Cara Tepat dalam Menyusun Strategi Pengelolaan Keuangan Keluarga

keuangan-usaha

Langkah-langkah berikut ini, adalah strategi pengelolaan keuangan yang praktis dan bisa diterapkan oleh siapa saja, dan sebagian besar darinya pun telah saya realisasikan di dalam keluarga, yaitu :

  1. Lakukan pencatatan di akhir tahun

Langkah yang satu ini kerap diabaikan banyak orang dengan alasan kesibukan, tidak sempat, terkesan njelimet dan sebagainya. Maka untuk langkah praktisnya, anda dapat memanfaatkan momen menjelang pergantian tahun sebagai masa paling tepat untuk melakukan pencatatan sebagai bahan evaluasi bagi perencanaan pengelolaan keuangan yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Anda cukup melakukan pencatatan terhadap pengeluaran rutin bulanan keluarga : biaya makan, listrik, telepon/pulsa, biaya sekolah anak-anak, transportasi, dan lain-lain termasuk estimasi pengeluaran tak terduga, serta untuk keperluan hiburan.

Dari pencatatan global ini, tambahkan sepuluh persen untuk setiap jenis pengeluaran, sebagai antisipasi terhadap kenaikan harga. Catat juga berapa jumlah penghasilan rata-rata per bulan. Maka dari angka yang anda peroleh, anda akan memperoleh gambaran untuk mengatur penghasilan bagi membiayai pos-pos pengeluaran pada setiap bulannya. Jangan lupa sertakan juga pencatatan akan angsuran rumah, kendaraan dan lain-lain yang masih harus dicicil pembayarannya pada tahun berikutnya.

  1. Survei dan evaluasi

Setiap kepala keluarga memiliki tingkat penghasilan yang berbeda-beda. Tidak menjadi masalah andai jumlah penghasilan tersebut dapat menutupi semua biaya dan kebutuhan keluarga. Tetapi bagaimana kalau kondisi penghasilan ternyata pas-pasan atau bahkan minus? Maka  disini anda dapat melakukan tindakan survei dan evaluasi terhadap pos-pos pengeluaran agar dapat merancang pembiayaan yang lebih efisien.

Saya ambil contoh, sebelum menerapkan sistem uang saku untuk jajan anak-anak, saya lebih dulu melakukan survei kecil-kecilan tentang rata-rata harga jajanan di sekolah, berapa kali jam istirahat, dan berapa jam dalam sehari yang mereka habiskan di sekolah, les, ekskul, dan sebagainya. Dari hasil survei ini saya kemudian membuat estimasi berapa jatah uang saku mingguan untuk masing-masing anak. Selain itu, saya juga menganjurkan anak-anak untuk sarapan pagi terlebih dulu sebelum berangkat ke sekolah. Selain berguna untuk kesehatan,  kebiasaan ini juga dapat mengurangi keinginan anak untuk jajan berlebihan. Sejauh ini, cara ini cukup efektif dalam menekan pengeluaran dari pos uang saku  anak-anak.

Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan evaluasi frekuentif terhadap pembiayaan pos-pos pengeluaran. Evaluasi ini dapat kita lakukan sebulan sekali dengan membuat daftar pertanyaan atas hal-hal yang kita temui dalam pelaksanaannya. Misalnya, benarkah uang sekian ratus ribu sudah cukup untuk belanja mingguan atau sebenarnya jumlah ini masih bisa ditekan? Evaluasi ini berguna sebagai kontrol.

  1. Pembagian tugas pembiayaan

Saya dan suami sama-sama bekerja, jadi untuk membiayai kebutuhan hidup setiap bulan sebagaimana hasil pencatatan pada poin 1, kami saling berbagi tugas, siapa yang membayar tagihan listrik, pulsa, belanja makan, pendidikan anak-anak dan sebagainya. Adanya pembagian tugas ini, selain dapat meringankan beban juga membuat kami dapat mengatur cash flow masing-masing.

Lalu, bagaimana jika pencari nafkah dalam keluarga hanya satu orang?

Prinsipnya tidak jauh berbeda. Setelah melakukan poin 1 dan 2 diatas, langkah penting selanjutnya adalah komitmen dalam mengatur penghasilan dengan langsung membaginya pada semua pos-pos pengeluaran begitu penghasilan diperoleh.

  1. Menerapkan pola hidup hemat

Ada dua langkah penting dalam menerapkan strategi hidup hemat, yaitu dengan menghindari pola hidup konsumtif dan mengajak semua anggota keluarga untuk menjalankan prinsip yang sama. Pengeluaran uang harus didasari pada kebutuhan dan kemampuan serta bukannya menuruti keinginan.

Pola hidup hemat tidak hanya diterapkan dalam hal penggunaan uang saja, tetapi juga pada kebiasaan hidup yang dapat mempengaruhi pengeluaran. Sebagai contoh, dalam hal penggunaan sarana listrik dan komunikasi (ponsel, telepon, internet). Setiap anggota keluarga harus sama-sama menyadari bahwa pemborosan dalam penggunaan fasilitas-fasilitas ini akan berdampak pada besarnya pengeluaran. Oleh karenanya semua anggota keluarga harus sama-sama berkomitmen untuk menggunakan fasilitas-fasilitas berbayar ini secara hemat dan efektif.

  1. Menabung

Para ahli finansial umumnya menyarankan untuk setidaknya menyisihkan sepuluh persen dari penghasilan untuk ditabung. Bagi yang merasa kesulitan untuk menerapkan strategi ini, saran Warren Buffet  berikut ini dapat dicoba : Do not save what is left after spending but spend what is left after saving. Atau dengan kata lain, sisihkan terlebih dulu penghasilan untuk ditabung sebelum membelanjakannya dan bukan sebaliknya. Utamakan berhemat, gunakan sisanya dengan bijak.

Dalam realisasinya, anda dapat menggunakan cara berikut : Setelah gaji atau penghasilan diterima, sisihkan sepuluh persen untuk tabungan, lima persen untuk pos dana tak terduga. Lalu bagi sisanya dengan jumlah hari dalam sebulan. Jadikan hasil pembagian tersebut sebagai angka maksimal pengeluaran anda dalam sehari.

  1. Hindari utang konsumtif

Untuk kita ketahui, bahwa utang dapat dikategorikan menjadi utang baik dan utang buruk. Utang baik adalah utang yang digunakan untuk membeli asset yang nilainya terus meningkat. Misalnya digunakan untuk membeli rumah melalui KPR ataupun untuk modal bisnis.

Sedangkan utang buruk adalah utang konsumtif, atau utang yang digunakan untuk membeli barang-barang konsumtif, dan terkadang dikenai bunga tinggi. Untuk contoh pada paragraph awal di poin 6 ini, jelas hal tersebut tergolong tindakan utang buruk atau utang konsumtif.

Agar terhindar dari jeratan utang konsumtif, ini bisa disiasati dengan membatasi pola hidup konsumtif dan disiplin menyisihkan sekian persen penghasilan untuk ditabung. Juga yang tak kalah penting adalah meluruskan paradigma bahwa utang konsumtif tidak termasuk langkah bijak dalam pengelolaan keuangan, bahkan utang konsumtif dalam jumlah besar dan berkelanjutan dapat menggerogoti asset yang berujung pada kebangkrutan atau kemiskinan.

  1. Tetapkan pengelolaan keuangan untuk rencana jangka panjang

Selain menabung uang di bank yang bisa ditarik kapan diperlukan (manfaat jangka pendek), kita juga sudah seyogyanya merencanakan bentuk tabungan yang dapat menopang rencana jangka panjang keluarga, seperti biaya kuliah anak-anak, naik haji, membangun atau merenovasi rumah, biaya hidup setelah pensiun, dan lain-lain.

Lantas, darimana kita mengalokasikan dana untuk tabungan jangka panjang ini? Cara  praktis tanpa harus menambah pos pengeluaran adalah dengan menyisihkan sekian persen dari pos tabungan reguler. Jadi dari total sepuluh persen alokasi penghasilan untuk pos tabungan, kita bisa mengalokasikan mulai dari tiga hingga lima persen dari jumlah ini untuk tabungan jangka panjang.

Dalam prakteknya, pengelolaan keuangan keluarga pasti  tak akan terlepas dari berbagai hambatan dan kesulitan, tak jarang juga mengalami rasa jenuh dan putus asa saat rencana pengelolaan yang sudah dijalankan ternyata belum mampu membawa kondisi keuangan keluarga menjadi lebih baik. Jika anda dihadapkan dengan situasi ini, jangan buru-buru menyerah. Tetaplah bersabar dan terus perkaya diri dengan ilmu-ilmu seputar pengelolaan keuangan keluarga, tinjau ulang rencana yang telah disusun berikut realisasinya, lakukan evaluasi dan perbaikan jika diperlukan, dan tetaplah berdoa pada Tuhan agar niat baik dan upaya kita untuk membahagiakan keluarga akan dibimbing dan dipermudah menuju hasil yang diharapkan. Yakinlah bahwa output di kemudian hari adalah berdasarkan apa yang kita rencanakan dan lakukan secara konsisten sejak hari ini.

Ditulis Oleh: Riawani Elyta

Daftar pustaka :

  1. www.beritasatu.com
  2. www.brighterlife.co.id
  3. www.sunlife.co.id
  4. www.tjanbudi1028pru.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *