi…

Photo-0129

Perceraian!  Rumah tangga yang digoyang prahara. Tak usah menanyakan kedahsyatan rasa yang bergelora di hati para pelakunya. Sebab, sekadar mendengar saja, kita pun seakan tengah dilontarkan pada trampolin emosi yang mengguncang adrenalin. Apalagi, jika berita itu menimpa orang-orang terdekat kita.

Ya, beberapa waktu terakhir ini, saya merasa terkaget-kaget dengan berbagai kejadian yang mampir di folder memori saya. Bukan, bukan saya pelaku utamanya. Hanya saja, jika pada beberapa kasus semacam itu sebelumnya saya hanya menjadi penonton belaka, kali ini saya terseret dalam lingkaran yang lebih dalam. Bukan sekadar pengamat, tetapi mungkin sudah menjadi pelaku, meski hanya figuran. Bahkan juga menjadi tempat untuk mencurahkan perasaan.

Perceraian telah terjadi di orang-orang terdekat saya. Dan, terjadinya pun dalam waktu yang berdekatan. Mulai dari famili, hingga sahabat.

Bahwa dalam sebuah rumah tangga ada konflik, saya tentu tahu. Apalagi, saya juga tidak berasal dari keluarga yang benar-benar ‘selamat sejahtera’ mengarungi kehidupan berumah-tangga. Pun beberapa tetangga juga mengalami badai kehidupan yang tak bisa dibilang ringan, dan saya menyaksikan. Dalam dosis yang lebih ringan, tentu konflik-konflik kecil juga pernah saya rasakan saat mengarungi bahtera rumah tangga bersama suami saya tercinta. Semua merupakan pelengkap, karena secangkir kopi tak akan terasa nikmat jika kita sajikan semata berisi gula.

Akan tetapi, kata ‘cerai’ bagi saya terdengar begitu asing, dan mungkin tak percaya jika bisa terjadi pada orang-orang di sekitar saya. Jadi, mendadak saya merasa begitu naïf, polos, dan lugu, saat badai rumah tangga berujung perceraian itu ternyata menginduksi kehidupan saya. Bermacam-macam penyebabnya. Dan, saya tak hendak mencoba mengupasnya di sini.
Satu tesa yang ingin saya sampaikan di postingan ini adalah CINTA SAJA TAK CUKUP. Ya, meski banyak lagu-lagu, syair-syair, roman-roman dinyanyikan, dipuisikan dan didendangkan, yang isinya mengupas-tuntas keajaiban cinta, bagi saya, untuk meniti kehidupan rumah tangga tak cukup hanya bermodal cinta.

Modal pertama dalam berumah tangga adalah IMAN. Dalam konsep keyakinan saya, nikah memiliki bobot separuh agama. Jadi, menikah adalah dalam rangka menyempurnakan ibadah. Karena itu, mempertahankan pernikahan juga sebenarnya dalam rangka mempertahankan kesempurnaan ibadah kita. Apa sih, yang kita cari di dunia ini selain tunduk menghamba kepada-Nya? Bukankah tujuan penciptaan manusia, adalah untuk beribadah kepada-Nya? Saya meyakini, jika para ahlul ibadah susah payah bangun malam, menangis terisak-isak saat merindu rabb-nya, berlapar-dahaga dalam shiyam-nya, sesungguhnya perjuangan menjaga keutuhan berumah tangga, bisa jadi sama, atau lebih besar nilainya di mata Allah.

Iman yang kuat, akan melahirkan sebuah VISI BERUMAH TANGGA yang juga kuat, yakni keluarga yang sakinah-mawadah-warahmah, yang merupakan batu-bata terbentuknya umat yang rabbaniyyah, dan menjadi sarana pengkaderan generasi muslim yang berkualitas.
Berkualitaskah generasi yang akan kita lahirkan, jika saban hari melihat kedua orangtuanya bertengkar? Apakah Anda yakin, bahwa anak-anak Anda akan tumbuh dengan baik meskipun akhirnya keputusan besar itu Anda tempuh? BERCERAI!

Sejarah mungkin mencatat perceraian-perceraian yang secara agama mungkin diperbolehkan. Tetapi sejarah juga mencatat, bahwa sebagian besar perceraian itu dimurkai Allah, karena memang melahirkan serangkaian panjang mafsadat, alih-alih menjadi sebuah manfaat.

Tentu saya tak ingin memvonis orang-orang yang bercerai itu sebagai orang-orang yang tersesat. Ada, banyak sekali, hal-hal yang membuat keputusan berat itu terpaksa ditempuh. Ada banyak curahan air mata yang mengalir, yang membuat rasa empati ini mengalir sederas curahan air mata mereka.

Tapi, satu yang perlu dicatat: Jangan cukup hanya dengan cinta. Kau harus membungkus semuanya dengan IMAN. Insya Allah rumah tangga kita akan diselamatkan oleh-Nya. Tetapi, seandainya pun kita telah menerapkan hal tersebut dan ternyata kita tak mampu berbuat banyak, itu ujian. Semoga kuat menghadapinya. Dan sebisa mungkin, mari kita berusaha agar generasi penerus kita tak terinduksi oleh kegagalan orang tuanya dalam membina rumah tangga.

Ditulis oleh Afifah Afra

Sumber: www.afifahafra.net

IMG00180-20120427-1559

Menikahi Wanita Kakak-Adik Dalam Satu Waktu?

IMG00180-20120427-1559

Roni (bukan nama sebenarnya), sangat terobsesi dengan kakak beradik Rina dan Rini, yang menurutnya sangat spesial. Roni pun bertekad untuk menikahi mereka sekaligus dalam satu waktu. Namun, Roni segera beristighfar ketika mendatangi seorang Ustadz, dan ternyata mendapatkan penjelasan bahwa di dalam Islam, haram menghimpun dua perempuan yang bersaudara kandung sebagai istri dalam waktu bersamaan.

Rasulullah menegaskan tentang hal tersebut, “Jika kalian lakukan itu, berarti kalian memutuskan silaturahmi di antara kalian.” (HR. Ibnu Hibban).

Adapun yang terjadi pada Usman r.a., yakni menikahi kedua puteri Rasulullah, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, tidak terjadi dalam satu waktu. Setela Ruqayyah meninggal karena sakit, baru Ustman menikahi Ummu Kultsum. Karena menikahi dua puteri Rasulullah itulah, Ustman bin Affan digelari Dzun Nur ‘Ain. Pemilik Dua Cahaya, maksudnya adalah Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Menurut DR Yusuf Qardhawi dalam bukunya “Halal dan Haram Dalam Islam”, menuliskan bahwa ajaran Islam sangat meneguhkan hubungan silaturahmi, maka bagaimana mungkin mensyariatkan sesuatu yang menyebabkannya terputus, seperti menjadikan dua orang yang bersaudara sebagai madu yang lain? Menghimpun dua orang yang bersaudara menjadi istri dalam satu waktu, adalah kebiasaan masa Jahiliyah yang ditinggalkan oleh ajaran Islam. [US].

karangan-bunga1

Selamat Menempuh Hidup Baru

karangan-bunga1

sumber gambar dari sini

Ucapan itu ternyata memiliki makna yang sangat dalam, saat akad telah terucap pada detik itu pula cerita kehidupan tak lagi sama. Kini kata aku dan kau, berganti menjadi kita serta segala sesuatu yang menyangkut kau menjadi kepentingan ku juga.Setelah menikah hidup semakin penuh warna karena kita menjalaninya dengan seseorang yang telah lama dinanti kehadirannya.Seperti yang dikutip dari tulisan Cahyadi Takariawan :

Pernikahan berarti akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan,

akad untuk saling melindungi,

akad untuk saling memberikan rasa aman,

akad untuk saling mempercayai,

akad untuk saling menutupi aib,

akad untuk saling mencurahkan perasaan,

akad untuk berlomba melaksanakan peran kerumahtanggaan.

Pernikahan adalah akad untuk saling menerima apa adanya,

akad untuk saling membantu dan meringankan beban,

akad untuk saling menasihati,

akad untuk setia kepada pasangannya dalam suka dan duka,

dalam kesulitan dan kesuksesan, dalam sakit dan sehat,

dalam tawa dan air mata.

Begitu indahnya sebuah pernikahan diantara satu sama lain salingmelindungi,memberikan rasa aman, saling setia dalam suka dan duka.Karena perjalanannya badai rumah tangga akan senantiasa datang silih berganti. Namun tetap kuatkan dan kokohkan tali cinta agar tak akan lepas, sekuat apa pun badai yang datang.Selamat Menempuh Hidup Baru, semoga pasangan yang telah Allah takdirkan menjadi penyejuk mata dan hati kita, amin.

Setiap orang tentu ingin mendapatkan pasangan yang sempurna dan sesuai kriteria

Syarat nikah yang dianjurkan Rasul itu kan yang diutamakan adalah satu agama dan ibadahnya bagus. Maka kemudian hal-hal di luar itu tiba-tiba menjadi sebuah kewajiban tersendiri. Seperti gak mau istri yang cengeng, ngga mau istri yang jerawatan, ngga mau istri tukang jalan-jalan, ngga mau bla bla yang sifatnya keduniawian.

Seperti sifat dunia yang hanya sementara, sifat seseorang di waktu lajang juga hanya sementara saja. Ketika seseorang menikah, MAU TIDAK MAU, SIAP TIDAK SIAP ia akan berubah. Dipaksa berubah. Itulah mengapa kalau orang nikah dikasih selamatnya : SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU

Karena memang kehidupan tak akan lagi sama. Sifat pasangan akan memengaruhi kita, suami istri sudah jadi satu jiwa, rejeki istri bisa dari suami, rejeki suami bisa dari istri. Lalu badai rumah tangga silih berganti. Masalah pasti datang aja mulai dari kurang uang gaji, ngga bisa bayar kontrakan, tiba-tiba hamil, keguguran, mertua lelaki yang mendadak meninggal dan lain sebagainya. Banyak kejadian yang akan membuat suami istri belajar hidup lebih jauh.

Seorang istri yang lemah dan cengeng bisa jadi kuat, seorang istri yang kuat bila dimanja banyak harta juga bisa jadi manja, seorang suami yang bodoh bisa jadi cerdas, seorang suami pemalas bisa jadi rajin, atau yang rajin jadi pemalas. Bahkaaan… seorang yang shaleh bisa jadi murtad! So, menikah itu sebuah misteri yang ngga bakalan bisa dipecahkan oleh Detektif Conan.

Jadi, janganlah mematok jodoh sesuai kriteria kita sendiri, maunya kita sendiri, ngotot mau si itu si ini, padahal Allah sudah mendekatkan seseorang buat kita. Karena kita pasang tameng, akhirnya dijauhkan lagi. Yang penting agamanya, imannya, satu akidah. Urusan istri S2, suami cuma SMA, itu bukan perkara. Urusan istri jago nyari duit, suami pengangguran, ngga usah takut. Asal ada komitmen buat berjuang bersama, badai pernikahan sebesar apa pun, Insya Allah bisa dilalui dengan senyum, sabar, santun…. eh… ikhlas. (fm)