Category Archives: HIKMAH

tikus

Kisah Keluarga Tikus

Ini adalah cerita tentang sebuah keluarga tikus dengan 8 anaknya yang masih belajar mencari makanan. Kebetulan ini adalah keluarga tikus rumahan, yang mencari makanan dari sisa-sisa makanan manusia.

Pada suatu ketika, dua ekor anak tikus, yaitu si belang dan si putih menemukan sepotong keju. Namun ada pertanyaan besar bagi kedua anak tikus tadi, sehingga mereka ragu mengambil keju tersebut.

tikus

sumber gambar dari sini

Apa yang membuat mereka ragu? Sebab keju tersebut tidak terletak di lemari. Padahal mereka biasa mencuri makanan dari lemari.

“Jangan-jangan, keju itu busuk dan dibuang.” kata si putih.

“Tidak, meski dari kejauhan saya mencium kalau keju itu masih segar. Pasti enak.” kata si belang.

“Tapi, warnanya kusam.” bantah di putih.

“Bukan warna yang menentukan, tetapi aromanya.” kata si belang.

“Ya sudah, kita ambil saja!” kata si putih.

“Boleh, tapi ukurannya kecil. Paling cukup untuk kita berdua.” kata si belang.

“Bukankah kata ayah, kita harus berbagi. Kita masih punya 6 saudara.” kata si putih.

“Tapi percuma dibagi-bagi, nanti kebagian sedikit.” kata si belang.

“Cukuplah, tidak kecil-kecil banget. Kita semua bisa kenyang.” kata si putih.

“Iya sih, kalau untuk sekali makan akan kenyang. Tapi untuk 3 kali, terasa kurang.” kata di belang.

Ternyata, ayah mereka mendengar pembicaraan kedua anaknya ini, ayahnya menukas“Apa yang kalian bicarakan adalah benar. Tetapi tidak benar seutuhnya.” sela ayahnya.

“Apa maksud ayah?” kata si putih.

“Kalian terlalu fokus pada kejunya. Kalian harus melihat masalah dengan pandangan yang lain. Ini menyangkut hidup mati kalian.” jelas ayahnya. Tapi kedua anaknya yang belum pengalaman, malah heran dan kebingungan.

“Saya tidak mengerti, ayah.” kata si belang mengernyitkan dahinya.

“Sekarang tunjukan dimana kalian menemukan keju tersebut.” kata ayahnya.

Kedua anak tikus tersebut mengantar ayahnya menuju letak keju.

“Apa yang kalian lihat?” tanya ayahnya menguji pandangan anak-anaknya.

“Keju, ayah!” jawab kedua anaknya serempak.

“Coba lihat lagi!” kata ayahnya sambil tersenyum. Kedua anaknya memperhatikan keju dengan seksama, tetapi mereka tetap bingung karena tidak ada yang aneh. Melihatnya anaknya kebingungan, ayah mengajak naik ke sebuah meja.

“Nah, sekarang lihat diatas meja ini. Apa yang kalian lihat?” tanya ayahnya.

“Saya melihat sebuah alat dimana ada keju di dalamnya.” jawab si putih.

“Oh iya, baru terlihat.” lanjut si belang. “Alat apa itu ayah?” tanya si belang.

“Itu adalah pertanyaan yang bagus. Kalian sudah tidak terfokus pada kejunya lagi, tetapi pada sistem yang lebih besar. Pertanyaan kalian ini akan menyelamatkan hidup kalian. Alat itu adalah perangkap. Jika kalian mengambil kejunya, ada senjata yang akan membunuh kalian.” jelas ayahnya.

Terang saja, kedua anak tikus ini terperanjat. Kaget bukan kepalang. Tidak terpikirkan sebelumnya. Mereka hanya fokus pada keju.

“Jika kalian melihat secara utuh, pertanyaan kalian akan benar dan akan menyelamatkan kalian. Jangan fokus pada pandangan sempit dan mengambil keputusan dari pandangan tersebut. Dari perbedaan cara pandang ini, bisa menentukan hidup matinya kalian.” jelas ayah tikus.[fm]

hadis benci dan cinta

Cinta Dan Benci Sewajarnya

hadis benci dan cintaPagi ini, sembari mencecap kopi susu yang harumnya menggelitik rongga olfaktori (ehm, saya tidak merokok… juga tidak bertatto ^_^, tapi insya Allah rajin bekerja dan tak korupsi—malah nombok sana-sini hihi), saya teringat pada sebuah hadist yang sudah lama dikaji, tapi terasa begitu relevan akhir-akhir ini.

Hadist tentang benci dan cinta. Pasti teman-teman juga sudah hapal di luar kepala. “Cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi seorang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu.” (H.R. Tirmidzi dan dishahihkan oleh syaikh Al Albani).

Kekasih, berarti seseorang (atau sesuatu) yang dicintai. Tabiat dari manusia memang ekstrim. Kecenderungannya bisa ke kanan, atau ke kiri. Dalam bahasa agama, kita mengenal istilah ifrath (lebay, berlebihan), atau tafrith (abai, mengingkari). Ya, berlebih-lebihan atau mengabaikan selalu menjadi pilihan yang sama-sama menyesatkan.

Terkadang, pilihan itu dipicu oleh kondisi. Misal, nih… saat kita sedang puasa, hari pun panas luar biasa, maka ketika waktu berbuka tiba, dengan ‘bernafsu’ kita pasti akan memilih menenggak segelas air es. Padahal, air hangat lebih bagus untuk tubuh kita. Kebalikannya, ketika kita sedang sangat kedinginan. Yang terbetik di benak kita adalah sesuatu yang panas. Saya lahir dan besar di daerah pegunungan. Saat SMP, saya suka main-main ke rumah teman saya yang lebih tinggi lagi posisi rumahnya di banding rumah saya. Menyeruput teh panas dari air yang baru mendidih, terasa begitu nikmatnya. Pulang-pulang, saya merasakan bibir dan mulut saya ‘jontor’ karena melepuh.

Nah! Seperti itu juga dalam masalah cinta dan benci. Ada yang saking cintanya, lalu memuja, menabikan, bahkan menuhankan. Itu terjadi karena saat kita mencintai seseorang (sesuatu), kita akan cenderung terbuai oleh kelebihan-kelebihannya. Sedangkan jika kita benci, maka kita akan cenderung terfokus pada kekurangan-kekurangan dan mengingkari segala kebaikan yang dimiliki sosok yang kita benci. Kita akan menggunakan segala cara untuk mengekspresikan kebencian kita.

Masalahnya, cinta dan benci itu tak menetap permanen di labirin hati. Apalagi, cinta dan benci kepada manusia. Pada prinsipnya, semua orang diciptakan dengan positif dan negatif. Jika kita terus-menerus mempelototi kebaikannya, lama-lama kebaikan itu akan habis, dan akhirnya dia akan melihat keburukannya. Demikian pula, jika kita terus-menerus menguliti keburukannya, lama-lama keburukan itu akan sirna, dan tinggallah kita yang tertegun-tegun karena yang kita lihat selanjutnya adalah kebaikan-kebaikan.

Kalau sudah begitu, malu, kan?

Karena itu, Rasulullah menekankan kata SEWAJARNYA. Ya, sewajarnya saja saat kita berinteraksi dengan manusia. Jangan ‘gumunan’, jangan kagetan, jangan terlalu lugu, jangan terlalu apriori… dan seterusnya, lanjutin sendiri ya.

Karena itu pula, dalam masalah hak dan kewajiban, kita tidak boleh menjadikan benci dan cinta sebagai ukuran. Allah SWT, dalam Al-Quran berfirman, “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap satu kaum, mendorong untuk kamu berbuat tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (Al-Maidah: 8).

Salah satu cara berbuat adil, khususnya dalam masalah pemberitaan (termasuk citizen journalism lewat status-status kita di medsos), adalah cover both sides. Sudahkah kita berimbang dalam membuat opini? Janganlah ‘kecintaan’ kepada Prabowo membuat kita memeti-es-kan semua kebaikan Jokowi. Janganlah ‘kecintaan’ kepada Jokowi membuat semua kebaikan Prabowo seakan uap yang hilang tanpa bekas. Prabowo dan Jokowi sama-sama makhluk Tuhan dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Yah, jadi… begitulah. Mari kita nikmati kehidupan dengan sewajarnya. Seruput kopi lagi…. [AfifahAfra]

dafoddil

Menjaga Kehormatan Istri

Sembari berlinang air mata, Shafiyah mendatangi Rasulullah SAW, suaminya. Pengaduannya mengalir dari mulutnya, dan disimak dengan seksama oleh Rasul. Ternyata, Shafiyah baru saja berselisih dengan Aisyah dan Hafshah. Kata Hafshah dan Aisyah kepada Shafiyah, “Kami ini lebih mulia kedudukannya di mata Rasulullah di mata kamu!”

Shafiyah binti Huyai bin Akhtab, berbeda dengan istri-istri lainnya, berasal dari Yahudi, khususnya Bani Nadhir. Betapa terpukulnya Shafiyah mendengarkan perkataan kedua madunya itu. Yahudi memang kaum yang banyak disebut-sebut keburukannya di dalam Al-Quran. Apalagi, Bani Nadhir juga berkhianat kepada Kaum Muslimin dan akhirnya terjadi peperangan. Seluruh Bani Nadhir akhirnya diusir dari Madinah.

Mendengar pengaduan istrinya, Nabi dengan penuh kasih berkata, “Tidakkah engkau mengatakan kepada mereka berdua, ‘Bagaimana kalian lebih mulia dariku, sementara suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun, dan pamanku adalah Musa.’”

Shafiyah memang keturunan dari Harun bin Imran bin Qahits bin Lawi bin Israel bin Ishaq bin Ibrahim. Dia dikenal sangat jelita dan berkulit putih. Sebelum menikah dengan Muhammad SAW, Shafiyah pernah menikah dua kali dengan pemuka dari kalangan Yahudi. Setelah masuk Islam, dia menerima pinangan Rasulullah SAW.

Kita bisa melihat, betapa Rasulullah sangat memperhatikan dan menjaga kehormatan istrinya, meski dia berasal dari bangsa yang sangat memusuhi Rasulullah. Rasul berusaha membesarkan hati istrinya, dan bahkan pernah mendiamkan salah seorang istrinya, Zainab, yang mencela Shafiyah sebagai perempuan Yahudi.

Alih-alih menjaga kehormatan, kadang kita melihat para suami malah dengan santainya membeberkan aib dan keburukan pasangannya di depan orang lain. Demikian juga sebaliknya. Bukankah istri atau suami adalah pakaian kita? Jika dia kumal, sesungguhnya kita pun kumal. Membeberkan ‘kekumalan istri’, bukankah sama dengan membeberkan kekumalan diri? [U.S.].
egois

KELAPARAN EGO

Saya pernah dibuat ternganga oleh perilaku seorang kenalan, yang dengan enteng memaki seorang pengemis yang meminta sedekah kepadanya. Bermasa terlewat, saya sibuk mencari jawab, apa sebenarnya yang membuat kenalan saya tersebut ‘kehilangan nurani’nya dan dengan tega mengusir pengemis tersebut. Padahal, tuntutan pengemis itu tidak banyak, hanya sekeping logam 100 rupiah, yang jika dibelikan makanan paling-paling hanya mendapatkan sepotong kerupuk.

Maka, ketika istilah ‘kelaparan ego’ diperkenalkan oleh Less Giblin dalam buku Seni Membina Hubungan dengan Orang Lain (diterbitkan oleh Gramedia), saya dibuat terhenyak. Menurut Less Giblin, ego (konsep diri) juga bisa lapar. Dan orang yang kelaparan egonya, tak akan mungkin mampu berbagi dengan tulus, kepada orang lain. Dengan kata lain, hanya orang yang egonya telah ‘kenyang’lah yang mampu menjalin hubungan mesra, tanpa reserve, dengan orang lain. Orang semacam inilah yang akan mampu membina hubungan baik dengan siapapun, meskipun partner tersebut adalah sosok yang jutek, egois, suka menggosip… yakni orang-orang yang egonya masih lapar.
Penjelasan dari ungkapan Giblin adalah sebagai berikut. Setiap orang pasti memiliki gambaran diri yang ideal (self ideal), yang pada masing-masing orang berbeda-beda, tergantung ideologi kehidupan yang dianutnya. Pada seorang Muslimah, sosok ideal yang diharapkan melekat pada dirinya adalah sosok mujahidah yang kuat dzikir, kuat fikir, kuat badan, kuat ma’isyah, kuat ibadah, kuat segalanya. Sayang, dalam tataran real, kita harus terbentur pada kenyataan akan diri kita yang sebenarnya (self image). Misalnya, sosok kita yang malas beribadah, sakit-sakitan, otak cupet, senantiasa terbentur masalah ekonomi dan sebagainya.
Semakin dekat self image dengan self ideal, maka seseorang akan semakin mencintai dirinya sendiri. Ia adalah orang yang kenyang egonya. Sedangkan semakin jauh self image dengan self ideal, maka seseorang akan semakin membenci dirinya sendiri. Ia adalah orang yang kelaparan egonya. Yang menginginkan sesuatu yang serba ideal, namun tak berdaya, atau tak kuat usahanya dalam mencapai idealisme tersebut.
Sekali lagi, orang yang mampu ikhlas berbagi, adalah orang yang telah kenyang ego. Inilah barangkali rahasia di balik hadist nabi yang berbunyi,
Belum sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Ada persyaratan yang digariskan Nabi, yakni mencintai dirinya sebelumia mencintai dirinya sendiri. Hanya orang yang telah mampu mencintai dirinya yang bisa ikhlas mencintai orang lain. Orang yang mencintai dirinya adalah orang yang telah mengenal siapa dirinya, mengerti apa kekurangan kelebihannya, mengerti hak-hak dan kewajibannya sebagai manusia sebagai hamba Allah. Oleh karenanya, pengenalan terhadap diri sendiri merupakan suatu hal yang diwajibkan sebagaimana firman Allah,
dan pada dirimu, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzaariyaat: 21).
Bagaimana dengan yang terjadi pada kenalan saya tersebut? Maaf, bukannya sedang membuka aib. Dia adalah orang yang secara pengamalan agama sangat kurang, pendidikan rendah, bahkan penghasilannya pun pas-pasan. Dari segi apapun, dia adalah orang yang ‘kelaparan.’ Bagaimana bisa orang yang kelaparan berbagai ‘makanan’ dengan orang-orang yang sama-sama kelaparan?
Semoga kita bukan termasuk orang yang lapar egonya.

Wallahu a’lam bish-showwab.
nature-wallpaper-free-2066

Menjemput Rahmah di bulan mulia

Apa yang kita cari di dalam Ramadan? Salah satunya adalah rahmat, alias kasih sayang Allah. Tahukah sobat sakinah, bahwa dari 100 bagian rahmat baru satu bagian saja yang Dia berikan untuk makhlukNya. Bayangkan, hanya dengan 1/100 bagian saja, kita mampu menikmati indahnya dunia… hirup oksigen gratis, sinar mentari melimpah. mendapatkan rezeki, kesehatan, indahnya cinta kasih… dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan 99 bagian yg masih disimpan-Nya? 


Dengan rahmat-Nya, dipersatukanlah suku ‘Aus dan Khazraj yang selalu berperang di Madinah, menjadilah kaum anshor yang mulia. Kita tahu, bahwa kedua suku ini adalah musuh bebuyutan. Namun, rahmat Allah SWT telah membuat hati mereka bersatu. Dan ini adalah sebuah nikmat yang teramat besar untuk kaum Muslimin.


Allah berfirman terkait dengan hal ini: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran : 103).

Dengan rahmat-Nya, Yusuf a.s. terhindar dari bermaksiat saat digoda Zulaikha. Dengan rahmat-Nya, ibu-ibu menyusui bayinya hingga kenyang dan sang bayi tumbuh sehat dan cerdas. 
Dengan rahmat-Nya, alam semesta bergerak dinamis, seimbang, hasilkan harmoni yg indah. 
Tahukah sobat sakinah? Itu baru 1/100 bagian dari rahmatNya. Bagaimana dengan 99 bagian lainnya? Subhanallah…

Banyak ulama menyebutkan, bahwa kita masuk surga bukan karena amal-amal kita. Tetapi karena rahmat-Nya. Bisa dimaklumi, berapa banyak kita bisa beramal dengan segala keterbatasan yang kita miliki? Bahkan, seandainya semua waktu yang kita miliki kita gunakan untuk beramal, niscaya belum cukup, meski hanya untuk sekadar menebus nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Tentu ini bukan berarti lantas kita tak beramal. Sebab, justru dari amal shalih itulah Allah akan memberikan rahmat-Nya untuk kita semua.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” [QS. Al-A’raaf : 156].

Mari kita jemput 99/100 rahmat-Nya yang masih tersimpan. Dan, Ramadhan, bulan penuh rahmat, adalah kesempatan yang tepat untuk kita menjemput rahmat Allah swt.

intifadah

Anakku, Pahlawanku #3

Peran Ibu Dalam Menumbukan Sifat Kepahlawanan
Jika melihat sekilas biografi orang-orang besar tadi, tampak betul bahwa peran ibu dalam membentuk karakter mereka sangatlah signifikan. Kita sering mendengar kata Al-Ummu madrasatun ula. Seorang ibu adalah sekolah yang pertama, yang dimaksud adalah sekolah untuk anak-anaknya. Ada juga sebuah syair Arab yang berbunyi: “Al ummu madrasatun idzaa a’dadtahaa a’dadta sya’baan thayyibal a’raaq” (ibu adalah sebuah sekolah, jika pandai dipersiapkan, maka yang kita persiapkan sebenarnya adalah satu bangsa yang baik dasarnya).

Apa yang bisa dilakukan seorang ibu untuk melahirkan para pahlawan dari rumahnya?
1.       Pendidikan Keimanan
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6).
Rasul bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, bagaimana agar anak tetap dalam keadaan tauhid yang murni—tidak lantas berubah menjadi yahudi, nashrani atau majusi, inilah tugas terpenting orang tua.
Cara paling mudah yang telah ditempuh Rasulullah saw. dalam menanamkan pondasi keimanan kepada anak-anak adalah sebagai berikut:
•     Membimbing anak-anak untuk mengucap kata “Allah”, kemudian dilanjutkan dengan kalimat tauhid, sekaligus menjelaskan maknanya dalam bahasa yang sederhana.
•     Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah saw. pada awal-awal usia sehingga mereka mulai bisa memahami pada usia tamyiz.
•     Mengajarkan Al-Qur’an, dimulai dari ayat-ayat pendek sembari menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an.
•     Membiasakan melakukan shalat pada usia 7 tahun dan ibadah-ibadah lainnya yang telah mampu dilaksanakan.
•     Mulai diperkenalkan dengan konsep halal dan haram.
2.       Pendidikan Akhlak (Adab)
Akhlak adalah pancaran dari kekuatan akidah yang dimiliki seseorang. Artinya, jika keimanan telah terpancang kuat dalam jiwa seseorang, maka dengan sendirinya ia punya dorongan untuk melakukan sesuatu yang baik. Misalnya, ketika seseorang telah meyakini firman Allah, “(Lukman berkata), ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya)…” (QS. Luqman: 16), maka dengan sendirinya ia akan termotivasi untuk senantiasa berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk—meskipun perbuatan buruk yang kadarnya hanya seberat biji sawi.
Akhlak merupakan suatu hal yang secara spontan muncul jika berhadapan dengan sesuatu. Misalnya, seorang anak akan segera mengeluarkan uang ketika berhadapan dengan yang membutuhkan, tanpa harus berpikir panjang dan menimbang-nimbang. Jadi, akhlak adalah sesuatu yang muncul dari alam bawah sadar, yang terjadi karena kebiasaan.
Keluarga adalah wahana yang terbaik untuk terbentuknya akhlak-akhlak yang mulia. Penanaman kebiasaan yang baik, hendaknya memang dilakukan sedini mungkin, dan ini adalah prestasi terbaik yang berikan orang tua kepada anak-anaknya. Rasul bersabda, “Tidak ada pemberian yang terbaik yang diberikan seorang ayah (orang tua) kepada anaknya selain adab yang mulia.” (HR. Tirmidzi).
Orang tua perlu bersikap tegas dalam membiasakan akhlak yang baik ini. Rasul bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat di saat mereka berusia 7 tahun, serta pukul mereka pada usia 10 tahun jika mereka enggan melaksanakannya dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan lain-lain dengan sanad hasan).
Selain tegas, faktor keberhasilan yang terpenting lainnya adalah kesinambungan dan pentahapan. Sebab, segala sesuatu memang tercipta dalam tahap-tahap—tidak ada istilah 1000 candi dalam semalam. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu melalui tahap demi tahap (dalam kehidupan).” (QS. al-Insyiqaq: 19).
3.       Pendidikan Fisik
Pendidikan fisik juga suatu hal yang penting, karena tanpa fisik yang kuat, fitrah, potensi dan bakat yang dimiliki anak tidak akan termanfaatkan secara optimal untuk hal-hal yang berguna bagi umat. Pendidikan fisik dilakukan dalam beberapa hal, misalnya:
Dalam Masalah Kebersihan, Kerapian dan Keindahan
1.      Menjaga kebersihan, baik kebersihan badan, pakaian, tempat tidur, dan sebagainya. Rasul bersabda,“Bersih-bersihlah, karena sesungguhnya Islam itu bersih.” (HR Ibnu Hibban).
2.      Menutup tubuh dengan pakaian yang bisa melindungi diri dari cuaca. Allah berfirman, “Hai anak-anak Adam, sungguh telah kami turunkan kepada kalian pakain yang menutupi aurat kalian dan perhiasan.” (QS. al-A’raf: 26).
3.      Mengajari anak untuk tampil rapi, indah dan pintar berhias dengan hiasan yang syar’i. Biasakan mereka untuk tampil dengan pakaian yang baik, rapi, bersih, indah dan menarik. Allah berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid…” (QS. al-A’raf: 31). Dari Abu Darda, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kamu hendak datang kepada saudara-saudaramu seagama, maka bersihkan dan indahkan kendaraan kamu dan juga pakaian kamu, sehingga kamu itu tampak bagaikan tahi lalat tubuh di kalangan orang-orang (indah dan menonjol); karena sesungguhnya Allah itu tidak menyukai pakaian kumal dan sengaja berpakaian kumal.” (HR. Abu Dawud).
Dalam Masalah Makanan dan Minuman
1.      Memakan dan meminum sesuatu yang halal serta thayyib. Thayyib di sini berarti bahwa makanan tersebut berkualitas, baik dari gizi maupun lainnya, misalnya tidak busuk, tidak mengandung zat yang berbahaya dan sebagainya. Allah berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi…” (QS. al-Baqarah: 168).
2.    Tidak makan dan minum secara berlebihan“…Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).
Berolahraga
Senantiasa berolahraga, selain membuat tubuh kuat, rajin berolahraga juga akan membuat kita terhindar dari berbagai penyakit berat. Rasulullah bersabda, “Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Bukhari).
4.       Pendidikan Akal (Intelektual)
Akal adalah satu anugerah kepada manusia yang sangat diperhatikan dalam Islam. Hanya orang-orang berakallah yang terkena berbagai kewajiban dalam Islam. Rasul bersabda, ““Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari 3 golongan, di antaranya: orang gila sampai dia kembali sadar.” (HR. Abu Dawud). Dan Islam sangat mencela orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk berpikir. Firman-Nya, “Dan mereka berkata, ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk: 10).
Produk dari akal adalah ilmu. Pujian Allah terhadap orang-orang yang berilmu, menjadi motivasi sekaligus penyadaran bahwa aktivitas menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi setiap mukmin, termasuk anak-anak kita. “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. al-Mujadilah: 11).
Pendidikan akal dimulai dari pemberian gizi yang baik, yang akan membantu optimalisasi pertumbuhan otak. Menurut para ahli, dari bayi mulai lahir hingga berusia 3 tahun, kapasitas otaknya tumbuh hingga 90% kapasitas dewasanya. Inilah yang disebut periode emas (golden age). Jika pada umur-umur ini orang tua lalai untuk memberi gizi yang dibutuhkan otak, serta tidak menstimulasi otak dengan maksimal, maka akan ada kesempatan emas yang terengut dan tak akan datang kembali pada umur-umur selanjutnya. Tak heran, pada anak-anak yang dididik dengan baik, ternyata berhasil memperlihatkan prestasi yang begitu dahsyat, seperti hapal 30 juz Al-Qur’an dalam usia 5 tahun.
Sungguh, potensi yang tersimpan dalam otak manusia begitu luar biasa. Dari otak yang hanya seberat 1,5 kg ini terdapat bermilyar-milyar sel saraf. Richard Restak M.D, seorang ilmuwan, mengatakan bahwa otak manusia bisa menyimpan informasi lebih banyak dari seluruh perpustakaan di dunia. Inilah mengapa Allah SWT selalu menegur manusia dalam firman-firman-Nya, “afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak berakal)”, “la’allakum tatafakkarun (mudah-mudahan kamu berpikir),” dan sebagainya.
5. Pendidikan Kejiwaan (Psikis)
Pendidikan kejiwaan—yakni memunculkan emosi dan spiritual yang matang—harus semakin digencarkan di zaman ini, di mana revolusi teknologi telah memungkinkan anak-anak kita mendapatkan pendidikan intelektual lebih baik dari zaman sebelumnya. Kecerdasan akal yang tak diimbangi dengan kecerdasan psikis, sering memunculkan anomali-anomali yang mengejutkan. Masih ingatkah Anda tentang seorang Cho Seung Hui yang membantai mahasiswa di kampus Universitas Virginia Tech beberapa masa yang lalu? Konon, Cho Seung Hui adalah seorang yang sangat cerdas, namun sangat labil dalam masalah emosi. Ia pun berhasil tampil sebagai pembunuh berdarah dingin. Menghamburkan lebih dari 170 peluru, ia berhasil menghabisi 32 nyawa dan setelah itu ia membunuh dirinya sendiri.
Di dalam Islam, pendidikan kejiwaan telah ditekankan. Misalnya, kita dilarang melaknat anak-anak kita. Rasulullah saw. bersabda, “…Melaknat seorang muslim sama dengan membunuhnya.” (HR. Bukhari). Jika yang dilaknat adalah anak-anak kita, tentu lebih tragis lagi. Anak-anak memiliki hati seputih kertas dan selembut sutera. Hardikan dari orang-orang—khususnya yang ia cintai—akan mencipta luka di hati yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya. Selain mencipta luka, juga akan menurunkan rasa percaya diri, serta menjadikannya belajar melaknat orang lain pula. Ingatlah puisi Dorothy Law Nolte berikut ini:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri
Inilah rahasia mengapa Rasulullah mengatakan kepada seorang lelaki yang mengaku tak pernah mencium anaknya, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kamu jika Allah mencabut rasa kasih sayang dalam hatimu.” (HR. Bukhari).
Usamah bin Zaid r.a. berkata, “Rasulullah saw. pernah mendudukkan saya (saat masih kecil) di atas salah satu pahanya dan mendudukkan Al-Hasan di atas pahanya yang lain, kemudian Rasulullah memeluk kami berdua lalu berdoa, ‘Ya Allah, sayangilah kedua anak ini, karena saya menyayangi keduanya.” (HR. Bukhari).
Sikap menyayangi, mendukung, bersahabat, memberi dorongan serta pujian, bertoleransi dan melakukan anak dengan baik, akan sangat berpengaruh terhadap aspek kejiwaan anak. Sebaliknya, sikap mencela, mengacuhkan, memusuhi dan menghina, hanya akan membuat si anak senantiasa berkecamuk dalam pemikiran-pemikiran negatif, yang berdampak pada mental yang tak stabil.
6. Pendidikan Sosial
Kekuatan umat islam adalah ketika mereka bergabung dalam satu jamaah. Itulah mengapa, Allah lebih mencintai amalan-amalan yang dikerjakan secara bersama-sama. Shalat misalnya, pahalanya lebih banyak jika dilakukan secara berjamaah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. ash-Shaff: 4).
Sedangkan salah satu perekat jamaah yang paling baik, setelah akidah adalah ukhuwah. Maka, sejak dini seorang anak harus dilatih untuk bisa bersosialisasi, bermasyarakat dan menerapkan hak-hak ukhuwah. Rasulullah saw. bersabda, “…Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lainnya; ia tak boleh saling menyakiti, merendahkan dan menghina…” (HR. Muslim).
Seorang anak harus diajari untuk berinteraksi dengan orang lain, dimulai dari lingkungan terkecilnya, yakni keluarga, yakni ayah, ibu dan saudara-saudara. Interaksi yang harmonis, bisa jadi berasal dari kita, kaum ibu. Jika ibu bisa mengambil peran secara baik, maka perseteruan kakak dan adik tak akan terjadi di luar batas kewajaran. Peran ini—menurut Ummu Harits, dalam buku Mengelola Persaingan Kakak Adik—adalah sebagai mediator, penengah yang adil. Jika seorang ibu sudah memihak, maka ia telah mengajari anak untuk bersikap tidak netral, yang akan membekas di sanubari sang anak. Menanamkan kesadaran kepada anak-anak yang lebih tua, seringkali lebih mudah. Akan tetapi, jangan suruh mereka untuk selalu mengalah kepada si kecil. Apalagi sampai menurunkan martabat sang kakak di depan adik, misalnya dengan berkata, “Kamu nakal!” Jika Anda hendak menasihati si kakak, sebaiknya di ruang khusus yang terpisah dengan adiknya—demikian juga sebaliknya.
Interaksi dengan orang di luar keluarga juga harus dibangun. Ajari anak untuk menghargai yang lebih tua—misalnya dengan mencium tangannya saat bertemu—serta menyayangi yang lebih muda—misalnya dengan membelai rambutnya secara lembut. Selain itu, jangan terlalu membatasi pergaulan anak-anak kita, misalnya dengan selalu mengurung diri di rumah karena takut jika dipengaruhi pergaulan anak-anak di sekitar rumah kita. Anak-anak juga perlu bersosialisasi, namun pantaulah mereka selalu, dan berilah konter atas apa-apa yang Anda anggap tidak tepat, yang berasal dari lingkungan sekitar, tentu saja dengan cara yang bijak.
Sekaligus untuk menanamkan kebiasaan beribadah secara jamaah, sangat baik jika orang tua—terutama ayah—mengajak anak-anaknya untuk ke masjid setiap shalat 5 waktu. Jika mereka berbuat keributan di masjid, ini menjadi entry point untuk memahamkan bahwa mereka harus menjaga ketenangan saat melihat orang lain beribadah. Wallahu a’lam bish-shawwab.
7. Pendidikan Seksual
Pada beberapa masyarakat, mereka menganggap tabu memberikan pendidikan seksual kepada anak-anaknya, sehingga informasi tentang seks justru didapat dari pihak luar, yang terkadang hanya berupa informasi sepotong-sepotong yang malah menyesatkan. Pendidikan seksual diawali sejak kanak-kanak, yakni dari pengenalan perbedaan antara lelaki dan perempuan yang diikuti dengan pembedaan cara berpakaian, cara bermain dan sebagainya. Anak-anak lelaki dan perempuan juga harus mulai diajarkan untuk terpisah tempat tidurnya.
Ketika anak memasuki masa tamyiz (pra pubertas, sekitar 7-10 tahun), ajarilah ia untuk meminta izin ketika memasuki tempat-tempat pribadi—seperti kamar tidur—baik milik orang tua atau anggota keluarga yang lain. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu.  Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu…” (QS. an-Nuur: 58).
Ketika anak memasuki usia pubertas (remaja), maka anak mulai dipahamkan dengan sistem reproduksi seperti haid dan mimpi basah, serta berbagai konsekuensi yang harus ditanggung. Akan tetapi, pada masa-masa ini, hendaklah mereka dijauhkan dari berbagai macam hal yang dapat merangsang gairah seksual. Mereka juga harus telah menutup aurat.
Sedangkan bila anak telah memasuki usia siap menikah, maka ajarkanlah padanya etika jimak, serta berbagai hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, seperti hamil, melahirkan, menyusui dan sebagainya. Sedangkan pada anak lelaki, kewajiban untuk memberi nafkah lebih ditekankan dibanding perempuan.
8. Pendidikan Finansial
Masalah finansial, mulai dari cara mencari ma’isyah, mengatur ma’isyah, memanfaatkan hingga tanggung jawab yang berkaitan dengan hal tersebut seperti zakat, infak, sedekah, harus sejak dini ditanamkan kepada anak. Kepada anak lelaki, tanamkan kepada mereka, bahwa tanggung jawab lelaki adalah memberi nafkah kepada anak istrinya. Kepada perempuan, didiklah untuk bisa qanaah dan tidak mengeluh dengan kesempitan rezeki yang mungkin akan dirasakan. Ajarkanlah mereka nilai uang, serta sikap menghargai uang. Jangan gelontorkan uang saku secara berlebihan, meskipun Anda mampu untuk itu. Bantulah mereka untuk merencanakan keuangan mereka, termasuk menabung dan belajar investasi.
Akan tetapi, perlu diingat, mengajari anak hidup hemat, bukan berarti membentuk mereka untuk menjadi pelit. Justru mereka harus dirangsang untuk bersikap dermawan. Setelah anak beranjak agak besar, ajari mereka untuk mencari penghasilan, misalnya dengan berdagang. Jangan tekankan pada hasil, tetapi lebih pada semangat mereka untuk berusaha mandiri. Pelan-pelan, jiwa wirausaha mereka akan terpupuk. Bagaimanapun, menjadi seorang pengusaha adalah cara yang lebih baik untuk mandiri secara finansial. Rasulullah bersabda, “Mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Bukhari).
9. Pendidikan Leadership
Rasulullah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin…” (HR. Bukhari). Hadits tersebut menginspirasikan kepada kita, bahwa leadership (sikap kepemimpinan) merupakan suatu hal yang harus dimiliki setiap orang, karena setiap orang adalah pemimpin—minimal memimpin diri sendiri.
Membangkitkan rasa kepemimpinan dimulai dari membantu anak untuk memahami dirinya sendiri, mengetahui peta diri—positif negatifnya, mengoptimalkan yang positif dan meminimalisir yang negatif, dan oleh karenanya, anak mampu menjadi diri sendiri. Bukan sebaliknya, senantiasa melindungi si anak dengan kebesaran nama Anda dan suami, serta berharap anak-anak Anda akan mendapatkan kemudahan dengan berlindung di bawah ‘sayap’ Anda. Ingatlah, tak akan selamanya Anda bersama dengannya. Suatu saat, anak-anak yang Anda timang-timang itu, harus berjalan di atas muka bumi sebagai dirinya sendiri, yang memiliki tanggung jawab terhadap keluarga mereka.
Usai anak mampu berjalan di garis lurus—yakni garis yang sesuai dengan potensi dan bakat mereka, bantulah agar ia mampu membentuk tim. Pada saat ia berada di tim, tak harus ia menjadi ketua untuk menumbuhkan leadership-nya. Cukup jika ia mampu bersikap amanah terhadap apa-apa yang dibebankan kepada mereka, berarti sikap kepemimpinannya mulai terbentuk.


Pada anak-anak yang lebih tua, apalagi yang sulung, tuntutan untuk memiliki sikap kepemimpinan biasa lebih tinggi. Biasanya, secara otomatis, anak akan mampu memimpin adik-adiknya. Akan tetapi, jangan biarkan mereka mendominasi anak-anak yang lebih muda, dan jangan biarkan pula anak-anak yang lebih muda merasa terus hidup di bawah bayang-bayang mereka, bahkan merasa nyaman dan enjoy selamanya. Berilah jatah bergilir kepada mereka untuk menjadi pemimpin. Misalnya, Anda membuat kegiatan rihlah keluarga ke tempat wisata. Anda bisa mengarahkan forum keluarga untuk memilih—misalnya Syahidah sebagai ketua panitia. Besoknya, ketika Anda kedatangan tamu dari keluarga mertua, pilihlah Ramadhan sebagai ketua panitia. Begitu seterusnya.

Bagian Ketiga Dari Tiga Tulisan
Ditulis Oleh Afifah Afra

Anakku, Pahlawanku #2

Menumbuhkan Sifat Kepahlawanan
Zaman terus berkembang dengan berbagai dinamikanya. Tentu pada setiap zaman, akan ada penggerak-penggeraknya. Alangkah bangganya kita jika para penggerak dinamika zaman, ternyata adalah orang-orang yang sangat dekat dengan kita: anak-anak kita. Tentu yang kita harapkan adalah penggerak dalam kebaikan, kebenaran, keadilan.
Dalam KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; bisa juga dimaknai sebagai pejuang yang gagah berani. Adapun sifat kepahlawanan berarti berhubungan dengan sifat-sifat yang biasanya melekat pada seorang pahlawan sepertt keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan.
Mengapa seseorang bisa menjadi pahlawan, tentu karena karakter kepahlawanan yang dimilikinya. Menurut Suyanto (dalam Wibowo, 2011:32) menjelaskan bahwa karakter adalah cara berpikir atau berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dengan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Sedangkan pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik (good character) berlandaskan kebajikan-kebajikan inti (core virtues) yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat (Saptono, 2011:23).
Menurut Socrates (dalam Majid dan Dian,2011:30) tujuan paling mendasar dari pendidikan karakter adalah membuat seseorang menjadi good and smart. Sebagai seorang muslim, tentu kita sangat memahami penegasan Rasulullah SAW, bahwa tujuan utama diutusnya beliau sebagai Rasulullah adalah untuk menyempurnakan akhlak. ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang shalih”(H.R. Bukhari dalam shahih Bukhari kitab Adab; Baihaqi dalam kitab Syu’bil Iman dan Hakim).
Adapun karakter-karakter yang identik dengan sifat kepahlawanan antara lain:
  1. Cerdas. Seorang pahlawan sudah pasti cerdas, baik secara intelektual, emosional maupun spiritual. Tidak mungkin seorang yang tidak cerdas bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan besar yang menjadi tantangan serius bagi seorang yang berjiwa pahlawan.
  2. Berkarakter desainer dan pembaharu. Biasanya pahlawan adalah ‘desainer peradaban’, tentu dia haruslah sosok yang visioner, memiliki ide-ide besar, dan senantiasa melakukan kebaruan-kebaruan. Pahlawan bukan seorang pecontek, bukan seorang imitator, apalagi sekadar follower. Dia mengubah tradisi dari kegelapan menuju cahaya.
  3. Gagah berani . Berani melawan musuh, berani menanggung resiko, berani mengambil keputusan, dan berani hidung sengsara demi meraih tujuan-tujuan besarnya. Sosok penakut, tak mau mencari resiko, tak akan mungkin meraih derajat kepahlawanan.
  4.  Rela berkorban. Seorang pahlawan tentu harus rela berkorban. Berani berpayah-payah, berlelah-lelah, mengorbankan segalanya, bahkan nyawa.
  5. Penuh semangat, dan bisa menyemangati orang lain. Seorang pahlawan, adalah motivator luar biasa yang bisa menggerakkan orang untuk bangkit dari keterpurukan.
  6. Teguh memegang prinsip. Ingat bagaimana Tariq bin Ziyad justru membakar kapal yang membawanya dan para tentara mendarat di Eropa?
Bagian Kedua Dari Tiga Tulisan
Ditulis oleh Afifah Afra

ANAKKU, PAHLAWANKU # 1

Syahdan pada suatu hari, seorang ibu tengah mempersiapkan hidangan untuk tamu kehormatannya. Hidangan itu berupa daging kambing yang dimasak spesial. Sang ibu pun menyajikan dengan indah dalam sebuah wadah. Namun alangkah kagetnya sang ibu, ketika seorang anaknya yang masih kecil, mendadak menaburkan pasir ke hidangan tersebut.
Apa yang akan kita lakukan jika kita adalah ibu dari anak tersebut? Mungkin kita akan memakinya, menghukumnya, mengurangi jatah uang sakunya. Sama seperti kita, si ibu juga sangat kesal dan marah. Tetapi yang keluar dari mulut sang ibu adalah sebuah kemarahan yang unik. “Sudais, dasar kamu anak nakal! Awas kamu kalau sudah besar kamu akan menjadi IMAM MASJIDIL HARAM!”
Apa yang terjadi dengan anak itu di kemudian hari. Ternyata dia betul-betul menjadi Imam Masjidil Haram. Syaikh Sudais, siapa yang tidak mengenal bacaan murotalnya yang khas itu?
Sementara itu, di sudut sejarah yang lain, seorang janda miskin yang tinggal di dekat kota Mekah, berupaya keras untuk menjadikan putranya sebagai seorang yang terdidik. Namun karena dia tak memiliki cukup biaya, dia didik sendiri putranya. Dia ajari menulis dan membaca. Sebagai sarana, dia gunakan berbagai peralatan seperti pecahan tembikar, pelepah kurma, tulang unta, potongan kulit binatang dan sebagainya untuk menulis. Sang anak akhirnya benar-benar tumbuh sebagai sosok yang cerdas dan terpelajar. Hingga pada usia 15 tahun, si anak akhirnya meminta izin untuk keluar kota dalam rangka memperkuat keilmuannya. Meskipun cinta membalut kuat, demi kebaikan sang putera, si ibu pun mengizinkannya. Kita mengenal sosok yang besar dalam didikan sang ibu itu sebagai salah seorang tokoh yang sangat kita kenal, yakni Imam Syafi’i.
Betapa banyak pahlawan yang terlahir di muka bumi ini, ternyata berasal dari sosok seorang ibu yang hebat. Ibu dari Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel (Istanbul) misalnya, sejak putranya itu masih bayi, dia selalu mengajak bayi Al-Fatih keluar dari istana. Dia ajak bayinya itu ke sebuah tebing yang menghadap ke Konstantinopel Sang ibu mengatakan kepada anaknya itu, “Wahai anakku, di sana terdapat kota Konstantinopel. Dan Rasulullah SAW bersabda: Konstantinopel itu akan ditaklukan oleh tentara Islam. Rajanya (yang menaklukan Konstantinopel) adalah sebaik-baik raja, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Ketahuilah anakku, engkaulah orangnya.”
Kalimat itu terus menerus dibisikkan kepada bayi Al-Fatih. Dan di kemudian hari, ternyata betul. Muhammad al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel, yang kemudian dia ganti namanya menjadi Istanbul. Dari penaklukan itulah berawal kekuasaan sebuah imperium besar dalam sejarah, yakni Kekhilafahan Turki Utsmani hampir selama 500 tahun!
Kita mengenal Khansa, seorang shahabiyah yang mampu membangkitkan semangat jihad kepada ke-4 puteranya. Dan ketika ke-4 puteranya tersebut syahid di peperangan Qadisiyah, tak ada sedikit pun perasaan sedih atau gusar pada diri Khansa, karena ia telah yakin, putera-puteranya telah mendapatkan kemenangan yang hakiki dan telah masuk ke surga-Nya tanpa hisab.
Setiap kita belajar sejarah, sesungguhnya kita sedang belajar tentang para penggerak sejarah, yaitu orang-orang besar. Mereka terdiri dari kelompok: pahlawan dan musuh besarnya. Kita mengenal Daud a.s. dengan musuhnya, Jalut; Ibrahim a.s. dengan musuh besarnya, Namruj; Musa a.s. dengan musuh besarnya, Fir’aun; dan sebagainya. Hampir tak ada nama ‘orang kecil’ tercatat dalam sejarah, kecuali jika ‘orang kecil’ itu melakukan sesuatu yang besar. Awalnya mereka adalah orang-orang yang semula tak dipandang, namun  mendadak terkenal, sehingga ada istilah from zero to hero. Kita mengenal Budak Wahsyi yang membunuh Hamzah r.a., Gravilo Princip—pembunuh Archduke Franz Ferdinand dari Austria, yang pembunuhannya memicu terjadinya perang dunia pertama. Akan tetapi, tetap saja penggerak dari dinamika sebuah sejarah adalah orang-orang besar itu. Sehingga, beberapa pakar menyebutkan, bahwa sejarah itu sesungguhnya kumpulan biografi orang-orang besar. 
Bagian Pertama Dari Tiga Tulisan
Ditulis oleh Afifah Afra
Love__Mom_by_MooMyFire

Misteri Jodoh

Love__Mom_by_MooMyFire
Oleh Afifah Afra

Sebagian besar manusia di dunia ini mengalami fase yang disebut dengan nikah. Selain merupakan fitrah manusia, nikah dibutuhkan untuk kelangsungan generasi umat manusia itu sendiri. Tentu. Manusia bukan sejenis tumbuhan yang bertunas dengan sendirinya, atau bisa berbiak dengan hanya melakukan stek batang-batangnya. Manusia membutuhkan proses perkawinan untuk bisa menghasilkan keturunan.
 
Segala sesuatu memang diciptakan berpasangan. Bagi saya, dan mungkin juga Anda, salah satu misteri terbesar dalam kehidupan ini adalah jodoh dan perjodohan. Kisah-kisah sejati yang menakjubkan seputar perjodohan, tergores begitu giras, tercetak begitu rancak, terlukis begitu manis. Masing-masing Bani Adam memiliki cerita sendiri. Dan biasanya, cerita-cerita itu terbingkai dalam sebuah keistimewaan yang mengesankan. 
Anda, saya, memiliki memori yang penuh kelindan rasa, juga gejolak emosi seputar kisah perjodohan kita. Ada yang manis, sedikit asam—tapi lezat, sedikit pahit—tapi sedap, sedikit asin—tetapi memikat. Nano-nano. Namun, tak menutup kemungkinan ada juga yang rasa itu bertaraf ekstrim. Sangat pahit, sangat asam, sangat asin. Atau sebaliknya, sangat manis, sangat sedap, sangat nikmat. 
 
Manusia memiliki jalan hidup sendiri-sendiri. Jalan hidup itu memiliki rasa yang khas. Orisinil.
Maka, jika saja ada yang bersedia membukukan kisah perjodohan seluruh insan di muka bumi, bisa jadi buku itu akan menjadi sebuah karya masterpiece. Tentu saja. Karena makhluk bernama manusia yang pernah menetap di Planet Bumi ini trilyunan jumlahnya. Dari trilyunan jiwa, tersketsalah trilyunan kisah istimewa seputar perjodohan. Ya, karena setiap manusia nyaris semua mengalami. Terbayanglah kini, betapa tebal buku yang harus dia tulis. Berapa banyak pena yang harus dikosongkan tintanya. Berapa lembar kertas yang dibutuhkan. Dan, betapa dahsyat tenaga dan pikiran yang harus dikeluarkan.
Nyatanya, meski tak semua keistimewaan itu terdokumentasikan, sepanjang sejarah hidup manusia, kita menemukan kisah-kisah perjodohan yang legendaris, sehingga menjadi buah bibir di sepanjang pergiliran zaman.
 
SEMUA MAKHLUK ADA PASANGANNYA
 
Nabi Nuh a.s., menyadari betul bahwa kehidupan tidak boleh berakhir, meskipun bencana besar berupa air bah menerpa. Sehingga, di dalam kapal beliau, binatang-binatang dibawa secara berpasang-pasangan. Nabi Nuh berpikir jauh ke depan–tentu dengan bimbingan dari-Nya–bahwa hanya dengan berpasang-pasangan itulah kehidupan akan terus berjalan.
 
Kebijaksanaan Illahi adalah takdir
Yang membuat kita mencintai satu sama lain
Karena takdir itu, setiap bagian dunia ini
Dipertemukan dengan jodohnya.
(Jalaluddin Rumi)
 
Demikian juga manusia. Mereka telah diciptakan secara berpasang-pasangan dengan jenisnya sendiri (sesama manusia). Simaklah firman-Nya ini: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Rum: 21).
 
Ya, perjodohan antarmakhluk-Nya memang sebuah tanda-tanda kebesaran-Nya. Adam a.s. diciptakan dari segumpal tanah, lalu menyusul jodohnya, Hawa, yang diciptakan dari tulang rusuk sang suami. Lalu, saat mereka diturunkan ke bumi, terpisah selama ratusan tahun, dan bertemu kembali di Jabal Rahmah.

Nabi Sulaiman bertemu dengan jodohnya, Balqis, lewat sebuah proses yang menakjubkan. Ali dan Fatimah akhirnya menikah setelah Fatimah berkali-kali dilamar oleh para sahabat yang mulia, Abu Bakar dan Umar, namun tidak diterima oleh Rasulullah SAW.


Silakan sibak kembali kisah perjodohan Anda dengan suami/istri Anda. Bukankah selalu ada kebesaran-Nya di kisah tersebut?


Catatan: 

Silakan baca buku “Sayap-Sayap Sakinah” untuk lebih detil memahami misteri perjodohan di antara makhluk-Nya.