Bagaimana Cara Shalat Istisqo?

hujan

hujanAkhir-akhir ini Sobat Sakinah mungkin sering mendengar kata “Shalat istisqo”. Ya, seruan untuk melaksanakan shalat istisqo kita dengar di mana-mana, dan sangat baik jika kita mengikuti shalat tersebut. Maklum saja, kemarau panjang akibat efek El-Nino, ditambah dengan berbagai perilaku teledor sebagian dari pengusaha perkebunan, telah membuat Indonesia mengalami darurat asap dari kebakaran hutan yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mematikan api, namun ternyat sulit sekali. Maka, hujan menjadi harapan satu-satunya agar kebakaran tersebut padam dan udara normal kembali.
Apa itu istisqo? Secara bahasa artinya meminta air (maksudnya air minum). Sedangkan secara istilah, istisqo berarti memohon (kepada Allah SWT), agar diturunkannya as-saqo, alias hujan di sebuah tempat, dengan tata cara dan aturan yang sesuai dengan tuntutan Rasulullah. Menurut mayoritas ulama, shalat istisqo dihukumi sunnah muakkadah, alias sangat dianjurkan, khususnya ketika kemarau benar-benar telah menciptakan kekeringan di mana-mana. Rasulullah saw. dan juga para sahabat pernah melakukan shalat istisqo saat musibah kekeringan menimpa negeri mereka saat itu.

Dalil dari shalat ini adalah berasal dari hadits dari Aisyah r.a. yang artinya sebagai berikut:

“Orang-orang mengadu kepada Rasulullah saw. tentang musim kemarau yang panjang. Kemudian beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan.
Aisyah berkata, ‘Rasulullah saw. keluar ketika matahari mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau saw. bertakbir dan memuji Allah Azza wa Jalla, lalu bersabda, ‘Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan mengabulkan doa kalian.’
Kemudian beliau mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. (QS. Al-Fatihah: 2-4). Laa ilaha illallahu yaf’alu maa yuriid. allahumma antallahu laa ilaha illa antal ghaniyyu wa nahnul fuqara’. Anzil alainal ghaitsa waj’al maa anzalta lanaa quwwatan wa balaghan ilaa hiin (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan).’
Kemudian beliau terus mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau. Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: ‘Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya.’” (HR. Abu Daud no.1173).

Bagaimana Pelaksanaannya?
Shalat istisqo dianjurkan dilakukan di lapangan, waktunya bebas, kecuali waktu-waktu yang memang dilarang untuk shalat, dan khususnya tentu saat terjadi kekeringan. Sebagian besar ulama menyebutkan bahwa tatacaranya mirip dengan shalat Id, yaitu dua rakaat, dengan takbir rakaat pertama tujuh kali dan rakaat kedua bertakbir lima kali, serta terdapat khutbah sesudah shalat, tanpa didahului dengan adzan dan iqomah.

Sangat dianjurkan agar shalat istisqo ini dilakukan dengan penuh ketundukan (tawadhu), rendah hati, dan jauh dari kesombongan. Ini sebagaimana hadits nabi yang artinya “Rasulullah saw. berjalan menuju tempat shalat dengan penuh ketundukan, tawadhu’, dan kerendahan hati hingga tiba di tempat shalat. Lalu beliau berkhutbah tidak sebagaimana biasanya, melainkan beliau tidak henti-hentinya berdoa, merendah, bertakbir dan melaksanakan shalat dua raka’at sebagaimana beliau melakukan shalat ‘id.” (HR. Tirmidzi no.558, ia berkata: “Hadits hasan shahih”).

Ya, dalam keadaan kekeringan yang melanda, kebakaran hutan yang terus menerus, dan musibah asap yang menimpa jutaan manusia, tentu kita memang harus benar-benar instrospeksi. Maksiat apa yang telah kita buat; kesalahan, kezaliman, perilaku buruk apa yang telah kita toreh… semua harus kita musabahahi dengan penuh ketundukan. Tiada daya dan kekuatan, dan tiada sebaik-baik penolong, kecuali Allah Azza wa Jalla. [ADMIN].

Ditulis oleh Afifah Afra. Dari berbagai sumber.

Sumber gambar dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *