Awas, Jangan Asal Masuk Ke Pesantren!

saaaaaaaaaa

saaaaaaaaaa

Memilih lembaga pendidikan bagi si buah hati, adalah salah satu prioritas bagi para orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya mendapat pendidikan terbaik. Dan untuk itu terdapat berbagai alternatif yang terkadang membingungkan. Contohnya saja saat harus memilih menyekolahkan anak di pesantren ataupun sekolah umum. Keduanya, pasti ada plus dan minus.
Jika orang tua ingin menyekolahkan anaknya di pesantren, berikut beberapa poin yang dapat  dipertimbangkan, yaitu:
1. Niat
Setiap orang tua tentu memiliki niat yang baik terhadap pendidikan anaknya. Namun tak ada salahnya untuk memeriksa ulang niat kita. Apakah karena memang menginginkan anak memperoleh pendidikan agama yang lebih baik di dalam lingkungan yang baik pula, atau justru karena ingin melepaskan sebagian tanggung jawab kita? Merasa bahwa dengan menyerahkan anak kepada pesantren maka tanggung jawab kita mendidik anak dalam hal agama pun telah selesai?
Perlu diingat, bahwa tugas utama mendidik anak ada pada orang tua. Terutama pendidikan agama, karakter dan akhlak mulia. Oleh karenanya, mari luruskan niat kita terlebih dulu sebelum memutuskan menyerahkan tanggung jawab itu kepada lembaga pendidikan.

2. Usia dan Kesiapan Anak
Dari sisi psikologi, anak di bawah usia 12 tahun membutuhkan lebih banyak waktu untuk bermain, bersenang-senang dan merasakan kedekatan dengan orang tuanya. Jadi disarankan untuk tidak buru-buru menyekolahkan anak di pesantren saat usianya masih di bawah 12 tahun, kecuali jika pesantren tersebut mudah dijangkau ataupun sang anak tetap diperkenankan pulang ke rumah pada waktu-waktu tertentu.

Kesiapan anak juga perlu menjadi perhatian. Meskipun sudah memasuki usia pra remaja dan remaja, tidak semua anak merasa siap untuk masuk pesantren. Tak sedikit pula yang mempersepsikan pesantren sebagai tempat “buangan”, bagi anak-anak yang bermasalah. Jadi, jika memang serius ingin menyekolahkan anak di pesantren, sejak awal perlu ditanamkan kepada anak tentang dunia pesantren yang sesungguhnya. Jika memungkinkan, anak bisa diajak berkunjung ke pesantren terdekat untuk merasakan atmosfir lingkungannya.

3. Informasi yang Akurat
Pelajari terlebih dulu informasi yang akurat juga detail tentang pesantren tujuan. Bagaimana komposisi pendidikan akademis dan agamisnya, lingkungannya, para pendidik dan santri lulusannya, sumber literasinya, juga ruang lingkup pengajarannya. Apakah pesantren berbasis modern atau salafi, dan sebagainya.

Bagi sahabat yang masih ragu, berikut beberapa poin plus yang dimiliki pesantren yaitu :
1. Pesantren menerapkan pendidikan IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional) dan SQ (kecerdasan spiritual) secara proporsional sehingga diharapkan para santri lulusannya tak hanya cerdas intelejensi tetapi juga memahami dan melaksanakan ajaran agama dengan kaffah serta mampu bersosialisasi dengan baik di tengah masyarakat
2. Ikatan persaudaraan di pesantren lebih kokoh karena para santri memiliki waktu interaksi dan komunikasi antar santri lebih panjang dibandingkan dengan sekolah umum
3. Lingkungan pesantren lebih terjaga dari kontaminasi pengaruh negatif seperti budaya hedonis, narkoba, tawuran, pergaulan bebas dan sebagainya.
4. Pesantren mengajarkan ilmu hidup yang berharga yaitu kemandirian dan rasa tanggung jawab.

Memilihkan lembaga pendidikan yang tepat bagi anak, sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua. Memang, tidak ada lembaga pendidikan yang bisa menjamin bahwa anak kita akan terbentuk menjadi seperti yang kita inginkan. Tetapi, dengan memilihkannya lembaga pendidikan yang mampu memberinya banyak bekal hidup seperti di pesantren, insya Allah bukan hal sulit untuk membentuk sebuah generasi penerus bangsa yang berkualitas, baik dari sisi pengetahuan, karakter, juga ketaatannya dalam menjalankan perintah-perintah Allah.

Referensi :
www.kompasiana.com
www.dmaarif.blogspot.co.id

Penulis,
Riawani Elyta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *