Category Archives: Kesejahteraan

Belanja Cerdas Ala Konsumen Cerdas

pasarKegiatan belanja jelas tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan pastinya kegiatan tersebut membutuhkan sejumlah dana. Bagaimana mengelola dana yang baik bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan belanja yang cerdas. Selain bisa mendatangkan keuntungan finansial jangka pendek hingga panjang, kecerdasan dalam berbelanja juga mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan secara mental dan psikologis. Continue reading

Room1

5 Tips Agar Rumah Terasa Lapang

Room1

Salah satu faktor yang dapat meningkatkan kenyamanan penghuni rumah adalah memiliki ruang yang berukuran cukup luas. Namun jika Sahabat Sakinah memiliki rumah dengan kapasitas yang sempit, ada beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk membuat ruang dalam rumah terasa luas dan lapang. Berikut diantaranya :

  1. Gunakan cat dinding berwarna terang

Warna-warna terang pada cat dinding seperti warna putih, krem dan warna pastel dapat memberi kesan ruang yang terasa lebih luas dan lapang. Jika ingin menggunakan kombinasi warna, gunakan warna bergradasi, misalnya warna krem dan coklat, hijau dan hijau muda dan lain-lain.

 

  1. Letakkan cermin besar

Cermin dapat memberi efek pantulan terhadap ruangan sehingga membuat ruang terasa luas. Gantungkan cermin berbentuk persegi panjang berukuran besar pada salah satu dinding. Cermin juga dapat sekaligus berfungsi untuk mempercantik ruanganjika dikombinasikan dengan perabotan lain dan penataan yang tepat.

 

  1. Pilih perabot minimalis, multifungsi dan efektif

Pilihan perabot sangat menentukan dalam penataan interior. Untuk rumah dengan kapasitas sempit, perabot berjenis minimalis dan multifungsi  adalah yang paling cocok karena dapat membuat ruang terasa lapang. Misalnya saja, set kursi tamu yang memiliki laci sehingga dapat digunakan untuk menyimpan koran dan majalah. Hindari menggunakan perabot yang berukuran besar dan memerlukan ruang besar. Daripada menggunakan meja berbentuk lingkaran misalnya, lebih baik menggunakan meja berbentuk persegi panjang atau oval untuk menghemat kapasitas. Buku-buku bisa disimpan dalam lemari tempel pada dinding atau lemari gantung yang lebih menghemat tempat daripada lemari buku biasa.

 

  1. Gunakan tirai berbahan tipis

Pilihlah tirai dari bahan tipis atau transparan sebagai pelapis. Contohnya dari jenis vitrase. Gunakan juga warna netral atau cerah. Tirai atau gorden dari bahan tebal dan berwarna solid akan menciptakan kesan ruang yang “berat” dan terasa sempit sehingga hanya cocok digunakan untuk rumah dengan ruang yang luas.

 

  1. Pilih hiasan rumah yang berukuran mungil dan praktis

Ada banyak cara untuk mengakali ruang sempit tetap terlihat apik. Diantaranya adalah dengan pemilihan interior hiasan yang tepat. Misalnya saja, penggunaan bunga plastik dan vas di sudut ruang dapat digantikan oleh bunga hiasan yang digantung di dinding. Fungsi lemari hias dapat digantikan oleh rak sudut. Hiasan seperti guci-guci antik dapat digantikan oleh hiasan dinding seperti piring-piring kuningan, kaligrafi atau lukisan. Sebaiknya menghindari pembatas ruangan yang permanen. Gunakan pembatas yang ringan seperti anyaman rotan atau tirai yang mudah dibuka saat diperlukan. Pilih juga warna perabot yang terang atau natural untuk memberi kesan luas.

 

Demikianlah diantara tips untuk menyiasati ruang di dalam rumah agar terkesan luas dan lapang. Namun jangan lupa, apa yang lebih penting untuk kita lakukan, adalah menjaga keharmonisan dan ketenteraman dalam keluarga agar kelapangan yang hakiki dapat kita rasakan.

 

 

Referensi:

IDEA Online

adinfocibubur.wordpress.com

 

Penulis, Riawani Elyta

keuangan-usaha

6 Kiat Memulai Bisnis di Rumah

keuangan-usahaSuatu hari, seorang kenalan bercerita tentang keinginannya untuk berhenti bekerja dan memulai bisnis di rumah. Alasannya agar bisa mengasuh anak dan punya lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga.

Tentu, niat untuk bekerja di rumah adalah niat yang baik. Tetapi, ada beberapa hal harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja dan memulai bisnis di rumah. Berikut diantaranya :

  1. Sholat Istikharah

Dalam mengambil keputusan, terutama keputusan penting yang menyangkut prioritas hidup dan keluarga, kita sebaiknya memohon pertolongan Allah agar ditunjukkan pilihan yang terbaik. Caranya adalah dengan melakukan sholat istikarah dan berdoa dengan khusyu. Terkadang, keputusan itu tidak langsung datang seusai sholat, tetapi kita tidak boleh putus asa. Teruslah melakukan sholat dan berdoa dengan khusyu sampai pikiran kita dibukakan dengan petunjuk dariNya.

  1. Persiapan Mental

Saat memutuskan untuk berhenti bekerja, ada banyak perubahan akan kita hadapi. Mulai dari perubahan lingkungan, lingkup pergaulan, sumber penghasilan, termasuk omongan miring orang-orang di sekitar kita yang menyayangkan keputusan tersebut. Oleh karenanya, ada baiknya kita mempersiapkan mental untuk menghadapi semua perubahan yang cukup drastis ini. Jika mental tidak siap, maka sedikit saja muncul hal yang kurang menyenangkan, kita akan mudah merasa kecewa dan menyesali keputusan.

  1. Pengetahuan

Untuk memulai bisnis dibutuhkan perencanaan yang matang dan pengetahuan tentang bisnis itu sendiri. Bisnis bukanlah sulap yang dapat terjadi begitu saja. Melainkan butuh usaha, kerja keras dan strategi. Oleh karenanya, persiapkan diri dengan pengetahuan seputar ilmu bisnis dan prakteknya saat telah memiliki niat untuk berbisnis di rumah.

  1. Riset

Sebelum mulai berbisnis, lakukan riset terlebih dulu terhadap kebutuhan orang-orang di lingkungan kita, sehingga mudah untuk memilih jenis produk yang akan dipasarkan. Sesuaikan juga dengan minat dan hobi kita. Karena melakukan bisnis yang seiring sejalan dengan apa yang kita minati, akan membuat kita merasa bahagia dan nyaman melakukannya.

  1. Finansial

Bisnis adalah sebuah proses yang dinamis dan tidak langsung bertumbuh dalam sekejap. Juga tidak ada yang bisa memastikan bisnis akan berjalan lancar begitu kita memulainya. Tak jarang, bisnis baru menunjukkan perkembangan yang signifikan setelah melalui jangka waktu berbulan-bulan atau bahkan hingga bertahun-tahun. Oleh sebab itu, sebaiknya cek dulu kesiapan finansial kita sebelum banting setir ke dunia bisnis. Minimal, kita masih punya tabungan atau aset pribadi yang cukup untuk biaya kebutuhan dasar selama setahun ke depan saat memutuskan untuk mulai berbisnis. Dengan demikian, jika ternyata bisnis kita tak berjalan sesuai harapan, atau menemui batu sandungan di awal prosesnya, kita tidak akan langsung jatuh kolaps dan kesulitan memikirkan biaya hidup.

  1. Manajemen waktu

Pikirkan juga bagaimana kita akan mengatur waktu jika berbisnis di rumah. Bagaimana membagi waktu untuk mengasuh anak, pekerjaan rumah tangga dan untuk urusan bisnis itu sendiri. Jangan sampai niat kita untuk berbisnis di rumah karena ingin selalu dekat dengan anak justru menjadi bumerang saat kita keteteran membagi waktu.

Berbisnis di rumah adalah sebuah aktivitas yang mengasyikkan dan menghasilkan jika kita mengetahui trik-trik menghadapi dan menjalankannya. Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah swt agar niat baik dan usaha kita senantiasa dipermudah dan rejeki kita pun memperoleh berkah.

Selamat berbisnis di rumah :-)

 

Penulis

Riawani Elyta

bisnis

Biarkan Anak Belajar Berbisnis

Keisya masih sekolah di Taman Kanak-kanak tetapi semangatnya berbisnis dengan berjualan permen patut diacungi jempol. Tanpa malu dan ragu Keisya menjajakan dagangan kepada teman-temannya, guru dan para ibu yang menunggu di luar sekolah. Keisya menjual permen hasil kreasi dia dan sang bunda, terbuat dari minuman serbuk dengan berbagai rasa lalu di campur susu sehingga membentuk bola-bola permen.

Meski kadang permen yang ia jajakan tak laku semua namun ia senyum dan tenang saja menanggapinya, dia berkata “Enggak apa-apa belum habis juga, nanti sore mau keliling di sekitar rumah dan besok temen-temen juga pasti beli lagi” katanya optimis. Apa yang Keisya lakukan ini sangat membanggakan dia tanpa sadar belajar sesuatu, belajar promosi, belajar kreatif dan belajar akuntansi, namun dia masih sangat membutuhkan bimbingan dan dukungan dari orang tua dan guru.

Seperti yang dipaparkan psikolog anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, anak-anak yang mengenal dunia bisnis atau wirausaha sejak dini, akan mendapati manfaat untuk bekal masa depan kelak karena akan menumbuhkan jiwa wirausaha dan menjadi pribadi yang kreatif. Kak Seto menambahkan, memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar berbisnis (berwirausaha) sejak kecil bukan berorientasi mencari uang. Melainkan lebih untuk melatih kemandirian, dengan mengandalkan kreativitasnya. Kak Seto menolak anggapan bahwa anak yang belajar bisnis sejak kecil, akan menjadi “mata duitan”. Tujuan melatih kewirausahaan sejak dini lebih untuk memberikan kesempatan pada anak untuk tumbuh menjadi pribadi kreatif karena sang anak merasa dihargai dan lebih percaya diri dalam mengembangkan potensinya. (FM)

merpati-love

Menciptakan dan Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

merpati-love

Kemesraan pasangan suami istri sedang “hot-hotnya” ketika mereka masih pengantin baru,  saat panggilan “sayang dan cinta” masih sering dilontarkan, pelukan dan ciuman hangat masih sering diberikan. Namun apakah kemesraan itu akan terus berlanjut sampai usia senja? Karena ternyata seriring berjalannya waktu indahnya cinta dan kemesraan berterbangan satu per satu, berganti kebosanan, kejenuhan dan rasa acuh tak acuh hingga mengancam keharmonisan rumah tangga. Padahal menjaga dan memelihara keharmonisan syarat penting dalam mengarungi kehidupan rumah tangga yang penuh dengan berbagai goncangan dan hempasan badai rumah tangga.keharmonisan keluarga merupakan dambaan setiap insan namun ternyata masih banyak yang gagal dan kesulitan dalam membangun dan menjaga keharmonisan keluarga.

Merujuk definisi Keharmonisan ditinjau secara terminologi, keharmonisan tercipta dari perpaduan antara selaras atau serasi sehingga mewujudkan rasa bahagia dan damai pada yang mengusahakannya. Ya, keharmonisan rumah tangga itu tidak muncul begitu saja namun harus ada perjuangan berat dalam menciptakan dan menjaganya. Berikut beberapa tips menjaga keharmonisan dalam rumah tangga yang dikutip dari beberapa sumber :

  1. Kita harus selalu bersyukur, karena dengan bersyukur membuat setiap orang merasa damai dan tenang dalam menjalani hidup. Percekcokan yang terjadi dalam rumah tangga dapat disebabkan karena salah satu pihak merasa tidak puas dengan kondisi yang ada terutama yang berkaitan dengan faktor ekonomi, sosial, dan budaya.
  2. Suami dan istri harus berbagi perandalam rumah tangga berdasarkan prinsip saling membantu agar tak terjadi situasi saling menyalahkan jika suatu saat ketidaknyamanan hadir dalam keluarga.
  3. Apapun yang terjadi selau utamakan keluargadi atas kepentingan pribadi
  4. Bersikap Jujur karena sekali kedapatan berbohong mengenai satu hal, maka akan selalu menimbulkan rasa curiga dan rasa tidak percaya.
  5. Suami istri harus saling menguatkan dan saling melengkapi dan saling menguatkan.
  6. Menjaga Komunikasi, kadangkala banyak pasangan suami istri yang menyepelekan hal ini, padahal komunikasi sangat penting agar tak terjadi salah
  7. Menjaga Romantisme, menghadapi berbagai kesibukan rumah tangga suami dan istri sering melupakan romantisme masa pengantin baru seperti memberi hadiah, pujian dan kejutan.
  8. Pertahankan Kesetiaan, salah satu penyebab hancurnya sebuah rumah tanggakarena tanpa kesetiaan maka tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga.
  9. Saling Pengertianberarti saling memahami kesukaan, ketidaksukaan, kelebihan, kekurangan, dan keinginan masing-masing. Sikap saling terbuka akan menciptakan suasana kondusif bagi pasangan suami istri untuk saling memahami satu sama lain. (FM)
keuangan-usaha

Cara Tepat dalam Menyusun Strategi Pengelolaan Keuangan Keluarga

Langkah-langkah berikut ini, adalah strategi pengelolaan keuangan yang praktis dan bisa diterapkan oleh siapa saja, dan sebagian besar darinya pun telah saya realisasikan di dalam keluarga, yaitu :

  1. Lakukan pencatatan di akhir tahun

Langkah yang satu ini kerap diabaikan banyak orang dengan alasan kesibukan, tidak sempat, terkesan njelimet dan sebagainya. Maka untuk langkah praktisnya, anda dapat memanfaatkan momen menjelang pergantian tahun sebagai masa paling tepat untuk melakukan pencatatan sebagai bahan evaluasi bagi perencanaan pengelolaan keuangan yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Anda cukup melakukan pencatatan terhadap pengeluaran rutin bulanan keluarga : biaya makan, listrik, telepon/pulsa, biaya sekolah anak-anak, transportasi, dan lain-lain termasuk estimasi pengeluaran tak terduga, serta untuk keperluan hiburan.

Dari pencatatan global ini, tambahkan sepuluh persen untuk setiap jenis pengeluaran, sebagai antisipasi terhadap kenaikan harga. Catat juga berapa jumlah penghasilan rata-rata per bulan. Maka dari angka yang anda peroleh, anda akan memperoleh gambaran untuk mengatur penghasilan bagi membiayai pos-pos pengeluaran pada setiap bulannya. Jangan lupa sertakan juga pencatatan akan angsuran rumah, kendaraan dan lain-lain yang masih harus dicicil pembayarannya pada tahun berikutnya.

  1. Survei dan evaluasi

Setiap kepala keluarga memiliki tingkat penghasilan yang berbeda-beda. Tidak menjadi masalah andai jumlah penghasilan tersebut dapat menutupi semua biaya dan kebutuhan keluarga. Tetapi bagaimana kalau kondisi penghasilan ternyata pas-pasan atau bahkan minus? Maka  disini anda dapat melakukan tindakan survei dan evaluasi terhadap pos-pos pengeluaran agar dapat merancang pembiayaan yang lebih efisien.

Saya ambil contoh, sebelum menerapkan sistem uang saku untuk jajan anak-anak, saya lebih dulu melakukan survei kecil-kecilan tentang rata-rata harga jajanan di sekolah, berapa kali jam istirahat, dan berapa jam dalam sehari yang mereka habiskan di sekolah, les, ekskul, dan sebagainya. Dari hasil survei ini saya kemudian membuat estimasi berapa jatah uang saku mingguan untuk masing-masing anak. Selain itu, saya juga menganjurkan anak-anak untuk sarapan pagi terlebih dulu sebelum berangkat ke sekolah. Selain berguna untuk kesehatan,  kebiasaan ini juga dapat mengurangi keinginan anak untuk jajan berlebihan. Sejauh ini, cara ini cukup efektif dalam menekan pengeluaran dari pos uang saku  anak-anak.

Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan evaluasi frekuentif terhadap pembiayaan pos-pos pengeluaran. Evaluasi ini dapat kita lakukan sebulan sekali dengan membuat daftar pertanyaan atas hal-hal yang kita temui dalam pelaksanaannya. Misalnya, benarkah uang sekian ratus ribu sudah cukup untuk belanja mingguan atau sebenarnya jumlah ini masih bisa ditekan? Evaluasi ini berguna sebagai kontrol.

  1. Pembagian tugas pembiayaan

Saya dan suami sama-sama bekerja, jadi untuk membiayai kebutuhan hidup setiap bulan sebagaimana hasil pencatatan pada poin 1, kami saling berbagi tugas, siapa yang membayar tagihan listrik, pulsa, belanja makan, pendidikan anak-anak dan sebagainya. Adanya pembagian tugas ini, selain dapat meringankan beban juga membuat kami dapat mengatur cash flow masing-masing.

Lalu, bagaimana jika pencari nafkah dalam keluarga hanya satu orang?

Prinsipnya tidak jauh berbeda. Setelah melakukan poin 1 dan 2 diatas, langkah penting selanjutnya adalah komitmen dalam mengatur penghasilan dengan langsung membaginya pada semua pos-pos pengeluaran begitu penghasilan diperoleh.

  1. Menerapkan pola hidup hemat

Ada dua langkah penting dalam menerapkan strategi hidup hemat, yaitu dengan menghindari pola hidup konsumtif dan mengajak semua anggota keluarga untuk menjalankan prinsip yang sama. Pengeluaran uang harus didasari pada kebutuhan dan kemampuan serta bukannya menuruti keinginan.

Pola hidup hemat tidak hanya diterapkan dalam hal penggunaan uang saja, tetapi juga pada kebiasaan hidup yang dapat mempengaruhi pengeluaran. Sebagai contoh, dalam hal penggunaan sarana listrik dan komunikasi (ponsel, telepon, internet). Setiap anggota keluarga harus sama-sama menyadari bahwa pemborosan dalam penggunaan fasilitas-fasilitas ini akan berdampak pada besarnya pengeluaran. Oleh karenanya semua anggota keluarga harus sama-sama berkomitmen untuk menggunakan fasilitas-fasilitas berbayar ini secara hemat dan efektif.

  1. Menabung

Para ahli finansial umumnya menyarankan untuk setidaknya menyisihkan sepuluh persen dari penghasilan untuk ditabung. Bagi yang merasa kesulitan untuk menerapkan strategi ini, saran Warren Buffet  berikut ini dapat dicoba : Do not save what is left after spending but spend what is left after saving. Atau dengan kata lain, sisihkan terlebih dulu penghasilan untuk ditabung sebelum membelanjakannya dan bukan sebaliknya. Utamakan berhemat, gunakan sisanya dengan bijak.

Dalam realisasinya, anda dapat menggunakan cara berikut : Setelah gaji atau penghasilan diterima, sisihkan sepuluh persen untuk tabungan, lima persen untuk pos dana tak terduga. Lalu bagi sisanya dengan jumlah hari dalam sebulan. Jadikan hasil pembagian tersebut sebagai angka maksimal pengeluaran anda dalam sehari.

  1. Hindari utang konsumtif

Untuk kita ketahui, bahwa utang dapat dikategorikan menjadi utang baik dan utang buruk. Utang baik adalah utang yang digunakan untuk membeli asset yang nilainya terus meningkat. Misalnya digunakan untuk membeli rumah melalui KPR ataupun untuk modal bisnis.

Sedangkan utang buruk adalah utang konsumtif, atau utang yang digunakan untuk membeli barang-barang konsumtif, dan terkadang dikenai bunga tinggi. Untuk contoh pada paragraph awal di poin 6 ini, jelas hal tersebut tergolong tindakan utang buruk atau utang konsumtif.

Agar terhindar dari jeratan utang konsumtif, ini bisa disiasati dengan membatasi pola hidup konsumtif dan disiplin menyisihkan sekian persen penghasilan untuk ditabung. Juga yang tak kalah penting adalah meluruskan paradigma bahwa utang konsumtif tidak termasuk langkah bijak dalam pengelolaan keuangan, bahkan utang konsumtif dalam jumlah besar dan berkelanjutan dapat menggerogoti asset yang berujung pada kebangkrutan atau kemiskinan.

  1. Tetapkan pengelolaan keuangan untuk rencana jangka panjang

Selain menabung uang di bank yang bisa ditarik kapan diperlukan (manfaat jangka pendek), kita juga sudah seyogyanya merencanakan bentuk tabungan yang dapat menopang rencana jangka panjang keluarga, seperti biaya kuliah anak-anak, naik haji, membangun atau merenovasi rumah, biaya hidup setelah pensiun, dan lain-lain.

Lantas, darimana kita mengalokasikan dana untuk tabungan jangka panjang ini? Cara  praktis tanpa harus menambah pos pengeluaran adalah dengan menyisihkan sekian persen dari pos tabungan reguler. Jadi dari total sepuluh persen alokasi penghasilan untuk pos tabungan, kita bisa mengalokasikan mulai dari tiga hingga lima persen dari jumlah ini untuk tabungan jangka panjang.

Dalam prakteknya, pengelolaan keuangan keluarga pasti  tak akan terlepas dari berbagai hambatan dan kesulitan, tak jarang juga mengalami rasa jenuh dan putus asa saat rencana pengelolaan yang sudah dijalankan ternyata belum mampu membawa kondisi keuangan keluarga menjadi lebih baik. Jika anda dihadapkan dengan situasi ini, jangan buru-buru menyerah. Tetaplah bersabar dan terus perkaya diri dengan ilmu-ilmu seputar pengelolaan keuangan keluarga, tinjau ulang rencana yang telah disusun berikut realisasinya, lakukan evaluasi dan perbaikan jika diperlukan, dan tetaplah berdoa pada Tuhan agar niat baik dan upaya kita untuk membahagiakan keluarga akan dibimbing dan dipermudah menuju hasil yang diharapkan. Yakinlah bahwa output di kemudian hari adalah berdasarkan apa yang kita rencanakan dan lakukan secara konsisten sejak hari ini.

Ditulis Oleh: Riawani Elyta

Daftar pustaka :

  1. www.beritasatu.com
  2. www.brighterlife.co.id
  3. www.sunlife.co.id
  4. www.tjanbudi1028pru.blogspot.com
keuangan-usaha

Mulai Kelola Keuangan Keluarga secara Bijak

Memiliki keluarga yang bahagia dan sejahtera adalah impian semua orang. Dan tak dapat dipungkiri, bahwa salah satu komponen pentingnya ialah terjaminnya kebutuhan keluarga dengan didukung oleh kondisi finansial yang sehat.

Namun pada faktanya, berdasarkan data yang dirilis World Bank, Indonesia sebagai Negara yang berada pada peringkat populasi terbesar ke-4 dunia dan jumlah penduduk diatas 234 juta jiwa, lebih dari 32 juta jiwa penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan, dan dari jumlah tersebut, 25 juta keluarga tinggal di daerah kumuh perkotaan seperti bantaran sungai, sisi jalan kereta bahkan di jalanan. Fakta ini selain disebabkan oleh rendahnya tingkat penghasilan, juga dikarenakan ketidakmampuan dan ketidakberhasilan keluarga dalam mengelola keuangannya.

keuangan-usaha

sumber gambar dari sini

Penyebab utama kegagalan, pada umumnya dikarenakan kurangnya pemahaman akan manfaat pengelolaan keuangan keluarga, sehingga membawa dampak pada lemahnya motivasi, komitmen dan juga konsistensi dalam pelaksanaannya.

Maka sebelum merancang pengelolaan keuangan keluarga, ada beberapa hal penting dan mendasar yang perlu kita ketahui, yaitu :

  1. Manfaat pengelolaan keuangan keluarga

Pengelolaan keuangan keluarga akan memberi banyak manfaat dan keuntungan, yaitu :

  • Tersedianya anggaran yang cukup untuk membiayai pos-pos pengeluaran keluarga
  • Memiliki dana cadangan yang dapat diambil pada saat dibutuhkan
  • Memiliki investasi dan aset yang berguna bagi pembiayaan hidup di masa depan
  • Menjamin pemenuhan kebutuhan keluarga
  • Berpeluang melakukan amal kebajikan seperti berderma dan bersedekah
  • Dapat menyenangkan anggota keluarga dengan berlibur atau melakukan aktivitas hiburan
  • Dapat merealisasikan cita-cita jangka panjang keluarga, seperti naik haji, menyekolahkan anak ke luar negeri, membuka usaha wiraswasta saat pensiun, dan sebagainya

Pemahaman inilah yang harus dimiliki oleh setiap keluarga, khususnya kepala keluarga dan kepala rumah tangga (suami dan istri), sehingga dapat mendorong kesadaran dan motivasi untuk melakukan pengelolaan keuangan keluarga secara bijak dan tepat.

  1. Pengelolaan keuangan keluarga mutlak melibatkan peran seluruh anggota keluarga

Pengelolaan keuangan keluarga tidak hanya melibatkan sang pemegang kebijakan, yaitu kepala keluarga dan kepala rumah tangga, tetapi juga membutuhkan peran serta seluruh anggota keluarga. Jadi, ketika sang pemegang kebijakan berkomitmen untuk menerapkan pola hidup hemat, komitmen ini sudah semestinya diikuti dan dilaksanakan oleh semua anggota keluarga.

Tujuan dan cita-cita dari pengelolaan keuangan keluarga akan lebih mudah tercapai jika ditopang oleh kekompakan dan komitmen, juga kerjasama yang solid dari segenap anggota keluarga dalam melaksanakannya.

  1. Neraca keuangan yang sehat

Neraca keuangan yang sehat ditandai dengan lebih kecilnya pengeluaran daripada pemasukan, dan jumlah utang yang tidak melebihi asset. Inilah yang menjadi pondasi awal kita dalam mengatur keuangan keluarga, yaitu adanya pengelolaan terhadap cash flow (arus kas), utang dan asset.

Bersambung.. klik disini

Ditulis oleh: Riawani Elyta

Daftar Pustaka:

  1. www.beritasatu.com
  2. www.brighterlife.co.id
  3. www.sunlife.co.id
  4. www.tjanbudi1028pru.blogspot.com