Category Archives: PENDIDIKAN ANAK

0204H002

Pentingnya Percaya Diri

Suatu sore Annisa sedang menggambar pemandang setelah selesai, dia lalu memperihatkannya pada sang ayah dengan berkata “Ayah gambarnya jelek yah, aku enggak bisa gambar bagus yah!”

Sang ayah terkejut kenapa Annisa begitu tak percaya diri memperlihatkan karyanya, lalu ayahnya  berkata “Kata siapa jelek? Ini bagus loh…” Continue reading

bisnis

Yuk, Bangun Masa Depan Anak yang Cerah dengan Melek Finansial

bisnis

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas tentang pentingnya membangun kebiasaan baik dengan rutin menabung di bank. Pada saatnya nanti (sekitar usia 18 – 25 tahun) tentu anak-anak kita akan memiliki sejumlah dana yang cukup besar di tabungannya. Tulisan ini akan membahas bagaimana melatih anak menggunakan dana yang dimilikinya untuk tujuan produktif dengan mengembangkan kemampuan mereka dalam meningkatkan jumlah dana tabungannya melalui cara-cara yang baik dan halal. Dengan sasaran yang jelas, anak kita akan termotivasi untuk selalu rajin menabung dan dana tersebut nantinya bisa digunakan antara lain untuk keperluan:

  • Membeli kendaraan sendiri,
  • Biaya kuliah,
  • Uang muka pembelian rumah atau tanah,
  • Memulai bisnis (wirausaha),
  • Investasi (deposito, sukuk, emas batangan dsb).

Kita akan membahas  penggunaan dana khusus untuk bisnis dan investasi. Karena hal ini membutuhkan kemampuan yang harus dilatih sejak kecil.

Bisnis (Wirausaha)

Ada sejumlah tips dalam mengembangkan jiwa wirausaha pada anak yaitu :

1. Buatlah proses belajar tentang wirausaha yang menyenangkan

Bermain monopoli bisa merupakan sarana perkenalan terhadap bisnis yang pertama bisa diajarkan. Selain itu kita juga bisa melibatkan anak ketika berbelanja di pasar atau di toko yang melibatkan transaksi jual beli secara langsung. Dukung juga ketertarikan anak terhadap dunia bisnis sembari menanamkan nilai-nilai seperti :

  • bahwa bisnis bukan semata-mata mengejar uang
  • harga sebuah produk atau jasa ditentukan oleh besarnya kesediaan orang untuk membayar dan mekanisme pasar
  • bisnis kadang berhasil kadang tidak
  • bisnis membutuhkan kemampuan negosiasi yang baik
  • dibutuhkan semangat dan kerja keras untuk berhasil dalam bisnis

2.  Ubah pekerjaan sambilan anak menjadi sebuah bisnis dan dampingi mereka melakukannya

Menyapu halaman, menjaga anak tetangga ataupun pekerjaan sambilan lainnya bisa dijadikan bisnis untuk anak-anak kita. Bantu mereka membangun bisnis dari hal-hal sehari-hari yang mereka sering lakukan dan terbiasa melakukannya. Termasuk juga dari hobi produktif yang mereka miliki.

Jiwa wirausaha yang terasah dari seorang anak, nantinya akan membantunya ketika dia akan memulai bisnis yang sebenarnya di saat usianya telah dewasa dengan modal dari dana tabungan yang dimilikinya. Walaupun nantinya anak kita memilih bekerja di sebuah perusahaan atau lembaga pemerintahan, tetap penting baginya memiliki bisnis pribadi sebagai sebuah sumber penghasilan lain untuk membantu pemenuhan kebutuhan finansialnya yang semakin besar.

Investasi (Deposito, Sukuk, Emas Batangan)

Untuk mengajari anak-anak kita cara berinvestasi jangka panjang, berikut adalah prinsip-prinsip yang bisa kita terapkan :

  1. Ajarkan jenis-jenis investasi, baik yang mengandung unsur riba maupun yang diperbolehkan dalam Islam. Penting bagi mereka untuk tahu manfaat investasi halal, juga mudarat dan bahaya riba yang mengintai dan bersembunyi dalam banyak jenis investasi.
  2. Membeli emas batangan, tanah atau uang muka sebuah rumah adalah sebuah investasi jangka panjang yang menguntungkan. Ajarkan anak – anak kita yang sudah memasuki usia remaja untuk mengenal lokasi tanah atau rumah yang bernilai ekonomis dan bisa mendatangkan keuntungan. Bahkan membeli sebuah rumah toko (ruko) atau mobil toko (moko) juga bisa merupakan investasi yang menguntungkan bagi anak kita sembari mendukung pengembangan jiwa wirausahanya.
  3. Ajarkan anak untuk jeli dengan jenis investasi yang ditawarkan perseorangan atau perusahaan milik perseorangan terkait maraknya penipuan yang mengatasnamakan investasi.

Dengan dukungan positif, pendidikan dan keterampilan praktis yang kita berikan kepada anak – anak kita, insya Allah kelak mereka bisa menjadi pribadi dewasa yang berhasil dan bertanggung jawab secara finansial (termasuk memiliki komitmen untuk berkontribusi positif dan berbagi sebesar – besarnya untuk kemaslahatan umat), kita pun akan merasa bahagia melepaskan mereka untuk terjun ke dunia nyata, dengan harapan mereka akan memiliki masa depan cerah dan mampu menghasilkan kontribusi positif pada dunia mereka nantinya.

Sebagian sumber tulisan diambil dari : Buku “ Making Allowance” – Lermitte, Merritt

Penulis: Risa Mutia

Editor: Yeni Mulati Ahmad

bisnis

6 Kiat Agar Anak Rajin Menabung di Bank

keuangan-usaha

Di artikel kemarin, kita kita telah membahas tentang 6 Trik Agar Anak Melek Finansial, yang isinya adalalah prinsip pemberian uang saku dan membangun kebiasaan menabung seumur hidup.

Selanjutnya, kita akan membahas tentang bagaimana agar anak rajin menabung uang saku tersebut, khususnya di bank. Sebab, sekadar menabung di celengan, akan sangat berisiko. Langkah ini penting untuk membentuk kecerdasan finansal anak. Tujuannya adalah sebagai berikut:
– Agar anak terbiasa mengelola uang yang mereka miliki
– Agar anak memahami cara kerja bank sehingga kelak mereka mampu memanfaatkan nilai positif menabung di bank
– Melatih mereka untuk bernegosiasi dan menangani masalah uang langsung dengan orang, dan bukannya mesin.

Berikut ini prinsip – prinsip yang bisa diterapkan ketika memperkenalkan dan membuat anak bersahabat dengan bank:

Pertama, pilihlah bank syariah yang ramah terhadap anak
Kesan pertama sangat penting, sehingga penting untuk menciptakan pengalaman pertama yang berkesan positif bagi anak. Jika perlu, sebelum mengajak anak, kita bisa berkenalan langsung dengan petugas bank dan meminta mereka untuk bekerjasama dengan baik ketika kita mengajak anak untuk menabung pertama kalinya.Untuk selanjunya, penyetoran ini bisa dilakukan misalnya satu bulan sekali.
Anak perlu diperkenalkan tentang bank syariah agar memahami prinsip utama dalam kehalalan penyimpanan uang dan menghindari riba yang diharamkan Allah.

Kedua, latih kemandirian si anak untuk menabung sendiri
Setelah tahap perkenalan, selanjutnya latihlah anak melakukan sendiri transaksi perbankannya mulai dari mengisi slip, melakukan penyetoran/penarikan hingga berhadapan dengan petugas bank. Dalam kehidupan selanjutnya di masa dewasa kelak, banyak hal yang harus dilakukan anak yang berhubungan dengan pendanaan, agunan, pinjaman dan sebagainya. Langkah ini penting untuk membangun keyakinan dan rasa percaya diri anak.

Ketiga, meminta buku tabungan dan menolak kartu ATM
Beberapa bank kadang memberikan sistem laporan bulanan. Sebaiknya kita memilih buku tabungan untuk memantau pertambahan jumlah tabungan anak yang juga bisa dilihat oleh anak kita. Untuk tahap awal, anak tidak perlu diperkenalkan dengan kartu ATM terlebih dahulu. Memiliki kartu ATM membuat anak-anak bisa melakukan transaksi tanpa mengetahui asal uangnya. Kartu ATM juga membuat tabungan anak mudah diambil dan mereka bisa dengan mudah mengurasnya. Selain itu kartu ATM bisa merusak kebiasaaan menabung yang sedang coba kita tanamkan.Pengenalan kartu ATM bisa dilakukan ketika anak sudah beranjak remaja dan punya pengendalian yang lebih baik.

Keempat, menabung dari uang selain penyisihan uang saku yang didapat anak
Ketika berkunjung ke rumah keluarga besar, saat momen hari raya, berulang tahun, mendapatkan hadiah saat mengikuti perlombaan, seringkali anak memperoleh uangtambahan. Jika jumlahnya besar, anjurkan anak untuk menyimpan separuhnya di bank dan mereka boleh menggunakan sisanya untuk keperluan mereka.

Jelaskan tentang menabung dan cara kerja bank setelah mereka mempraktekkannya secara langsung
Jelaskan tentang cara kerja bank, manfaat positif menabung di bank dan tujuan jangka pendek dan menengah dengan memiliki sejumlah tabungan. Selain tentunya faktor keamanan menyimpan uang di bank daripada di rumah.
Jika anak telah terbiasa menabung di bank dan telah memilik pemahanam yang semakin baik, kita boleh memberitahu tentang adanya perbedaan bank syariah dan konvensional termasuk layanan yang bisa diberikan oleh bank misalnya pinjaman, agunan, kartu kredit, kartu debit hingga asuransi.

Keenam, terus semangati anak dan beri hadiah jika tabungannya telah mencapai jumlah tertentu yang disepakati
Anak perlu dibina untuk memiliki kebiasaan menabung seumur hidup. Tunjukkan pentingnya memiliki sejumlah uang yang bisa dimanfaatkan jika anak menginginkan sebuah barang atau menginginkan sebuah pencapaian tertentu misalnya untuk liburan, membeli sepeda baru, mengambil kursus, membelikan hadiah untuk keluarga dan sebagainya.

Dengan menanamkan kebiasaan menabung sejak dini, anak belajar bahwa untuk mencapai sesuatu, diperlukan kesabaran dan kerja keras. Anak juga tidak sembarangan menghabiskan uang yang diperolehnya. Anak akan memiliki penghargaan yang lebih baik terhadap dirinya, orangtua dan keluarganya, juga pencapaiannya dari kedisplinan, konsistensi dan kesabaran menabung. Dengan semua kebiasaan ini, anak diharapkan siap berhadapan dengan kehidupan nyata yang berhubungan dengan pengelolaan uang di kemudian hari.
Dan yang paling utama, ajarkan anak untuk selalu bersyukur dengan semua yang diperolehnya dan jangan lupa mengingatkannya untuk selalu bersedekah dan berbagi kepada sesama.

Sebagian sumber tulisan diambil dari : Buku “ Making Allowance” – Lermitte, Merritt

Penulis: Risa Mutia & Riawani Elyta

Editor: Yeni Mulati Ahmad

8047

6 Trik Agar Anak Melek Finansial

8047

Uang bukan segalanya, namun kekurangan uang bisa menjadi akar permasalahan dan konflik dari banyak hal. Ketika kita dikaruniai anak, secara otomatis kita juga diberi tanggung jawab untuk mengasuh anak tersebut untuk menjadi manusia yang baik. Mendidik anak adalah sebuah proses yang tidak bisa diulang dengan pertaruhan antara kegagalan dan keberhasilan. Salah satu pendidikan yang seyogyanya diberikan kepada anak adalah pendidikan kecerdasan finansial. Tujuan jangka panjang dari pendidikan ini adalah agar anak bisa mengembangkan keterampilan mengelola uang yang mantap dan positif sehingga di kemudian hari anak tidak memiliki ketergantungan finansial terhadap orangtuanya, memperkecil konflik keluarga akibat kekurangan uang, menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap diri dan keluarganya kelak  serta bisa berkontribusi positif sebesar-besarnya untuk kemaslahatan umat lewat sedekah tanpa batas.  Kesuksesan secara materi memang bukanlah tolak ukur keberhasilan seseorang, namun memiliki keluasan rejeki agar bisa berbagi sebanyak mungkin adalah salah satu bentuk  keberhasilan pendidikan terhadap seorang anak.

Tulisan ini akan dibagi dalam beberapa bagian.  Bagian pertama meliputi pengenalan dasar pengelolaan finansial  lewat penerapan uang saku.

UANG SAKU – PENGELOLAAN DASAR UANG

Ketika anak menginjak usia lima atau enam tahun, konsep uang saku sudah bisa diperkenalkan. Umumnya jika anak telah tahu fungsi uang sebagai alat pertukaran dan telah tahu membedakan nilai nominal uang, kita sudah boleh menerapkan pemberian uang saku. Berikut beberapa prinsip yang bisa diterapkan daam pemberian uang saku:

  1. Buat perjanjian antara orang tua dan anak

Sebelum anak menerima uang saku, buat perjanjian dengan anak tentang penggunaan uang saku yang meliputi tiga hal peruntukan ; untuk dibelikan barang atau makanan/minuman (jajan)  yang dibutuhkannya, untuk ditabung dan untuk disedekahkan

Termasuk di sini mendiskusikan besarnya uang saku yang bisa diterima sang anak, waktu pemberian uang saku(harian atau mingguan) dan jumlah uangnya.

  1. Bersikap tegas dan konsisten

Jika sang anak telah menghabiskan uang sakunya sebelum waktunya, tetaplah konsisten untuk tidak memberikan uang tambahan. Jika anak berpikir dia akan memperoleh tambahan uang begitu uang sakunya habis, maka dia tak akan pernah belajar mengelola uang saku.

  1. Jangan mengaitkan uang saku dengan hukuman atau pencapaian/prestasi

Seorang anak memperoleh uang saku karena dia adalah bagian dari keluarga dan tidak ada hubungannya dengan prestasi ataupun perbuatan buruk yang mengakibatkan hukuman baginya.

  1. Menjadikan menabung sebagai bagian dari perjanjian uang saku

Kebiasaan menabung seumur hidup adalah proses yang harus dimulai sedini mungkin. Ajarkan juga bahwa jika sang anak menginginkan uang maka menabung adalah salah satu cara terbaik untuk mencapai hal tersebut. Berikan dompet dan celengan untuk membantunya menyimpan uang. Mulanya sahabat Sakinah bisa mencatatkan jumlah tabungan tersebut di depan anak dan seiring pertambahan usia, anak akan bisa mencatat sendiri jumlah tabungannya. Sebaiknya ajarkan anak anda bersabar untuk menabung pertama kalinya tanpa tergoda keinginan untuk mengambilnya. Misalnya selama tiga bulan, lalu tunjukkan kepadanya jumah tabungannya dan berikan motivasi bahwa jika menabung lebih lama lagi, maka dia bisa memiliki tabungan yang lebih banyak. Tentunya semakin bertambahnya usia, pemahaman tentang penggunaan tabungan untuk hal – hal yang positif juga harus ditanamkan.

  1. Menetapkan persentase pembagian uang saku

Ajari anak kita untuk membagi uang sakunya. Biasanya mengikuti pola yang diterapkan oleh orangtuanya. Misalnya 10% untuk sedekah, 30% untuk tabungan dan sisanya, 60% untuk memenuhi kebutuhan sang anak.

Khusus untuk sedekah, ajak anak memberikan sendiri sedekahnya untuk mengembangkan kebiasaan berbagi sedini mungkin dan mengajarkan nilai spiritual bahwa harta yang abadi adalah sedekah kita. Termasuk di sini menanamkan kebiasaan bersyukur terhadap kelebihan yang diberikan Alah kepada kita. Nilai tambahan dari penanaman nilai ini adalah kecerdasan spiritual, sosial dan intrapersonal yang terasah. Kebiasaan berbagi ini juga bisa dikembangkan dengan mengajari anak misalnya dengan mentraktir atau membelikan hadiah untuk teman atau anggota keluarga yang lain.

  1. Memberikan selamat dan terus memotivasi anak untuk terus menerapkan kebiasaan baik, boleh juga dengan memberikan hadiah kecil misalnya membuatkan makanan kesukaannya atau mengajaknya berjalan-jalan atau mentraktirnya.

Semua hal di atas tentu memerlukan kesabaran dalam menjalankannya. Namun tujuan jangka panjang yang diperoleh dari semua usaha itu tentu akan membuat kita selalu termotivasi untuk memberikan pendidikan finansial terbaik untuk anak-anak kita. Dengan demikian akan membentuk karakter positif pada anak yaitu memiliki kesadaran dan tanggung jawab finansial yang kokoh dan mantap sejak dini.

Sebagian sumber tulisan diambil dari : Buku “ Making Allowance” – Lermitte, Merritt

Penulis: Risa Mutia & Riawani Elyta

Editor: Yeni Mulati Ahmad & Tim SSC

ARTIKEL-ARTIKEL PENDIDIKAN ANAK SILAKAN BACA DI SINI!

Do'a Orang Tua

Jangan Jadi Orang Tua Durhaka!

Do'a Orang TuaSuatu hari, saya membaca tulisan di sebuah blog yang bunyinya kira-kira begini :

Selama ini kita tahu bahwa Malin Kundang adalah anak durhaka, bagaimana kalau ternyata ada hal lain yang tidak kita ketahui, atau jika seandainya kedurhakaan Malin Kundang sebenarnya adalah disebabkan perbuatan orang tuanya?

Tulisan ini menyiratkan bahwa tak hanya anak-anak yang bisa menjadi durhaka, tetapi orang tua juga bisa menjadi orang tua yang “durhaka” jika mengabaikan hak dan kewajiban kepada anak-anaknya. Padahal, setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban di yaumul akhir kelak, termasuk pertanggungjawaban kita dalam memenuhi hak dan menjalankan kewajiban kita terhadap anak-anak.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).

Berikut adalah beberapa kewajiban yang harus kita lakukan sebagai orang tua terhadap anak-anak kita:

1. Memberi Nama yang Baik
Nama adalah salah satu tempat kita menitipkan doa. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk memberi nama yang baik kepada anak-anaknya, dengan harapan, sang anak akan memiliki akhlak dan budi pekerti seindah namanya.
Dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari qiyamat dengan namamu dan nama ayahmu, maka baguskanlah nama kalian”. [HR. Abu Dawud]

2. Menyusui
Menjadi kewajiban seorang ibu untuk menyusui anaknya sejak baru dilahirkan hingga usianya genap dua tahun. Air susu ibu adalah makanan pertama terbaik untuk bayi yang dapat meningkatkan imunitas juga mempererat ikatan antara sang anak dengan ibunya.
Kewajiban menyusui ini juga tertera di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 233 yang artinya:
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 233).

3. Memberi Nafkah
Di dalam surat Al Baqarah di atas juga tersirat kewajiban sang ayah, yaitu memberi nafkah kepada keluarganya. Sudah menjadi tanggung jawab ayah selaku kepala keluarga untuk mencukupi kebutuhan keluarganya termasuk anak-anaknya. Bahkan bagi seorang kepala keluarga, nafkah yang diberikan kepada keluarganya lebih besar nilainya dibandingkan uang yang diberikan kepada fakir miskin ataupun untuk memerdekakan budak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Satu dinar kamu infaqkan fii sabiilillah, satu dinar kamu pergunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya ialah yang kamu belanjakan untuk keluargamu”. [HR. Muslim]

4. Menyuruh Anak-anak Mendirikan Sholat
Sholat adalah tiang agama. Oleh karenanya, perintah sholat harus diajarkan dan ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya sedini mungkin. Terkait kewajiban akan perintah sholat ini, Allah swt berfirman yang artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bershabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezqi kepadamu, Kamilah yang memberi rezqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertaqwa.” [QS. Thaahaa : 132].

Selain itu, orang tua juga berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan pengetahuan agama yang baik dan benar, serta akhlak dan budi pekerti mulia. Orang tua hendaknya menjadi madrasah pertama bagi anak-anak dalam rangka mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi islam yang beraqidah kokoh dan bertakwa.

5. Mencarikan Jodoh Saat Anak Dewasa
Pernikahan adalah penyempurna separuh agama. Bagi orang tua yang telah memiliki anak yang sudah dewasa, sudah selayaknya mencarikan jodoh yang baik untuk anak-anaknya, dengan harapan, sang anak kelak dapat membangun rumah tangga yang samara dan meneruskan amanah untuk mendidik generasi yang berkualitas.

Allah swt berfirman: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. An-Nuur : 32]

6. Mendoakan Anak-Anaknya
Terakhir, orang tua wajib mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya. Boleh jadi di masa kecilnya seorang anak berperilaku bandel dan tidak penurut, tetapi berkat doa orang tua dan tidak putus asa dalam mendidik anak-anak, insya Allah kelak sang anak akan berubah menjadi anak yang sholeh dan penyejuk hati untuk keluarga.
Ini adalah salah satu doa bermohon kebaikan bagi keluarga:

Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama…

 

Artinya: Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. [QS. Al-Furqaan : 74]
Referensi :

http://salampathokan.blogspot.com

http://muslim.or.id

https://www.islampos.com

Penulis
Riawani Elyta

2075

Mendidik Anak Tanpa Marah-Marah, mungkinkah?

2075

Salah satu tantangan berat bagi orang tua, adalah bagaimana mendidik anak-anak di rumah dalam suasana yang selalu kondusif, tenang dan bebas acara marah-marah. Bagi orang tua yang berkarakter lembut dan tak gampang emosi, ataupun memiliki anak yang anteng dan penurut, mungkin hal ini tidak terlalu sulit untuk diwujudkan. Tetapi, yang lebih sering terjadi adalah hal sebaliknya. Orang tua yang mudah tersulut emosi atas kelakuan anak ditambah faktor lelah bekerja, pikiran mumet oleh persoalan, harapannya terhadap si anak tidak tercapai, dan sebagainya, sementara si anak cenderung suka membantah, kritis bahkan melawan.

Nah, jika kita termasuk dalam kategori kondisi yang kedua, bagaimana caranya supaya kita dapat memperbaiki keadaan dan tidak lagi melibatkan emosi (kemarahan) yang berlebihan saat mendidik anak-anak? Berikut beberapa kiatnya :

1. Menjaga diri untuk tetap tenang
Emosi atau kemarahan gampang tersulut jika diri kita sedang berada dalam kondisi negatif. Oleh karenanya, tenangkan diri terlebih dahulu sebelum menghadapi anak-anak. Kalau perlu tarik napas dalam-dalam dan istigfar di dalam hati, minta pertolongan Allah agar kita lebih mampu menahan diri dari telanjur melampiaskan kemarahan. Jika ada persoalan yang membebani pikiran, atau raga kita sedang kelelahan, ambil waktu bagi diri sendiri untuk mengatasi hal tersebut sampai kita siap menghadapi anak-anak dalam kondisi tenang.

2. Belajar untuk sabar dan ikhlas
Boleh jadi ini adalah poin terberat. Bukan hal mudah untuk menumbuhkan kesabaran yang optimal dan menjaga hati tetap ikhlas dalam kondisi dan situasi apapun. Namun ini jugalah yang menjadi penangkal paling manjur untuk meredam kemarahan. Dan untuk meraih keduanya, cara yang paling tepat adalah dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah, melakukan hal-hal yang diridhoiNya dan menjaga diri dari melakukan apa yang dilarang. Maka yakinlah, Allah juga akan mempermudah kita untuk membangun kesabaran dan keikhlasan kita termasuk dalam menghadapi dan mendidik anak-anak.
3. Tataplah mata anak-anak kita
Saat sang anak membantah atau melawan, dan kemarahan kita pun tersulut karenanya, cobalah sejenak menatap mata mereka. Dan biarkan mereka membalas tatapan kita atau sebaliknya akan menunduk atau memalingkan pandangan. Dalam apapun kondisinya, percayalah, mata anak-anak tetap akan menunjukkan sisi kebeningan hati, kepolosan dan rasa sayangnya kepada kita. Dan dengan menatapnya, perlahan-lahan emosi kita juga akan terkikis dan kitapun menyadari bahwa kemarahan bukanlah reaksi yang tepat terhadap perbuatan mereka. Jika perlu, barengi dengan senyum. Karena senyum juga membawa efek positif terhadap suasana hati, baik hati kita sendiri maupun orang yang kita hadapi.

4. Sampaikan isi hati kita
Jika anak-anak sudah memasuki usia sekolah, pra remaja atau remaja, jangan sungkan untuk mengatakan apa yang kita inginkan dan apa yang membuat kita marah, tentunya dengan penyampaian yang jelas serta tidak menggunakan kata-kata kasar atau mengintimidasi. Karena terkadang, anak-anak justru tidak mengerti bahwa perbuatan mereka sudah memancing kemarahan orang tua.

Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Maka sudah semestinya kita menjaga mereka sesuai perintah Allah dan menanamkan rasa cinta serta ketaatan mereka kepada Allah. Dan dalam melakukan tugas serta tanggung jawab tersebut, hendaklah kita melandasinya dengan rasa cinta pula kepada Allah dan semata-mata mengharapkan ridhoNya. Insya Allah, segala hambatan dan kesulitan akan lebih mudah kita hadapi dengan pertolongan Allah.

Penulis,
Riawani Elyta

saaaaaaaaaa

Awas, Jangan Asal Masuk Ke Pesantren!

saaaaaaaaaa

Memilih lembaga pendidikan bagi si buah hati, adalah salah satu prioritas bagi para orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya mendapat pendidikan terbaik. Dan untuk itu terdapat berbagai alternatif yang terkadang membingungkan. Contohnya saja saat harus memilih menyekolahkan anak di pesantren ataupun sekolah umum. Keduanya, pasti ada plus dan minus.
Jika orang tua ingin menyekolahkan anaknya di pesantren, berikut beberapa poin yang dapat  dipertimbangkan, yaitu:
1. Niat
Setiap orang tua tentu memiliki niat yang baik terhadap pendidikan anaknya. Namun tak ada salahnya untuk memeriksa ulang niat kita. Apakah karena memang menginginkan anak memperoleh pendidikan agama yang lebih baik di dalam lingkungan yang baik pula, atau justru karena ingin melepaskan sebagian tanggung jawab kita? Merasa bahwa dengan menyerahkan anak kepada pesantren maka tanggung jawab kita mendidik anak dalam hal agama pun telah selesai?
Perlu diingat, bahwa tugas utama mendidik anak ada pada orang tua. Terutama pendidikan agama, karakter dan akhlak mulia. Oleh karenanya, mari luruskan niat kita terlebih dulu sebelum memutuskan menyerahkan tanggung jawab itu kepada lembaga pendidikan.

2. Usia dan Kesiapan Anak
Dari sisi psikologi, anak di bawah usia 12 tahun membutuhkan lebih banyak waktu untuk bermain, bersenang-senang dan merasakan kedekatan dengan orang tuanya. Jadi disarankan untuk tidak buru-buru menyekolahkan anak di pesantren saat usianya masih di bawah 12 tahun, kecuali jika pesantren tersebut mudah dijangkau ataupun sang anak tetap diperkenankan pulang ke rumah pada waktu-waktu tertentu.

Kesiapan anak juga perlu menjadi perhatian. Meskipun sudah memasuki usia pra remaja dan remaja, tidak semua anak merasa siap untuk masuk pesantren. Tak sedikit pula yang mempersepsikan pesantren sebagai tempat “buangan”, bagi anak-anak yang bermasalah. Jadi, jika memang serius ingin menyekolahkan anak di pesantren, sejak awal perlu ditanamkan kepada anak tentang dunia pesantren yang sesungguhnya. Jika memungkinkan, anak bisa diajak berkunjung ke pesantren terdekat untuk merasakan atmosfir lingkungannya.

3. Informasi yang Akurat
Pelajari terlebih dulu informasi yang akurat juga detail tentang pesantren tujuan. Bagaimana komposisi pendidikan akademis dan agamisnya, lingkungannya, para pendidik dan santri lulusannya, sumber literasinya, juga ruang lingkup pengajarannya. Apakah pesantren berbasis modern atau salafi, dan sebagainya.

Bagi sahabat yang masih ragu, berikut beberapa poin plus yang dimiliki pesantren yaitu :
1. Pesantren menerapkan pendidikan IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional) dan SQ (kecerdasan spiritual) secara proporsional sehingga diharapkan para santri lulusannya tak hanya cerdas intelejensi tetapi juga memahami dan melaksanakan ajaran agama dengan kaffah serta mampu bersosialisasi dengan baik di tengah masyarakat
2. Ikatan persaudaraan di pesantren lebih kokoh karena para santri memiliki waktu interaksi dan komunikasi antar santri lebih panjang dibandingkan dengan sekolah umum
3. Lingkungan pesantren lebih terjaga dari kontaminasi pengaruh negatif seperti budaya hedonis, narkoba, tawuran, pergaulan bebas dan sebagainya.
4. Pesantren mengajarkan ilmu hidup yang berharga yaitu kemandirian dan rasa tanggung jawab.

Memilihkan lembaga pendidikan yang tepat bagi anak, sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua. Memang, tidak ada lembaga pendidikan yang bisa menjamin bahwa anak kita akan terbentuk menjadi seperti yang kita inginkan. Tetapi, dengan memilihkannya lembaga pendidikan yang mampu memberinya banyak bekal hidup seperti di pesantren, insya Allah bukan hal sulit untuk membentuk sebuah generasi penerus bangsa yang berkualitas, baik dari sisi pengetahuan, karakter, juga ketaatannya dalam menjalankan perintah-perintah Allah.

Referensi :
www.kompasiana.com
www.dmaarif.blogspot.co.id

Penulis,
Riawani Elyta

86_176

Kepada Anakku

86_176

Tanganku sibuk sepanjang hari..
Aku tak punya waktu luang
Bila kau ajak aku bermain, Kujawab “Ibu tak sempat, Nak !”
Aku mencuci baju, menjahit, memasak, semua untukmu.
Tapi bila Kau tunjukkan buku ceriteramu,
atau mengajakku bercanda,
Kujawab, “Sebentar, Sayang…”
Di malam hari kutidurkan kamu, kudengarkan doamu, kupadamkan lampu…..
Lalu ku berjingkat meninggalkanmu….
Kalau saja aku tinggal barang satu menit lagi…
Sebab hidup itu singkat, tahun-tahun bagai berlalu…
Bocah cilik tumbuh begitu cepat…
Kamu tak lagi berada di sisi Ibu…
Membisikan rahasia-rahasia kecilmu…
Buku-buku dongengmu entah kemana….
Tak ada lagi ajakan bermain…
Tak ada lagi cium selamat malam…
Tak kudengar lagi doamu…
Semua itu milik masa lalu…
Tanganku dahulu sibuk…sekarang diam…
Hari-hari terasa panjang membentang…
Kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu…
Menyambutmu hangat di sisiku…
Memberimu waktu dari hatiku….
Kita melakukan banyak kekeliruan dan kesalahan,
tapi kejahatan kita yang utama adalah mengabaikan anak, menyepelekan MATA AIR KEHIDUPAN.
Banyak kebutuhan kita dapat ditunda
tapi Anak TIDAK DAPAT MENUNGGU !!!
Kini saat tulang belulangnya dibentuk, darahnya dibuat, dan nalurinya dikembangkan….padanya kita tidak dapat menjawab “BESOK…” , sebab ia dijuluki “HARI INI”

GABRIELA MISTRAL
( Children Winner Of Nobel Prize Poetry )

Love__Mom_by_MooMyFire

Tipe Keluarga Ibrahim, Nuh, Firaun Atau Abu Lahab?

Love__Mom_by_MooMyFire

Di dalam Al-Quran, berbagai tipe keluarga telah dicontohkan. Sebagai manusia tinggal memilih, mau dijadikan seperti apa keluarga kita. Apakah seperti keluarga Ibrahim, keluarga Nabi Nuh, keluarga Fir’aun, atau keluarga Abu Lahab?

Keluarga Nabi Ibrahim adalah tipe keluarga ideal. Ayah, ibu, dan anak, semua tunduk, patuh, bertakwa kepada Allah SWT dengan keimanan yang sempurna. Sang ayah, adalah Rasulullah kekasih Allah, dan semua anaknya, Ishaq dan Ismail, juga menjadi nabi. Istri-istri Ibrahim, juga semulia-mulia wanita. Bayangkan, demi menjalankan perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim “tega” meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di sebuah padang pasir yang tandus. Hajar pun tidak mengeluh, karena dia tahu, itu semua adalah ujian keimanan dari Allah SWT. Ketika Ismail menangis meminta air, sementara persediaan air sudah habis, Hajar pun berlari-larian dari Bukit Shofa ke Bukit Marwa sebanyak tujuh kali untuk mencari air. Ternyata, mukzizat justru datang dari entakan kaki Ismail, dimana air mengucur menjadi telaga Zamzam.

Selain keluarga Ibrahim, dalam Al-Quran juga dicontohkan tipe keluarga Nuh. Nabi Nuh a.s. adalah nabiyullah yang tentu sangat shalih dan memiliki keimanan yang sangat kuat. Tetapi, Nabi Nuh ternyata memiliki istri dan anak-anak yang mendurhakainya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Allah membuat perumpamaan bagi orang yang ingkar: istri Nuh dan istri Luth, mereka adalah istri dua orang hamba di antara hamba-hamba Kami yang saleh. Tetapi mereka berkhianat (kepada suami-suaminya). Maka mereka tiada berdaya suatu apapun terhadap Allah. Kepada mereka dikatakan, ‘Masuklah kamu ke dalam neraka jahanam bersama orang yang masuk (ke dalamnya)’.” (QS. At-Tahrim: 10).

Lalu bagaimana dengan tipe ketiga? Yaitu keluarga Firaun. Jika pada keluarga Nabi Nuh, yang mendurhakai adalah istri, pada keluarga ini, yang beriman ternyata justru istri Firaun, yaitu Asiyah binti Muzahim. Ketika Firaun tahu keimanan istrinya, dia sangat murka, dan menyuruh orang-orangnya untuk menyiksa Asiyah. Dalam keadaan disiksa, Asiyah berdoa, “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (QS. At-Tahrim:11).

Keempat, tipe keluarga Abu Lahab. Ini tipe sempurna dalam masalah kekufuran. Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, sangat aktif memusuhi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Segala upaya mereka lakukan untuk mencelakai Rasulullah SAW. Mereka berdua pun diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai hamba yang akan masuk ke dalam neraka. “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS. Al-Lahab: 1-2).
Jadi, itulah empat tipe keluarga yang ada dalam Al-Quran. Tentu kita menginginkan tipe seperti keluarga Ibrahim, bukan? Tetapi, yang ideal terkadang sulit kita peroleh. Maka, jika sebagian dari kita ditakdirkan memiliki istri yang sulit diatur, tetaplah bersabar sebagaimana nabi Nuh. Meski sebagian anak-anaknya mengikuti istrinya, toh sebagian anak yang lain beriman sebagaimana ayahnya. Demikian juga, Asiyah, meskipun suaminya adalah pendurhaka nomor satu, dia tetap bertahan dalam keimanan, dan bahkan mendidik putra angkatnya, Musa yang kelak menjadi seorang nabi.
Mari hindari menjadi keluarga semacam Abu Lahab. Melihat pasangan tak bisa diharapkan, lalu putus asa dan ikut-ikutan menjadi durhaka. Na’udzubillah.

 

Afifah Afra: Penulis adalah CEO PT Indiva Media Kreasi dan Sekjen BPP Forum Lingkar Pena. Telah menulis lebih dari 50 judul buku. Silahkan kunjungi blognya CATATAN AFIFAH AFRA

pend-karakter

MEMUTUS MATA RANTAI KEKERASAN DI SEKOLAH

pend-karakter

Sumber gambar dari sini

Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh peristiwa meninggalnya, seorang siswa SMP yang diduga mengalami kelelahan saat mengikuti kegiatan MOS. Yang paling disesalkan kasus begini sebenarnya bukan kali ini saja terjadi, namun mengapa tak pernah bercermin dari kejadian masalalu. Padahal MENDIKBUD sudah ada pelarangan kegiatan MOS atau OSPEK yang mengandung unsur perpeloncoanpada tahun1999. Menurut Wikiedia perpeloncoan adalah praktik ritual dan aktivitas lain yang melibatkan pelecehan, penyiksaan, atau penghinaan saat proses penyambutan seseorang ke dalam suatu kelompok.

Pada awalnya MOS/OSPEK adalah ajang orientasi para siswa atau mahasiswa mengenal mereka senang, membuat mereka terkesan dan termotivasi berada dalam lingkungan sekolahnya yang baru. Namun pada pelaksanaannya yang kepanitiaan dipegang oleh para senior-seniornya yang entahdari mana mulanya aktivitas perpeloncoan dan pemberian tugas-tugas kepada para juniornya tidak masuk akal dan membebankan secara mental dan ekonomi itu terjadi dan mengakar sekarang. Para senior-seniornya yang juga masih berstatus pelajar atau mahasiswa terdakang tidak menjajaki dulu kondisi kesehatan para adik barunya sehingga tak pelak jatuhnya korban jiwa.

Data yang diperoleh dari berbagai sumber banyak kasus MOS/OSPEK yang di warnai perpeloncoan sehingga mengakibatkan kematian. Tahun  2003 Wahyu Hidayat dari IPDN masih di kampus yang sama tahun 2007, Cliff Mutu juga menambah daftar  panjang kasus kekerasan di kampus tersebut. Di tahun 2013 Fikri dari ITN,tahun lalu Amanda dan Roy Aditya Per­kasa, siswa baru di sebuah SMA Negeri di Pro­vinsi Jawa Ti­mur. Dan baru-baru ini Evan Chritoper Situmorang dari SMP Flora Bekasi.

Orang tua menitipkan anak-anaknya pada lembaga sekolah atau kampus agar anak-anak mereka dididik dengan pendidikan yang terbaik dan sekolah seyogyanya adalah tempat berkembangnya potensi, mental dan fisik anak sehingga para orang tua dengan susah payah mendaftarkan dan mencari biaya agar anak-anak mereka bisa bersekolah.Namun kenyataannya di sekolahanak-anak diperlakukan semena-mena dan jatuhnya korban jiwa seakan mengukuhkan nyawa anak kita tak lagi berharga di mata institusi pendidikan.

Kak Seto Mulyadi, pemerhati menegaskan agar kegiatan MOS/OSPEK yang memakan korban ini harus di stop dan dihentikan, karena alih-alih mengajarkan siswa-siswa me   ngenal lingkungan sekolah, kedisiplinan serta ketahanan mental dan ujian  fisik yang terlalu berat malah menimbulkan karakter negatif yang tumbuh seperti dendam, ketakutan dan trauma. Dari berbagai kasus yang terjadi seolah tak ada sangsi tegas dari pemerintah sehingga kegiatan ini terus berulang, seolah mata rantai yang tak bisa ditemukan ujungnya.

Pada akhirnya semua berharap ketuntasan kasus ini dengan sangsi hukum yang tegas, sesuai dengan undang-undang pendidikan yang mengatakan bahwa siswa dilindungi dari segala tindak kekerasan baik itu oleh kepala sekolah, guru maupun teman-temannya. Dibutuhkan empati, kerjasama yang baik dan solid antara lapisan masyarakat, seperti pemerintah, pihak pendidikan dan orang tua agar kasus semacam ini tidak terulang kembali dan generas kita anak tumbuh menjadi generasi yang unggul dan berprestasi. (fm)