Bukan “House Sweet House” Tapi “Home Sweet Home”

home-sweet-home1

Siapa yang tak ingin memiliki rumah yang isinya diliputi ketenangan, kerukunan, kedamaian serta ketentraman.Suami yang pergi kerja, selalu merindukan untuk segera pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga, istri begitu amanah menjalankan tugas-tugas rumahnya dan anak-anak yang soleh dan solehah menjadi pelengkap kebahagiaan.Meskipun bukan rumah yang megah dan mewah seperti di sinetron-sinetron namun membuat para penghuninya sangat betah, nyaman dan tentram.Kondisi diatas sebenarnya sering kita dengar dengan istilah “Home sweet home” sungguh beruntung dan bahagialah jika kita dapat mewujudkannyatidak ada tempat yang paling nyaman selain rumah.

home-sweet-home1

sumber gambar dari sini

Kenapa ya istilahnya bukan House Sweet House” tetapi“Home Sweet Homesebenarnya kedua kata itu sama-sama artinya “rumah” namun memiliki makna yang berbeda kata House lebih merujuk kepada pengertian rumah secara fisik sedangkan kata Home lebih merujuk kepada pengertian rumah secara emosi dan perasaan penghuninya.Kita pernah mendengar ada kalimat yang berkata: “Broken Home”, namun kita tidak pernah mendengar kalimat “Broken House“. Karena rumah bukan saja hanya “numpang tidur” atau sekedar  bangunan untuk tempat berteduh, namun rumah sebagai tempat  penghidupan keluarga untuk tumbuh dan berkembang dalam artian yang lebih luas.

Banyak orang yang mengira sebuah rumah akan terasa, home sweet home jika rumah tersebut di desain dan hiasi dengan ornament yang mewah dan megah, padahal terciptanya home sweet home sangat ditentukan oleh para penghuninya, banyaknya harta benda bukan merupakan modal utama untuk meraih kebahagiaan rumah tangga, namun yang terpenting adalah rumah  berorientasi akhirat dan mengharap ridha Allah SWT sebagai pondasi utama selebihnya para penghuninya menghiasi diri  dengan akhlakul karimahmaka akan dipenuhi perasaan sakinah (tentram), saling cinta dan kasih sayang sehingga rumah kita layak  disebut Home, karena di dalamnya ada perasaan yang membuat betah dan nyaman di dalamnya. Home bukan kos-kosan, di mana para penghuninya hanya datang dan pergi tanpa ada interaksi, suami dan isteri jarang memiliki waktu bersama mereka mencari “kesenangan” sendiri-sendiri, anak-anak pun memilih mencari “ketentraman” di luar rumah karena di dalam rumah mereka tidak menemukan apa-apa inilah awal kehancuran jika sebuah keluarga hanya menjadikan rumah itu sebagai house bukan sebagai home.(fm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *