Category Archives: PENDIDIKAN ANAK

165ca70c-e9e8-451f-b9d2-652027d3b3db

Haruskah selalu memenuhi keinginan anak?

Aku ingin begini… aku ingin begitu

Ingin ini… ingin itu banyak sekali….

Semua.. semua dapat dikabulkan

Dapat dikabulkan dengan kanton ajaib

(Lagu Doraemon)

 

            Benar jika ada yang mengatakan bahwa manusia itu tak akan pernah merasa puas akan sesuatu, itu merupakan hukum alam yang menyelimuti diri setiap manusia dewasa tak terkecuali anak-anak. Mereka juga memiliki berbagai macam keinginan yang selalu ingin mereka dapatkan dengan segera mungkin, seperti pengalan lagu diatas semua beres hanya dengan adanya kantong ajaib atau kehadiran para peri dan bidadari-bidadari yang biasa hadir dalam sinetron-sinetron yang dengan sukarela mengabulkan semua keinginan-keinginan para tokoh utamanya.

 

Sikap-sikap anak seperti ini yang terkadang membingungkan orang tua, disisi lain mereka ingin membahagiakan sang anak tetapi terkadang keinginan mereka tidak sesuai dengan kondisi keuangan orang tua. Para orang tua tentu akan memprioritaskan keinginan anak yang memang sesuai dengan kebutuhannya namun bagaimana jika keinginan mereka hanya sekedar keinginan yang sebetulnya mereka tidak terlalu membutuhkannya. Misalnya anak merengek ingin dibelikan Ipad terbaru atau anak ingin selalu membeli mainan padahal mainan sudah menupuk di kamarnya atau meminta uang saku lebih besar dari jatah biasanya.

Jika sudah memiliki keinginan tertentu biasanya anak-anak menguji kita dengan beberapa jurus ala andalan mereka, seperti marah-marah, merengek, mengancam dan sampai mengeluarkan taktik fisik semua jurus itu mereka keluarkan agar orang tua menyerah dan memberikan apa yang mereka inginkan.

Menurut Ketua Suryani Institute For Mental Health (SIMH) Prof Dr L.K Suryani, kecenderungan sebagian besar para orang tua saat ini memberikan fasilitas dan kenikmatan hidup yang berlebihan pada anak-anak sehingga mereka kurang memiliki daya juang yang tinggi padahal seiring dengan kemajuan teknologi dan arus globalisasi, anak-anak semakin pandai, semakin kritis dan semakin banyak keinginannya namun di sisi lan mentalnya semakin melemah dan mereka mudah putus asa dan down. Akan lebih baik jika anak di ajak diskusi terlebih dahulu tentang seberapa penting keinginan mereka, ajak juga mereka memahami kondisi ekonomi dan keuangan keluarga agar mereka mengerti bahwa kebutuhan keluarga itu sangat banyak dan kompleks.

Sesekali ajak mereka ketempat orang-orang yang bekerja sangat keras hanya untuk mendapatkan berlembar-lembar uang, misalnya mengajak mereka ke pasar atau ke terminal di sana terlihat aktifitas-aktifitas bekerja. Melihat abang-abang yang memanggul berat ton-ton beras, kuli bangunan, para penyemir sepatu, para tukang ojek, para supir angkot,pemulung dan para pedagang yang terkadang harus melawan kantuk dan dingin mengelar dagangan pada dini hari. Dengan begitu anak akan sangat menghargai uang, karena untuk mendapatkannya kadang kaki jadi kepala, kepala menjadi kaki. (fm)

anak puasa

Kejujuran itu yang Terpenting

Bagi anak-anak yang baru belajar berpuasa, hari-harinya memang sangat berat dan panjang. Tak jarang akhirnya mereka merengek dan menangis agar bisa berbuka puasa. Rengekan dan tangisan  bisa jadi adalah bukti kejujuran, bahwa mereka benar-benar menunjukan sudah tidak kuat menahan lapar dan dahaga. Kita perlu hargai itu dari pada mereka mengaku kuat puasa  tetapi tanpa sepengatahuan kita mereka makan dan minum, jika itu terjadi sesungguhnya anak-anak telah membohong diri sendiri.Padahal makna puasa tidak hanya selesai menahan lapar dan haus saja, namun lebih dari itu tentang bagaimana melatih pengendalian diri dan mendidik kejujuran.

Kenapa kejujuran? Karena kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran. Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain. Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.

Seperti yang dipaparkan oleh Rasulullah SAW bahwa puasa itu adalah ibadah yang paling rahasia atau ibadah sirriyah karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT. Maka itu kejujuran sangat dituntut dan kesabaran dilatih serta kepekaan selalu dilihat Allah SWT, meski saat kita sedang sendiri bisa dengan leluasa dapat makan dan minum. Namun jika kejujuran sudah menjadi pegangan maka hal itu tak akan mungkin dilakukan karena sadar sedang berpuasa dan sangat yakin ada yang Maha melihat yang kelak akan meminta pertanggungjawaban. Jika alasan kita tidak berpuasa dibenarkan oleh aturan-aturanNya maka tak mengapa berbuka namun tetap wajib menganti/mengqadanya di lain hari.

Begitupun dengan anak-anak meski belum sepenuhnya wajib menjalankan ibadah puasa karena mereka belum akil balig namun mengajak dan membiasakan mereka berpuasa dengan kejujuran adalah hal yang baik seraya menjelaskan kepada anak-anak apa arti, makna, dan manfaat berpuasa. Jika tidak dimulai dari sekarang menjelaskan hikmah dan pentingnya bulan ramadhan sejak dini, maka bulan ramadhan yang Allah SWT istimewakan akan jatuh seperti “ritual tahunan” dan bahkan menjadi beban saat mereka menjalankannya. Padahal jika sebulan ini mereka menjalankan puasa  penuh dengan kejujuran maka hal ini merupakan kebanggaan yang luar biasa. (fm)

anak puasa

Anak-Anak dan Bulan Ramadhan

Anak-anak sangat antusias menyambut bulan ramadhan, mereka akan mengalami keseruan shalat tarawih, tadarus dan merasakan kebersamaan saat makan sahur dan berbuka yang tak akan pernah mereka alami dibulan-bulan selain ramadhan. Namun bagi orang tua terutama ibu dengan buah hati yang baru belajar shaum, baru belajar shalat tarawih di masjid bulan ramadhan akan menjadi bulan yang penuh tantangan. Membayangkan sulitnya membangunkan anak-anak saat makan sahur sepertinya sudah membuat para ibu menggigil.

anak puasa

sumber gambar dari sini

Belum lagi saat siang mendengar rengekan anak yang lapar dan haus, padahal diwaktu-waktu biasa mereka sangat sulit diajak makan dan minum. Para orang tua terutama ibu selalu bergembira menyambut hadirnya bulan ramadhan namun se-gembira saat mereka belum memiliki buah hati. Bahkan ada ibu yang merasa ribet dan tidak enjoy menjalani bulan ramadhan karena harus menhadapi anak-anaknya yang terkadang membuat jengkel, sehingga membuatnya tidak fokus beribadah.

Menurut Yuria Pratiwi Cleopatra, seorang pakar parenting mengatakan sebetulnya para orang tua terutama ibu bisa menjalani ramadhan dengan indah, damai dan menyenangkan sekaligus mengajak anak-anaknya juga bisa fokus beribadah. Berikut beberapa tips bagaimana menjalani ramadhan bersama anak-anak yang baru menjalaninya :

  1. Mengetahui kapan anak-anak mulai bisa diajak berpuasa?

Para ibu tidak perlu dengan tegas ‘menyuruh’ anak kecil puasa kalau itu merepotkan, mereka belum wajib melaksanakan puasa, kewajiban puasa baru berlaku saat mereka berusia baligh. Dalam Islam, tidak ada perintah mengajarkan puasa pada anak usia dini, namun memberikan anak pengertian tentang puasa sejak mereka usia 3 tahun, bahwa orang dewasa tidak makan dan minum sampai maghrib. Adakalanya anak-anak TK mulai diperkenalkan puasa di sekolahnya.

  1. Mendukung dan menyemangati jika mereka ingin ikut berpuasa

Jika anak usia TK/ pra SD ternyata bersemangat dan sangat ingin ikut puasa, maka tugas kita adalah memberi support. Setiap malam kita tanya, apakah mereka mau dibangunkan untuk sahur? Apakah besok mau lanjut puasa? Sifatnya tawaran saja, tidak memaksa. Kalau ternyata anak memutuskan berbuka, maka kita berikan haknya. Kalau ingin melanjutkan kita bantu mereka. Jangan sampai anak sudah lemas, haus dan lapar malah dimarahi ibunya yang kesal.

  1. Memberi reward bagi anak yang shaum.

Apakah ini membuat anak tidak ikhlas? Mungkin anak memang belum paham tentang ikhlas. Yang kita latihkan adalah proses fisik shaumnya dulu. Insya Allah anak akan belajar ikhlas pada tahun-tahun berikutnya setelah secara fisik dia mampu shaum.

  1. Tetap memperhatikan kebutuhan gizi dan kalori anak-anak selama berpuasa.

Kita perlu membantu anak mengatur asupan makanannya agar nutrisi tetap terjaga selama puasa, saat sahur memberika mereka makanan yang kayak serat, protein dan susu. Saat berbuka pun tetap diatur tidak perlu menyiapkan tajil yang berlebihan. Rasulullah pun hanya mencontohkan tajil hanya dengan air dan kurma saja, sekalian mengajarkan banyak khasiatnya mereka memakan kurma. Setelah shalat maghrib bisa menyantap makanan ‘antara’ seperti sup, puding, susu atau makanan lain yang banyak mengandung air. Setelah Isya dan tarawih baru dilanjut makan berat. Namun bila anak sudah mengantuk setelah Isya, makan beratnya bisa dimajukan setelah maghrib.

  1. Membuat acara makan sahur yang gembira dan semangat.

Terutama di awal ramadhan anak-anak sulit dibangunkan, buat suasana seseru mungkin dengan menyediakan menu kesukaan anak-anak atau sekali-sekali deliveryagar mereka gembira dan bersemangat. Biasanya setelah seminggu tubuh kita sudah menyesuaikan diri, sehingg tidak sulit lagi untuk bangun sahur.

  1. Menikmati ramadhan ini disetiap detiknya.

Yang paling penting adalah menjaga agar para orang tua terutama ibu tetap tenang,menjalani dan menghadapi ramadhan. Tidak perlu banyak kecemasan dan kekhawatiran, tidak perlu mempersulit diri dengan berbagai aturan yang ketat dan ideal. Nikmati saja ramadhan ini sebagai bulan refreshing, perbanyaklah me time untuk beribadah dan bermesraan dengan sang Khaliq.(fm)

orang tua

Menjadi Orang Tua yang Bijak

orang tua

sumber gambar dari sini

Memperhatikan anak-anak saat tidur adalah yang sangat mengharukan, betapa tidak melihat wajah yang mereka begitu lugu dan polos juga tak berdaya. Saat itu hilanglah perasaan marah dan kesal atas segala kelakuan dan tingkah mereka yang menjengkelkan, berganti kasih sayang yang dalam dan keinginan untuk selalu melindungi mereka. Itulah sikap para orang tua yang menjadikan anak-anak mereka adalah anugerah terindah dari Allah SWT, mereka menjaganya melebihi penjagaan terhadap diri mereka sendiri dan orang tua berusaha semaksimal mungkin memperbaiki pola asuh mereka, agar anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan karena hakekatnya setiap orang tua merupakan manusia biasa yang tak selamanya selalu benar dalam ucapan maupun tindakan. Berikut ini tips menjadi orang tua yang bijak

1. Berpikir positif

Kenapa harus selalu berfikir positif? Karena orang tua selalu dituntut untuk menyikapi segala hal yang menyangkut kehidupan sang anak. Tuntun dan berikanlah anak ruang untuk berpikir dan mengambil keputusan yang baik dan benar, terutama dalam hal pendidikan dan kehidupan sosialnya.

2. Memahami kondisi

Sosok orang tua yang bijak tentu harus tahu kapan waktunya untuk serius dan bercanda, mejadi sahabat atau terkadng menjadi penasehat anak, karena peranan orang tua sangatlah dibutuhkan untuk menjadi penasehat yang baik dengan pemikiran yang matang, bukan sebagai penentu sebuah keputusan.

3. Cerminkan kasih sayang

Kasih sayang adalah “modal” utama bagi sang anak untuk menjadi kuat, tabah dan tak merasa sendiri dalam menjalani hidup. Karena sikap inijustru akan membentuk emosi yang positif akan membantu anak untuk tetap ulet menghadapi semua tantangan dalam hidup dan di masa-masa sulit mereka.

4. Kenali pribadi anak

Banyak dari orang tua yang seakan-akan tahu benar bagaimana cara mencukupi semua kebutuhan sang anak dan membesarkannya. Namun pada kenyataannya tak semua orang tua dapat dengan mudah mengenali kepribadian sang anak. oleh karenanya pahami dan selamilah karakter masing-masing anak sehingga Anda tahu kapan dan bagaimana caranya melakukan pendekatan dan bersikap kepada anak.

5. Meminta maaf saat berbuat salah

Belajarlah dari pengalaman saat Anda pernah menjadi seorang anak di masa lalu dimana mungkin Anda juga pernah melakukan apa yang dilakukan saat ini oleh anak Anda. Berbuat salah adalah hal yang manusiawi, wajar dan bisa saja terjadi kepada siapapun orangnya tanpa memandang usia. Jika Anda merasa memiliki salah terhadap anak, meminta maaflah. Meminta maaf bukanlah hal yang memalukan yang dapat mencederai harga diri yang dimiliki oleh orang tua, namun meminta maaf yang tulus justru akan membuat Anda menjadi orang tua yang sempurna dimata sang anak. (fm)

ramadhan

Mengajak Anak Belajar Puasa

Ramadhan tinggal hitungan hari sudahkah kita mempersiapkan diri dan anak-anak kita menyambutnya? Jika belum marilah segera mungkin kita persiapkan diri, keluarga dan anak-anak kita seperti yang Rasulullah lakukan menjelang ramadhan. Beliau mempersiapkan dirinya untuk amaliyah secara maximal dan optimal lalu beliau senantiasa mengumpulkan para sahabatnya menyampaikan kepada mereka hikmah dan keutamaan-keutamaan puasa di bulan Ramadhan. Beliau memompa semangat para sahabat agar mereka gembira dalam menyongsong bulan penuh berkah ini.

ramadhan

sumber gambar dari sini

Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardukan atas kamu berpuasa didalamnya. Dibuka semua pintu syurga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala setan. Didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa tiada kebajikan pada malam itu, maka sungguh tak akan ada kebajikan atasnya.”(HR Ahmad, Nasa’I, Baihaqi dari Abu Hurairah)

Indah sekali untaian hadist diatas, betapa Allah SWT membuka kesempatan lebar-lebar pada hamba-hamba Nya untuk mendekatkan diri dan berlomba-lomba untuk mencapai derajat tertinggi dihadapan Allah SWT. Maka sangat disayangkan jika kita dan anak-anak melewatkan puasa di bulan ramadhan.Seperti yang kita tahu puasa di bulan ramadhan merupakan rukun Islam yang ke-empat, statusnya menjadi wajib bagi orang-orang yang mampu. Namun bagi anak-anak yangbelum mencapai akil balig, bulan ramadhan adalah bulan pembiasaan agar mereka kelak benar-benar tak ada beban menjalankannya dan mereka akan senantiasa merindukan bulan ramadhan.

Berikut ini beberapa tips untuk orangtua untuk mempersiapkan anak berpuasa yang dikutip dari blog anakku.net:

  1. Perkenalkan segala hal tentang puasa, sampaikan secara berulang dengan pendekatan yang berbeda. Sehingga pada saat mencapai bulan puasa, anak sudah memahami arti puasa, bagaimana menjalankan puasa dan mengerti manfaat puasa. Hal ini memudahkan orangtua saat harus merubah ritme tidur dan makannya.
  2. Buatlah suasana di rumah yang bernuansa puasa. Misalnya dengan menyimpan seluruh makanan dan minuman agar tidak mengganggu anak berpuasa. Aktifitas keluarga disesuaikan dengan bulan puasa. Bila perlu lagu bernuansa Islami dapat diperdengarkan selama bulan puasa pada anak.
  3. Ajaklah anak berpuasa bertahap. Jangan terlalu memaksakan anak agar berpuasa penuh pada anak yang baru mulai menjalankan ibadah puasa. Jelaskan pada anak pentingnya puasa, namun mintalah anak untuk jujur pada anda saat ia sudah merasa sangat tidak tahan berpuasa. Mungkin puasa dapat dimulai dengan setengah hari, kemudian tiga perempat hari dan kemudian penuh.
  4. Bila anak sudah mampu puasa, pada saat ia ingin berbuka pada hal belum waktunya, alihkan perhatiannya dengan mengajaknya mengerjakan aktifitas lain yang tidak terlalu melelahkan seperti menggambar, mendengarkan lagu, dan lainnya.
  5. Hendaknya orangtua menjadi model yang baik bagi anaknya. Berilah contoh pada anak cara berpuasa yang benar, dan beri tips pada anak bagaimana menyiasati rasa lapar dan haus dengan hal yang positif.
  6. Sediakan makanan yang bergizi, jangan terlalu banyak menyediakan makanan kaleng, makanan yang terlalu manis. Variasi makanan sebaiknya jangan terlalu banyak, karena anak cenderung ingin mencoba semua makanan. Pastikan anak minum yang cukup di saat sahur.
  7. Sahur sebaiknya dilakukan mendekati imsak, dan berbukalah tepat waktu.(fm)
ortu tengkar

JANGAN MENJADI ORANGTUA YANG GAGAL

ortu tengkar

ilustrasi diambil disini

 

Anak adalah anugerah, pelengkap kebahagiaan serta investasi berharga untuk orang tuanya di dunia dan akhirat, sehingga tak jarang kehadiran anak dalam sebuah keluarga begitu dinantikan. Namun beberapa hari terakhir kita dikejutkan, ternyata ada orang tua yang begitu tega dan tanpa merasa bersalah menelantarkan anak-anaknya. Kasus ini mengejutkan semua pihak serta yang lebih mengejutkan lagi kasus ini berujung pada penyalahgunaan narkoba.

Data Departemen Sosial selama beberapa tahun terakhir mencatat sekitar 1,1 juta anak di Indonesia yang kini terlantar dan jumlahnya kini semakin bertambah. Penelantaran anak adalah di mana orang dewasa yang bertanggung jawab pada anak tersebut, gagal untuk menyediakan kebutuhan memadai untuk berbagai keperluan, termasuk fisik (kegagalan untuk menyediakan makanan yang cukup, pakaian, atau kebersihan), emosional (kegagalan untuk memberikan pengasuhan atau kasih sayang). Banyak yang menjadi alasan orang tua menelantarkan anak diantaranya kemiskinan dan kecanduan obat-obatan terlarang. Hal ini sangat disayangkan terjadi penelantarkan anak, sama juga dengan kita mengabaikan masa tua kita sendiri, karena di masa tua nanti anak-anaklah yang menjadi penerus, pengurus kita serta doa anak adalah tabungan dunia dan akhirat orang tuanya.

Psikolog dari Klinik Terpadu Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Jane Cindy, mengatakan anak yang ditelantarkan bisa mengalami dampak psikologis, yaitu merasa ditolak oleh kedua orang tuanya, tidak memiliki kemampuan bersosialisasi sehingga berdampak anak bertumbuh menjadi individu yang penyendiri, tertutup, egosentris serta tidak mampu mengembangkan rasa empati. Dan yang lebih bahaya lagi anak yang ditelantarkan orang tuanya akan mengalami trauma berkepanjangan. Semoga kasus ini bukan merupakan fenomena gunung es, dengan kepercayaan tinggi masih banyak para orang tua yang betul-betul mendidik anak-anaknya dengan cinta, mengasuh dengan ilmu dan menjaganya dengan penuh keimanan. (fm)

bisnis

Biarkan Anak Belajar Berbisnis

Keisya masih sekolah di Taman Kanak-kanak tetapi semangatnya berbisnis dengan berjualan permen patut diacungi jempol. Tanpa malu dan ragu Keisya menjajakan dagangan kepada teman-temannya, guru dan para ibu yang menunggu di luar sekolah. Keisya menjual permen hasil kreasi dia dan sang bunda, terbuat dari minuman serbuk dengan berbagai rasa lalu di campur susu sehingga membentuk bola-bola permen.

Meski kadang permen yang ia jajakan tak laku semua namun ia senyum dan tenang saja menanggapinya, dia berkata “Enggak apa-apa belum habis juga, nanti sore mau keliling di sekitar rumah dan besok temen-temen juga pasti beli lagi” katanya optimis. Apa yang Keisya lakukan ini sangat membanggakan dia tanpa sadar belajar sesuatu, belajar promosi, belajar kreatif dan belajar akuntansi, namun dia masih sangat membutuhkan bimbingan dan dukungan dari orang tua dan guru.

Seperti yang dipaparkan psikolog anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, anak-anak yang mengenal dunia bisnis atau wirausaha sejak dini, akan mendapati manfaat untuk bekal masa depan kelak karena akan menumbuhkan jiwa wirausaha dan menjadi pribadi yang kreatif. Kak Seto menambahkan, memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar berbisnis (berwirausaha) sejak kecil bukan berorientasi mencari uang. Melainkan lebih untuk melatih kemandirian, dengan mengandalkan kreativitasnya. Kak Seto menolak anggapan bahwa anak yang belajar bisnis sejak kecil, akan menjadi “mata duitan”. Tujuan melatih kewirausahaan sejak dini lebih untuk memberikan kesempatan pada anak untuk tumbuh menjadi pribadi kreatif karena sang anak merasa dihargai dan lebih percaya diri dalam mengembangkan potensinya. (FM)

flower-2B2

Bagaimana Menyikapi Anak yang Berbicara Tentang Seks?

“Umi, seks itu apa ya?”. “Umi nanti aku nikah sama siapa ya mi?, Umi katanya kalo main cium-ciuman terus nikah-nikahan nanti hamil beneran, bener ga mi? Mi, pacaran boleh ga? soalnya temen aku si A ama si B udah pacaran?”. Rentetan pertanyaan seorang anak yang saat ini masih duduk di kelas satu SD kepada ibunya. Sang ibu terlihat shock namun berusaha tetap tenang mendengar pertanyaan dari anaknya.

Siapa yang tidak kaget mendapati pertanyaan-pertanyaan seperti ini dari anak kelas satu SD, anak-anak seusia itu seharusnya menikmati masa bermain dan belajar, tidak terbebani dengan memikirkan hal-hal diluar jangkauan mereka seperti kata pacaran, menikah, hamil dan sebagainya. Namun gencarnya tayangan-tayangan dan tontonan sinetron serta iklan-iklan yang kurang mendidik di televisi, akhirnya membuat anak-anak kita menjadi “dewasa” sebelum waktunya bahkan yang lebih miris lagi, beberapa kejadian ditiru dan dilakukan anak-anak seperti pacaran, ciuman sertabergaya dan berpenampilan layaknya artis-artis sinetron. Konsidi seperti ini sangat memprihatinkan, anak-anak kita sudah tidak malu lagi berperilaku seperti itu bahkan sebaliknya mereka seolah “bangga” bisa melakukannya.

Menurut seorang psikolog Anak-anak adalah“mesin fotokopi” yang sangat cangih, rasa ingin tahu mereka yang besar. maka anak tersebut akan mencari jawaban dari orang lain, teman sebaya atau Internet. Mereka meniru hal-hal yang mereka lihat tanpa memikirkan dampak kedepannya.  Mereka sangat rentan mendapatkan informasi yang salah tentang seks, akhirnya akan termakan mitos-mitos tentang seks yang tidak benar. Orangtua sepatutnya membimbing, mengawasi dan memberikan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Karena menurut sebuah penelitian, pendidikan seks sejak dini akan membentengi dan menghindari anak-anak berbuat keliru yang akan menghancurkan masa depannya. Tidak perlu tabu membicarakan seks dalam keluarga. Karena mereka perlu mendapatkan informasi yang tepat dari orang tuanya, bukan dari orang lain. Untuk  itu sebagai orang tua kita perlu terus untuk belajar dan belajar mengikuti perkembangan zaman. (fm)

mendidik-anak-tangan-hand

HARUSKAH MENJADI ORANGTUA YANG OVERPROTEKTIF?

Kita semua menyadari lingkungan kita belum sepenuhnya bisa benar-benar “bersahabat” dengan anak-anak bahkan semakin hari kondisinya semakin membahayakan anak. Di mulai dari tontonan TV di rumah, jajanan yang tak sehat, narkoba yang selalu mengintai serta pergaulan bersama teman-temannya di luar atau di dalam sekolah. Sehingga orang tua selalu diliputi rasa khawatir dan mereka sekuat tenaga berusaha berupaya menjamin dan melindungi anak-anaknya dari hal-hal yang bisa mengganggu perkembangan dan masa depan anak-anak.

mendidik-anak-tangan-hand

sumber gambar disini

Dari rasa cemas dan khawatir ini maka para orangtua menjadi lebih overprotektif terhadap anak-anaknya. Protektif itu adalah sifat orang untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang disayanginya. Bila longgar, membuat anak bisa lalai, bila over aspek perkembangan kemandirian anak bisa terganggu. Hal ini yang kerap membingungkan para orangtua di satu sisi ingin melindungi anak, di sisi lain takut anaknya terkungkung dan tidak berkembang.

Menurut psikolog Indri Savitri MPsi, rasa khawatir dan bersikap melindungi memang harus diberikan namun  harus tepat penerapannya. Pada anak-anak usia dini, pengasuhan secara fisik atau kontak fisik sangat dibutuhkan. Keberadaan orang tua di samping anak, selain membuat anak-anak merasa aman dan nyaman juga membentuk bonding atau ikatan kuat antara anak dan orang tua. selain itu anak-anak memerlukan pengasuhan yang bersifat telling. Begini  nak, begitu nak, serta anak melihat langsung  apa yang dilakukan orang tua untuk ditirunya. Mereka masih perlu dituntun terus, ditunjukkan mana baik mana buruk, yang boleh dan tidak boleh serta membekali anak dengan kepercayaan dan kejujuran, selain itu mengajarkan anak untuk selalu berdoa memohon perlindungan Allah SWT. (fm)

tumbuh-kembang-anak-7

1000 Hari Pertama Kehidupan Anak

tumbuh-kembang-anak-7

sumber gambar disini

Kita semua tentu menginginkan anak-anak kelak cerdas dan memiliki masa depan yang cerah, dan kita semua menyadari sebagai orang tua, tanggung jawab kita mendidik anak adalah sebuah aktifitas yang berlangsung seumur hidup. Bila diibaratkan sedang membangun rumah, pasti semua diawali dengan desain di atas kertas sebelum diwujudkan dengan semen dan batu. Begitupun pendidikan anak, kita sebagai orang tua pasti sudah memiliki desain masing-masing di otak kita, bahkan beberapa dari kita sudah memetakannya di atas kertas. Semua itu kita rancang dengan sebuah harapan, bahwa penerapan dari desain itu lambat laun akan membentuk anak kita sesuai dengan sebuah konsep yang kita bayangkan.

Saat desain kita yang sangat bagus itu mulai diimplementasikan lewat susunan batu dan semen, mau tidak mau, suka tidak suka, seberapa bagus atau tingginya rumah itu,tentu harus dimulai dari pondasinya terlebih dahulu bukan? Begitupun pendidikan anak, tanpa pondasi yang kuat maka segala yang sudah kita susun bisa-bisa akan jatuh berantakan. Alih-alih membuat anak tumbuh sesuai bayangan kita, malah bisa jadi kita yang tidak bisa mengendalikan pertumbuhan psikis dan pengetahuan mereka.

Karena itulah pemerintah telah menerapkan konsep pentingnya 1000 Hari Pertama kehidupan anak sejak september 2012, dimana ditekankan pentingnya masa1000 hari kehidupan anak mulai dari dalam kandungan sampai usia dua tahun. Psikolog Dra Ratih A Ibrahim,MM mengatakan 1000 hari pertama ini sangat penting karena pada masa itu adalah masa krusial bagi perkembangan anak karena merupakan periode penting berkembangannya otak anak yang akan menjadi pondasi dalam membangun kemampuan kognitif, sosial, dan psikomotor anak. Hal ini menjadi sangat penting bagi calon orang tua agar segera mempersiapkan diri agar mampu menjadikan calon anaknya kelakmemiliki masa depan yang cerah.

Menjalani 1000 hari pertama itu dengan memenuhi kebutuhan mendasar anak yaitu nutrisi yang cukup karena penentu pertumbuhan otak dan stimulasi yang tepat dapat mengembangkan seluruh aspek kecerdasaan dalam diri anak meliputi kognisi, fisik dan psikososial anak dan yang terpenting adalah terjalinnya ikatan emosional dengan orang tua, karena kita merupakan pihak-pihak yang harus memenuhi kebutuhan anak dan membimbing anak agar lebih terarah, menemani anak belajar dan bereskplorasi serta memberikan kasih sayang setiap saat. (fm)