Category Archives: ARTIKEL

Berapakah Frekuensi Hubungan Intim yang Sehat Sesuai Medis?

love-goodwp-com

Hubungan intim, adalah suatu hal yang urgen pada sebuah rumah tangga. Di tengah berbagai kesibukan yang dihadapi oleh suami dan istri, sebaiknya pemenuhan kebutuhan biologis menjadi prioritas penting bagi pasangan suami istri. Beberapa penelitian telah menunjukkan, bahwa keharmonisan rumah tangga ternyata sangat dipengaruhi dari kepuasan dalam masalah tersebut. Continue reading

Cinta Suci Adinda dan Tahun Kebangkitan Novel Indiva

Cinta Suci Adinda-FIX

Keberadaan Penerbit Indiva sebenarnya tidak bisa dilepaskan dengan novel. Di awal berdirinya, Indiva telah menggebrak dunia perbukuan dengan berbagai novel yang khas, seperti De Winst (Afifah Afra), Livor Mortis (Deasylawati P), Rose (Sinta Yudisia) dan Jasmine (Riawani Elyta). Namun, beberapa tahun terakhir ini, Indiva mulai agak jarang menerbitkan novel. Ternyata, hal ini cukup dikeluhkan oleh pembaca. Beberapa pembaca setia Indiva mengaku rindu dengan hadirnya novel-novel inspiratif Indiva. Continue reading

flower-wallpaper-8

Agar Malam Pertama Penuh Berkah, Ini yang Harus Kalian Kerjakan

kawan imut-rayuan

Pengantin baru, ahai… malam pertama! Betapa mendebarkan. Konon, malam pertama selalu menjadi hal paling didambakan oleh sepasang pengantin.

Bahkan, menurut Konsultan Sayap Sakinah Center, dan pengisi Rubrik Harmoni Keluarga di MH FM Surakarta, Yeni M. Ahmad alias Afifah Afra, malam pertama adalah sesuatu yang selalu dikenang sepanjang masa pernikahan seseorang. Continue reading

Stop Galau, Dear Ibu Rumah Tangga!

orang tuaMenjadi ibu idaman itu ternyata tak semudah sangkaan sebagian orang. Banyak para IRT yang akhirnya terjebak dalam kegalauan yang panjang. Hingga akhirnya merasa diri tidak pantas menjadi ibu, tidak bermanfaat, tidak sukses berbisnis, tak berdaya, tidak pintar masak, tidak pandai merapikan rumah, tidak mengerti bagaimana seharusnya mendidik anak. Lalu semakin iri ketika salah seorang teman kita bisnisnya sukses, anak-anaknya membanggakan, hebat hapalan Al-Qurannya, kegiatannya sebreg dan semakin harmonis bersama suaminya. Continue reading

laugh

Bercanda Boleh Saja, Asal….

Masyarakat dikejutkan oleh tingkah polah seorang selebriti tanah air, saat mengisi acara di sebuah stasiun televisi baru-baru ini. Saat itu dalam acara musik pagi itu, ceritanya mereka sedang ditantang mengadu kecerdasan. Dalam segmen Cerdas Cermat, pertanyaan yang diajukan tentang kapan proklamasi Indonesia dikumandangkan, sang selebriti menjawab dengan tulisan “sesudah azan subuh” dan dirinya menjawab “32 agustus” sebagai tanggal proklamasi. Tak berhenti sampai di sana penonton dibuatnya ternganga lagi saat pernyataan lambang pancasila ke lima dirinya menjawab dan “bebek nungging”. Continue reading

bisnis

Yuk, Bangun Masa Depan Anak yang Cerah dengan Melek Finansial

bisnis

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas tentang pentingnya membangun kebiasaan baik dengan rutin menabung di bank. Pada saatnya nanti (sekitar usia 18 – 25 tahun) tentu anak-anak kita akan memiliki sejumlah dana yang cukup besar di tabungannya. Tulisan ini akan membahas bagaimana melatih anak menggunakan dana yang dimilikinya untuk tujuan produktif dengan mengembangkan kemampuan mereka dalam meningkatkan jumlah dana tabungannya melalui cara-cara yang baik dan halal. Dengan sasaran yang jelas, anak kita akan termotivasi untuk selalu rajin menabung dan dana tersebut nantinya bisa digunakan antara lain untuk keperluan:

  • Membeli kendaraan sendiri,
  • Biaya kuliah,
  • Uang muka pembelian rumah atau tanah,
  • Memulai bisnis (wirausaha),
  • Investasi (deposito, sukuk, emas batangan dsb).

Kita akan membahas  penggunaan dana khusus untuk bisnis dan investasi. Karena hal ini membutuhkan kemampuan yang harus dilatih sejak kecil.

Bisnis (Wirausaha)

Ada sejumlah tips dalam mengembangkan jiwa wirausaha pada anak yaitu :

1. Buatlah proses belajar tentang wirausaha yang menyenangkan

Bermain monopoli bisa merupakan sarana perkenalan terhadap bisnis yang pertama bisa diajarkan. Selain itu kita juga bisa melibatkan anak ketika berbelanja di pasar atau di toko yang melibatkan transaksi jual beli secara langsung. Dukung juga ketertarikan anak terhadap dunia bisnis sembari menanamkan nilai-nilai seperti :

  • bahwa bisnis bukan semata-mata mengejar uang
  • harga sebuah produk atau jasa ditentukan oleh besarnya kesediaan orang untuk membayar dan mekanisme pasar
  • bisnis kadang berhasil kadang tidak
  • bisnis membutuhkan kemampuan negosiasi yang baik
  • dibutuhkan semangat dan kerja keras untuk berhasil dalam bisnis

2.  Ubah pekerjaan sambilan anak menjadi sebuah bisnis dan dampingi mereka melakukannya

Menyapu halaman, menjaga anak tetangga ataupun pekerjaan sambilan lainnya bisa dijadikan bisnis untuk anak-anak kita. Bantu mereka membangun bisnis dari hal-hal sehari-hari yang mereka sering lakukan dan terbiasa melakukannya. Termasuk juga dari hobi produktif yang mereka miliki.

Jiwa wirausaha yang terasah dari seorang anak, nantinya akan membantunya ketika dia akan memulai bisnis yang sebenarnya di saat usianya telah dewasa dengan modal dari dana tabungan yang dimilikinya. Walaupun nantinya anak kita memilih bekerja di sebuah perusahaan atau lembaga pemerintahan, tetap penting baginya memiliki bisnis pribadi sebagai sebuah sumber penghasilan lain untuk membantu pemenuhan kebutuhan finansialnya yang semakin besar.

Investasi (Deposito, Sukuk, Emas Batangan)

Untuk mengajari anak-anak kita cara berinvestasi jangka panjang, berikut adalah prinsip-prinsip yang bisa kita terapkan :

  1. Ajarkan jenis-jenis investasi, baik yang mengandung unsur riba maupun yang diperbolehkan dalam Islam. Penting bagi mereka untuk tahu manfaat investasi halal, juga mudarat dan bahaya riba yang mengintai dan bersembunyi dalam banyak jenis investasi.
  2. Membeli emas batangan, tanah atau uang muka sebuah rumah adalah sebuah investasi jangka panjang yang menguntungkan. Ajarkan anak – anak kita yang sudah memasuki usia remaja untuk mengenal lokasi tanah atau rumah yang bernilai ekonomis dan bisa mendatangkan keuntungan. Bahkan membeli sebuah rumah toko (ruko) atau mobil toko (moko) juga bisa merupakan investasi yang menguntungkan bagi anak kita sembari mendukung pengembangan jiwa wirausahanya.
  3. Ajarkan anak untuk jeli dengan jenis investasi yang ditawarkan perseorangan atau perusahaan milik perseorangan terkait maraknya penipuan yang mengatasnamakan investasi.

Dengan dukungan positif, pendidikan dan keterampilan praktis yang kita berikan kepada anak – anak kita, insya Allah kelak mereka bisa menjadi pribadi dewasa yang berhasil dan bertanggung jawab secara finansial (termasuk memiliki komitmen untuk berkontribusi positif dan berbagi sebesar – besarnya untuk kemaslahatan umat), kita pun akan merasa bahagia melepaskan mereka untuk terjun ke dunia nyata, dengan harapan mereka akan memiliki masa depan cerah dan mampu menghasilkan kontribusi positif pada dunia mereka nantinya.

Sebagian sumber tulisan diambil dari : Buku “ Making Allowance” – Lermitte, Merritt

Penulis: Risa Mutia

Editor: Yeni Mulati Ahmad

muhasabah

Tahun Baru, Mari Bermuhasabah!

muhasabahTahun 2016 sudah kita lewati. Dan tahun 2015 sudah kita tinggalkan. Banyak orang telah menyusun resolusinya untuk tahun yang baru datang ini seiring harapan, pencapaian target-target di tahun depan akan lebih baik dari tahun yang telah dilalui.

Memang, tak ada kewajiban kita untuk menyusun resolusi. Namun tak ada salahnya kita melakukan muhasabah dan introspeksi. Bahkan evaluasi diri ini sebaiknya kita lakukan setiap hari. Dan barangkali, momen akhir tahun seperti ini, adalah momen yang tepat untuk kita sejenak merenungi hari yang telah berlalu, perbuatan dan amal ibadah yang telah kita lakukan, dan kekurangan-kekurangan apa yang harus kita benahi.
Untuk membantu Sobat Sakinah melakukan evaluasi diri, berikut beberapa check-list pertanyaan yang dapat sahabat tanyakan kepada diri sendiri, dan apa yang akan sahabat lakukan untuk memperbaikinya di masa yang akan datang:
1. Check-list Hubungan Kita dengan Allah
– Bagaimana kualitas dan kuantitas ibadah kita di tahun ini?
– Sudahkah ibadah tersebut membawa perubahan positif dalam diri dan rutinitas kita sehari-hari?
– Sudahkah hati kita ikhlas dalam beribadah? Ataukah hanya sekadar menggugurkan kewajiban belaka?
– Ibadah apa yang akan kita tingkatkan di masa yang akan datang?
– Sudahkah kita mengajak diri untuk selalu bertaubat?
– Sudahkah kita meluangkan waktu setiap hari untuk merenungkan kekuasaan Allah dan meningkatkan rasa syukur kita kepadaNya? Atau justru kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi sehingga saat diterpa masalah kita spontan meresponnya dengan berkeluh kesah?

2. Check-list Hubungan Kita dengan Sesama Manusia
– Sudahkah kita mempererat silaturahim? Ataukah kita sudah merasa cukup dengan bertegur sapa lewat media sosial dan gadget?
– Pernahkah kita menyakiti hati manusia? Jika pernah, sudahkah kita meminta maaf, atau justru masih saling membenci dan mendiamkan?
– Bagaimana kualitas hubungan kita dengan keluarga? Sudahkah kita menjadikan mereka prioritas, atau justru memberikan mereka hanya waktu dan energi yang tersisa?
– Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah dan muamalah, dengan bersedekah, saling memberi hadiah, saling membantu sahabat dan saudara yang tengah dilanda kesusahan? Atau justru kita lebih disibukkan dengan urusan memenuhi kebutuhan sendiri?
– Adakah perbuatan kita yang merenggut hak-hak orang lain? Jika kita menyadarinya, sudahkah kita memperbaiki kekhilafan itu?
– Adakah kata-kata atau perbuatan kita yang menyakiti orang tua?
– Seberapa sering kita memberi perhatian kepada orang tua kita?
– Andai orang tua kita sudah meninggal dunia, apakah kita selalu mendoakannya?
– Bagaimanakah kualitas hubungan kita dengan pasangan hidup kita? Apakah semuanya tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kian harmonis, atau sebaliknya, lebih banyak hari kita lalui dengan saling berselisih paham dan menggenggam bara api?
– Apa yang sudah kita lakukan untuk memperbaiki hubungan yang kurang harmonis? Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah yang sudah terjalin baik?

3. Check-list Hubungan Kita dengan Diri Sendiri
– Sudahkah kita merasa bahagia?
– Apakah kebahagiaan itu kian mendekatkan kita kepada Allah atau sebaliknya?
– Sudahkah kita memberi apa yang dibutuhkan jasmani dan rohani kita? Atau justru memaksanya untuk bekerja terlalu keras dan membiarkan jiwa kita kering dari siraman rohani dan juga ilmu?
– Masihkah penyakit-penyakit hati bercokol dalam jiwa kita? Jika ada, sudahkah kita berusaha membersihkannya?
– Apa rencana kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi di masa yang akan datang? Baik dalam pengabdian kita kepada Allah, dalam akhlak perbuatan dan juga dalam hubungan kita dengan sesama umat manusia?

Jawablah semua pertanyaan dengan jujur, dan silakan sahabat tambahkan sendiri jika masih ada hal-hal lain yang perlu untuk diperbaiki dan dievaluasi.

Semoga tahun yang akan datang, kita semua tetap berada di bawah rahmat dan perlindungan Allah, dan diri kita semakin bertumbuh menuju insan kamil.
Penulis: Riawani Elyta
Editor : Yeni Mulati Ahmad

islamic house

5 Prinsip Menghias Rumah Secara Islami

islamic houseSahabat Sakinah, sesuai kodrat kita sebagai makhluk Allah yang mencintai keindahan, maka kita juga selalu berkeinginan untuk mendekorasi rumah sesuai dengan selera dan kemampuan. Namun ada satu hal perlu diperhatikan, bahwa dalam mendekorasi rumah, kita juga perlu memperhatikan kaidah-kaidah yang sesuai prinsip islam.

Melanjutkan artikel terdahulu tentang Prinsip Dekorasi Rumah Islami, berikut ini akan kami sajikan tips-tips mendekorasi rumah yang tidak melanggar prinsip Islam. Apa saja tipsnya? Simak yuk!

1. Mendekorasi dengan Barang Halal
Kita diperbolehkan mendekorasi rumah dengan tujuan untuk memperindah tempat kita tinggal dan mensyukuri nikmat Allah. Dalam mendekorasi rumah, hendaknya kita menggunakan hiasan yang halal; baik halal dalam perolehannya, maupun halal dari segi material dari dekorasi tersebut.

2. Tidak Memasang Gambar atau Meletakkan Patung Makhluk Hidup
Jika kita ingin menghias rumah dengan meletakkan gambar atau lukisan, pilihlah yang tidak mengandung unsur makhluk hidup atau gambar-gambar binatang. Demikian juga hendaknya jangan menaruh patung yang berbentuk makhluk hidup.
Hadits riwayat Ibnu Abbas r.a. menyebutkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang ada anjing atau ada gambarnya.” (Shahih Muslim no.3929).
Sebagai gantinya, kita bisa memasang lukisan kaligrafi ataupun gambar yang mencerminkan ciri Islami seperti gambar Ka’bah, masjid, dan sebagainya.

3. Tidak Mengganggu Hak-hak Tetangga
Saat membangun rumah, dianjurkan untuk memaksimalkan perkembangan mendatar (meluas) terlebih dahulu daripada perkembangan ke atas (meninggikan bangunan). Perhatikan juga bangunan atau rumah di sekitar, jangan sampai mengganggu hak-hak tetangga. Misalnya meninggikan rumah sehingga menghalangi sirkulasi udara dan cahaya matahari ke rumah tetangga, ataupun air dari atap rumah kita jatuh ke rumah tetangga, atau juga daun-daun dari pohon yang tumbuh di rumah kita tetapi saat jatuh justru mengotori halaman rumah tetangga.
Rasulullah SAW bersabda:
“…Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya yang dapat menutup kelancaran angin baginya, dan jangan kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya.” (HR At-Thabrani).

4. Tidak Bermegah-megahan
Ukuran rumah sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah penghuni rumah. Tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit agar kenyamanan dan keharmonisan antar penghuni rumah maupun dengan tetangga dapat terpelihara dengan baik.
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya perkara ialah pertengahannya (tidak berlebihan/seimbang).”

5. Tidak Menghias Rumah dengan Emas dan Perak
Emas dan perak adalah simbol kemewahan dan kemegahan, oleh karenanya tidak dianjurkan untuk menggunakan hiasan dari kedua bahan ini sebagai pelengkap dekorasi rumah. Karena hal ini bisa memicu sifat sombong dan ketimpangan sosial dengan tetangga yang kurang mampu.
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian minum dalam bejana emas dan perak, dan jangan pula makan dalam piring keduanya. Sesungguhnya emas dan perak hanya untuk mereka (orang kafir) di dunia. Sedangkan bagi kalian di akhirat kelak.” (HR Muttafaq ‘Alaih).

Penulis: Riawani Elyta

 

 

muhasabah

Kiat Menggapai Shalat Khusyu’

muhasabah

Sobat Sakinah, shalat adalah ibadah utama umat Islam. Shalat yang didirikan dengan sempurna akan melenyapkan semua bibit ujub, ghurur, bahkan kekejian dan kemunkaran. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya, “Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kekejian dan kemunkaran.” (QS. Al-Ankabut : 29).

Namun fungsi shalat ini hanya akan terwujud jika shalat ditegakkan dengan memenuhi semua rukun, sunnah, serta adab lahir dan batinnya. Dan elemen terpenting dalam adab lahir dan bathin ini, adalah kekhusyuan dalam pelaksanaannya. Khusyu’ merupakan tanda pertama bagi orang yang beruntung, sebagaimana firman Allah swt yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya” (QS. Al-Mukminun: 1-2).

Hati akan baik jika terdapat kekhusyuan di dalamnya, sebaliknya, hati akan rusak jika tak dilingkupi dengan kekhusyukan. Hati yang rusak antara lain ditandai dengan bercokolnya berbagai penyakit hati yang berbahaya. Misalnya saja, mencintai dunia dan berkompetisi dalam meraihnya, sehingga kehilangan orientasi akan kehidupan akhirat.

Oleh karenanya, menghadirkan kekhusyukan hati di dalam shalat itu sangat penting, agar fungsi shalat dapat tercapai dan kondisi hati pun akan menjadi lebih baik. Jika sampai hari ini masih sulit untuk kita menegakkan shalat dengan khusyuk, keenam kiat ini mudah-mudahan dapat membantu, yaitu :

  1. Hudurul qalb atau kehadiran hati. Ini bermakna mengosongkan hati dari hal-hal yang tak ada kaitannya dengan ibadah shalat. Maka selama mendirikan shalat, kita harus menjaga agar pikiran tidak berpaling kemana-mana, dan hati tetap mengingat Allah, sehingga kita tidak lalai dalam shalat dan makna hudurul qalb ini dapat kita tunaikan.
  2. Tafahhum, yaitu memahami makna ucapan dan perbuatan di dalam shalat. Setiap orang memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda terhadap apa yang dia ucapkan dan lakukan sepanjang ibadah shalat. Dan sudah menjadi kewajiban kita untuk terus meningkatkan pemahaman ini. Pemahaman di sini tak hanya sekadar memahami secara harfiah, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya. Misalnya saja, ucapan shalat yang mengandung makna memohon dan berharap, ataupun yang bertujuan memuji dan mengagungkan Allah SWT. Di sinilah shalat dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, karena shalat dapat mendorong kita untuk lebih memahami makna dari setiap ucapan dan gerakan shalat yang pada gilirannya akan mencegah dari perbuatan maksiat.
  3. Ta’zhim, atau pengagungan dan rasa hormat. Shalat juga harus diiringi dengan rasa hormat dan pengagungan kita kepada Allah SWT, karena pada hakikatnya, tujuan penciptaan kita adalah untuk mengabdi kepada-Nya, dan shalat merupakan sarana terpenting dari pengabdian.
  4. Haibah, yaitu rasa takut yang bersumber dari ta’zhim. Ini berbeda dengan ketakutan yang tidak bersumber dari rasa hormat, seperti ketakutan kita akan gigitan ular atau ancaman bahaya misalnya. Sebaliknya, haibah adalah rasa takut yang bersumber dari penghormatan dan pemuliaan kita kepada Allah.
  5. Raja’ atau harapan. Dalam menegakkan shalat, kita juga semestinya mengiringinya dengan harapan akan kebaikan dari shalat yang kita laksanakan, serta menguatkan keyakinan kita akan ganjaran kebaikan tersebut. Karena sesungguhnya Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya yang bermohon dan berharap, serta Allah melaknat hamba-Nya yang berputus asa akan rahmat-
  6. Haya’ atau rasa malu. Yaitu kondisi batin yang bersumber dari kesadaran kita akan dosa-dosa selama ini, sehingga hati kita pun akan terdorong untuk menjadi lebih khusyu dalam menegakkan shalat.

Keenam makna batiniyah ini hendaknya selalu kita upayakan dalam menunaikan shalat untuk mencapai kekhusyuan hati dan menghindarkan kita dari kelalaian. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya shalat itu ketetapan hati dan ketundukan diri.”

Kekhusyukan di dalam shalat merupakan barometer dan tanda bagi kekhusyuan hati. Insya Allah, hati yang khusyu akan bersih dari berbagai penyakit hati, menjauhkan pemiliknya dari sifat tercela, dan dalam kehidupan sehari-hari pun akan senantiasa dihiasi sifat-sifat terpuji serta akhlak yang mulia.

 

Referensi         : Kitab Tazkiyatun Nafs

Penulis             : Riawani Elyta

Editor              : Yeni Mulati Ahmad

 

 

emosi

Saat Hati Dilanda Cemburu….

emosi

Beberapa hari ini, Asti (bukan nama sebenarnya) gelisah bukan main. Mendadak saja suaminya, Arya, sering bercerita tentang teman satu angkatannya satu SMA, seorang perempuan, yang masih saja melajang, meski usia sudah hampir kepala empat. Asti gelisah, karena jarang sekali Arya bicara soal perempuan. Semakin gelisah, saat Asti tahu bahwa teman perempuan itu ternyata cantik, dan seorang wanita karir yang sukses.

Rasa cemburu merambati hati Asti. Apakah Arya tertarik dengan temannya itu? Bagaimana jika Arya ternyata berminat untuk poligami? Kisah semacam Asti dan Arya, tampaknya sering terjadi di sekitar kita. Asti cemburu. Apakah sikap Asti wajar?

Tentu sangat wajar. Justru jika Asti tak menyimpan rasa apapun, malah rasanya mengherankan. Cemburu itu salah satu tanda cinta. Jika Asti merasa cemburu, itu berarti Asti mencintai suaminya. Apakah ada istri yang tidak mencintai suaminya? Ada! Kita mengenal tipe rumah tangga ‘empty love’ di mana kehidupan rumah tangga hanya diikat oleh komitmen belaka, tanpa ada binar-binar mawaddah ataupun rahmah. Kapan-kapan, kita akan bahas masalah ini.

Namun, waspadailah rasa cemburu. Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda cemburu itu ada yang dicintai Allah dan ada juga yang dibenci-Nya. Adapun cemburu yang dicintai-Nya adalah cemburu karena rasa curiga. Sedangkan cemburu yang dibenci-Nya adalah cemburu yang bukan karena curiga.” (HR. Abu Dawud).

Apa maksud cemburu karena curiga? Yaitu cemburu yang didasarkan pada indikasi-indikasi atau tanda-tanda tertentu yang menimbulkan kecurigaan. Misal, seorang istri melihat suaminya berduaan dengan wanita yang bukan mahram di sebuah tempat yang romantis. Indikasi itu membuat dia waspada, terlebih ketika ada tanda-tanda bahwa pasangan kita akan berbuat sesuatu yang melanggar syariat. Kecurigaan itu membuat kita seyogyanya waspada dan mengingatkan pasangan kita untuk tidak melanggar batas-batas yang dibenarkan oleh agama.

Sedangkan cemburu yang dilarang adalah cemburu tanpa alasan dan melewati batas-batas kewajaran. Suatu saat, istri Umar bin Khattab pernah ikut shalat subuh dan isya berjamaah di masjid. Lalu ada yang menegur istri Umar, “Kenapa kamu keluar rumah, bukankah engkau tahu bahwa Umar tak menyukai hal ini dan dia pasti akan cemburu?”

“Apa alasan engkau melarangku?” Istri Umar pun menyebut sebuah hadist, “Janganlah kalian larang hamba-hamba Allah yang perempuan datang ke masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, ada juga kecemburuan-kecemburuan yang sifatnya manusiawi dan dimaafkan. Misal, kecemburuan antaristri sebagaimana yang terjadi antara istri Rasulullah yang satu dengan yang lain. Asal kecemburuan itu tidak sampai pada hal-hal yang melanggar syariat, hal tersebut termasuk dalam perkara wajar.

Lantas, bagaimana dengan kasus Asti di atas? Jika ada indikasi, sebenarnya indikasi tersebut masih cukup lemah. Sangat baik jika Asti mengedepankan prasangka baik kepada suaminya, dan bukan malah menjerumuskan diri kepada prasangka-prasangka negatif. Asti bisa dengan cara lembut dan mungkin dengan gaya bergurau mengingatkan suaminya, “Awas, lho Papa… jaga hati, jaga pandangan.”

Selain itu, momen cemburu tersebut bisa menjadi momen Asti untuk berbenah dan muhasabah. Sudahkah selama ini dia menjadi istri yang baik untuk Arya? Jika ternyata banyak kekurangan, Asti harus berupaya untuk memperbaikinya.

Ditulis oleh: Afifah Afra

Referensi:

Sheikh Abu Al-Hamd Rabee’, 2011, Membumikan Harapan Keluarga Islam Idaman, Lembaga Kajian Ketahanan Keluarga Indonesia (LK3I), Jakarta.