Category Archives: HIKMAH

11_Islamic_Illustration_11_watermark

BELAJAR DARI BELAJARNYA PARA ULAMA

Dalam agama kita yang mulia ini, perkara menuntut ilmu dan belajar adalah perkara wajib. Dalam surat Al-Mujadalah: 11, Allah berfirman yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Dalam banyak hadist pun, Rasulullah telah menjelaskan tentang banyaknya keutamaan orang yang berilmu. “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalan baginya ke surga” (H.R. Muslim).

Berikut adalah beberapa keutamaan manusia yang berilmu menurut Al-Quran dan hadist :

  1. Dimudahkan dalam jalan menuju surga (sesuai hadist di atas)
  2. Disejajarkan dalam persaksian dengan malaikat
  3. Menjadi juru bicara untuk membantah para pendosa
  4. Dibukakan pikiran dan mata hati
  5. Lebih utama dari ahli ibadah
  6. Didoakan oleh seluruh penduduk langit dan bumi
  7. Takut kepada Allah Ta’ala
  8. Mengetahui hakikat kehidupan yang sangat banyak dan beragam
  9. Ilmu lebih utama daripada materi

Menuntut ilmu tentunya adalah proses belajar itu sendiri. Namun, kadangkala kesibukan dalam kehidupan sehari-hari melalaikan kita dari agenda menuntut ilmu. Padahal kebutuhan menuntut ilmu adalah kebutuhan ruh dan akal, sehingga kehidupan kita tak akan seimbang tanpanya.

Para ulama besar menghabiskan seluruh hidupnya untut menuntut ilmu yang bermanfaat untuk kemudian diajarkan kepada umat. Mengetahui bagaimana cara mereka menuntut ilmu adalah sesuatu yang bisa menginspirasi kita agar tak lelah belajar untuk menuntut ilmu.

Berikut beberapa kisah ulama besar dalam menuntut ilmu yang bisa kita teladani :

  1. Imam Malik

Imam Malik hanya menyediakan sedikit waktunya untuk tidur. Beliau pun tak pernah tertidur dalam proses belajarnya.

  1. Imam Syafi’i

Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga waktu, yakni sepertiga pertama untuk menulis ilmu, sepertiga yang kedua untuk sholat malam, dan sepertiga yang ketiga untuk tidur.

  1. Abu Hurairah

Abu Hurairah dan keluarganya membagi waktu malamnya menjadi tiga. Bedanya yang dibagi adalah anggota keluarganya menjadi semacam jaga malam bergantian. Mula-mula Abu Hurairah berjaga sambil sholat malam, berdzikir dan menuntut ilmu, dilanjutkan oleh istrinya kemudian oleh putrinya. Dengan demikian malam-malam yang berlalu di rumah Abu Hurairah selalu diisi oleh kegiatan menuntut imu dan ibadah kepada Allah.

  1. Ibnu Jabar Ath Thabari

Selama empat puluh tahun dari akhir hidupnya, Ibnu Jabar Ath Thabari mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari yang dikerjakannya sehabis sholat Zuhur menjelang Ashar dimana ide-ide tulisannya diperolehnya pada waktu sholat Shubuh selepas sholat Qiyamul Lail.

 

Prioritas waktu oleh para ulama salaf

Para ulama salaf memberikan kiat untuk memanfaatkan waktu untuk aktifitas belajar sebagai berikut.

  • Waktu terbaik untuk menghapal adalah waktu sahur sebelum fajar
  • Waktu terbaik untuk meneliti adalah di pagi hari
  • Waktu terbaik untuk menulis di tengah hari
  • Waktu terbaik untuk mengulang dan menelaah adalah di malam hari

Begitu luar biasanya para ulama-ulama besar tersebut dalam memanfaatkan waktu mereka untuk belajar dan mengajarkan, serta merelakan waktu tidur yang amat sedikit. Tentunya karena mereka benar-benar mengharapkan ridha dan cinta Allah yang diberikan kepada orang-orang yang berilmu.

Inilah yang seharusnya kita teladani. Bagaimanapun metode belajar yang kita sukai, bagaimana kita membagi waktu untuk beraktifitas sehari-hari, juga apapun status profesi kita, kita tetap wajib menyediakan waktu untuk menuntut ilmu dan tidak membiarkan waktu kita berlalu tanpa adanya penambahan ilmu dan kebaikan di dalamnya.

Marilah kita menyimak pesan seorang ulama besar berikut:

“Orang yang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia wariskan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan, maka ia telah durhaka kepada harinya dan menganiaya terhadap dirinya.”

(Yusuf Al Qaradhawi)

 

Sumber : Buku Zero to Hero (Solikhin Abu Izzudin) dan berbagai sumber lainnya

 

Penulis: Risa Mutia

Editor: Yeni M. Ahmad

 

muhasabah

Tahun Baru, Mari Bermuhasabah!

muhasabahTahun 2016 sudah kita lewati. Dan tahun 2015 sudah kita tinggalkan. Banyak orang telah menyusun resolusinya untuk tahun yang baru datang ini seiring harapan, pencapaian target-target di tahun depan akan lebih baik dari tahun yang telah dilalui.

Memang, tak ada kewajiban kita untuk menyusun resolusi. Namun tak ada salahnya kita melakukan muhasabah dan introspeksi. Bahkan evaluasi diri ini sebaiknya kita lakukan setiap hari. Dan barangkali, momen akhir tahun seperti ini, adalah momen yang tepat untuk kita sejenak merenungi hari yang telah berlalu, perbuatan dan amal ibadah yang telah kita lakukan, dan kekurangan-kekurangan apa yang harus kita benahi.
Untuk membantu Sobat Sakinah melakukan evaluasi diri, berikut beberapa check-list pertanyaan yang dapat sahabat tanyakan kepada diri sendiri, dan apa yang akan sahabat lakukan untuk memperbaikinya di masa yang akan datang:
1. Check-list Hubungan Kita dengan Allah
– Bagaimana kualitas dan kuantitas ibadah kita di tahun ini?
– Sudahkah ibadah tersebut membawa perubahan positif dalam diri dan rutinitas kita sehari-hari?
– Sudahkah hati kita ikhlas dalam beribadah? Ataukah hanya sekadar menggugurkan kewajiban belaka?
– Ibadah apa yang akan kita tingkatkan di masa yang akan datang?
– Sudahkah kita mengajak diri untuk selalu bertaubat?
– Sudahkah kita meluangkan waktu setiap hari untuk merenungkan kekuasaan Allah dan meningkatkan rasa syukur kita kepadaNya? Atau justru kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi sehingga saat diterpa masalah kita spontan meresponnya dengan berkeluh kesah?

2. Check-list Hubungan Kita dengan Sesama Manusia
– Sudahkah kita mempererat silaturahim? Ataukah kita sudah merasa cukup dengan bertegur sapa lewat media sosial dan gadget?
– Pernahkah kita menyakiti hati manusia? Jika pernah, sudahkah kita meminta maaf, atau justru masih saling membenci dan mendiamkan?
– Bagaimana kualitas hubungan kita dengan keluarga? Sudahkah kita menjadikan mereka prioritas, atau justru memberikan mereka hanya waktu dan energi yang tersisa?
– Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah dan muamalah, dengan bersedekah, saling memberi hadiah, saling membantu sahabat dan saudara yang tengah dilanda kesusahan? Atau justru kita lebih disibukkan dengan urusan memenuhi kebutuhan sendiri?
– Adakah perbuatan kita yang merenggut hak-hak orang lain? Jika kita menyadarinya, sudahkah kita memperbaiki kekhilafan itu?
– Adakah kata-kata atau perbuatan kita yang menyakiti orang tua?
– Seberapa sering kita memberi perhatian kepada orang tua kita?
– Andai orang tua kita sudah meninggal dunia, apakah kita selalu mendoakannya?
– Bagaimanakah kualitas hubungan kita dengan pasangan hidup kita? Apakah semuanya tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kian harmonis, atau sebaliknya, lebih banyak hari kita lalui dengan saling berselisih paham dan menggenggam bara api?
– Apa yang sudah kita lakukan untuk memperbaiki hubungan yang kurang harmonis? Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah yang sudah terjalin baik?

3. Check-list Hubungan Kita dengan Diri Sendiri
– Sudahkah kita merasa bahagia?
– Apakah kebahagiaan itu kian mendekatkan kita kepada Allah atau sebaliknya?
– Sudahkah kita memberi apa yang dibutuhkan jasmani dan rohani kita? Atau justru memaksanya untuk bekerja terlalu keras dan membiarkan jiwa kita kering dari siraman rohani dan juga ilmu?
– Masihkah penyakit-penyakit hati bercokol dalam jiwa kita? Jika ada, sudahkah kita berusaha membersihkannya?
– Apa rencana kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi di masa yang akan datang? Baik dalam pengabdian kita kepada Allah, dalam akhlak perbuatan dan juga dalam hubungan kita dengan sesama umat manusia?

Jawablah semua pertanyaan dengan jujur, dan silakan sahabat tambahkan sendiri jika masih ada hal-hal lain yang perlu untuk diperbaiki dan dievaluasi.

Semoga tahun yang akan datang, kita semua tetap berada di bawah rahmat dan perlindungan Allah, dan diri kita semakin bertumbuh menuju insan kamil.
Penulis: Riawani Elyta
Editor : Yeni Mulati Ahmad

Kuda

Suraqah bin Malik dan Dua Gelang Kisra

KISAH INDAH DI PERISTIWA HIJRAH #2

KudaDarun Nadwah terbakar amarah! Para pembesar kaum Kafir Quraisy berhasil membakar emosi para pemuda Quraisy dengan sebuah hasutan, bahwa Muhammad bin Abdullah adalah musuh besar yang harus segera mereka bunuh. Saat itu, Muhammad sedang dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Mereka khawatir sekali, saat sesampai di Madinah, Muhammad dan para pengikutnya akan semakin kuat.
Mereka, para pembesar seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan dan sebagainya, akhirnya membuat sebuah sayembara. Barangsiapa berhasil membunuh Muhammad, maka mereka akan memberi hadiah 100 ekor onta yang terbaik kualitasnya.

Seorang lelaki gagah, Suraqah bin Malik namanya, mendadak mengelus pedangnya. Seratus ekor onta itu sangat memotivasinya. Dia adalah seorang lelaki yang terkenal dengan kegagahannya di Nejd. Pemuda dari Bani Kinanah yang sangat disegani dan dihormati. Dia menyatakan diri sanggup mengejar dan membunuh Muhammad.

Debu mengepul saat kuda Suraqah menghentakkan kakinya, berlari kencang, memulai pengejarannya. Dengan bantuan orang-orangnya, Suraqah pun berhasil mendapatkan jejak Rasulullah. Dari kejauhan, dia melihat Rasulullah dan Abu Bakar as-Shidiq yang tengah berjalan menuju Madinah. Semangat Suraqah pun membuncah. Dia mempercepat laju kudanya. Namun, begitu jarak kudanya semakin dekat, mendadak kuda itu terjerembab. Suraqah tersentak kaget. Kuda yang dinaiki adalah kuda terbaik dan sangat terlatih, bagaimana mungkin bisa terjerembab?

Suraqah bangkit, lalu menaiki lagi kudanya dan mempersiapkan anak panahnya. Namun, setelah jarak semakin dekat, lagi-lagi kudanya terjerembab. Peristiwa itu terulang hingga tiga kali, sampai akhirnya Suraqah tersadar, bahwa sosok yang tengah dikejarnya itu memang bukan sosok biasa. Suraqah pun kembali mengejar Rasulullah, bukan untuk membunuh, tetapi untuk memohon ampun.

Muhammad tersenyum kepadanya, mengampuni dan berkata “Wahai Suraqah, bagaimana perasaanmu jika engkau memakai dua gelang Kisra?”

“Kisra bin Hurmuz?” Suraqah tertegun, tak paham dengan perkataan Muhammad Rasulullah. Kisra adalah kaisar Persia yang sangat termasyhur kala itu.

Akan tetapi, Rasulullah tak menjelaskan lebih mendetail. Beliau melanjutkan perjalanannya bersama Abu Bakar menuju Madinah. Suraqah, setelah peristiwa tersebut akhirnya bertaubat dan masuk Islam. Dia ikut bersama sahabat-sahabat lain berjuang menegakkan Al-Islam.

Alkisah, setelah Umar bin Khatab menjadi khalifah, kaum Muslimin berhasil mengalahkan Persia. Umar bin Khatab pun mencari gelang Kisra, dan menghadiahkan kepada Suraqah yang menerimanya dengan tangan gemetar dan penuh haru.

Ternyata, Rasulullah sudah meramalkan peristiwa itu. Subhanallah… [Admin].

Gambar diambil dari SINI.

[Ditulis oleh Afifah Afra. Ingin berinteraksi dengan Penulis? Follow akun Twitternya @afifahafra79 dan Like Fanpage AFIFAH AFRA].

j0178762

Aku Menangis Karena Takut Tak Mampu Menjagamu Lagi

 

KISAH INDAH DI PERISTIWA HIJRAH #1

j0178762

Kedua lelaki itu telah sampai pada mulut sebuah gua ketika mereka lihat para pengejar mereka sudah mulai mendekat. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk bersembunyi di dalam gua tersebut. Salah satu dari lelaki itu meminta untuk masuk terlebih dahulu guna membersihkan gua. Dia, Abu Bakar As-Sidiq pun dengan jeli mengawasi setiap sisi di ruangan sempit itu. Begitu terdapat lubang, dia pun menutupnya, khawatir jika dari lubang tersebut keluar binatang-binatang berbahaya. Setelah semua dirasa bersih, Abu Bakar pun mempersilakan sahabatnya yang mulia, Rasulullah SAW untuk masuk.

Mereka berdua berlindung di dalam gua kecil itu, alias Gua Tsur. Rasa tegang menguasai Abu Bakar ketika para pengejar terlihat telah begitu dekat dengan gua. Kaki-kaki mereka bahkan terlihat dari dalam gua. Mereka adalah orang-orang dari Suku Quraisy Paganis yang ingin menghalangi proses hijrah Rasulullah ke Madinah. Satu tujuan mereka: menghabisi Rasulullah SAW.

“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua,” bisik Abu Bakar, cemas. Tidak, Abu Bakar tidak mencemaskan dirinya sendiri. Jika lelaki-lelaki Quraisy yang kejam itu membunuhnya, Abu Bakar siap menghadapi kematian. Tetapi, Abu Bakar mencemaskan nasib Rasulullah SAW.

Namun dengan tersenyum tenang, Rasulullah menghibur sahabatnya terkasih itu. “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam segala kekuasaan, Allah…” ujar Rasulullah, sambil menepuk pelan bahu Abu Bakar.

Allah Maha Kuasa, termasuk Berkuasa untuk membuat para pengejar itu tak mencurigai bahwa di bawah mereka terdapat gua yang menjadi tempat bersembunyi dua orang yang tengah mereka cari. Pelan-pelan, para pengejar itu pun pergi.
Rasulullah SAW, karena begitu letih, akhirnya tertidur di pangkuan Abu Bakar. Lelaki itu membiarkan Rasulullah tertidur pulas, dan berusaha untuk tidak menganggunya. Saat itulah Abu Bakar tersadar, karena masih ada satu lubang yang terbuka di dalam gua. Pelan Abu Bakar mengangkat kakinya, dan menutup lubang tersebut dengan ibu jarinya.

Apa yang terjadi? Seekor ular berbisa mematuk kaki Abu Bakar. Rasa sakit dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh Abu Bakar. Wajahnya pucat pasi, akan tetapi Abu Bakar tak bersuara, takut Rasulullah terbangun. Namun, saking sakitnya, air mata mengucur dari pelupuk matanya. Tak sengaja air mata itu menetes ke Rasulullah, sehingga lelaki itu terbangun.

Rasulullah mengira Abu Bakar ketakutan karena pengejaran orang-orang yang hendak membunuhnya itu. Namun Abu Bakar menggeleng. “Ya Rasulullah, aku tidak pernah takut mati demi membela agama Allah.”

“Lalu apa yang terjadi hingga engkau menangis?” tanya Rasulullah lagi.
“Kakiku telah digigit ular, tubuhku lemas, aku menangis karena takut tidak akan bisa menjagamu lagi,” kata Abu Bakar.

Dengan lembut, Rasulullah pun mengusapkan ludahnya ke luka Abu Bakar. Dan atas izin Allah, luka Abu Bakar pun sembuh, dan rasa sakit itu hilang seketika.
Banyak peristiwa indah terjadi di saat-saat perjalanan Hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah, salah satunya adalah betapa besarnya kecintaan Abu Bakar as Shidiq kepada sahabatnya itu. Semoga kita bisa meneladani semangat para sahabat yang rela memberikan jiwa dan raganya untuk agama, dan Rasulullah tercinta.

Rasululah SAW segera memeriksa telapak kaki Abu Bakar. Setelah melihat adanya bekas gigitan ular, beliau langsung meludahinya.

Ajaib…serta merta rasa sakit di kaki Abu Bakar langsung sirna, hilang serta merta. Tidak lama kemudian Abu Bakar sudah merasa bugar lagi seperti sedia kala.

_________________________

Ditulis oleh Afifah Afra

Silakan follow akun Twitter @afifahafra79 dan Like Fanpage AFIFAH AFRA

IMG00180-20120427-1559

Mengembalikan Kepercayaan Anak Pada Orang Tua

Suatu hari Keysha mendapati kedua orang tuanya bertengkar, entah apa yang memicu pertengkarannya namun sampai sang ayah mengeluarkan kata-kata kasar. Sang ibu pun tak mau kalah hingga perang mulut dan fisik semakin tak terhindarkan.  Setelah kejadian itu ada yang berubah dari diri Keysha, dia yang dulu ceria, lincah dan energik menjadi pendiam,  penyendiri dan prestasinya pun menurun.Ternyata pertengkaran orang tua berdampak buruk buat anak, jika tak segera ditangani anak akan mengalami trauma yang berkepanjangan. Mereka akan memiliki masa depan yang sangat suram karena anak tidak percaya lagi pada orang tua, tidak memiliki semangat hidup, bahkan akan dengan mudah dia menyakiti diri sendiri.

Elmira Sumintardja, psikolog yang juga Koordinator LSM Jaringan Relawan Independen (JARI) mengatakan, jika orang tua bertengkar apalagi sampai disaksikan langsung oleh anak, akan sangat fatal akibatnya daya rekam pada ingatan anak sangat kuat hingga peristiwa itu akan melekat lama kuat hingga dewasa. Anak pun merasa menjadi “korban” dari konflik orang tuanya, perasaan anak sangat terluka karena orangtua yang disayanginya bertengkar. Anak pun kerap kebingungan apakah harus membela ibu atau Ayah?

Untuk itu para orang tua lebih sensitif dan peka terhadap kondisi anak-anak, karena pertengkaran orang tua dapat menempatkan anak di posisi yang serbasalah dan dilematis sertamenimbulkan tekanan emosi yang tinggi. Hal ini patut diwaspadai para orang tua karena bisa berakibat fatal dan bisa mengancam masa depan mereka, berikut beberapa langkah mengembalikan kepercayaan anak pada orang tua :

  1. Memberikan rasa aman dan nyaman

Orang tua dengan kompak berbicara pada anak,  memeluknya dan mendengarkan luapan emosinya serta terus meyakinkan anak bahwa orang tuanya hanya memiliki masalah kecil dan semuanya akan baik-baik saja.

  1. Memberikan sesuatu yang disenangi anak

Memberikan hadiah dirasakan mampu menguatkan kembali hubungan orang tua dan anak, terlebih hadiah itu adalah dengan sesuatu yang diinginkan atau disenangi anak, seperti mainan atau buku kesukaannya.

  1. Berlibur Bersama atau tadabur alam

Berlibur bersama atau tadabur alam akan membuat pikiran dan fisik kita menjadi segar dan fresh, sehingga anak bisa perlahan melupakan “peritiwa buruk” yang pernah dialaminya dan dia lebih siap membuka lembaran baru.(fm)

butterflies-19339_640

Menikmati Perbedaan

Oleh Yeni Mulati Sucipto

a.k.a. Afifah Afra

butterflies-19339_640

Bayang-bayang telah melewati sepanjang badan. Matahari telah kian menjauh dari titik tengah langit ke ufuk barat, pertanda waktu asyar telah tiba. Saat itulah pasukan kaum muslimin yang masih berada di perjalanan menuju Perkampungan Bani Quraidzah mengalami perbedaan pendapat. Sebagian mengatakan, harus terus melanjutkan perjalanan, karena sebelum itu, Rasulullah memang telah berpesan agar mereka tak shalat ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraidzah. Sementara itu, sebagian sahabat menganggap bahwa pesan Sang Nabi sebenarnya bermakna tersirat, yakni bahwa mereka harus melakukan perjalanan secara cepat, agar saat ashar tiba, mereka telah sampai di Perkampungan Bani Quraidzah. Maka, tatkala di perjalanan ternyata adzan ashar telah tiba, mereka pun mengambil air wudhu dan shalat asyar di perjalanan.

Bagaimana sikap Rasulullah SAW saat mendengar peristiwa tersebut? Ternyata Rasulullah membenarkan keduanya, dikatakan oleh Abdullah bin ‘Umar r.a. mengisahkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda pada peristiwa Ahzab: “Janganlah ada satu pun yang shalat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu ada di antara mereka mendapati waktu ashar di tengah jalan. Maka berkatalah sebagian mereka, “Kita tidak shalat sampai tiba di sana.” Yang lain mengatakan: “Bahkan kita shalat saat ini juga. Bukan itu yang beliau inginkan dari kita.” Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW namun beliau tidak mencela salah satunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitulah Sang Insan Utama bersikap saat menghadapi sebuah perbedaan yang disebabkan karena penafsiran yang beragam. Beliau sangat memahami, mustahil jika manusia memiliki satu pola pikir yang sama, sementara Allah SWT sendiri telah menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing. Bahkan dua manusia yang terlahir kembar identik pun, ternyata memiliki DNA yang berbeda, yang menyebabkan mereka memiliki sifat yang berbeda. Manusia jumlah sel otak mencapai ratusan milyar, sedangkan Islam menganjurkan kita untuk selalu mengoptimalkan otak kita. Jadi, jika semua manusia mengoptimalkan ratusan milyar sel otak di kepalanya, pasti akan muncul pemikiran yang beraneka ragam pula. Menyeragamkan pola pikir, menurut hemat penulis, adalah upaya pengkerdilkan daya pikir manusia itu sendiri. Karena itulah, Al-Islam sangat menghargai proses bersungguh-sungguh menggunakan pikiran untuk memecahkan sebuah persoalan—atau yang biasa kita kenal dengan istilah ijtihad. Di dalam ijtihad, saat benar, pahalanya dua, dan saat salah, masih mendapatkan satu pahala.

Sayang sekali, dalam tataran praktik, kita sering melihat perbedaan itu justru memunculkan perpecahan. Saat awal penentuan ramadhan kemarin misalnya, dengan jelas kita melihat beberapa kalangan yang saling menyalahkan dan bahkan saling menghujat. Padahal, jika kita telisik, masing-masing memiliki dalil yang sama-sama kuat. Terkadang, perbedaan itu juga menimbulkan perselisihan yang menumpahkan darah, padahal Islam adalah agama yang sangat membenci kekerasan.

Bagaimana agar perbedaan itu tidak menimbulkan perpecahan? Salah satunya adalah Silaturahmi untuk tujuan saling mengenal dan memahami beragam karakter sebagaimana firman-Nya, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat: 13). Karena tak kenal, maka tak sayang. Saling debat, hujat dan maki, biasanya berawal dari rendahnya frekuensi silaturahmi. Wallahu a’lam.

*) dimuat di Hikmah Ramadhan Solopos

gambar dari google

anisramaifan

ISTIGHFAR DAN KUNCI KEBAHAGIAAN

Kata orang bijak, hidup itu seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Akan tetapi, sebagian dari kita sering mengeluhkan tentang hidup yang selalu dalam  kesempitan. Hidup kita susah, rezeki cupet, suasana gersang, panas, gundah gulana dan serasa senantiasa bergelimang kesulitan. Rasa tertekan sering membuat kita gamang menghadapi kehidupan.

Oh, jangan berlarut-larut. Kisah ini mungkin akan menginspirasi Anda. Semoga.

Suatu hari, seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau mengadu kepada sang ulama. Jawab Al Hasan, “Beristighfarlah kepada Allah!”

Lalu, seorang yang lain datang dan mengeluhkan tentang kemiskinan, maka Al-Hasan berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!”

Selanjutnya, orang lain datang dan berkata kepadanya, “Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!” Maka beliau mengatakan kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!”

Kemudian datanglah lagi yang mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!”

anisramaifan

Keempat orang itu akhirnya bertemu dan saling bercerita. Mereka heran, mengapa Al-Hasan Al-Bashri memberikan jawaban yang sama untuk empat pertanyaan yang berbeda. Mereka pun kembali ke Al Hasan dan menanyakan hal tersebut.

Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (Q.S. Nuh: 10-12).

Istighfar adalah pembersih. Hati-hati yang berdebu, bernoda, bergelimang kotoran, akan terhapus oleh istighfar. Maka, jiwa dengan lidah yang selalu basah oleh istighfar tulus dari sanubari, ibarat kaca yang saban waktu dilap dengan pembersih. Cemerlang!

Karena itu, Rasulullah bersabda “Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah).

Siapa orang yang paling harus kita contoh dalam beristighfar. Beliau adalah Rasulullah SAW itu sendiri. Yang tak bergeser dari angka minimal seratus kali dalam sehari, padahal beliau adalah sosok yang telah dijamin masuk surga dan pribadi yang maksum.

Dari al-Aghar bin Yasar al-Muzani r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali. (H.R. Muslim).

Jadi, mengapa tak segera kita basahi lidah kita dengan istighfar? Kita bersujud di sepertiga malam terakhir untuk memohonkan ampunan-Nya?

Ditulis Oleh: Afifah Afra

116

Kematian: Kapan saja, siapa saja, di mana saja!

116

Bertahun-tahun silam, ketika saya masih co-ass, ada satu tema unik yang diperbincangkan oleh teman-teman saya.  Perbincangan itu berawal pada kejadian di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi yang sangat menarik. Suatu hari, seorang pengunjung yang sedang mengunjungi saudaranya yang sakit di rumah sakit, setelah menaiki tangga dan sampai di depan saudaranya mendadak terkena serangan jantung.  Suasana pun menjadi panik. Untungnya pihak rumah sakit dengan cepat bertindak. Beberapa tenaga medis, termasuk seorang dokter spesialis anestesi pun melakukan resusitasi (pertolongan pertama) kepada pembezuk tersebut. Sayangnya, setelah beberapa  saat tidak ada respon, dokter pun menyatakan dia meninggal dunia. Jiwanya tidak tertolong dan menghadap Sang Khalik.

Menurut kebanyakan teman-teman saya, peristiwa ini unik, seorang pembezuuk meninggal di Rumah Sakit setelah membezuk orang sakit. Justru pasien yang sudah lama terbaring masih tetap hidup hingga sekarang, sementara dia yang sebelumnya sehat wal afiat mendadak menemukan kematiannya. Itu mungkin yang membuat teman-teman saya menganggap hal itu unik, bahkan lucu.

Memang banyak hal yang unik dalam hidup ini, salah satunya adalah kematian. Sebenarnya kalau kita sedikit mau merenungi peristiwa ini, banyak pelajaran yang dapat diambil,  dan hal tersebut merupakan moment berharga yang dijadikan sarana agar kita kembali merenungi hakikat kehidupan ini.

Kehendak Allah di atas kehendak dan kemauan hambanya

Memang seringkali kita mempunyai suatu keinginan dan kemauan ingin begini, ingin begitu dan seterusnya, sebagaimana juga orang tersebut di atas. Dia menginginkan membezuuk saudaranya dan harapannya pulang kembali bertemu dengan keluarganya.  Mungkin sebelumnya ia bahkan telah berharap agar saudaranya itu cepat sembuh, dan diberi umur yag panjang alias tidak segera dicabut nyawanya oleh Sang Pemberi Hidup. Namun ternyata Allah berkehendak lain, dia meninggal di depan saudaranya yang sakit yang justru diberi usia lebih lebih panjang

 Kematian itu pasti datangnya

Karena kematian adalah sebuah kemestian, sebuah Sunatullah. Ia akan datang seketika tanpa kita inginkan, atau justru tak datang-datang meski kita sudah sangat menginginkan, misalnya karena sudah terlalu bosan hidup. Karena itu, persiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Sebab, semua orang bisa saja mendadak menemui kematian meski sebelumnya tak ada tanda-tanda untuk itu.

Kullu nafsin dzaiqotul mauut, setiap yang hidup pasti akan mati, demikian Allah berfirman, Oleh karenanya, bersiap-siaplah Wahai Saudaraku! Wallahu a’lam bishowab.

Ditulis Oleh Dr. Ahmad Supriyanto

Kontributor adalah owner dan pengelola SOLO KHITAN CENTER. Sehari-hari bekerja di RSU PKU Muhammadiyah Surakarta. Menetap di Surakarta.

Muhammad SAW

TAK BOLEHKAH AKU MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR?

Muhammad SAW

(Gambar diambil dari sini)

Sobat Sakinah, bagaimana jika kita tiba-tiba diberi jaminan diampuni segala dosa dan sudah pasti masuk surga? Mungkin kita akan larut dalam kegembiraan, lalu berperilaku lupa daratan. Pikiran kita, untuk apa susah payah beribadah, toh kita sudah dijamin masuk surga.

Tunggu! Coba Sobat cermati kisah yang sangat terkenal tentang kemuliaan akhlak Rasulullah SAW ini.

Diceritakan kembali oleh Imam Al Ghazali, bahwa suatu ketika ‘Atha menemui istri Rasulullah, Aisyah r.a. Ia berkata, “Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang menakjubkan yang anda lihat dari Rasulullah SAW.”

Aisyah menangis sambil berkata, “Bagaimana tidak menakjubkan, pada suatu malam beliau mendatangiku, lalu pergi bersamaku ke tempat tidur hingga kulitku menempel dengan kulitnya. Kemudian beliau berkata, “Wahai putri Abu Bakar, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanku.”

Aisyah pun menjawab, “Saya tidak akan menghalangi keinginan Anda.”

Rasulullah Saw pun berwudhu, kemudian beliau shalat, lalu menangis hingga air matanya bercucuran membasahi dadanya. Beliau rukuk, lalu menangis. Beliau sujud, lalu menangis. Beliau berdiri lagi, lalu menangis lagi. Demikian seterusnya beliau lakukan sambil menangis hingga datang azan Subuh

Rupanya Aisyah menyaksikan apa yang terjadi pada diri Rasulullah Saw. la merasa penasaran dan berniat menanyakan keadaan suaminya itu.

Setelah menunaikan shalat Subuh, Aisyah kemudian bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, apa yang membuat Anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang.”

Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menghendaki agar menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Banyak orang melakukan sesuatu karena takut ancaman atau menginginkan sesuatu. Jika ancaman menghilang, atau sesuatu yang diinginkan, maka aktivitas kebaikan itu terhenti. Adapun Rasulullah, meski segalanya telah dijamin, beliau tetap beridabah tak kenal lelah dalam rangka bersyukur. Fabiayyi aala irabbikuma tukadziban.

Menurut para cendekiawan, motivasi seseorang dalam beramal memang ada tiga. Pertama, karena takut akan ancaman. Kedua, karena berharap akan penghargaan. Terakhir… ini yang terjadi pada Rasulullah SAW. Beramal karena cinta.

Bagaimana dengan kita?

IMG00724-20120923-1724

Indahnya Sikap Tawakal

IMG00724-20120923-1724

Kesulitan hidup, bagi manusia adalah sebuah ketentuan Allah. Ia akan ada seiring dengan kehidupan manusia itu sendiri. Tak akan ada satu orang pun yang bisa luput dari kesulitan.

Allah berfirman, “Laqad khalaqnal insaana fii kabad,” artinya, “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (kesulitan).” (QS Al-Balad: 4).

Kesulitan itu, bagi orang-orang beriman adalah sebuah ujian, di mana dengan ujian tersebut, maka akan terlihat bahwa orang tersebut benar-benar beriman ataukah tidak.

Allah berfirman, “Ahasibannaasu an-yutrakuu an-yaquuluu aamannaa wahum laa yuftanuun.” Artinya, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabuut: 2).

Dengan demikian, sudah sangat jelas, bahwa ujian berupa kesulitan hidup, adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari pada setiap manusia. Kesulitan tersebut, akan membuat seseorang meningkat kualitasnya. Jika setiap seseorang berhasil menyelesaikan sebuah kesulitan yang kecil, maka Allah akan memberikan kesulitan dengan tingkat yang lebih. Persis seperti seseorang yang bersekolah mulai dari jenjang TK, SD hingga sarjana—bahkan pasca sarjana, yang tingkat ujiannya tentu tidak akan sama.

 

Makna Tawakal

Sikap seorang mukmin ketika menghadapi ujian adalah bertawakal. Secara bahasa, tawakal berasal dari kata wakalah yang artinya mewakilkan, atau menyerahkan diri. Sedangkan secara istilah, tawakal berarti: berserah dirinya seorang hamba kepada Allah dalam setiap urusan. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, bahwa kalimat yang diucapkan oleh Ibrahim AS ketika dilempar ke dalam api oleh Namrudz, serta yang diucapkan Nabi Muhammad SAW ketika diprovokasi agar takut kepada orang kafir adalah: “Hazbunallaahu wa ni’mal wakiil”, Allahlah yang mencukupi kami dan sebaik-baik tempat kami berserah diri (tawakkal).

Perlu ditegaskan, bahwa tawakal haruslah dilakukan setelah ikhtiar, sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah, “Ikatlah tali ontamu dan bertawakallah.” Karena, Allah tidak akan serta merta menurunkan pertolongan begitu saja dari langit. Bahkan ketika membentuk sebuah karakter pun, membutuhkan proses. Misalnya, ketika kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan kita sifat sabar. Maka, ‘Jawaban Allah’ atas doa kita tersebut barangkali adalah anak kita yang selalu saja rewel minta perhatian, objek dakwah yang selalu saja minta dimanja … dan seterusnya. Allah telah memberi sarana kepada kita untuk bersabar. Jika dengan berbagai keadaan krusial tadi kita ternyata mampu bersabar, berarti doa kita memang terkabul.

Aktivitas nyata, memang begitu tegas digariskan dalam Islam. Dari penciptaan manusia, anatomi tubuh kita saja telah disketsa untuk banyak bekerja. Kita punya dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga. Sedangkan mulut kita hanya satu. Artinya, kita harus sangat lebih banyak bekerja, mendengar, melihat daripada sekadar berbicara. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, begitu banyak kita dapatkan perintah-perintah untuk beraktivitas. Pasca menunaikan shalat Jum’at misalnya, kita diperintahkan untuk bertebaran mencari karunia Allah di atas bumi.

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10).

Kita tidak dianjurkan untuk mengurung diri di masjid, berdzikir dan berdoa, namun BERAKTIVITAS. Alias BERIKHTIAR. Begitulah jawaban Musa a.s. ketika Bani Israil memintanya fasilitas yang lebih.

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah: 21).

Musa meminta mereka berikhtiar untuk menyerbu Palestina, baru setelah itu mereka bertawakal kepada Allah. Akan tetapi, apa jawaban kaum Musa?

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah: 24).

Betapa pengecut jawaban kaum Nabi Musa, yakni Bani Israil alias Yahudi yang selanjutnya akan mendapat laknat dari Allah SWT.

Betapa pentingnya berikhtiar secara optimal, difirmankan Allah SWT,

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du: 11).

Kewajiban manusia adalah berikhtiar dan berdoa. Kemudian ketika ikhtiar itu telah purna, telah terjalankan dengan optimal, barulah kita bertawakal. Tawakal ini adalah implementasi pengakuan kita akan eksistensi Allah Yang Maha Berkehendak. Bahwa segala sesuatu yang tersketsa di muka bumi ini, bukanlah buah dari kecemerlangan ikhtiar kita akan tetapi karena semata-mata Izin-Nya.

Tawakal akan membebaskan kita dari belitan stres jika ikhtiar yang kita angap maksimal, ternyata membentur batu karang. Tawakal juga akan melahirkan evaluasi yang mendalam, apakah ikhtiar kita benar-benar sebuah itqonul amal, sebuah ahsanul amal. Maka, insya Allah kita akan terhindar dari sikap takabur, justru sebaliknya, akan menjadi pribadi yang senantiasa rendah hati serta senantiasa melakukan perbaikan.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Ditulis oleh Ummi Arfan.