Category Archives: Muhasabah

kebakaran hutan

Indonesia Darurat Asap, Mari Bantu Mereka!

kebakaran hutan“Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [Q.S. Ar-Rûm/30:41]

Telah memasuki bulan ketiga, beberapa provinsi di tanah air mengalami kabut asap sangat parah akibat pembakaran hutan. Yang terparah adalah di Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah khususnya Palangkaraya. Bahkan info terakhir menyebutkan, bahwa angka ISPU telah melewati angka 3000. Sementara batas tertinggi untuk level berbahaya adalah pada angka 300. Lantas, seperti apakah gerangan kondisi udara yang kini dihirup oleh saudara-saudara kita itu?

Tak cukup sampai di situ, beberapa kali berita menyedihkan turut menghiasi media cetak, media online dan layar kaca, tentang korban yang jatuh akibat dampak bencana ini. Mulai dari angka penderita ISPA yang telah melampaui angka ratusan ribu jiwa, hingga yang merenggut korban nyawa dari kalangan anak-anak. Selain para lansia dan anak-anak, masih ada satu golongan lagi yang mengalami ancaman kesehatan terbesar, siapa lagi kalau bukan para ibu hamil. Ya. Udara dengan kadar pencemaran sangat tinggi tak hanya membahayakan kesehatan sang ibu, tetapi juga kesehatan janin. Kadar udara bersih yang mungkin hanya tersisa kurang dari lima persen, tak kurang berbahayanya dengan kekurangan oksigen. Dan janin yang kekurangan oksigen, ataupun janin yang ibunya terpaksa menghirup udara pada level berbahaya, sangat beresiko terhadap gangguan syaraf, cacat pertumbuhan hingga kehilangan nyawa. Astagfirullahal azim.

Mungkin, kita juga turut merasa prihatin bercampur gerah, akan nasib saudara-saudara kita dan lambatnya solusi terhadap kasus tersebut. Kegeraman pada pemerintah pun mencuat di mana-mana. Sementara itu, para petugas dan relawan terus berjibaku memadamkan api pembakaran hutan dari terus membesar.
Sebagai warga Indonesia dan sesama muslim, sudah sepantasnya kita menjadi bagian dari solusi atas bencana ini. Mari kita tunjukkan kepedulian dan tindakan nyata untuk meringankan beban saudara-saudara kita di sana. Berikut 5 (lima) cara yang bisa kita lakukan:

1. Ringankan lisan dan hati kita untuk berdoa dengan khusyu, meminta pertolonganNya untuk menurunkan hujan dan menyingkirkan asap tebal yang telah berbulan-bulan menaungi mereka, serta mengembalikan kehangatan sinar matahari yang telah lama mereka rindukan. Memang, jika kita bercermin dari ayat di atas, boleh jadi, bencana ini adalah bentuk “edukasi” Sang Maha Pencipta kepada para perusak alam agar menyadari akibat dari perbuatan. Namun, sungguh tak ada salahnya kita mendoakan curahan ampunan dan rahmatNya kepada saudara-saudara kita yang merasakan akibat nyata dari perbuatan tersebut.

2. Ringankan rejeki yang kita peroleh untuk disumbangkan pada mereka, kita salurkan pada lembaga-lembaga yang amanah dan benar-benar menggunakannya secara tepat dan solutif. Misalnya, untuk pengadaan masker N95, tabung oksigen dan obat-obatan, untuk membiayai tim relawan dan swadaya masyarakat yang berupaya memadamkan api, dan sebagainya.

3. Ringankan jari kita untuk membagikan berita yang akurat dan situasi terkini di daerah-daerah bencana lewat media sosial. Bagikan beserta niat dan status untuk menghimbau dan menggugah, bukan diiringi caci maki dan umpatan kepada pihak yang seharusnya bertanggung jawab. Meski banyak yang meragukan usaha viral ini, setidaknya ini adalah upaya kita untuk menggalang kesadaran bersama akan apa yang sesungguhnya terjadi dan bersama-sama pula menggugah kesadaran kita akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

4. Ringankan kemauan kita untuk belajar lebih banyak akan hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga lingkungan, memperbaiki kerusakan lingkungan dan mencegah terjadinya bencana akibat kerusakan lingkungan di masa datang. Barangkali saja, dari pembelajaran itu kita dapat menemukan cara solutif untuk membantu mengatasi persoalan yang menimpa saudara-saudara kita di wilayah bencana.

Selain itu, meski kita tidak berada di wilayah tersebut, bukan berarti lingkungan kita benar-benar terbebas dari ancaman kerusakan dan pencemaran. Lihatlah sekeliling kita, pada sungai yang menjadi tempat pembuangan sampah, pada jalan raya yang mengakumulasi polusi udara dan kendaraan, pada ruang hijau yang kian terpinggir, tersingkirkan oleh gedung-gedung pencakar langit, pada udara yang kian terasa panas dan kering, pada sumber air bersih yang kian sulit diperoleh, tidakkah semua itu menunjukkan bahwa sesungguhnya kondisi alam kita saat ini, hanya menunggu waktu saja untuk kelak mengancam kualitas kehidupan? Tidakkah kita menyadari bahwa sebesar apapun materi yang kita kumpulkan hari ini, tak akan mampu membeli udara dan air bersih saat semua itu sudah tak lagi ada?

Penulis:
Riawani Elyta

Sumber foto: www.rmoljakarta.com

86_176

Kepada Anakku

86_176

Tanganku sibuk sepanjang hari..
Aku tak punya waktu luang
Bila kau ajak aku bermain, Kujawab “Ibu tak sempat, Nak !”
Aku mencuci baju, menjahit, memasak, semua untukmu.
Tapi bila Kau tunjukkan buku ceriteramu,
atau mengajakku bercanda,
Kujawab, “Sebentar, Sayang…”
Di malam hari kutidurkan kamu, kudengarkan doamu, kupadamkan lampu…..
Lalu ku berjingkat meninggalkanmu….
Kalau saja aku tinggal barang satu menit lagi…
Sebab hidup itu singkat, tahun-tahun bagai berlalu…
Bocah cilik tumbuh begitu cepat…
Kamu tak lagi berada di sisi Ibu…
Membisikan rahasia-rahasia kecilmu…
Buku-buku dongengmu entah kemana….
Tak ada lagi ajakan bermain…
Tak ada lagi cium selamat malam…
Tak kudengar lagi doamu…
Semua itu milik masa lalu…
Tanganku dahulu sibuk…sekarang diam…
Hari-hari terasa panjang membentang…
Kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu…
Menyambutmu hangat di sisiku…
Memberimu waktu dari hatiku….
Kita melakukan banyak kekeliruan dan kesalahan,
tapi kejahatan kita yang utama adalah mengabaikan anak, menyepelekan MATA AIR KEHIDUPAN.
Banyak kebutuhan kita dapat ditunda
tapi Anak TIDAK DAPAT MENUNGGU !!!
Kini saat tulang belulangnya dibentuk, darahnya dibuat, dan nalurinya dikembangkan….padanya kita tidak dapat menjawab “BESOK…” , sebab ia dijuluki “HARI INI”

GABRIELA MISTRAL
( Children Winner Of Nobel Prize Poetry )

Love__Mom_by_MooMyFire

Tipe Keluarga Ibrahim, Nuh, Firaun Atau Abu Lahab?

Love__Mom_by_MooMyFire

Di dalam Al-Quran, berbagai tipe keluarga telah dicontohkan. Sebagai manusia tinggal memilih, mau dijadikan seperti apa keluarga kita. Apakah seperti keluarga Ibrahim, keluarga Nabi Nuh, keluarga Fir’aun, atau keluarga Abu Lahab?

Keluarga Nabi Ibrahim adalah tipe keluarga ideal. Ayah, ibu, dan anak, semua tunduk, patuh, bertakwa kepada Allah SWT dengan keimanan yang sempurna. Sang ayah, adalah Rasulullah kekasih Allah, dan semua anaknya, Ishaq dan Ismail, juga menjadi nabi. Istri-istri Ibrahim, juga semulia-mulia wanita. Bayangkan, demi menjalankan perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim “tega” meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di sebuah padang pasir yang tandus. Hajar pun tidak mengeluh, karena dia tahu, itu semua adalah ujian keimanan dari Allah SWT. Ketika Ismail menangis meminta air, sementara persediaan air sudah habis, Hajar pun berlari-larian dari Bukit Shofa ke Bukit Marwa sebanyak tujuh kali untuk mencari air. Ternyata, mukzizat justru datang dari entakan kaki Ismail, dimana air mengucur menjadi telaga Zamzam.

Selain keluarga Ibrahim, dalam Al-Quran juga dicontohkan tipe keluarga Nuh. Nabi Nuh a.s. adalah nabiyullah yang tentu sangat shalih dan memiliki keimanan yang sangat kuat. Tetapi, Nabi Nuh ternyata memiliki istri dan anak-anak yang mendurhakainya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Allah membuat perumpamaan bagi orang yang ingkar: istri Nuh dan istri Luth, mereka adalah istri dua orang hamba di antara hamba-hamba Kami yang saleh. Tetapi mereka berkhianat (kepada suami-suaminya). Maka mereka tiada berdaya suatu apapun terhadap Allah. Kepada mereka dikatakan, ‘Masuklah kamu ke dalam neraka jahanam bersama orang yang masuk (ke dalamnya)’.” (QS. At-Tahrim: 10).

Lalu bagaimana dengan tipe ketiga? Yaitu keluarga Firaun. Jika pada keluarga Nabi Nuh, yang mendurhakai adalah istri, pada keluarga ini, yang beriman ternyata justru istri Firaun, yaitu Asiyah binti Muzahim. Ketika Firaun tahu keimanan istrinya, dia sangat murka, dan menyuruh orang-orangnya untuk menyiksa Asiyah. Dalam keadaan disiksa, Asiyah berdoa, “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (QS. At-Tahrim:11).

Keempat, tipe keluarga Abu Lahab. Ini tipe sempurna dalam masalah kekufuran. Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, sangat aktif memusuhi Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Segala upaya mereka lakukan untuk mencelakai Rasulullah SAW. Mereka berdua pun diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai hamba yang akan masuk ke dalam neraka. “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” (QS. Al-Lahab: 1-2).
Jadi, itulah empat tipe keluarga yang ada dalam Al-Quran. Tentu kita menginginkan tipe seperti keluarga Ibrahim, bukan? Tetapi, yang ideal terkadang sulit kita peroleh. Maka, jika sebagian dari kita ditakdirkan memiliki istri yang sulit diatur, tetaplah bersabar sebagaimana nabi Nuh. Meski sebagian anak-anaknya mengikuti istrinya, toh sebagian anak yang lain beriman sebagaimana ayahnya. Demikian juga, Asiyah, meskipun suaminya adalah pendurhaka nomor satu, dia tetap bertahan dalam keimanan, dan bahkan mendidik putra angkatnya, Musa yang kelak menjadi seorang nabi.
Mari hindari menjadi keluarga semacam Abu Lahab. Melihat pasangan tak bisa diharapkan, lalu putus asa dan ikut-ikutan menjadi durhaka. Na’udzubillah.

 

Afifah Afra: Penulis adalah CEO PT Indiva Media Kreasi dan Sekjen BPP Forum Lingkar Pena. Telah menulis lebih dari 50 judul buku. Silahkan kunjungi blognya CATATAN AFIFAH AFRA

orang tua

Menjadi Orang Tua yang Bijak

orang tua

sumber gambar dari sini

Memperhatikan anak-anak saat tidur adalah yang sangat mengharukan, betapa tidak melihat wajah yang mereka begitu lugu dan polos juga tak berdaya. Saat itu hilanglah perasaan marah dan kesal atas segala kelakuan dan tingkah mereka yang menjengkelkan, berganti kasih sayang yang dalam dan keinginan untuk selalu melindungi mereka. Itulah sikap para orang tua yang menjadikan anak-anak mereka adalah anugerah terindah dari Allah SWT, mereka menjaganya melebihi penjagaan terhadap diri mereka sendiri dan orang tua berusaha semaksimal mungkin memperbaiki pola asuh mereka, agar anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan karena hakekatnya setiap orang tua merupakan manusia biasa yang tak selamanya selalu benar dalam ucapan maupun tindakan. Berikut ini tips menjadi orang tua yang bijak

1. Berpikir positif

Kenapa harus selalu berfikir positif? Karena orang tua selalu dituntut untuk menyikapi segala hal yang menyangkut kehidupan sang anak. Tuntun dan berikanlah anak ruang untuk berpikir dan mengambil keputusan yang baik dan benar, terutama dalam hal pendidikan dan kehidupan sosialnya.

2. Memahami kondisi

Sosok orang tua yang bijak tentu harus tahu kapan waktunya untuk serius dan bercanda, mejadi sahabat atau terkadng menjadi penasehat anak, karena peranan orang tua sangatlah dibutuhkan untuk menjadi penasehat yang baik dengan pemikiran yang matang, bukan sebagai penentu sebuah keputusan.

3. Cerminkan kasih sayang

Kasih sayang adalah “modal” utama bagi sang anak untuk menjadi kuat, tabah dan tak merasa sendiri dalam menjalani hidup. Karena sikap inijustru akan membentuk emosi yang positif akan membantu anak untuk tetap ulet menghadapi semua tantangan dalam hidup dan di masa-masa sulit mereka.

4. Kenali pribadi anak

Banyak dari orang tua yang seakan-akan tahu benar bagaimana cara mencukupi semua kebutuhan sang anak dan membesarkannya. Namun pada kenyataannya tak semua orang tua dapat dengan mudah mengenali kepribadian sang anak. oleh karenanya pahami dan selamilah karakter masing-masing anak sehingga Anda tahu kapan dan bagaimana caranya melakukan pendekatan dan bersikap kepada anak.

5. Meminta maaf saat berbuat salah

Belajarlah dari pengalaman saat Anda pernah menjadi seorang anak di masa lalu dimana mungkin Anda juga pernah melakukan apa yang dilakukan saat ini oleh anak Anda. Berbuat salah adalah hal yang manusiawi, wajar dan bisa saja terjadi kepada siapapun orangnya tanpa memandang usia. Jika Anda merasa memiliki salah terhadap anak, meminta maaflah. Meminta maaf bukanlah hal yang memalukan yang dapat mencederai harga diri yang dimiliki oleh orang tua, namun meminta maaf yang tulus justru akan membuat Anda menjadi orang tua yang sempurna dimata sang anak. (fm)

Ijab

Jangan Ragu Untuk Menikah

Ijab

Sumber gambar disini

           

Keraguan dan ketakutan untuk segera melangkang ke jenjang pernikahan, tentu setiap pasangan pernah merasakannya. Terutama bagi kaum pria banyak tuntutan yang harus ia miliki sebelum memutuskan naik ke pelaminan, seperti tabungan yang cukup serta penghasilan yang tetap. Dengan dua hal itu saja seorang pria dikatakan telah “siap dan layak” untuk menikah. Namun apakah sebuah pernikahan harus selalu diorientasikan pada kemapanan secara ekonomi?

Seorang pemerhati keluarga pra dan pacsa nikah, mengatakan sebenarnya modal utama untuk menikah bukan kondisi keuangan saat ini, melainkan mental dan keseriusan yang kuat dalam diri seorang  pria untuk menjemput rezeki dan bertanggung jawab menafkahi. Karena percuma saja seorang pria telah memiliki penghasilan tetap pun tidak menjamin, jika pria tersebut tidak memiliki mental bertanggung jawab dan menafkahi maka istri dan anak-anaknya pun akan terlantar secara ekonomi.

Untuk itu sebaiknya belum memiliki tabungan dan penghasilan tetap jangan menjadi alasan untuk menunda menikah, tetapi yang perlu dibenahi adalah sikap mental untuk menjemput rezeki dan mental untuk menafkahi. Bila kedua hal ini sudah siap dijalani maka jangan ragu untuk menikah karena hal itu telah menunjukkan seorang pria siap untuk bertanggung jawab secara ekonomi sebagai seorang kepala keluarga. Serta jangan berkecil hati karena Allah SWT akan senantiasa menolong, seperti tertera dalam hadist berikut.

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)[1]

muhasabah

SEBUAH RENUNGAN DI ZAMAN PENUH FITNAH

muhasabah“Cukuplah seseorang disebut pendusta bila ia menyampaikan seluruh apa yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Imam Malik menjelaskan pengertian hadist tersebut dengan penjelasan sebagai berikut: ”Ketahuilah, sesungguhnya seseorang tidak akan selamat jika dia menceritakan setiap yang didengarnya. Dan dia tidak layak menjadi seorang imam, sedangkan dia selalu menceritakan setiap yang didengarnya.”

Terkadang kita sering bersikap sok tahu, menceritakan segala yang kita dengar, padahal informasi itu masih sepotong-sepotong. Seringkali kita juga ‘ember’ menceritakan info tersebut, padahal saatnya tidak tepat, orang yang kita beri tahu juga tidak tepat.

Contohnya begini: suatu hari, kita mendengar dokter mengatakan, bahwa harapan hidup si A tinggal 50%. Kemudian, kita dengan bangga mengatakan pada si A, “Hei, tadi dokter bilang, harapan hidup kamu itu tinggal 50% lho!”

Atau contoh lain. Kita mendengar bos kita mengeluhkan pekerjaan si B kepada manajer si B. Tanpa ba-bi-bu, kita mendatangi si B dan berkata, “Tuh, bosmu komplain kepadamu. Kamu dibilang bla-bla-bla.”

Tak selalu yang kita dengar itu sebuah kebaikan. Kalaupun sebuah kebaikan, juga belum tentu baik untuk orang lain.

Hadist tersebut sebenarnya juga berlaku untuk socmed. Tak semua status atau broadcasting yang kita temui bisa kita share ke teman-teman tanpa terlebih dahulu memprosesnya. Apakah sekiranya status itu benar atau salah. Kalaupun benar, apakah ada manfaatnya. Kalau ada manfaatnya, kira-kira sudah tepat atau belum waktunya untuk kita share saat ini.

Sekadar mengatakan semua yg diketahui saja bisa masuk pendusta. Apalagi yang ditambah-tambahi dg prasangka. Hati-hati, jangan sampai kita disebut sebagai si pendusta, hanya karena kita selalu mengatakan apa yang kita dengar.

Ditulis oleh: Afifah Afra a.k.a Yeni Mulati