Category Archives: BEKAL NIKAH

Berapakah Frekuensi Hubungan Intim yang Sehat Sesuai Medis?

love-goodwp-com

Hubungan intim, adalah suatu hal yang urgen pada sebuah rumah tangga. Di tengah berbagai kesibukan yang dihadapi oleh suami dan istri, sebaiknya pemenuhan kebutuhan biologis menjadi prioritas penting bagi pasangan suami istri. Beberapa penelitian telah menunjukkan, bahwa keharmonisan rumah tangga ternyata sangat dipengaruhi dari kepuasan dalam masalah tersebut. Continue reading

flower-wallpaper-8

Agar Malam Pertama Penuh Berkah, Ini yang Harus Kalian Kerjakan

kawan imut-rayuan

Pengantin baru, ahai… malam pertama! Betapa mendebarkan. Konon, malam pertama selalu menjadi hal paling didambakan oleh sepasang pengantin.

Bahkan, menurut Konsultan Sayap Sakinah Center, dan pengisi Rubrik Harmoni Keluarga di MH FM Surakarta, Yeni M. Ahmad alias Afifah Afra, malam pertama adalah sesuatu yang selalu dikenang sepanjang masa pernikahan seseorang. Continue reading

Ijab

Jangan Ragu Untuk Menikah

Ijab

Sumber gambar disini

           

Keraguan dan ketakutan untuk segera melangkang ke jenjang pernikahan, tentu setiap pasangan pernah merasakannya. Terutama bagi kaum pria banyak tuntutan yang harus ia miliki sebelum memutuskan naik ke pelaminan, seperti tabungan yang cukup serta penghasilan yang tetap. Dengan dua hal itu saja seorang pria dikatakan telah “siap dan layak” untuk menikah. Namun apakah sebuah pernikahan harus selalu diorientasikan pada kemapanan secara ekonomi?

Seorang pemerhati keluarga pra dan pacsa nikah, mengatakan sebenarnya modal utama untuk menikah bukan kondisi keuangan saat ini, melainkan mental dan keseriusan yang kuat dalam diri seorang  pria untuk menjemput rezeki dan bertanggung jawab menafkahi. Karena percuma saja seorang pria telah memiliki penghasilan tetap pun tidak menjamin, jika pria tersebut tidak memiliki mental bertanggung jawab dan menafkahi maka istri dan anak-anaknya pun akan terlantar secara ekonomi.

Untuk itu sebaiknya belum memiliki tabungan dan penghasilan tetap jangan menjadi alasan untuk menunda menikah, tetapi yang perlu dibenahi adalah sikap mental untuk menjemput rezeki dan mental untuk menafkahi. Bila kedua hal ini sudah siap dijalani maka jangan ragu untuk menikah karena hal itu telah menunjukkan seorang pria siap untuk bertanggung jawab secara ekonomi sebagai seorang kepala keluarga. Serta jangan berkecil hati karena Allah SWT akan senantiasa menolong, seperti tertera dalam hadist berikut.

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)[1]

contoh-cincin-pernikahan

Perjanjian Pranikah, Pentingkah?

contoh-cincin-pernikahan

Ditulis oleh: Riawani Elyta

Perjanjian pranikah, atau prenuptial agreement (prenup), yaitu perjanjian secara tertulis antara kedua belah pihak dan dilakukan sebelum menikah, serta memiliki konsekuensi dalam pelaksanaannya yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak.

Sebenarnya, perjanjian pranikah ini sudah tercantum di dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Pasal 29 tahun 1974 yang menyebutkan: “Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga tersangkut.”

Tetapi, pada kenyataannya belum banyak pasangan di negeri ini yang merasa perlu mengikat diri di dalam perjanjian tertulis sebelum melangsungkan pernikahan. Sebagian menganggap bahwa ini adalah wujud pandangan pesimis terhadap lembaga pernikahan, ada juga yang menganggap bahwa perjanjian ini hanya akan membuat kedua pasangan merasa terkekang dan dibayang-bayangi rasa khawatir apabila melanggar ketentuan yang telah disepakati secara tertulis.

Perjanjian pranikah biasanya berisi hal-hal yang disepakati oleh kedua calon pasangan, termasuk hal-hal menyangkut kepemilikan dan penggunaan aset atau harta, dan apa konsekuensi yang akan mereka hadapi andai salah satu atau beberapa butir kesepakatan itu dilanggar.

Pertanyaannya sekarang, sudah sejauh mana perjanjian pranikah ini penting untuk dilakukan oleh calon pasangan yang akan menikah? Jika tidak dilakukan, apa kira-kira efeknya terhadap kehidupan berumah tangga nantinya?

Tentunya, kadar “kepentingan” ini sangat bergantung dengan kondisi kedua calon pasangan. Jika memang kondisi keduanya memerlukan adanya sebuah pengikat secara tertulis, misalnya saja kedua calon pasangan, untuk suatu sebab harus hidup terpisah selama beberapa tahun karena sang calon suami atau calon istri akan menempuh pendidikan di luar negeri misalnya, atau pun kedua calon pasangan berasal dari kultur yang jauh berbeda, salah satunya adalah orang asing misalnya, sehingga diperlukan adanya kesepakatan yang benar-benar mengikat di luar proses saling memahami yang diharapkan bisa berjalan secara natural, maka tentu tak ada salahnya untuk melakukan perjanjian pranikah.

Dalam perjanjian tersebut, hendaknya disepakati hal-hal yang tetap mengutamakan keadilan dan keseimbangan antara kedua belah pihak, hingga tak ada pihak yang merasa dirugikan atau diperlakukan tidak adil. Bahkan, tak sedikit calon pasangan yang mencantumkan hal-hal secara mendetail terkait penggunaan aset dalam rumah tangga termasuk pembagian harta gono-gini andai oleh suatu sebab yang tak dapat dipertahankan lagi, pernikahan harus berakhir dengan kata cerai.

Namun di sini, tanpa bermaksud menganggap sepi manfaat dari perjanjian pranikah semacam ini, hukum Islam sebenarnya telah mengatur hal-hal yang terkait dengan kehidupan berumah tangga dan berkeluarga. Aturan yang universal dan nilai kemaslahatannya tetap relevan sampai kapan pun.

Sebut saja tentang pengaturan hak dan kewajiban mencari nafkah antara suami dan istri. Di mana kewajiban mencari nafkah adalah terletak pada suami, sementara terhadap sang istri, hukumnya adalah dibolehkan, sepanjang itu memperoleh izin suami, dapat membantu menopang perekonomian keluarga dan sang istri tetap mematuhi aturan-aturan Islam dalam bekerja.

Begitu pun terhadap keadilan dalam hal keuangan, sang suami wajib menafkahi istrinya, sementara harta sang istri untuk suami dianggap sebagai sedekah. Dalam hal mendidik anak, keduanya wajib untuk sama-sama turun tangan, namun porsi terbesar adalah di tangan para ibu. Karena ibu adalah sosok guru di dalam keluarga dan dengan naluri kasih sayangnya, ibu merupakan sosok yang tepat untuk mendidik dan membesarkan anak-anak dengan sentuhan kasih sayang yang lebih optimal.

Kesimpulannya, penting atau tidaknya melakukan perjanjian pranikah, semua kembali kepada masing-masing calon pasangan. Semakin rentan kondisi keduanya terhadap hal-hal yang dapat memicu terjadinya kesalahpahaman, seperti hidup yang terpaksa saling berjauhan, perbedaan kultur yang tajam, atau pun perbedaan sangat prinsipil dalam hal pengelolaan aset keluarga, maka melakukan perjanjian pranikah dapat dijadikan alternatif untuk meminimalisir konflik di dalam rumah tangga dan keluarga di kemudian hari.

 

Referensi :

-Sayap-sayap Sakinah. Buku non fiksi Riawani Elyta bersama Afifah Afra (Indiva Media Kreasi : 2014).

Foto ilustrasi: google

Dipublikasi di Ummi online edisi 8 April 2015

gbr love robot

Persiapan Bekal Rumah Tangga untuk yang Masih Jomblo, Emang Perlu?

gbr love robot

Pernikahan sering dianalogikan dengan bahtera atau kapal. Dengan kepala keluarga atau sosok suami sebagai nakhodanya dan anggota keluarga sebagai penumpangnya. Nakhoda harus tahu kemana arah tujuan, karena dialah sang pemegang kemudi, dan memastikan diri mampu membawa semua penumpang sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Apa pun cobaan dan rintangan yang terjadi, jangan sampai membuat bahteranya berhenti di tengah laut, karam, atau bahkan pecah berkeping-keping. Beuh… Begitu pula para penumpangnya, seberat apa pun cobaan yang menimpa, para penumpang harus tetap kompak dan mematuhi komando sang nakhoda, kecuali kalau ternyata sang nakhoda melalaikan tanggung jawab dan keselamatan penumpangnya.

Demikian pulalah halnya dengan kehidupan berumah tangga. Ada banyak hal mungkin terjadi di luar duga dan harapan. Di luar kehendak dan cita-cita. Terkadang, perbedaan-perbedaan kecil saja bisa menjadi pemicu perselisihan.

Diantara sobat sekalian mungkin ada yang bertanya: kalau begitu, untuk mengantisipasi munculnya riak dalam rumah tangga, apakah tidak sebaiknya kita mengenali calon pasangan kita dengan proses penjajakan atau pacaran terlebih dulu?

Ho-ho. Please deh ah. Ini sama sekali bukan pembenaran buat sobat untuk memilih cara yang “kurang tepat” sebelum menikah. Karena pacaran bukanlah sebuah hubungan berasas komitmen. Pacaran lebih berpotensi mendekatkan pada dosa bernama zina. Pacaran tak lebih hanya proses coba-coba. Jika cocok, lanjutkan. Jika tidak, bubar tengah jalan. Bahkan, ada yang lebih “gila” lagi, koleksi, seleksi, baru diperistri. Hmm.

Lantas, apa sebaiknya yang saya lakukan, sebagai persiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang mungkin kurang menyenangkan andai nantinya saya berumah tangga?

  • Pertama – berdoa dan berprasangka baiklah pada Allah.

Saat sobat berdoa memohon disegerakan jodoh pada Sang Pencipta, iringi doa itu dengan prasangka baik kepadaNya, bahwa Dia akan menyegerakan jodoh yang terbaik bagi sobat. Sugesti positif insya Allah akan mendukung pola pikir kita untuk memandang segala hal dari sudut pandang positif pula. Jika kelak kita memperoleh pasangan hidup yang karakternya tidak kita sukai, maka pandanglah itu sebagai jalan ibadah, jalan buat kita memupuk keikhlasan menerima pasangan apa adanya, juga mencanang tekad untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

  • Kedua – bekali diri dengan ilmu pengetahuan.

Saat sobat pergi ke toko buku, jangan sungkan untuk membeli buku-buku yang membahas tentang pernikahan dan hidup berumah tangga meski sobat masih berstatus lajang. Bertanyalah pada pasangan yang harmonis, apa rahasia mereka sehingga kehidupan berumah tangga mereka tetap langgeng dan baik-baik saja. Tapi, tentu saja kalau mereka tak keberatan membagi rahasia mereka, ya? J

  • Ketiga –  tingkatkan kualitas mental spiritual

Salah satu benteng terbaik dalam menghadapi permasalahan hidup, adalah dengan memiliki kualitas mental dan spiritual yang baik. Orang yang mental spiritualnya baik, maka ia tak akan mudah putus asa dan mengeluh, ia selalu memandang optimis bahwa setiap masalah pasti ada solusinya, setiap penyakit pasti ada obatnya. Jadi, saat melihat kehidupan rumah tangga orang lain yang dihantam gelombang badai, atau pun yang harus berakhir di meja pengadilan agama, hal itu tidak lantas membuat kita pesimis dan trauma, apalagi sampai memutuskan untuk tak akan menikah. Teruslah memupuk keyakinan bahwa pernikahan adalah untuk menggenapkan separuh agama. Pernikahan dan kehidupan berumah tangga adalah “sekolah” terbaik untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi, saling toleransi dan menghargai, saling membimbing dan mengingatkan, saling berbagi kasih sayang dibawah naungan ridhoNya.

Adakah yang lebih indah dari  sebuah proses yang dalam setiap detik dan sentuhannya terdapat percikan rahmat dan keridhoan dari sang Maha Pengasih?

Kutipan dari buku non fiksi Sayap-sayap Sakinah, ditulis oleh Riawani Elyta bersama Afifah Afra (Indiva Media Kreasi : 2013).

Foto Ilustrasi : google

Dipublikasi di Annida online edisi 5 Maret 2015

 

flower_1

Bersih dan Wangi Saat Mendatangi Istri

flower_1

Bayu kecewa bukan main. Ketika dia baru sampai di halaman rumah setelah seminggu tugas di luar kota, rasa kangen kepada istrinya membuat dia ingin secara dramatis memeluk sang istri begitu perempuan itu menyambutnya. Tak dinyana, ketika mendekat, sang istri menolaknya halus, “Ih, Mas Bayu bauuu!”

Sebenarnya, Bayu tak perlu kecewa. Secara alamiah, semua orang tentu tak menyukai bau yang tak sedap. Bahkan, Rasulullah SAW pun menyadari hal itu. Abu Rafi’ r.a. berkata, “Nabi Saw pada suatu hari pernah menggilir istri-istri beliau, beliau mandi tiap kali selesai berhubungan bersama ini dan ini. Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, bukankah lebih baik engkau cukup sekali mandi saja?’ Beliau menjawab, ‘Seperti ini lebih suci dan lebih baik serta lebih bersih.’” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Islam adalah agama yang menganjurkan seseorang untuk menjaga kebersihan, karena kebersihan badan adalah pancaran iman. Selain bersih, memakai parfum—khususnya pada lelaki, sangat dianjurkan. Rasulullah berkata, “Empat macam di antara sunnah-sunnah para Rasul yaitu: berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah.” (HR. Tirmidzi).

Demikian juga untuk para istri, saat hendak bertemu dengan suaminya. Silakan memakai wewangian, berhias, dan tampil secantik-cantiknya. Para lelaki juga perlu memberi kesempatan kepada para istri untuk berhias. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Jabir. Dari Jabir, dia berkata, “Kami pernah pergi beserta Nabi dalam sebuah peperangan. Tatkala kami kembali ke Madinah, kami hendak masuk (ke rumah-rumah kami), sabdanya, ‘Sabarlah, masuklah kamu pada malam—yakni waktu Isya, supaya istri-istri yang lama ditinggal suaminya yang kusut masai bersisir dan berhias.’” (Muttafaq-Alaihi).

Jadi, jika Anda dalam perjalanan pulang dari bepergian, mungkin Anda bisa mengabari istri Anda, “Darling, aku udah sampai Semarang, sejam lagi sampai Solo.” Jangan langsung nongol begitu saja, kecuali saat Anda hendak memberikan kejutan untuknya.

Ditulis Oleh Afifah Afra (@afifahafra79).

flower-2B2

Pentingnya Ilmu Pernikahan

flower-2B2Pernikahan yang langgeng dan harmonis bukan sebuah keberuntungan, kebetulan dan  terjadi begitu saja, tetapi perlu proses dan perjuangan panjang. Untuk menempuh proses serta perjuangannya pun perlu sebuah ilmu, ya ilmu tentang pernikahan. ironisnya banyak yang tidak menyadari pentingnya ilmu pernikahan, sehingga jika ada permasalahan dalam rumah tangga kebanyakan berujung di sidang perceraian.

Angka perceraian di Indonesia tertinggi se-Asia Pasific danKemetrian Agama Indonesia tahun 2013 mencatat 333 ribu kasus, angka ini meningkat dari tahun 2012 yang hanya 212 ribu kasus perceraian. Rata-rata satu dari 10 pasangan yang menikah4 diantaranya berakhir dengan bercerai. Kebanyakan perceraian terjadi di usia rumah tangga yang masih di bawah 5 tahun. data perceraian ini semakin memprihantinkan dan perlu keseriusan untuk menyikapi kasus ini dengan mengurangi atau mencegahnya. Bagaimanapun terbentuknya keluarga yang harmonis adalah dambaan setiap orang, karena dari keluarga yang harmonis dan bahagia akan lahirlah generasi-generasi yang berkualitas.

Menurut Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah,  Dr.H.A Sukandar, M.Ag mengatakan banyak faktor yang menjadi penyebab perceraian di Indonesia. Selain karena permasalahan yang ada sudah terlalu berat dan kritis, juga minimnya ilmu tentang pernikahan sehingga setiap masalah tidak mampu diselesaikan atau mencari solusi yang baik. Memang setiap rumah tangga pasti akan selalu menemui masalah, namun agar tahan goncangan maslah tersebut, setiap rumah tangga harus memiliki ketahanan mental dan fisik kedua belah pihak. Ketahanan mental dan fisik dalam rumah tangga akan terbangun dengan sebuah ilmu kerumahtanggaan atau ilmu penikahan.

Sukandar menambahkan ilmu tentang pernikahan memang tidak diajarkan di bangku sekolah dan tidak diajarkan di rumah, semua dibiarkan mengalir begitu saja. Padahal menikah adalah melewati setengah hidup bersama seseorang yang sebelumnya tidak saling mengenal dan memiliki latarbelakang yang berbeda.

Maka itu belum terlambat bagi yang sudah menikah untuk terus belajar ilmu tentang pernikahan, melalui buku, mengikuti seminar dan kegiatan sekolah pra dan pascanikah nilai plusnya ilmu yang di dapat bisa langsung di aplikasikan dalam kehidupan nyata. Terlebih untuk pasangan-pasangan yang belum menikah sangat penting sekali untuk membekali diri dengan ilmu pernikahan sejak awal.Menjalani pernikahan memang  menyenangkan dan membahagiakan, namun di balik kesenangan dan kebahagian itu terselip permasalahan demi permasalahan yang akan menguji kekokohan cinta dan kesetiaan setiap pasangan. (fm)

Love__Mom_by_MooMyFire

Misteri Jodoh

Love__Mom_by_MooMyFire
Oleh Afifah Afra

Sebagian besar manusia di dunia ini mengalami fase yang disebut dengan nikah. Selain merupakan fitrah manusia, nikah dibutuhkan untuk kelangsungan generasi umat manusia itu sendiri. Tentu. Manusia bukan sejenis tumbuhan yang bertunas dengan sendirinya, atau bisa berbiak dengan hanya melakukan stek batang-batangnya. Manusia membutuhkan proses perkawinan untuk bisa menghasilkan keturunan.
 
Segala sesuatu memang diciptakan berpasangan. Bagi saya, dan mungkin juga Anda, salah satu misteri terbesar dalam kehidupan ini adalah jodoh dan perjodohan. Kisah-kisah sejati yang menakjubkan seputar perjodohan, tergores begitu giras, tercetak begitu rancak, terlukis begitu manis. Masing-masing Bani Adam memiliki cerita sendiri. Dan biasanya, cerita-cerita itu terbingkai dalam sebuah keistimewaan yang mengesankan. 
Anda, saya, memiliki memori yang penuh kelindan rasa, juga gejolak emosi seputar kisah perjodohan kita. Ada yang manis, sedikit asam—tapi lezat, sedikit pahit—tapi sedap, sedikit asin—tetapi memikat. Nano-nano. Namun, tak menutup kemungkinan ada juga yang rasa itu bertaraf ekstrim. Sangat pahit, sangat asam, sangat asin. Atau sebaliknya, sangat manis, sangat sedap, sangat nikmat. 
 
Manusia memiliki jalan hidup sendiri-sendiri. Jalan hidup itu memiliki rasa yang khas. Orisinil.
Maka, jika saja ada yang bersedia membukukan kisah perjodohan seluruh insan di muka bumi, bisa jadi buku itu akan menjadi sebuah karya masterpiece. Tentu saja. Karena makhluk bernama manusia yang pernah menetap di Planet Bumi ini trilyunan jumlahnya. Dari trilyunan jiwa, tersketsalah trilyunan kisah istimewa seputar perjodohan. Ya, karena setiap manusia nyaris semua mengalami. Terbayanglah kini, betapa tebal buku yang harus dia tulis. Berapa banyak pena yang harus dikosongkan tintanya. Berapa lembar kertas yang dibutuhkan. Dan, betapa dahsyat tenaga dan pikiran yang harus dikeluarkan.
Nyatanya, meski tak semua keistimewaan itu terdokumentasikan, sepanjang sejarah hidup manusia, kita menemukan kisah-kisah perjodohan yang legendaris, sehingga menjadi buah bibir di sepanjang pergiliran zaman.
 
SEMUA MAKHLUK ADA PASANGANNYA
 
Nabi Nuh a.s., menyadari betul bahwa kehidupan tidak boleh berakhir, meskipun bencana besar berupa air bah menerpa. Sehingga, di dalam kapal beliau, binatang-binatang dibawa secara berpasang-pasangan. Nabi Nuh berpikir jauh ke depan–tentu dengan bimbingan dari-Nya–bahwa hanya dengan berpasang-pasangan itulah kehidupan akan terus berjalan.
 
Kebijaksanaan Illahi adalah takdir
Yang membuat kita mencintai satu sama lain
Karena takdir itu, setiap bagian dunia ini
Dipertemukan dengan jodohnya.
(Jalaluddin Rumi)
 
Demikian juga manusia. Mereka telah diciptakan secara berpasang-pasangan dengan jenisnya sendiri (sesama manusia). Simaklah firman-Nya ini: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Rum: 21).
 
Ya, perjodohan antarmakhluk-Nya memang sebuah tanda-tanda kebesaran-Nya. Adam a.s. diciptakan dari segumpal tanah, lalu menyusul jodohnya, Hawa, yang diciptakan dari tulang rusuk sang suami. Lalu, saat mereka diturunkan ke bumi, terpisah selama ratusan tahun, dan bertemu kembali di Jabal Rahmah.

Nabi Sulaiman bertemu dengan jodohnya, Balqis, lewat sebuah proses yang menakjubkan. Ali dan Fatimah akhirnya menikah setelah Fatimah berkali-kali dilamar oleh para sahabat yang mulia, Abu Bakar dan Umar, namun tidak diterima oleh Rasulullah SAW.


Silakan sibak kembali kisah perjodohan Anda dengan suami/istri Anda. Bukankah selalu ada kebesaran-Nya di kisah tersebut?


Catatan: 

Silakan baca buku “Sayap-Sayap Sakinah” untuk lebih detil memahami misteri perjodohan di antara makhluk-Nya.