Category Archives: FIKIH

anak-sholat-di-masjid

Bimbang? Shalat Istikharah, Yuk!

anak-sholat-di-masjidSahabat Sakinah, mungkin pernah mengalami kebimbangan dalam menentukan pilihan. Sementara pengambilan keputusan atas pilihan tersebut adalah sesuatu yang urgen. Maka, solusi terbaik yang dapat Sahabat lakukan adalah dengan menunaikan sholat Istikharah. Shalat sunnah yang dikerjakan ketika seseorang dilanda kebimbangan, dan hendak memohon petunjuk kepada Allah, untuk menentukan keputusan yang benar ketika dihadapkan kepada beberapa pilihan keputusan.

Dalil disyariatkannya sholat istikharah, adalah diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, ‘Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa: Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.’

Ada banyak manfaat yang diibaratkan sebagai buah segar oleh Sanad bin Albaidhani dengan kita menunaikan sholat istikharah, di antaranya yaitu :

  1. Menikmati Kebahagiaan di Dunia

Petunjuk yang diberikan Allah adalah yang Ia ridhoi untuk kehidupan kita di dunia. Maka dengan melaksanakan pilihan sesuai apa yang diridhoiNya, insya Allah akan membuat kita lebih menikmati kebahagiaan selama hidup di dunia.

 

  1. Memperbaharui Keimanan

Terkadang, kemantapan pilihan yang diperoleh usai menunaikan sholat istikharah tidak sesuai dengan keinginan kita. Namun dengan kita meyakini bahwa pilihan itu adalah yang terbaik dari Allah dan kita ridho menerimanya, maka hal itu akan memperbaharui keimanan kita kepada Allah.

 

  1. Ketenangan Serta Keikhlasan Niat

Petunjuk yang kita peroleh setelah menunaikan sholat Istikharah, akan membuat kita merasa lebih tenang dan ikhlas dalam memulai pekerjaan sesuai petunjuk tersebut. Mengingat petunjuk itu datangnya dari Allah, maka kepada Allah jua niat yang ikhlas serta keikhlasan dalam menjalaninya kita persembahkan.

 

  1. Menguatkan Keyakinan

Kemantapan hati yang bersumber dari petunjuk Allah akan menguatkan keyakinan kita.  Keyakinan sangat penting kita miliki sehingga kita dapat menjalanidengan penuh kesungguhan. Sebaliknya, melakukan sesuatu hanya karena ikut-ikutan atau kebiasaan, akan berpengaruh pada proses dan hasil dari apa yang kita jalani tersebut.

 

  1. Bebas dari Rasa Rakut Gagal

Pilihan Allah pastilah pilihan yang terbaik. Maka, hal ini dapat menguatkan keberanian dan membebaskan kita dari rasa takut gagal. Kalaupun pada saat menjalaninya, langkah kita tersandung batu cobaan dan mengalami kegagalan, itu sesungguhnya adalah bagian dari proses yang Allah ridhoi untuk kita menjadi lebih bijak dan dewasa dalam memecahkan suatu masalah.

 

Demikianlah beberapa manfaat dari sholat istikharah. Jika sahabat mengalami kebimbangan dalam menentukan arah dan pilihan, termasuk keraguan sebelum memulai dan memutuskan suatu perkara, jangan ragu untuk menyandarkan pertolongan kepada Allah swt melalui sholat Istikarah. Jika sudah melakukannya namun kemantapan hati belum juga didapat, jangan langsung putus asa, teruslah melakukan sholat istikharah dengan khusyu dan penuh pengharapan sampai petunjuk itu akan hadir dengan sendirinya melalui kemantapan hati. Dan kalaupun pilihan yang hadir itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, janganlah merasa sedih dan kecewa, yakinkan diri bahwa itu adalah pilihan terbaik yang Allah ridhoi untuk kita, serta berusahalah untuk ridho atas pilihan tersebut, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam doa sesudah istikharah :  ثُمَّ أَرْضِنِى yang artinya : “kemudian jadikanlah aku ridha dengannya”.

Semoga shalat istikharah dapat membantu sahabat mengurai kebimbangan dan keraguan, serta dapat menjalani pilihan yang telah ditetapkan Allah swt dengan sepenuh keridhoan.

 

Referensi: konsultasisyariah.com

Buku Jangan Bimbang karya Sanad bin Ali bin Al baidhani dan Aid Al-Qarni terbitan Indiva Media Kreasi.

 

Penulis

Riawani Elyta

hujan

Bagaimana Cara Shalat Istisqo?

hujanAkhir-akhir ini Sobat Sakinah mungkin sering mendengar kata “Shalat istisqo”. Ya, seruan untuk melaksanakan shalat istisqo kita dengar di mana-mana, dan sangat baik jika kita mengikuti shalat tersebut. Maklum saja, kemarau panjang akibat efek El-Nino, ditambah dengan berbagai perilaku teledor sebagian dari pengusaha perkebunan, telah membuat Indonesia mengalami darurat asap dari kebakaran hutan yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mematikan api, namun ternyat sulit sekali. Maka, hujan menjadi harapan satu-satunya agar kebakaran tersebut padam dan udara normal kembali.
Apa itu istisqo? Secara bahasa artinya meminta air (maksudnya air minum). Sedangkan secara istilah, istisqo berarti memohon (kepada Allah SWT), agar diturunkannya as-saqo, alias hujan di sebuah tempat, dengan tata cara dan aturan yang sesuai dengan tuntutan Rasulullah. Menurut mayoritas ulama, shalat istisqo dihukumi sunnah muakkadah, alias sangat dianjurkan, khususnya ketika kemarau benar-benar telah menciptakan kekeringan di mana-mana. Rasulullah saw. dan juga para sahabat pernah melakukan shalat istisqo saat musibah kekeringan menimpa negeri mereka saat itu.

Dalil dari shalat ini adalah berasal dari hadits dari Aisyah r.a. yang artinya sebagai berikut:

“Orang-orang mengadu kepada Rasulullah saw. tentang musim kemarau yang panjang. Kemudian beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan.
Aisyah berkata, ‘Rasulullah saw. keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau saw. bertakbir dan memuji Allah Azza wa Jalla, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian.’
Kemudian beliau mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. (QS. Al-Fatihah: 2-4). Laa ilaha illallahu yaf’alu maa yuriid. allahumma antallahu laa ilaha illa antal ghaniyyu wa nahnul fuqara’. Anzil alainal ghaitsa waj’al maa anzalta lanaa quwwatan wa balaghan ilaa hiin (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan).’
Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: ‘Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya.’” (HR. Abu Daud no.1173).

Bagaimana Pelaksanaannya?
Shalat istisqo dianjurkan dilakukan di lapangan, waktunya bebas, kecuali waktu-waktu yang memang dilarang untuk shalat, dan khususnya tentu saat terjadi kekeringan. Sebagian besar ulama menyebutkan bahwa tatacaranya mirip dengan shalat Id, yaitu dua rakaat, dengan takbir rakaat pertama tujuh kali dan rakaat kedua bertakbir lima kali, serta terdapat khutbah sesudah shalat, tanpa didahului dengan adzan dan iqomah.

Sangat dianjurkan agar shalat istisqo ini dilakukan dengan penuh ketundukan (tawadhu), rendah hati, dan jauh dari kesombongan. Ini sebagaimana hadits nabi yang artinya “Rasulullah saw. berjalan menuju tempat shalat dengan penuh ketundukan, tawadhu’, dan kerendahan hati hingga tiba di tempat shalat. Lalu beliau berkhutbah tidak sebagaimana biasanya, melainkan beliau tidak henti-hentinya berdoa, merendah, bertakbir dan melaksanakan shalat dua raka’at sebagaimana beliau melakukan shalat ‘id.” (HR. Tirmidzi no.558, ia berkata: “Hadits hasan shahih”).

Ya, dalam keadaan kekeringan yang melanda, kebakaran hutan yang terus menerus, dan musibah asap yang menimpa jutaan manusia, tentu kita memang harus benar-benar instrospeksi. Maksiat apa yang telah kita buat; kesalahan, kezaliman, perilaku buruk apa yang telah kita toreh… semua harus kita musabahahi dengan penuh ketundukan. Tiada daya dan kekuatan, dan tiada sebaik-baik penolong, kecuali Allah Azza wa Jalla. [ADMIN].

Ditulis oleh Afifah Afra. Dari berbagai sumber.

Sumber gambar dari sini.

kabah17

Ibadah Qurban, Hukum dan Keutamaannya

kabah17

Tak lama lagi, umat Islam akan menyambut Hari Raya Idul Adha. Dan setelah ibadah Idul Adha selesai dilaksanakan, akan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Ibadah kurban adalah ibadah yang dianjurkan bagi umat Islam. Sebagian ulama menetapkan hukumnya sebagai wajib, sebagian pula menetapkannya sebagai sunat muakad bagi yang mampu, dan penetapan yang kedua inilah yang lebih banyak disepakati.

Adapun dalil yang mendasarinya salah satunya adalah firman Allah swt dalam surat Al-Kautsar ayat 2 yang artinya : “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.”

Selanjutnya, jenis hewan qurban yang ditetapkan oleh syariat adalah jenis hewan ternak, sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hajj ayat 34 yang artinya :
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahimatul an’am (binatang ternak) yang telah direzkikan Allah kepada mereka”
Berikut adalah beberapa hikmah dan keutamaan bagi umat Islam yang melaksanakan ibadah qurban, yaitu :

1. Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim a.s., sekaligus memperkuat keyakinan kita akan buah kesabaran dan ketaatan kepada Allah SWT.

2. Ibadah qurban lebih baik nilainya daripada bersedekah dengan uang yang senilai harga hewan kurban. Ibnul Qayyim berkata : “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu dan qiron meski dengan sedekah berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan kurban (udhiyah)”.

3. Mendapat pahala yang berlimpah. Dari Zaid ibn Arqam, mereka berkata: “’Wahai Rasulullah SAW, apakah kurban itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.’ Mereka menjawab, ‘Apa yang kami peroleh dengan kurban itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan’. Mereka menjawab, ‘Kalau bulu-bulunya?’ Rasulullah menjawab, ‘Setiap satu helai bulunya juga kebaikan’.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

4. Merupakan ibadah utama
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada amal yang lebih utama pada hari-hari (tasyriq) ini selain berkurban. Para sahabat berkata, “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad. Kecuali seseorang yang keluar dari rumahnya dengan mengorbankan diri dan hartanya di jalan Allah lalu dia tidak kembali.” *HR. Bukhari).

Semoga kita termasuk hamba yang menyuburkan ibadah kurban sebagai amalan yang dianjurkan, dan semoga diri kita dilimpahi dengan kebaikan dari ibadah kurban. Amin.

Referensi :
www.rumaysha.com
www.rukunislam.com
www.rumahzakat.org

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis nonfiksi Sayap-sayap Sakinah, Sayap-sayap Mawaddah dan 14 novel.
FB : Riawani Elyta
Twitter : @RiawaniElyta
Blog : www.riawanielyta.com
IG : riawani_elyta

ibu-hamil

Saat Hamil Bolehkah Ikut Berpuasa

Saat bulan puasa tiba, terkadang memunculkan rasa dilema tersendiri bagi para wanita yang sedang mengandung. Haruskah ikut berpuasa atau tidak, kekhawatiran akan kondisi janin-nya jika diajak berpuasa dan keinginan menjalani puasa dengan segala kondisi yang ada. Sehingga memunculkan pertanyaan bolehkah wanita yang sedang hamil berpuasa?

ibu-hamil

sumber gambar dari sini

Menurut Dr. Bambang Suyono, SpOG melakukan ibadah puasa meski sedang hamil sebenarnya tidak akan memengaruhi kondisi kesehatan bayi yang dalam kandungan, perubahan pola makan si ibu tidak akan membuat bayi Anda kekurangan persediaan gizi dan makanan. Mengapa? Karena bayi di kandungan mendapatkan asupan makanannya dari plasenta melalui aliran darah. Jadi meski pola makan Anda berubah, asalkan Anda tetap mengonsumsi makanan sehat yang dibutuhkan selama kehamilan ini, maka bayi di kandungan akan tetap mendapatkan kecukupan zat gizi dan mineral penting untuk pertumbuhannya. Meski demikian, Dr. Bambang mengingatkan para ibu yang sedang hamil tidak memaksakan diri berpuasa jika kondisi kehamilannya kurang sehat. Puasa memang tidak akan secara langsung mempengaruhi kondisi janin, tapi justru kondisi si ibu sendiri, apakah dia sehat dalam menjalankan ibadah puasa atau tidak.

Hal ini senada dengan paparan Syekh Ibn Baz, rahimahullah berkata,”Wanita hamil dan menyusui, hukumnya seperti orang sakit. Jika berat bagi mereka berpuasa, maka dibolehkan bagi mereka berbuka. Dan mereka harus mengqadha (menggantinya) ketika dirinya sudah mampu berpuasa, seperti orang sakit. Sebagian ulama berpendapat, cukup bagi keduanya memberi makan (satu orang miskin untuk setiap satu hari tidak berpuasa). Ini merupakan pendapat lemah yang tidak dikuatkan. Yang benar adalah dia harus mengqadha, seperti musafir atau orang sakit.

IMG00180-20120427-1559

Menikahi Wanita Kakak-Adik Dalam Satu Waktu?

IMG00180-20120427-1559

Roni (bukan nama sebenarnya), sangat terobsesi dengan kakak beradik Rina dan Rini, yang menurutnya sangat spesial. Roni pun bertekad untuk menikahi mereka sekaligus dalam satu waktu. Namun, Roni segera beristighfar ketika mendatangi seorang Ustadz, dan ternyata mendapatkan penjelasan bahwa di dalam Islam, haram menghimpun dua perempuan yang bersaudara kandung sebagai istri dalam waktu bersamaan.

Rasulullah menegaskan tentang hal tersebut, “Jika kalian lakukan itu, berarti kalian memutuskan silaturahmi di antara kalian.” (HR. Ibnu Hibban).

Adapun yang terjadi pada Usman r.a., yakni menikahi kedua puteri Rasulullah, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, tidak terjadi dalam satu waktu. Setela Ruqayyah meninggal karena sakit, baru Ustman menikahi Ummu Kultsum. Karena menikahi dua puteri Rasulullah itulah, Ustman bin Affan digelari Dzun Nur ‘Ain. Pemilik Dua Cahaya, maksudnya adalah Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Menurut DR Yusuf Qardhawi dalam bukunya “Halal dan Haram Dalam Islam”, menuliskan bahwa ajaran Islam sangat meneguhkan hubungan silaturahmi, maka bagaimana mungkin mensyariatkan sesuatu yang menyebabkannya terputus, seperti menjadikan dua orang yang bersaudara sebagai madu yang lain? Menghimpun dua orang yang bersaudara menjadi istri dalam satu waktu, adalah kebiasaan masa Jahiliyah yang ditinggalkan oleh ajaran Islam. [US].

akhwat-2Bmesir

17 Perempuan Yang Haram Dinikah

Anda lelaki yang sudah siap menikah? Umur sudah cukup, penghasilan lumayan, sudah siap lahir batin untuk menikah. Mengapa masih menunda pernikahan? Lihatlah, di kanan-kiri Anda, para perempuan siap Anda lamar.
Ops, tapi hati-hati! Ada 17 jenis perempuan yang terlarang untuk Anda nikahi. Sudah tahukah siapa saja mereka? 15 jenis perempuan terlarang tertera dalam Al-Quran surat An-Nisa: 22-24. Sedangkan yang ke-16 tertera di Al-Quran surat Al-Baqarah: 221, dan ke-17 dalilnya bisa Anda cek di surat An-Nuur: 3.
Siapa saja mereka?
  1. Ibu kandung
  2. Ibu tiri, baik yang masih terikat pernikahan dengan ayah, atau sudah dicerai atau ditinggal mati ayah Anda
  3. Anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya
  4. Saudara perempuan, baik kandung, seayah maupun seibu
  5. ‘Ammah, alias saudara perempuan ayah, baik kandung, seayah maupun seibu
  6. ‘Khalaah, alias saudara perempuan ibu, baik kandung, seayah maupun seibu
  7. Anak perempuan saudara laki-laki
  8. Anak perempuan saudara perempuan
  9. Wanita yang pernah menyusui. Menurut Syaikh Yusuf Qardhawi, minimal lima kali susuan yang mengenyangkan. Susuan yang mengenyangkan adalah susuan anak yang melepaskan puting dengan sendirinya karena kenyang.
  10. Saudara perempuan sepersusuan. Syarat susuannya sama dengan nomor 9
  11. Ibu sang istri (mertua)
  12. Rabiibah, yaitu putri dari istri yang telah dijimak (digauli). Jika belum digauli, tak mengapa dinikahi.
  13.  Istri anak (menantu)
  14. Menghimpun 2 perempuan yang bersaudara dalam satu waktu sebagai istri. Sementara, jika bergantian, misal setelah kakaknya meninggal lalu menikahi adiknya, hal tersebut diperbolehkan
  15. Perempuan yang bersuami
  16. Perempuan musyrik/kafir. Adapun perempuan ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani, Al-Quran membolehkan mereka dinikahi. Sebaliknya, perempuan muslimah dilarang menikah dengan lelaki ahli kitab. Akan tetapi, jika kita melihat bahwa tujuan pernikahan adalah membentuk bahan baku bangunan umat yang Islami, syarat dan ketentuan berlaku pada bahasan ini. Kita akan mencoba membahasnya di lain kesempatan.
  17.  Perempuan pezina. Yakni perempuan yang terang-terangan menjadikan zina sebagai profesinya, misalnya pelacur.

Demikianlah 17 jenis perempuan yang haram dinikahi.


Sumber: Halal & Haram, Dr. Yusuf Qardhawi
pic_sss

Bolehkah Menikah Karena Terpaksa?

Orang Indonesia tentu mengenal cerita Siti Nurbaya, yang selain bukunya masih beredar di perpustakaan-perpustakaan, juga sinetronnya yang tayang di TVRI belasan tahun silam, sempat ngetop di kalangan masyarakat. Kisah Siti Nurbaya yang menikah paksa, sepertinya juga merupakan cerminan realitas masyarakat. Bukan hanya zaman dahulu, zaman sekarang, perjodohan paksa pun masih banyak terjadi. Bukan perjodohannya yang dilarang, tetapi paksaan itulah yang harus dikritisi. Bolehkan menikah karena terpaksa?

Dalam buku Halal-Haram, DR. Yusuf Qardhawi menukil sebuah hadist riwayat  Ibnu Majah, tentang seorang gadis yang mengadu kepada Rasulullah. Dia melaporkan, bahwa ayahnya telah mengawinkannya dengan sepupunya, padahal dia tidak menyukainya. Lalu Nabi menyerahkan permasalahan itu kepada sikap si gadis. Dan gadis itu berkata, “Sebenarnya saya rela dengan perlakuan ayah saya, tetapi saya ingin memberitahukan kepada kaum perempuan, bahwa seorang ayah tidak boleh memaksakan kehendaknya dalam hal ini.”

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Janda lebih berhak atas dirinya dibanding walinya. Sedangkan gadis diminta izin tentang urusan dirinya. Izinnya adalah diamnya.” (H.R. Muttafaqun ‘Alaih).

Diam di sini merujuk pada sikap sebagian besar gadis yang biasanya malu mengungkapkan isi hatinya, sehingga tidak bisa ditafsiri begitu saja. Diam, namun terisak-isak dengan wajah merah-padam yang menunjukan bahasa tubuh penolakan, tentu tak bisa dikatakan sebagai kesediaan menikah. Wallahu a’lam.

Tetapi, hal ini menjadi peringatan serius bagi para gadis. Jika memang Anda tidak bersedia menikah dengan lelaki yang melamar Anda, ungkapkan dengan jelas, namun cara yang baik, sehingga tidak menyakiti. Penolakan kasar tentu akan menimbulkan perasaan tidak enak, bahkan terluka di pihak pelamar. Anda harus terbuka, tetapi tetap menjaga perasaan. [U.S.].
jenis-sayur-sayuran

Tugas Siapa Memasak dan Mencuci Baju?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya, apakah mencuci baju suami, membersihkan rumah dan pekerjaan rumah tangga lainnya adalah kewajiban seorang istri? Apa ada dalil shahihnya? Terimakasih.

Wassalam

Dari N, di Yogyakarta

Jawaban

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita membahas hak dan kewajiban suami-istri secara menyeluruh sesuai syariat. Di dalam Islam, hak dan kewajiban suami dan istri mulai berlaku saat akad nikah dinyatakan sah. Hak dan kewajiban itu merupakan satu paket, karena kewajiban seorang istri kepada suami, berarti menjadi hak suami atas istri, begitu pun sebaliknya. Selain itu, ada juga hak dan kewajiban bersama yang harus dipenuhi dalam rangka kesinambungan sebuah rumah tangga. Seringkali, kegagalan-kegagalan dalam berumah tangga berawal dari abainya salah seorang dari mereka terhadap kewajibannya, sehingga pasangan tak mendapatkan hak, begitu pun sebaliknya.
 
Menurut Sayyid Sabiq dalam Kitab “Fiqih Sunnah”, hak dan kewajiban suami-istri terbagi menjadi tiga: hak istri atas suami (berarti kewajiban suami); hak suami atas istri (berarti kewajiban istri); dan hak serta kewajiban bersama.
 
Hak bersama suami-istri antara lain: (1) Saling menikmati hubungan seksual, di mana tidak boleh hanya ada kepuasan di salah satu pihak saja. Jika ternyata ada pihak yang tidak puas, harus diupayakan bersama; (2) Istri haram dinikahi ayah suaminya (mertua), kakeknya, anak laki-lakinya, dan cucu-cucu laki-laki suami. 
Begitu pula, suami diharamkan menikahi ibu istrinya (mertua), anak perempuan istrinya, serta cucu perempuan istrinya; (3) Hak saling mendapatkan waris akibat pernikahan; (4) Sahnya menasabkan anak kepada suami yang sah; (5). Hak mendapatkan perlakuan yang baik.
 
Adapun hak istri atas suaminya meliputi dua jenis hak: yakni (1) hak kebendaan, yaitu mendapatkan mahar dan mendapatkan nafkah; (2) hak rohaniah, misalnya sikap adil suami (jika berpoligami), tidak boleh disengsarakan, diberikan kebahagiaan, menjaga dan melindunginya, hak didatangi suami, tidak ditelantarkan, dan sebagainya.
 
Sedangkan hak suami atas istri, masih menurut Sayyid Sabiq, antara lain: (1) Tidak mengizinkan orang lain masuk ke rumah; (2) Hak mendapatkan bakti istri kepada suami; (3) Hak ‘berdusta’ untuk hal-hal yang akan menjaga kerukunan rumah tangga; (4) hak menempatkan istri di rumah suami dan melarangnya keluar dari rumah kecuali dengan izinnya (beberapa ulama membolehkan jika istri berkunjung ke rumah orang tuanya tanpa izin suami); (5) mengajak istri berpindah tempat; (6) tidak berpindah tempat jika istri tak bersedia; (7) hal melarang istri bekerja; (8) Hak menghukum istri jika menyeleweng.
 
Dari hal tersebut, secara tersurat, tugas-tugas rumah tangga tak disebutkan secara eksplisit. Di negara kita, tugas-tugas domestic tersebut kebanyakan dilakukan oleh perempuan, tetapi asal hukum tersebut hanya merupakan ‘urf atau adat istiadat/kebiasaan semata.
 
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain”. (Q.S. At-Taubah: 71).
Saat sama-sama menjalani kehidupan berumah tangga, seyogyanya suami dan istri saling tolong-menolong, bahu-membahu dalam memikul beban menurut proporsinya masing-masing. Jadi, menurut hemat kami, pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, sebenarnya adalah tanggung jawab bersama. Siapa yang mengerjakan, dia dapat pahala. Sikap yang paling tepat adalah fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika akhirnya istri lebih banyak mengerjakannya, tentu bisa dimengerti, karena istri lebih banyak di rumah ketimbang suaminya. Tetapi, bukan berarti ketika suami sedang di rumah, dia hanya ongkang-ongkang kaki, membiarkan sang istri dengan kesibukannya. Apalagi, jika si istri ternyata telah membantunya mencari tambahan biaya hidup.
 
Wallahu a’lam
[Ditulis oleh Afifah Afra].