Photo-0129

Bercerai Itu Boleh, Tetapi…

Photo-0129

Perceraian!  Rumah tangga yang digoyang prahara. Tak usah menanyakan kedahsyatan rasa yang bergelora di hati para pelakunya. Sebab, sekadar mendengar saja, kita pun seakan tengah dilontarkan pada trampolin emosi yang mengguncang adrenalin. Apalagi, jika berita itu menimpa orang-orang terdekat kita.

Ya, beberapa waktu terakhir ini, saya merasa terkaget-kaget dengan berbagai kejadian yang mampir di folder memori saya. Bukan, bukan saya pelaku utamanya. Hanya saja, jika pada beberapa kasus semacam itu sebelumnya saya hanya menjadi penonton belaka, kali ini saya terseret dalam lingkaran yang lebih dalam. Bukan sekadar pengamat, tetapi mungkin sudah menjadi pelaku, meski hanya figuran. Bahkan juga menjadi tempat untuk mencurahkan perasaan.

Perceraian telah terjadi di orang-orang terdekat saya. Dan, terjadinya pun dalam waktu yang berdekatan. Mulai dari famili, hingga sahabat.

Bahwa dalam sebuah rumah tangga ada konflik, saya tentu tahu. Apalagi, saya juga tidak berasal dari keluarga yang benar-benar ‘selamat sejahtera’ mengarungi kehidupan berumah-tangga. Pun beberapa tetangga juga mengalami badai kehidupan yang tak bisa dibilang ringan, dan saya menyaksikan. Dalam dosis yang lebih ringan, tentu konflik-konflik kecil juga pernah saya rasakan saat mengarungi bahtera rumah tangga bersama suami saya tercinta. Semua merupakan pelengkap, karena secangkir kopi tak akan terasa nikmat jika kita sajikan semata berisi gula.

Akan tetapi, kata ‘cerai’ bagi saya terdengar begitu asing, dan mungkin tak percaya jika bisa terjadi pada orang-orang di sekitar saya. Jadi, mendadak saya merasa begitu naïf, polos, dan lugu, saat badai rumah tangga berujung perceraian itu ternyata menginduksi kehidupan saya. Bermacam-macam penyebabnya. Dan, saya tak hendak mencoba mengupasnya di sini.
Satu tesa yang ingin saya sampaikan di postingan ini adalah CINTA SAJA TAK CUKUP. Ya, meski banyak lagu-lagu, syair-syair, roman-roman dinyanyikan, dipuisikan dan didendangkan, yang isinya mengupas-tuntas keajaiban cinta, bagi saya, untuk meniti kehidupan rumah tangga tak cukup hanya bermodal cinta.

Modal pertama dalam berumah tangga adalah IMAN. Dalam konsep keyakinan saya, nikah memiliki bobot separuh agama. Jadi, menikah adalah dalam rangka menyempurnakan ibadah. Karena itu, mempertahankan pernikahan juga sebenarnya dalam rangka mempertahankan kesempurnaan ibadah kita. Apa sih, yang kita cari di dunia ini selain tunduk menghamba kepada-Nya? Bukankah tujuan penciptaan manusia, adalah untuk beribadah kepada-Nya? Saya meyakini, jika para ahlul ibadah susah payah bangun malam, menangis terisak-isak saat merindu rabb-nya, berlapar-dahaga dalam shiyam-nya, sesungguhnya perjuangan menjaga keutuhan berumah tangga, bisa jadi sama, atau lebih besar nilainya di mata Allah.

Iman yang kuat, akan melahirkan sebuah VISI BERUMAH TANGGA yang juga kuat, yakni keluarga yang sakinah-mawadah-warahmah, yang merupakan batu-bata terbentuknya umat yang rabbaniyyah, dan menjadi sarana pengkaderan generasi muslim yang berkualitas.
Berkualitaskah generasi yang akan kita lahirkan, jika saban hari melihat kedua orangtuanya bertengkar? Apakah Anda yakin, bahwa anak-anak Anda akan tumbuh dengan baik meskipun akhirnya keputusan besar itu Anda tempuh? BERCERAI!

Sejarah mungkin mencatat perceraian-perceraian yang secara agama mungkin diperbolehkan. Tetapi sejarah juga mencatat, bahwa sebagian besar perceraian itu dimurkai Allah, karena memang melahirkan serangkaian panjang mafsadat, alih-alih menjadi sebuah manfaat.

Tentu saya tak ingin memvonis orang-orang yang bercerai itu sebagai orang-orang yang tersesat. Ada, banyak sekali, hal-hal yang membuat keputusan berat itu terpaksa ditempuh. Ada banyak curahan air mata yang mengalir, yang membuat rasa empati ini mengalir sederas curahan air mata mereka.

Tapi, satu yang perlu dicatat: Jangan cukup hanya dengan cinta. Kau harus membungkus semuanya dengan IMAN. Insya Allah rumah tangga kita akan diselamatkan oleh-Nya. Tetapi, seandainya pun kita telah menerapkan hal tersebut dan ternyata kita tak mampu berbuat banyak, itu ujian. Semoga kuat menghadapinya. Dan sebisa mungkin, mari kita berusaha agar generasi penerus kita tak terinduksi oleh kegagalan orang tuanya dalam membina rumah tangga.

Ditulis oleh Afifah Afra

Sumber: www.afifahafra.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>