Category Archives: AKHLAK

laugh

Bercanda Boleh Saja, Asal….

Masyarakat dikejutkan oleh tingkah polah seorang selebriti tanah air, saat mengisi acara di sebuah stasiun televisi baru-baru ini. Saat itu dalam acara musik pagi itu, ceritanya mereka sedang ditantang mengadu kecerdasan. Dalam segmen Cerdas Cermat, pertanyaan yang diajukan tentang kapan proklamasi Indonesia dikumandangkan, sang selebriti menjawab dengan tulisan “sesudah azan subuh” dan dirinya menjawab “32 agustus” sebagai tanggal proklamasi. Tak berhenti sampai di sana penonton dibuatnya ternganga lagi saat pernyataan lambang pancasila ke lima dirinya menjawab dan “bebek nungging”. Continue reading

nature-wallpaper-free-2066

Lembutkan Hati, Raih Kasih Sayang Illahi

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia lembut berarti lunak/halus, sedangkan kelembutan bisa diartikan kehalusan. Kehalusan bermakna luas, bisa kehalusan dalam bersikap, kehalusan budi pekerti dan lain sebagainya. Jika tadi sudah dibahas makna kelembutan dilihat dari segi bahasa Indonesia, sekarang mari kita coba membahas kelembutan dari berdasarkan Al-Quran. Di dalam Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menyebutkan mengenai lemah lembut, di antaranya sebagai berikut: Continue reading

muhasabah

Tahun Baru, Mari Bermuhasabah!

muhasabahTahun 2016 sudah kita lewati. Dan tahun 2015 sudah kita tinggalkan. Banyak orang telah menyusun resolusinya untuk tahun yang baru datang ini seiring harapan, pencapaian target-target di tahun depan akan lebih baik dari tahun yang telah dilalui.

Memang, tak ada kewajiban kita untuk menyusun resolusi. Namun tak ada salahnya kita melakukan muhasabah dan introspeksi. Bahkan evaluasi diri ini sebaiknya kita lakukan setiap hari. Dan barangkali, momen akhir tahun seperti ini, adalah momen yang tepat untuk kita sejenak merenungi hari yang telah berlalu, perbuatan dan amal ibadah yang telah kita lakukan, dan kekurangan-kekurangan apa yang harus kita benahi.
Untuk membantu Sobat Sakinah melakukan evaluasi diri, berikut beberapa check-list pertanyaan yang dapat sahabat tanyakan kepada diri sendiri, dan apa yang akan sahabat lakukan untuk memperbaikinya di masa yang akan datang:
1. Check-list Hubungan Kita dengan Allah
– Bagaimana kualitas dan kuantitas ibadah kita di tahun ini?
– Sudahkah ibadah tersebut membawa perubahan positif dalam diri dan rutinitas kita sehari-hari?
– Sudahkah hati kita ikhlas dalam beribadah? Ataukah hanya sekadar menggugurkan kewajiban belaka?
– Ibadah apa yang akan kita tingkatkan di masa yang akan datang?
– Sudahkah kita mengajak diri untuk selalu bertaubat?
– Sudahkah kita meluangkan waktu setiap hari untuk merenungkan kekuasaan Allah dan meningkatkan rasa syukur kita kepadaNya? Atau justru kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi sehingga saat diterpa masalah kita spontan meresponnya dengan berkeluh kesah?

2. Check-list Hubungan Kita dengan Sesama Manusia
– Sudahkah kita mempererat silaturahim? Ataukah kita sudah merasa cukup dengan bertegur sapa lewat media sosial dan gadget?
– Pernahkah kita menyakiti hati manusia? Jika pernah, sudahkah kita meminta maaf, atau justru masih saling membenci dan mendiamkan?
– Bagaimana kualitas hubungan kita dengan keluarga? Sudahkah kita menjadikan mereka prioritas, atau justru memberikan mereka hanya waktu dan energi yang tersisa?
– Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah dan muamalah, dengan bersedekah, saling memberi hadiah, saling membantu sahabat dan saudara yang tengah dilanda kesusahan? Atau justru kita lebih disibukkan dengan urusan memenuhi kebutuhan sendiri?
– Adakah perbuatan kita yang merenggut hak-hak orang lain? Jika kita menyadarinya, sudahkah kita memperbaiki kekhilafan itu?
– Adakah kata-kata atau perbuatan kita yang menyakiti orang tua?
– Seberapa sering kita memberi perhatian kepada orang tua kita?
– Andai orang tua kita sudah meninggal dunia, apakah kita selalu mendoakannya?
– Bagaimanakah kualitas hubungan kita dengan pasangan hidup kita? Apakah semuanya tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kian harmonis, atau sebaliknya, lebih banyak hari kita lalui dengan saling berselisih paham dan menggenggam bara api?
– Apa yang sudah kita lakukan untuk memperbaiki hubungan yang kurang harmonis? Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah yang sudah terjalin baik?

3. Check-list Hubungan Kita dengan Diri Sendiri
– Sudahkah kita merasa bahagia?
– Apakah kebahagiaan itu kian mendekatkan kita kepada Allah atau sebaliknya?
– Sudahkah kita memberi apa yang dibutuhkan jasmani dan rohani kita? Atau justru memaksanya untuk bekerja terlalu keras dan membiarkan jiwa kita kering dari siraman rohani dan juga ilmu?
– Masihkah penyakit-penyakit hati bercokol dalam jiwa kita? Jika ada, sudahkah kita berusaha membersihkannya?
– Apa rencana kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi di masa yang akan datang? Baik dalam pengabdian kita kepada Allah, dalam akhlak perbuatan dan juga dalam hubungan kita dengan sesama umat manusia?

Jawablah semua pertanyaan dengan jujur, dan silakan sahabat tambahkan sendiri jika masih ada hal-hal lain yang perlu untuk diperbaiki dan dievaluasi.

Semoga tahun yang akan datang, kita semua tetap berada di bawah rahmat dan perlindungan Allah, dan diri kita semakin bertumbuh menuju insan kamil.
Penulis: Riawani Elyta
Editor : Yeni Mulati Ahmad

emosi

Saat Hati Dilanda Cemburu….

emosi

Beberapa hari ini, Asti (bukan nama sebenarnya) gelisah bukan main. Mendadak saja suaminya, Arya, sering bercerita tentang teman satu angkatannya satu SMA, seorang perempuan, yang masih saja melajang, meski usia sudah hampir kepala empat. Asti gelisah, karena jarang sekali Arya bicara soal perempuan. Semakin gelisah, saat Asti tahu bahwa teman perempuan itu ternyata cantik, dan seorang wanita karir yang sukses.

Rasa cemburu merambati hati Asti. Apakah Arya tertarik dengan temannya itu? Bagaimana jika Arya ternyata berminat untuk poligami? Kisah semacam Asti dan Arya, tampaknya sering terjadi di sekitar kita. Asti cemburu. Apakah sikap Asti wajar?

Tentu sangat wajar. Justru jika Asti tak menyimpan rasa apapun, malah rasanya mengherankan. Cemburu itu salah satu tanda cinta. Jika Asti merasa cemburu, itu berarti Asti mencintai suaminya. Apakah ada istri yang tidak mencintai suaminya? Ada! Kita mengenal tipe rumah tangga ‘empty love’ di mana kehidupan rumah tangga hanya diikat oleh komitmen belaka, tanpa ada binar-binar mawaddah ataupun rahmah. Kapan-kapan, kita akan bahas masalah ini.

Namun, waspadailah rasa cemburu. Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda cemburu itu ada yang dicintai Allah dan ada juga yang dibenci-Nya. Adapun cemburu yang dicintai-Nya adalah cemburu karena rasa curiga. Sedangkan cemburu yang dibenci-Nya adalah cemburu yang bukan karena curiga.” (HR. Abu Dawud).

Apa maksud cemburu karena curiga? Yaitu cemburu yang didasarkan pada indikasi-indikasi atau tanda-tanda tertentu yang menimbulkan kecurigaan. Misal, seorang istri melihat suaminya berduaan dengan wanita yang bukan mahram di sebuah tempat yang romantis. Indikasi itu membuat dia waspada, terlebih ketika ada tanda-tanda bahwa pasangan kita akan berbuat sesuatu yang melanggar syariat. Kecurigaan itu membuat kita seyogyanya waspada dan mengingatkan pasangan kita untuk tidak melanggar batas-batas yang dibenarkan oleh agama.

Sedangkan cemburu yang dilarang adalah cemburu tanpa alasan dan melewati batas-batas kewajaran. Suatu saat, istri Umar bin Khattab pernah ikut shalat subuh dan isya berjamaah di masjid. Lalu ada yang menegur istri Umar, “Kenapa kamu keluar rumah, bukankah engkau tahu bahwa Umar tak menyukai hal ini dan dia pasti akan cemburu?”

“Apa alasan engkau melarangku?” Istri Umar pun menyebut sebuah hadist, “Janganlah kalian larang hamba-hamba Allah yang perempuan datang ke masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, ada juga kecemburuan-kecemburuan yang sifatnya manusiawi dan dimaafkan. Misal, kecemburuan antaristri sebagaimana yang terjadi antara istri Rasulullah yang satu dengan yang lain. Asal kecemburuan itu tidak sampai pada hal-hal yang melanggar syariat, hal tersebut termasuk dalam perkara wajar.

Lantas, bagaimana dengan kasus Asti di atas? Jika ada indikasi, sebenarnya indikasi tersebut masih cukup lemah. Sangat baik jika Asti mengedepankan prasangka baik kepada suaminya, dan bukan malah menjerumuskan diri kepada prasangka-prasangka negatif. Asti bisa dengan cara lembut dan mungkin dengan gaya bergurau mengingatkan suaminya, “Awas, lho Papa… jaga hati, jaga pandangan.”

Selain itu, momen cemburu tersebut bisa menjadi momen Asti untuk berbenah dan muhasabah. Sudahkah selama ini dia menjadi istri yang baik untuk Arya? Jika ternyata banyak kekurangan, Asti harus berupaya untuk memperbaikinya.

Ditulis oleh: Afifah Afra

Referensi:

Sheikh Abu Al-Hamd Rabee’, 2011, Membumikan Harapan Keluarga Islam Idaman, Lembaga Kajian Ketahanan Keluarga Indonesia (LK3I), Jakarta.

al-Matsurat 4 kover B

Pernak-Pernik Souvenir Islami

al-Matsurat 4 kover B

Apa yang terbayang dalam benak sahabat saat mendengar kata “souvenir Islami”? tentunya souvenir atau cinderamata yang melambangkan ciri-ciri islami, ataupun souvenir yang bisa diberikan untuk para tamu undangan pada acara-acara yang dianjurkan dalam Islam seperti acara walimahan (pernikahan) dan akikah, juga acara-acara perayaan lainnya seperti pengajian, syukuran, khataman, dan tahlilan.

Lalu, apa yang membedakan souvenir Islami dengan souvenir pada umumnya, seperti gantungan kunci, kipas, gelas dan barang hiasan lainnya?
Pertama – pada ciri-cirinya, di mana souvenir islami menunjukkan ciri kekhasan islam. Kedua – pada pemanfaatannya. Souvenir islami tak hanya sekadar menarik dalam penampilan, tetapi juga bermanfaat bagi pemiliknya.

Berikut beberapa contoh souvenir islami dan manfaatnya :
1. Tasbih ; dapat digunakan untuk berzikir,
2. Bros ; dapat digunakan sahabat muslimah untuk mempermanis penampilan bersama jilbab,
3. Surah yasin ; dapat dibaca saat tahlilan ataupun sebagai amalan rutin,
4. Sajadah ; dapat digunakan untuk melakukan ibadah sholat,
5. Kumpulan doa atau Al-Matsurat ; dapat diamalkan sebagai rutinitas harian,
6. dan sebagainya.

Adapun keutamaan memberi hadiah atau souvenir islami, antara lain sebagai berikut :
1. Ketika kita saling memberi sarana ibadah dalam bentuk souvenir islami, seperti tasbih, surah yasin atau sajadah, maka hal itu dapat menjadi wujud dakwah kita untuk mengajak dan menganjurkan orang lain beramal ibadah.
2. Selama orang yang menerima souvenir tersebut menggunakannya untuk keperluan ibadah, misalnya menggunakan tasbih untuk berzikir, menggunakan sajadah untuk sholat, maka insya Allah, selama itu pulalah nilai amal jariahnya akan mengalir pada kita.

Tradisi memberikan hadiah atau souvenir adalah sebuah perbuatan yang bernilai kebaikan, bermanfaat positif bagi si penerima, mewujudkan anjuran Rasulullah saw untuk saling memberi hadiah dalam rangka mempererat ikatan kasih sayang, dan insya Allah …..akan menjadi ladang amal jariah untuk sahabat yang melakukannya.Oleh karenanya, mari kita lestarikan kebiasaan memberi hadiah termasuk souvenir dalam bentuk barang-barang yang berciri islami dan bermanfaat.

Referensi :
www.binasyifa.com
www.refiza.com
www.riawanielyta.com
www.sunnah.or.id

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis nonfiksi Sayap-sayap Sakinah, Sayap-sayap Mawaddah dan 14 novel.
FB : Riawani Elyta
Twitter : @RiawaniElyta
Blog : www.riawanielyta.com
IG : riawani_elyta

__________________________________________________

Yuk, dapatkan paket buku keren ini, dan ikuti lomba resensinya. Info KLIK SINI!

 

Paket Sayap Sakinah-Mawaddah

4.1.1

Yuk, Mentradisikan Berbagi Souvenir Islami!

4.1.1

Dalam tradisi masyarakat kita, souvenir atau hadiah biasanya diberikan pada kesempatan-kesempatan dan momen spesial, termasuk pada acara-acara hari besar Islam. Dan tujuan utama dari pemberian souvenir atau hadiah ini adalah untuk mengungkapkan rasa terima kasih, penghormatan, dan kasih sayang.

Asal usul pemberian souvenir atau hadiah ini sebenarnya telah dimulai pada masa kerajaan. Ketika itu, pemberian hadiah pada umumnya terbagi atas 3 (tiga) cara, yaitu :

  • Pemberian hadiah oleh rakyat kepada raja sebagai bentuk ketaatan dan loyalitas
  • Pemberian hadiah dari tamu yang datang kepada raja sebagai wujud rasa hormat dan penghargaan
  • Pemberian hadiah pada seremoni tertentu di kerajaan seperti peringatan kenaikan tahta, perayaan hari kelahiran putra mahkota, dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, tradisi memberi hadiah ini tak hanya terbatas dilakukan dalam lingkungan kerajaan, tetapi juga diikuti oleh masyarakat umum, termasuk pemberian hadiah yang dilakukan pada seremoni ibadah sebuah agama.

Jika kita melihat lebih jauh ke belakang, Allah SWT telah menyebutkan tentang pemberian hadiah ini dalam Al-Quran pada kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis. Dalam kisah tersebut, Ratu Bilqis mengatakan: “Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (Q.S. An-Naml: 35).

Ketika itu, Ratu Bilqis bermaksud melunakkan hati Sulaiman a.s. dengan cara mengirimkan hadiah, dengan harapan Nabi Sulaiman akan membiarkan dirinya dan kaumnya untuk tetap menyembah matahari. Akan tetapi Sulaiman membalas mereka dengan berkata: “Kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka, sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang tidak kuasa mereka lawan.” (Q.S. an-Naml: 36-37)

Balasan Nabi Sulaiman ini mencerminkan ketaatan dan kekuatan tekad seorang Nabi utusan Allah. Pemberian hadiah tidak membuat keteguhan dan keyakinan Nabi Sulaiman melemah terhadap segala bentuk kemusyrikan.

Dalam istilah syar’i, hadiah bermakna memberikan sesuatu kepada orang tertentu dengan tujuan terwujudnya hubungan baik dan mendapatkan pahala dari Allah tanpa adanya permintaan dan syarat. Hukumnya diperbolehkan apabila tidak ada larangan syar’i. Disunnahkan apabila dalam rangka menyambung silaturrahim, kasih sayang dan rasa cinta. Disyariatkan apabila bertujuan untuk membalas budi dan kebaikan orang lain. Namun hukum pemberian hadiah ini bisa menjadi haram atau mendekati keharaman jika hadiah tersebut berupa barang haram ataupun pemberian dimaksud adalah atas niat tercela seperti menyogok ataupun seperti yang dilakukan ratu Bilqis kepada Nabi Sulaiman.

Islam pada dasarnya sangat menganjurkan umatnya untuk saling memberi hadiah, karena hadiah dapat merekatkan kasih sayang, menguatkan hubungan sosial, dan menghilangkan permusuhan atau kedengkian. Hadiah juga dapat menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta dan kasih sayang di dalam hati.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, ”Saling memberi hadiahlah kalian, meskipun dengan sedikit tulang domba. Karena hal itu bisa memperkuat kasih sayang dan menghilangkan permusuhan.”

Dalam hadits yang lain pula beliau bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, agar kalian saling mencintai.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, Shahih al-Jami 3004, al-Irwa 1601).

Berdasarkan anjuran ini, maka tradisi pemberian hadiah termasuk souvenir adalah tradisi yang sangat baik untuk dilestarikan. Selain menjadi wujud kepatuhan terhadap anjuran Rasulullah SAW, dapat memperkuat ikatan silaturahim dan kasih sayang, pemberian hadiah atau souvenir khususnya souvenir yang bercirikan islami juga dapat menjadi sarana dakwah dan amal jariah.

Lebih lanjut tentang souvenir islami akan kita perbincangkan pada artikel mendatang.

Referensi :
www.binasyifa.com
www.refiza.com
www.riawanielyta.com
www.sunnah.or.id

Penulis :
Riawani Elyta
Penulis nonfiksi Sayap-sayap Sakinah, Sayap-sayap Mawaddah dan 14 novel.
FB : Riawani Elyta
Twitter : @RiawaniElyta
Blog : www.riawanielyta.com
IG : riawani_elyta

165ca70c-e9e8-451f-b9d2-652027d3b3db

Haruskah selalu memenuhi keinginan anak?

Aku ingin begini… aku ingin begitu

Ingin ini… ingin itu banyak sekali….

Semua.. semua dapat dikabulkan

Dapat dikabulkan dengan kanton ajaib

(Lagu Doraemon)

 

            Benar jika ada yang mengatakan bahwa manusia itu tak akan pernah merasa puas akan sesuatu, itu merupakan hukum alam yang menyelimuti diri setiap manusia dewasa tak terkecuali anak-anak. Mereka juga memiliki berbagai macam keinginan yang selalu ingin mereka dapatkan dengan segera mungkin, seperti pengalan lagu diatas semua beres hanya dengan adanya kantong ajaib atau kehadiran para peri dan bidadari-bidadari yang biasa hadir dalam sinetron-sinetron yang dengan sukarela mengabulkan semua keinginan-keinginan para tokoh utamanya.

 

Sikap-sikap anak seperti ini yang terkadang membingungkan orang tua, disisi lain mereka ingin membahagiakan sang anak tetapi terkadang keinginan mereka tidak sesuai dengan kondisi keuangan orang tua. Para orang tua tentu akan memprioritaskan keinginan anak yang memang sesuai dengan kebutuhannya namun bagaimana jika keinginan mereka hanya sekedar keinginan yang sebetulnya mereka tidak terlalu membutuhkannya. Misalnya anak merengek ingin dibelikan Ipad terbaru atau anak ingin selalu membeli mainan padahal mainan sudah menupuk di kamarnya atau meminta uang saku lebih besar dari jatah biasanya.

Jika sudah memiliki keinginan tertentu biasanya anak-anak menguji kita dengan beberapa jurus ala andalan mereka, seperti marah-marah, merengek, mengancam dan sampai mengeluarkan taktik fisik semua jurus itu mereka keluarkan agar orang tua menyerah dan memberikan apa yang mereka inginkan.

Menurut Ketua Suryani Institute For Mental Health (SIMH) Prof Dr L.K Suryani, kecenderungan sebagian besar para orang tua saat ini memberikan fasilitas dan kenikmatan hidup yang berlebihan pada anak-anak sehingga mereka kurang memiliki daya juang yang tinggi padahal seiring dengan kemajuan teknologi dan arus globalisasi, anak-anak semakin pandai, semakin kritis dan semakin banyak keinginannya namun di sisi lan mentalnya semakin melemah dan mereka mudah putus asa dan down. Akan lebih baik jika anak di ajak diskusi terlebih dahulu tentang seberapa penting keinginan mereka, ajak juga mereka memahami kondisi ekonomi dan keuangan keluarga agar mereka mengerti bahwa kebutuhan keluarga itu sangat banyak dan kompleks.

Sesekali ajak mereka ketempat orang-orang yang bekerja sangat keras hanya untuk mendapatkan berlembar-lembar uang, misalnya mengajak mereka ke pasar atau ke terminal di sana terlihat aktifitas-aktifitas bekerja. Melihat abang-abang yang memanggul berat ton-ton beras, kuli bangunan, para penyemir sepatu, para tukang ojek, para supir angkot,pemulung dan para pedagang yang terkadang harus melawan kantuk dan dingin mengelar dagangan pada dini hari. Dengan begitu anak akan sangat menghargai uang, karena untuk mendapatkannya kadang kaki jadi kepala, kepala menjadi kaki. (fm)

Muhammad SAW

TAK BOLEHKAH AKU MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR?

Muhammad SAW

(Gambar diambil dari sini)

Sobat Sakinah, bagaimana jika kita tiba-tiba diberi jaminan diampuni segala dosa dan sudah pasti masuk surga? Mungkin kita akan larut dalam kegembiraan, lalu berperilaku lupa daratan. Pikiran kita, untuk apa susah payah beribadah, toh kita sudah dijamin masuk surga.

Tunggu! Coba Sobat cermati kisah yang sangat terkenal tentang kemuliaan akhlak Rasulullah SAW ini.

Diceritakan kembali oleh Imam Al Ghazali, bahwa suatu ketika ‘Atha menemui istri Rasulullah, Aisyah r.a. Ia berkata, “Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang menakjubkan yang anda lihat dari Rasulullah SAW.”

Aisyah menangis sambil berkata, “Bagaimana tidak menakjubkan, pada suatu malam beliau mendatangiku, lalu pergi bersamaku ke tempat tidur hingga kulitku menempel dengan kulitnya. Kemudian beliau berkata, “Wahai putri Abu Bakar, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanku.”

Aisyah pun menjawab, “Saya tidak akan menghalangi keinginan Anda.”

Rasulullah Saw pun berwudhu, kemudian beliau shalat, lalu menangis hingga air matanya bercucuran membasahi dadanya. Beliau rukuk, lalu menangis. Beliau sujud, lalu menangis. Beliau berdiri lagi, lalu menangis lagi. Demikian seterusnya beliau lakukan sambil menangis hingga datang azan Subuh

Rupanya Aisyah menyaksikan apa yang terjadi pada diri Rasulullah Saw. la merasa penasaran dan berniat menanyakan keadaan suaminya itu.

Setelah menunaikan shalat Subuh, Aisyah kemudian bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, apa yang membuat Anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang.”

Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menghendaki agar menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Banyak orang melakukan sesuatu karena takut ancaman atau menginginkan sesuatu. Jika ancaman menghilang, atau sesuatu yang diinginkan, maka aktivitas kebaikan itu terhenti. Adapun Rasulullah, meski segalanya telah dijamin, beliau tetap beridabah tak kenal lelah dalam rangka bersyukur. Fabiayyi aala irabbikuma tukadziban.

Menurut para cendekiawan, motivasi seseorang dalam beramal memang ada tiga. Pertama, karena takut akan ancaman. Kedua, karena berharap akan penghargaan. Terakhir… ini yang terjadi pada Rasulullah SAW. Beramal karena cinta.

Bagaimana dengan kita?

perempuan-2B1000

Istri Bertipe 1000, 1 atau 000?


Kita tentu sering mendengar hadist Rasulullah yang artinya seperti ini:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (Muttafaq Alaihi dan Imam Lima).

Terkait dengan hadist tersebut, dalam sebuah kesempatan, Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc., pernah menguraikan suatu hal yang menarik. “Agama, ibarat angka satu. Lalu tiga hal yang lain adalah angka nol di belakang angka satu. Angka sempurna adalah 1000. Tetapi jika agama dihilangkan, tinggallah tiga buah nol yang sama sekali tak ada artinya,” papar beliau.

Uraian dari Ustadz Hatta itu bisa dijabarkan demikian. Perempuan memiliki agama yang bagus, nilainya adalah 1. Jika dia juga cantik, nilainya jadi 10. Jika selain cantik, dia berasal dari keturunan yang baik, nilainya menjadi 100. Dan, apabila dia memiliki harta melimpah—kaya raya, nilainya menjadi 1000.

Jadi, wanita yang memiliki empat hal tersebut, harta, keturunan, kecantikan dan agama, bisa dikatakan bernilai 1000. Orang-orang semacam Ratu Bilqis atau Bunda Khadijah, adalah sosok-sosok wanita tipe ini. Siapa sih, yang tak mendambahkan pasangan semacam ini?

Akan tetapi, jika yang dimiliki hanya kecantikan, harta, dan keturunan, sementara agamanya buruk, dia ibarat bernilai 000, yang artinya nol belaka. Angka nol jelas lebih buruk ketimbang sekadar angka 1, yakni perempuan yang ‘hanya’ memiliki agama semata. Sayang, banyak pemuda yang terpedaya dan lebih bernafsu mengejar nol-nol yang sebenarnya hanya penyempurna semata.

Bagus, sih, punya istri bertipe 1000. Tetapi, perempuan tipe ini jarang sekali. Kalaupun ada, apa iya selevel dengan si pemuda? Ketimbang sibuk mengejar nol-nol fatamorgana, bagaimana jika lebih berkonsentrasi mengejar si angka 1? [U.S.].
a-capuccino1

Cobaan Istri Saat Miskin, Cobaan Suami Saat Kaya

Ada hal menarik yang diungkapkan oleh Ustadz Hatta Syamsuddin, Lc., M.Ag., pada saat mengisi Seminar Pranikah yang diselenggarakan kerjasama Penerbit Indiva Media Kreasi, Sayap Sakinah Center dan LAZIS UNS beberapa waktu yang lalu. Kata beliau, “Cobaan istri, adalah saat suami tak punya apa-apa. Sedangkan cobaan suami, adalah ketika dia sudah memiliki apa-apa.”

Lebih lanjut ditegaskan oleh Ustadz Hatta, bahwa banyak kasus para istri tak sabar melihat suaminya tak mampu memberikan banyak nafkah. Sementara, setelah sang suami bergelimang kekayaan, giliran suaminya yang tak sabar untuk segera ‘buka cabang’ alias poligami. Repotnya, ‘buka cabang’ itu seringkali tidak melalui proses ilegal, sehingga akhirnya yang muncul adalah selingkuh.

Kemiskinan, memang banyak membuat para istri mengeluh. Sekilas bisa dimaklumi, karena kebutuhan hidup, kian lama memang kian tinggi. Tetapi, sesungguhnya tak ada suami–khususnya para suami yang bertanggungjawab–yang menginginkan kondisi tersebut terjadi. Secara sunnatullah, manusia memang diberikan beberapa ujian, salah satunya ujian kekurangan harta. Al-Quran juga menyebutkan. Maka, bersabar–dengan terus memotivasi suami, serta berupaya ikut serta mencari tambahan penghasilan, tentu jauh lebih mulia ketimbang kesana kemari mengumbar keluhan.

Sementara, kekayaan, sering membuat para suami lupa daratan, sehingga akhirnya memilih ‘menyakiti’ si istri dengan sibuk mencari kemungkinan untuk poligami. Ops, sebenarnya poligami itu bukan sesuatu yang dilarang agama, tetapi syarat dan ketentuan berlaku, lho. Syarat utama adalah ADIL. Alih-alih bersikap adil, sering pada praktiknya para suami justru menjadi poligami sebagai kesempatan mengumbar hawa nafsunya.

Lepas dari itu, sepasang suami istri harus terus menerus menjaga visi dan komitmennya dalam membentuk rumah tangga. Menurut mbak Afifah Afra, nikah itu bukan sekadar legitimasi ketika “Aku suka elo, elo suka aku”. Tetapi, menikah adalah sebuah proses suci yang menginisiasi terbentuknya masyarakat Islami. Keluarga sakinah, ada batu bata terbentuknya masyarakat yang rabbaniyyah. “Jadi, para suami dan istri harus benar-benar menyadari misi suci ini. Keluarga yang tak sakinah, ibarat batu bata keropos. “Terbayang, kan, jika sebuah bangunan dibentuk dari bahan yang keropos? Ambruk, dong!” pungkas beliau. [US].