Bisakah Menikah Tak Berlandaskan Cinta?

bunga-mawar-putih01

Pertanyaan itu muncul pada suatu pagi, saat berbincang dengan seseorang yang akhirnya merasa tidak kuat menjalani pernikahan yang awalnya karena perjodohan dari orang tua, padahal pasangan tersebut sudah melewati 10 tahun pernikahan telah dikaruniai dua orang anak. Alasan yang ia kemukakan adalah dia tidak mencintai pasangannya, selama usia pernikahan telah mencoba belajar “mencintai” pasangannya namun cekcok semakin sering dan rasa jenuh semakin tak bisa dihindari. Akhirnya menyerah, dia berencana mengajukan cerai dan menitipkan anak-anak yang masih balitapada neneknya, sementara ia ingin pergi menikmati masa-masa sendiri.

bunga-mawar-putih01

sumber gambar dari sini

Sang Khalik memang menciptakan manusia berpasangan dan fitrah adalah manusia ingin menemukan pasangan sejatinya.Dalam pencariannya banyak jalan harus dilalui sampai ia benar-benar menemukan pasangan yang sudah Allah SWT siapkan. Ada yang bertemu dengan jalan sama-sama satu sekolah, organisasi atau komunitas merasa cocok lalu pendekatan hingga akhirnya melangkah ke arah lebih serius, ada juga seperti kasus diatas melalui perjodohan oleh orangtua. Meski saat ini bukan zaman siti nurbaya namun perjodohan oleh orang tua masih tetap ada, perjodohan tidak selalu membawa dampak negatif tetapi harus ada kesiapan mental yang lebih dan penerimaan yang mendalam saat menjalaninya.

Sasa Esa Agustina, pengurus majalah Percikan Iman dan penulis buku Jangan Galau Ukhti, mengatakan menikah haruslah berlandaskan cinta, setiap pasangan yang akan menikah baik melalui perjodohan atau pun tidak tetap harus menemukan chemistry saling tertarik, rasa cinta dan kecocokan pada setiap pasangan tetap harus ada, tidak bisa dinafikan begitu saja. Tidak boleh ‘asal comot’ asal mendapat status menikah walau tak ada cinta karena desakan keluarga. Kekuatan cinta inilah basis kehidupan cinta secara keseluruhan, karena cinta adalah bekal yang tak lekang oleh waktu, tak lekang oleh usia. Kala badai rumah tangga menerpa sekencang apapun, insyaAllah bisa bertahan.Jika chemistry tidak juga tercipta dalam sebuah hubungan maka bicarakan baik-baik dengan calon pasangan dan keluarga, agar jalan keluar dari permasalahan ini segera teratasi.

Bercermin dari kasus diatas, pasangan tersebut ternyata belum menemukan chemistry dalam hubungannya. Mereka pun membiarkan begitu saja hingga akhirnya menjadi jurang pemisah yang menyeramkanalhasil anak-anak pun menjadi korban,kehadiran mereka pun tak bisa menyelamatkannya. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Walahu’alam. (fm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *