BELAJAR DARI BELAJARNYA PARA ULAMA

11_Islamic_Illustration_11_watermark

Dalam agama kita yang mulia ini, perkara menuntut ilmu dan belajar adalah perkara wajib. Dalam surat Al-Mujadalah: 11, Allah berfirman yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Dalam banyak hadist pun, Rasulullah telah menjelaskan tentang banyaknya keutamaan orang yang berilmu. “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalan baginya ke surga” (H.R. Muslim).

Berikut adalah beberapa keutamaan manusia yang berilmu menurut Al-Quran dan hadist :

  1. Dimudahkan dalam jalan menuju surga (sesuai hadist di atas)
  2. Disejajarkan dalam persaksian dengan malaikat
  3. Menjadi juru bicara untuk membantah para pendosa
  4. Dibukakan pikiran dan mata hati
  5. Lebih utama dari ahli ibadah
  6. Didoakan oleh seluruh penduduk langit dan bumi
  7. Takut kepada Allah Ta’ala
  8. Mengetahui hakikat kehidupan yang sangat banyak dan beragam
  9. Ilmu lebih utama daripada materi

Menuntut ilmu tentunya adalah proses belajar itu sendiri. Namun, kadangkala kesibukan dalam kehidupan sehari-hari melalaikan kita dari agenda menuntut ilmu. Padahal kebutuhan menuntut ilmu adalah kebutuhan ruh dan akal, sehingga kehidupan kita tak akan seimbang tanpanya.

Para ulama besar menghabiskan seluruh hidupnya untut menuntut ilmu yang bermanfaat untuk kemudian diajarkan kepada umat. Mengetahui bagaimana cara mereka menuntut ilmu adalah sesuatu yang bisa menginspirasi kita agar tak lelah belajar untuk menuntut ilmu.

Berikut beberapa kisah ulama besar dalam menuntut ilmu yang bisa kita teladani :

  1. Imam Malik

Imam Malik hanya menyediakan sedikit waktunya untuk tidur. Beliau pun tak pernah tertidur dalam proses belajarnya.

  1. Imam Syafi’i

Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga waktu, yakni sepertiga pertama untuk menulis ilmu, sepertiga yang kedua untuk sholat malam, dan sepertiga yang ketiga untuk tidur.

  1. Abu Hurairah

Abu Hurairah dan keluarganya membagi waktu malamnya menjadi tiga. Bedanya yang dibagi adalah anggota keluarganya menjadi semacam jaga malam bergantian. Mula-mula Abu Hurairah berjaga sambil sholat malam, berdzikir dan menuntut ilmu, dilanjutkan oleh istrinya kemudian oleh putrinya. Dengan demikian malam-malam yang berlalu di rumah Abu Hurairah selalu diisi oleh kegiatan menuntut imu dan ibadah kepada Allah.

  1. Ibnu Jabar Ath Thabari

Selama empat puluh tahun dari akhir hidupnya, Ibnu Jabar Ath Thabari mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari yang dikerjakannya sehabis sholat Zuhur menjelang Ashar dimana ide-ide tulisannya diperolehnya pada waktu sholat Shubuh selepas sholat Qiyamul Lail.

 

Prioritas waktu oleh para ulama salaf

Para ulama salaf memberikan kiat untuk memanfaatkan waktu untuk aktifitas belajar sebagai berikut.

  • Waktu terbaik untuk menghapal adalah waktu sahur sebelum fajar
  • Waktu terbaik untuk meneliti adalah di pagi hari
  • Waktu terbaik untuk menulis di tengah hari
  • Waktu terbaik untuk mengulang dan menelaah adalah di malam hari

Begitu luar biasanya para ulama-ulama besar tersebut dalam memanfaatkan waktu mereka untuk belajar dan mengajarkan, serta merelakan waktu tidur yang amat sedikit. Tentunya karena mereka benar-benar mengharapkan ridha dan cinta Allah yang diberikan kepada orang-orang yang berilmu.

Inilah yang seharusnya kita teladani. Bagaimanapun metode belajar yang kita sukai, bagaimana kita membagi waktu untuk beraktifitas sehari-hari, juga apapun status profesi kita, kita tetap wajib menyediakan waktu untuk menuntut ilmu dan tidak membiarkan waktu kita berlalu tanpa adanya penambahan ilmu dan kebaikan di dalamnya.

Marilah kita menyimak pesan seorang ulama besar berikut:

“Orang yang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia wariskan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan, maka ia telah durhaka kepada harinya dan menganiaya terhadap dirinya.”

(Yusuf Al Qaradhawi)

 

Sumber : Buku Zero to Hero (Solikhin Abu Izzudin) dan berbagai sumber lainnya

 

Penulis: Risa Mutia

Editor: Yeni M. Ahmad

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *