Author Archives: admin

11_Islamic_Illustration_11_watermark

BELAJAR DARI BELAJARNYA PARA ULAMA

Dalam agama kita yang mulia ini, perkara menuntut ilmu dan belajar adalah perkara wajib. Dalam surat Al-Mujadalah: 11, Allah berfirman yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Dalam banyak hadist pun, Rasulullah telah menjelaskan tentang banyaknya keutamaan orang yang berilmu. “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalan baginya ke surga” (H.R. Muslim).

Berikut adalah beberapa keutamaan manusia yang berilmu menurut Al-Quran dan hadist :

  1. Dimudahkan dalam jalan menuju surga (sesuai hadist di atas)
  2. Disejajarkan dalam persaksian dengan malaikat
  3. Menjadi juru bicara untuk membantah para pendosa
  4. Dibukakan pikiran dan mata hati
  5. Lebih utama dari ahli ibadah
  6. Didoakan oleh seluruh penduduk langit dan bumi
  7. Takut kepada Allah Ta’ala
  8. Mengetahui hakikat kehidupan yang sangat banyak dan beragam
  9. Ilmu lebih utama daripada materi

Menuntut ilmu tentunya adalah proses belajar itu sendiri. Namun, kadangkala kesibukan dalam kehidupan sehari-hari melalaikan kita dari agenda menuntut ilmu. Padahal kebutuhan menuntut ilmu adalah kebutuhan ruh dan akal, sehingga kehidupan kita tak akan seimbang tanpanya.

Para ulama besar menghabiskan seluruh hidupnya untut menuntut ilmu yang bermanfaat untuk kemudian diajarkan kepada umat. Mengetahui bagaimana cara mereka menuntut ilmu adalah sesuatu yang bisa menginspirasi kita agar tak lelah belajar untuk menuntut ilmu.

Berikut beberapa kisah ulama besar dalam menuntut ilmu yang bisa kita teladani :

  1. Imam Malik

Imam Malik hanya menyediakan sedikit waktunya untuk tidur. Beliau pun tak pernah tertidur dalam proses belajarnya.

  1. Imam Syafi’i

Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi tiga waktu, yakni sepertiga pertama untuk menulis ilmu, sepertiga yang kedua untuk sholat malam, dan sepertiga yang ketiga untuk tidur.

  1. Abu Hurairah

Abu Hurairah dan keluarganya membagi waktu malamnya menjadi tiga. Bedanya yang dibagi adalah anggota keluarganya menjadi semacam jaga malam bergantian. Mula-mula Abu Hurairah berjaga sambil sholat malam, berdzikir dan menuntut ilmu, dilanjutkan oleh istrinya kemudian oleh putrinya. Dengan demikian malam-malam yang berlalu di rumah Abu Hurairah selalu diisi oleh kegiatan menuntut imu dan ibadah kepada Allah.

  1. Ibnu Jabar Ath Thabari

Selama empat puluh tahun dari akhir hidupnya, Ibnu Jabar Ath Thabari mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari yang dikerjakannya sehabis sholat Zuhur menjelang Ashar dimana ide-ide tulisannya diperolehnya pada waktu sholat Shubuh selepas sholat Qiyamul Lail.

 

Prioritas waktu oleh para ulama salaf

Para ulama salaf memberikan kiat untuk memanfaatkan waktu untuk aktifitas belajar sebagai berikut.

  • Waktu terbaik untuk menghapal adalah waktu sahur sebelum fajar
  • Waktu terbaik untuk meneliti adalah di pagi hari
  • Waktu terbaik untuk menulis di tengah hari
  • Waktu terbaik untuk mengulang dan menelaah adalah di malam hari

Begitu luar biasanya para ulama-ulama besar tersebut dalam memanfaatkan waktu mereka untuk belajar dan mengajarkan, serta merelakan waktu tidur yang amat sedikit. Tentunya karena mereka benar-benar mengharapkan ridha dan cinta Allah yang diberikan kepada orang-orang yang berilmu.

Inilah yang seharusnya kita teladani. Bagaimanapun metode belajar yang kita sukai, bagaimana kita membagi waktu untuk beraktifitas sehari-hari, juga apapun status profesi kita, kita tetap wajib menyediakan waktu untuk menuntut ilmu dan tidak membiarkan waktu kita berlalu tanpa adanya penambahan ilmu dan kebaikan di dalamnya.

Marilah kita menyimak pesan seorang ulama besar berikut:

“Orang yang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia wariskan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan, maka ia telah durhaka kepada harinya dan menganiaya terhadap dirinya.”

(Yusuf Al Qaradhawi)

 

Sumber : Buku Zero to Hero (Solikhin Abu Izzudin) dan berbagai sumber lainnya

 

Penulis: Risa Mutia

Editor: Yeni M. Ahmad

 

bisnis

Yuk, Bangun Masa Depan Anak yang Cerah dengan Melek Finansial

bisnis

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas tentang pentingnya membangun kebiasaan baik dengan rutin menabung di bank. Pada saatnya nanti (sekitar usia 18 – 25 tahun) tentu anak-anak kita akan memiliki sejumlah dana yang cukup besar di tabungannya. Tulisan ini akan membahas bagaimana melatih anak menggunakan dana yang dimilikinya untuk tujuan produktif dengan mengembangkan kemampuan mereka dalam meningkatkan jumlah dana tabungannya melalui cara-cara yang baik dan halal. Dengan sasaran yang jelas, anak kita akan termotivasi untuk selalu rajin menabung dan dana tersebut nantinya bisa digunakan antara lain untuk keperluan:

  • Membeli kendaraan sendiri,
  • Biaya kuliah,
  • Uang muka pembelian rumah atau tanah,
  • Memulai bisnis (wirausaha),
  • Investasi (deposito, sukuk, emas batangan dsb).

Kita akan membahas  penggunaan dana khusus untuk bisnis dan investasi. Karena hal ini membutuhkan kemampuan yang harus dilatih sejak kecil.

Bisnis (Wirausaha)

Ada sejumlah tips dalam mengembangkan jiwa wirausaha pada anak yaitu :

1. Buatlah proses belajar tentang wirausaha yang menyenangkan

Bermain monopoli bisa merupakan sarana perkenalan terhadap bisnis yang pertama bisa diajarkan. Selain itu kita juga bisa melibatkan anak ketika berbelanja di pasar atau di toko yang melibatkan transaksi jual beli secara langsung. Dukung juga ketertarikan anak terhadap dunia bisnis sembari menanamkan nilai-nilai seperti :

  • bahwa bisnis bukan semata-mata mengejar uang
  • harga sebuah produk atau jasa ditentukan oleh besarnya kesediaan orang untuk membayar dan mekanisme pasar
  • bisnis kadang berhasil kadang tidak
  • bisnis membutuhkan kemampuan negosiasi yang baik
  • dibutuhkan semangat dan kerja keras untuk berhasil dalam bisnis

2.  Ubah pekerjaan sambilan anak menjadi sebuah bisnis dan dampingi mereka melakukannya

Menyapu halaman, menjaga anak tetangga ataupun pekerjaan sambilan lainnya bisa dijadikan bisnis untuk anak-anak kita. Bantu mereka membangun bisnis dari hal-hal sehari-hari yang mereka sering lakukan dan terbiasa melakukannya. Termasuk juga dari hobi produktif yang mereka miliki.

Jiwa wirausaha yang terasah dari seorang anak, nantinya akan membantunya ketika dia akan memulai bisnis yang sebenarnya di saat usianya telah dewasa dengan modal dari dana tabungan yang dimilikinya. Walaupun nantinya anak kita memilih bekerja di sebuah perusahaan atau lembaga pemerintahan, tetap penting baginya memiliki bisnis pribadi sebagai sebuah sumber penghasilan lain untuk membantu pemenuhan kebutuhan finansialnya yang semakin besar.

Investasi (Deposito, Sukuk, Emas Batangan)

Untuk mengajari anak-anak kita cara berinvestasi jangka panjang, berikut adalah prinsip-prinsip yang bisa kita terapkan :

  1. Ajarkan jenis-jenis investasi, baik yang mengandung unsur riba maupun yang diperbolehkan dalam Islam. Penting bagi mereka untuk tahu manfaat investasi halal, juga mudarat dan bahaya riba yang mengintai dan bersembunyi dalam banyak jenis investasi.
  2. Membeli emas batangan, tanah atau uang muka sebuah rumah adalah sebuah investasi jangka panjang yang menguntungkan. Ajarkan anak – anak kita yang sudah memasuki usia remaja untuk mengenal lokasi tanah atau rumah yang bernilai ekonomis dan bisa mendatangkan keuntungan. Bahkan membeli sebuah rumah toko (ruko) atau mobil toko (moko) juga bisa merupakan investasi yang menguntungkan bagi anak kita sembari mendukung pengembangan jiwa wirausahanya.
  3. Ajarkan anak untuk jeli dengan jenis investasi yang ditawarkan perseorangan atau perusahaan milik perseorangan terkait maraknya penipuan yang mengatasnamakan investasi.

Dengan dukungan positif, pendidikan dan keterampilan praktis yang kita berikan kepada anak – anak kita, insya Allah kelak mereka bisa menjadi pribadi dewasa yang berhasil dan bertanggung jawab secara finansial (termasuk memiliki komitmen untuk berkontribusi positif dan berbagi sebesar – besarnya untuk kemaslahatan umat), kita pun akan merasa bahagia melepaskan mereka untuk terjun ke dunia nyata, dengan harapan mereka akan memiliki masa depan cerah dan mampu menghasilkan kontribusi positif pada dunia mereka nantinya.

Sebagian sumber tulisan diambil dari : Buku “ Making Allowance” – Lermitte, Merritt

Penulis: Risa Mutia

Editor: Yeni Mulati Ahmad

muhasabah

Tahun Baru, Mari Bermuhasabah!

muhasabahTahun 2016 sudah kita lewati. Dan tahun 2015 sudah kita tinggalkan. Banyak orang telah menyusun resolusinya untuk tahun yang baru datang ini seiring harapan, pencapaian target-target di tahun depan akan lebih baik dari tahun yang telah dilalui.

Memang, tak ada kewajiban kita untuk menyusun resolusi. Namun tak ada salahnya kita melakukan muhasabah dan introspeksi. Bahkan evaluasi diri ini sebaiknya kita lakukan setiap hari. Dan barangkali, momen akhir tahun seperti ini, adalah momen yang tepat untuk kita sejenak merenungi hari yang telah berlalu, perbuatan dan amal ibadah yang telah kita lakukan, dan kekurangan-kekurangan apa yang harus kita benahi.
Untuk membantu Sobat Sakinah melakukan evaluasi diri, berikut beberapa check-list pertanyaan yang dapat sahabat tanyakan kepada diri sendiri, dan apa yang akan sahabat lakukan untuk memperbaikinya di masa yang akan datang:
1. Check-list Hubungan Kita dengan Allah
– Bagaimana kualitas dan kuantitas ibadah kita di tahun ini?
– Sudahkah ibadah tersebut membawa perubahan positif dalam diri dan rutinitas kita sehari-hari?
– Sudahkah hati kita ikhlas dalam beribadah? Ataukah hanya sekadar menggugurkan kewajiban belaka?
– Ibadah apa yang akan kita tingkatkan di masa yang akan datang?
– Sudahkah kita mengajak diri untuk selalu bertaubat?
– Sudahkah kita meluangkan waktu setiap hari untuk merenungkan kekuasaan Allah dan meningkatkan rasa syukur kita kepadaNya? Atau justru kita terlalu disibukkan dengan urusan duniawi sehingga saat diterpa masalah kita spontan meresponnya dengan berkeluh kesah?

2. Check-list Hubungan Kita dengan Sesama Manusia
– Sudahkah kita mempererat silaturahim? Ataukah kita sudah merasa cukup dengan bertegur sapa lewat media sosial dan gadget?
– Pernahkah kita menyakiti hati manusia? Jika pernah, sudahkah kita meminta maaf, atau justru masih saling membenci dan mendiamkan?
– Bagaimana kualitas hubungan kita dengan keluarga? Sudahkah kita menjadikan mereka prioritas, atau justru memberikan mereka hanya waktu dan energi yang tersisa?
– Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah dan muamalah, dengan bersedekah, saling memberi hadiah, saling membantu sahabat dan saudara yang tengah dilanda kesusahan? Atau justru kita lebih disibukkan dengan urusan memenuhi kebutuhan sendiri?
– Adakah perbuatan kita yang merenggut hak-hak orang lain? Jika kita menyadarinya, sudahkah kita memperbaiki kekhilafan itu?
– Adakah kata-kata atau perbuatan kita yang menyakiti orang tua?
– Seberapa sering kita memberi perhatian kepada orang tua kita?
– Andai orang tua kita sudah meninggal dunia, apakah kita selalu mendoakannya?
– Bagaimanakah kualitas hubungan kita dengan pasangan hidup kita? Apakah semuanya tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kian harmonis, atau sebaliknya, lebih banyak hari kita lalui dengan saling berselisih paham dan menggenggam bara api?
– Apa yang sudah kita lakukan untuk memperbaiki hubungan yang kurang harmonis? Sudahkah kita meningkatkan ukhuwah yang sudah terjalin baik?

3. Check-list Hubungan Kita dengan Diri Sendiri
– Sudahkah kita merasa bahagia?
– Apakah kebahagiaan itu kian mendekatkan kita kepada Allah atau sebaliknya?
– Sudahkah kita memberi apa yang dibutuhkan jasmani dan rohani kita? Atau justru memaksanya untuk bekerja terlalu keras dan membiarkan jiwa kita kering dari siraman rohani dan juga ilmu?
– Masihkah penyakit-penyakit hati bercokol dalam jiwa kita? Jika ada, sudahkah kita berusaha membersihkannya?
– Apa rencana kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi di masa yang akan datang? Baik dalam pengabdian kita kepada Allah, dalam akhlak perbuatan dan juga dalam hubungan kita dengan sesama umat manusia?

Jawablah semua pertanyaan dengan jujur, dan silakan sahabat tambahkan sendiri jika masih ada hal-hal lain yang perlu untuk diperbaiki dan dievaluasi.

Semoga tahun yang akan datang, kita semua tetap berada di bawah rahmat dan perlindungan Allah, dan diri kita semakin bertumbuh menuju insan kamil.
Penulis: Riawani Elyta
Editor : Yeni Mulati Ahmad

islamic house

5 Prinsip Menghias Rumah Secara Islami

islamic houseSahabat Sakinah, sesuai kodrat kita sebagai makhluk Allah yang mencintai keindahan, maka kita juga selalu berkeinginan untuk mendekorasi rumah sesuai dengan selera dan kemampuan. Namun ada satu hal perlu diperhatikan, bahwa dalam mendekorasi rumah, kita juga perlu memperhatikan kaidah-kaidah yang sesuai prinsip islam.

Melanjutkan artikel terdahulu tentang Prinsip Dekorasi Rumah Islami, berikut ini akan kami sajikan tips-tips mendekorasi rumah yang tidak melanggar prinsip Islam. Apa saja tipsnya? Simak yuk!

1. Mendekorasi dengan Barang Halal
Kita diperbolehkan mendekorasi rumah dengan tujuan untuk memperindah tempat kita tinggal dan mensyukuri nikmat Allah. Dalam mendekorasi rumah, hendaknya kita menggunakan hiasan yang halal; baik halal dalam perolehannya, maupun halal dari segi material dari dekorasi tersebut.

2. Tidak Memasang Gambar atau Meletakkan Patung Makhluk Hidup
Jika kita ingin menghias rumah dengan meletakkan gambar atau lukisan, pilihlah yang tidak mengandung unsur makhluk hidup atau gambar-gambar binatang. Demikian juga hendaknya jangan menaruh patung yang berbentuk makhluk hidup.
Hadits riwayat Ibnu Abbas r.a. menyebutkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda: “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang ada anjing atau ada gambarnya.” (Shahih Muslim no.3929).
Sebagai gantinya, kita bisa memasang lukisan kaligrafi ataupun gambar yang mencerminkan ciri Islami seperti gambar Ka’bah, masjid, dan sebagainya.

3. Tidak Mengganggu Hak-hak Tetangga
Saat membangun rumah, dianjurkan untuk memaksimalkan perkembangan mendatar (meluas) terlebih dahulu daripada perkembangan ke atas (meninggikan bangunan). Perhatikan juga bangunan atau rumah di sekitar, jangan sampai mengganggu hak-hak tetangga. Misalnya meninggikan rumah sehingga menghalangi sirkulasi udara dan cahaya matahari ke rumah tetangga, ataupun air dari atap rumah kita jatuh ke rumah tetangga, atau juga daun-daun dari pohon yang tumbuh di rumah kita tetapi saat jatuh justru mengotori halaman rumah tetangga.
Rasulullah SAW bersabda:
“…Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya yang dapat menutup kelancaran angin baginya, dan jangan kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya.” (HR At-Thabrani).

4. Tidak Bermegah-megahan
Ukuran rumah sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah penghuni rumah. Tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit agar kenyamanan dan keharmonisan antar penghuni rumah maupun dengan tetangga dapat terpelihara dengan baik.
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya perkara ialah pertengahannya (tidak berlebihan/seimbang).”

5. Tidak Menghias Rumah dengan Emas dan Perak
Emas dan perak adalah simbol kemewahan dan kemegahan, oleh karenanya tidak dianjurkan untuk menggunakan hiasan dari kedua bahan ini sebagai pelengkap dekorasi rumah. Karena hal ini bisa memicu sifat sombong dan ketimpangan sosial dengan tetangga yang kurang mampu.
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian minum dalam bejana emas dan perak, dan jangan pula makan dalam piring keduanya. Sesungguhnya emas dan perak hanya untuk mereka (orang kafir) di dunia. Sedangkan bagi kalian di akhirat kelak.” (HR Muttafaq ‘Alaih).

Penulis: Riawani Elyta

 

 

muhasabah

Kiat Menggapai Shalat Khusyu’

muhasabah

Sobat Sakinah, shalat adalah ibadah utama umat Islam. Shalat yang didirikan dengan sempurna akan melenyapkan semua bibit ujub, ghurur, bahkan kekejian dan kemunkaran. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya, “Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kekejian dan kemunkaran.” (QS. Al-Ankabut : 29).

Namun fungsi shalat ini hanya akan terwujud jika shalat ditegakkan dengan memenuhi semua rukun, sunnah, serta adab lahir dan batinnya. Dan elemen terpenting dalam adab lahir dan bathin ini, adalah kekhusyuan dalam pelaksanaannya. Khusyu’ merupakan tanda pertama bagi orang yang beruntung, sebagaimana firman Allah swt yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya” (QS. Al-Mukminun: 1-2).

Hati akan baik jika terdapat kekhusyuan di dalamnya, sebaliknya, hati akan rusak jika tak dilingkupi dengan kekhusyukan. Hati yang rusak antara lain ditandai dengan bercokolnya berbagai penyakit hati yang berbahaya. Misalnya saja, mencintai dunia dan berkompetisi dalam meraihnya, sehingga kehilangan orientasi akan kehidupan akhirat.

Oleh karenanya, menghadirkan kekhusyukan hati di dalam shalat itu sangat penting, agar fungsi shalat dapat tercapai dan kondisi hati pun akan menjadi lebih baik. Jika sampai hari ini masih sulit untuk kita menegakkan shalat dengan khusyuk, keenam kiat ini mudah-mudahan dapat membantu, yaitu :

  1. Hudurul qalb atau kehadiran hati. Ini bermakna mengosongkan hati dari hal-hal yang tak ada kaitannya dengan ibadah shalat. Maka selama mendirikan shalat, kita harus menjaga agar pikiran tidak berpaling kemana-mana, dan hati tetap mengingat Allah, sehingga kita tidak lalai dalam shalat dan makna hudurul qalb ini dapat kita tunaikan.
  2. Tafahhum, yaitu memahami makna ucapan dan perbuatan di dalam shalat. Setiap orang memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda terhadap apa yang dia ucapkan dan lakukan sepanjang ibadah shalat. Dan sudah menjadi kewajiban kita untuk terus meningkatkan pemahaman ini. Pemahaman di sini tak hanya sekadar memahami secara harfiah, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya. Misalnya saja, ucapan shalat yang mengandung makna memohon dan berharap, ataupun yang bertujuan memuji dan mengagungkan Allah SWT. Di sinilah shalat dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar, karena shalat dapat mendorong kita untuk lebih memahami makna dari setiap ucapan dan gerakan shalat yang pada gilirannya akan mencegah dari perbuatan maksiat.
  3. Ta’zhim, atau pengagungan dan rasa hormat. Shalat juga harus diiringi dengan rasa hormat dan pengagungan kita kepada Allah SWT, karena pada hakikatnya, tujuan penciptaan kita adalah untuk mengabdi kepada-Nya, dan shalat merupakan sarana terpenting dari pengabdian.
  4. Haibah, yaitu rasa takut yang bersumber dari ta’zhim. Ini berbeda dengan ketakutan yang tidak bersumber dari rasa hormat, seperti ketakutan kita akan gigitan ular atau ancaman bahaya misalnya. Sebaliknya, haibah adalah rasa takut yang bersumber dari penghormatan dan pemuliaan kita kepada Allah.
  5. Raja’ atau harapan. Dalam menegakkan shalat, kita juga semestinya mengiringinya dengan harapan akan kebaikan dari shalat yang kita laksanakan, serta menguatkan keyakinan kita akan ganjaran kebaikan tersebut. Karena sesungguhnya Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya yang bermohon dan berharap, serta Allah melaknat hamba-Nya yang berputus asa akan rahmat-
  6. Haya’ atau rasa malu. Yaitu kondisi batin yang bersumber dari kesadaran kita akan dosa-dosa selama ini, sehingga hati kita pun akan terdorong untuk menjadi lebih khusyu dalam menegakkan shalat.

Keenam makna batiniyah ini hendaknya selalu kita upayakan dalam menunaikan shalat untuk mencapai kekhusyuan hati dan menghindarkan kita dari kelalaian. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya shalat itu ketetapan hati dan ketundukan diri.”

Kekhusyukan di dalam shalat merupakan barometer dan tanda bagi kekhusyuan hati. Insya Allah, hati yang khusyu akan bersih dari berbagai penyakit hati, menjauhkan pemiliknya dari sifat tercela, dan dalam kehidupan sehari-hari pun akan senantiasa dihiasi sifat-sifat terpuji serta akhlak yang mulia.

 

Referensi         : Kitab Tazkiyatun Nafs

Penulis             : Riawani Elyta

Editor              : Yeni Mulati Ahmad

 

 

emosi

Saat Hati Dilanda Cemburu….

emosi

Beberapa hari ini, Asti (bukan nama sebenarnya) gelisah bukan main. Mendadak saja suaminya, Arya, sering bercerita tentang teman satu angkatannya satu SMA, seorang perempuan, yang masih saja melajang, meski usia sudah hampir kepala empat. Asti gelisah, karena jarang sekali Arya bicara soal perempuan. Semakin gelisah, saat Asti tahu bahwa teman perempuan itu ternyata cantik, dan seorang wanita karir yang sukses.

Rasa cemburu merambati hati Asti. Apakah Arya tertarik dengan temannya itu? Bagaimana jika Arya ternyata berminat untuk poligami? Kisah semacam Asti dan Arya, tampaknya sering terjadi di sekitar kita. Asti cemburu. Apakah sikap Asti wajar?

Tentu sangat wajar. Justru jika Asti tak menyimpan rasa apapun, malah rasanya mengherankan. Cemburu itu salah satu tanda cinta. Jika Asti merasa cemburu, itu berarti Asti mencintai suaminya. Apakah ada istri yang tidak mencintai suaminya? Ada! Kita mengenal tipe rumah tangga ‘empty love’ di mana kehidupan rumah tangga hanya diikat oleh komitmen belaka, tanpa ada binar-binar mawaddah ataupun rahmah. Kapan-kapan, kita akan bahas masalah ini.

Namun, waspadailah rasa cemburu. Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda cemburu itu ada yang dicintai Allah dan ada juga yang dibenci-Nya. Adapun cemburu yang dicintai-Nya adalah cemburu karena rasa curiga. Sedangkan cemburu yang dibenci-Nya adalah cemburu yang bukan karena curiga.” (HR. Abu Dawud).

Apa maksud cemburu karena curiga? Yaitu cemburu yang didasarkan pada indikasi-indikasi atau tanda-tanda tertentu yang menimbulkan kecurigaan. Misal, seorang istri melihat suaminya berduaan dengan wanita yang bukan mahram di sebuah tempat yang romantis. Indikasi itu membuat dia waspada, terlebih ketika ada tanda-tanda bahwa pasangan kita akan berbuat sesuatu yang melanggar syariat. Kecurigaan itu membuat kita seyogyanya waspada dan mengingatkan pasangan kita untuk tidak melanggar batas-batas yang dibenarkan oleh agama.

Sedangkan cemburu yang dilarang adalah cemburu tanpa alasan dan melewati batas-batas kewajaran. Suatu saat, istri Umar bin Khattab pernah ikut shalat subuh dan isya berjamaah di masjid. Lalu ada yang menegur istri Umar, “Kenapa kamu keluar rumah, bukankah engkau tahu bahwa Umar tak menyukai hal ini dan dia pasti akan cemburu?”

“Apa alasan engkau melarangku?” Istri Umar pun menyebut sebuah hadist, “Janganlah kalian larang hamba-hamba Allah yang perempuan datang ke masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, ada juga kecemburuan-kecemburuan yang sifatnya manusiawi dan dimaafkan. Misal, kecemburuan antaristri sebagaimana yang terjadi antara istri Rasulullah yang satu dengan yang lain. Asal kecemburuan itu tidak sampai pada hal-hal yang melanggar syariat, hal tersebut termasuk dalam perkara wajar.

Lantas, bagaimana dengan kasus Asti di atas? Jika ada indikasi, sebenarnya indikasi tersebut masih cukup lemah. Sangat baik jika Asti mengedepankan prasangka baik kepada suaminya, dan bukan malah menjerumuskan diri kepada prasangka-prasangka negatif. Asti bisa dengan cara lembut dan mungkin dengan gaya bergurau mengingatkan suaminya, “Awas, lho Papa… jaga hati, jaga pandangan.”

Selain itu, momen cemburu tersebut bisa menjadi momen Asti untuk berbenah dan muhasabah. Sudahkah selama ini dia menjadi istri yang baik untuk Arya? Jika ternyata banyak kekurangan, Asti harus berupaya untuk memperbaikinya.

Ditulis oleh: Afifah Afra

Referensi:

Sheikh Abu Al-Hamd Rabee’, 2011, Membumikan Harapan Keluarga Islam Idaman, Lembaga Kajian Ketahanan Keluarga Indonesia (LK3I), Jakarta.

islamic room

Prinsip Dekorasi Rumah Islami

Sahabat Sakinah, pada artikel sebelumnya kita telah membahas 5 Tips Agar Rumah Terasa Lapang. Silakan dibaca artikel tersebut agar bisa lebih ‘nyambung’ dengan artikel ini.

Bagi seorang muslim, rumah lebih dari sekadar tempat kita berteduh, berlindung, melepas lelah dan berkumpul bersama keluarga. Tetapi rumah juga adalah sarana untuk kita mempererat kasih sayang, silaturahim, beribadah dan membesarkan anak-anak kita.

Oleh sebab itu, memelihara dan menata rumah sesuai prinsip-prinsip Islami adalah sebuah hal yang penting, agar dapat mendukung kita dalam beribadah dan bersilaturahim, menghadirkan suasana yang nyaman dan tenteram serta memberikan ketenangan batin.

Berikut adalah beberapa prinsip memelihara dan menata rumah sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, sebagai berikut :

1. Menjaga Rumah Agar Selalu Bersih

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu baik, dan menyukai kebaikan. Dia juga bersih, dan menyukai kebersihan. Dia juga mulia, dan menyukai kemuliaan. Dia juga dermawan, dan menyukai kedermawanan. Maka, bersihkanlah halaman rumahmu. Dan, janganlah kalian menyerupai seperti orang-orang Yahudi” (HR Tirmidzi).

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Menjaga kebersihan tak hanya harus kita wujudkan pada diri kita, baik jasmani maupun rohani, tetapi juga pada tempat di mana kita tinggal. Rumah yang senantiasa bersih akan memberi manfaat antara lain :

  • menjadi tempat yang nyaman bagi semua anggota keluarga;
  • dapat mendukung terpeliharanya kesehatan;
  • mendukung silaturahim dan penghormatan kepada sesama manusia, karena rumah yang bersih akan memberi kesan nyaman pada orang-orang yang datang bertamu;
  • memperbaiki kondisi hati penghuni rumah. Karena rumah yang bersih dan juga rapi dapat meredam rasa amarah dan sedih di dalam hati. Sebaliknya, rumah yang kotor dan berantakan, akan mudah memicu emosi penghuni rumah, karena pada dasarnya, setiap manusia menyenangi keindahan. Dan salah satu wujud keindahan adalah pada kebersihan dan kerapian.

 2. Menata Ruang Agar Efektif, Bermanfaat dan Fungsional

Islam tidak menyukai tindakan pemborosan, mubazir atau sesuatu yang tidak bermanfaat. Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:  “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat” (HR Tirmidzi dan lainnya).

Anjuran ini juga dapat kita terapkan dalam penataan rumah. Setiap ruang dalam rumah hendaknya memiliki fungsi yang mendukung terlaksananya aktivitas di dalam rumah dengan baik. Jika ruang dalam rumah terbatas, maka perlu disiasati agar setiap ruang berfungsi efektif. Begitu juga dalam hal pemilihan perabotan. Pilihlah perabotan yang mudah dibersihkan dan berkarakter minimalis agar mudah dalam penataan.

3. Memiliki Ruang Terbuka

Fungsi ruang terbuka dalam penataan rumah adalah sebagai sumber cahaya, mendukung sirkulasi udara dan memberi kesejukan. Ruang terbuka juga dapat dimanfaatkan untuk menanam berbagai tumbuhan berguna seperti apotek hidup atau tanaman hijau yang dapat memberikan kerindangan. Hal ini selain dapat menciptakan rasa nyaman dan tenang bagi penghuni rumah, juga dapat memupuk rasa syukur kita kepada Allah swt melalui penciptaanNya dan karuniaNya berupa tanaman yang tumbuh subur, menghasilkan buah-buahan untuk kita dan memberikan udara yang sejuk untuk kita hirup.

Dengan menerapkan prinsip Islami dalam penataan rumah, semoga akan membawa penghuninya untuk semakin dekat kepada Allah swt, dan menjadikan rumah sebagai tempat berlabuh yang paling menenangkan dan menenteramkan hati.

 

Referensi 

Firstanty, Anddys. Hidayat, Ade. 31 Inspirasi Rumah Islami. Penerbit Transmedia. Jakarta : 2010.

Penulis: Riawani Elyta

Editor: Yeni Mulati Ahmad

anak-sholat-di-masjid

Bimbang? Shalat Istikharah, Yuk!

anak-sholat-di-masjidSahabat Sakinah, mungkin pernah mengalami kebimbangan dalam menentukan pilihan. Sementara pengambilan keputusan atas pilihan tersebut adalah sesuatu yang urgen. Maka, solusi terbaik yang dapat Sahabat lakukan adalah dengan menunaikan sholat Istikharah. Shalat sunnah yang dikerjakan ketika seseorang dilanda kebimbangan, dan hendak memohon petunjuk kepada Allah, untuk menentukan keputusan yang benar ketika dihadapkan kepada beberapa pilihan keputusan.

Dalil disyariatkannya sholat istikharah, adalah diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, ‘Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa: Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.’

Ada banyak manfaat yang diibaratkan sebagai buah segar oleh Sanad bin Albaidhani dengan kita menunaikan sholat istikharah, di antaranya yaitu :

  1. Menikmati Kebahagiaan di Dunia

Petunjuk yang diberikan Allah adalah yang Ia ridhoi untuk kehidupan kita di dunia. Maka dengan melaksanakan pilihan sesuai apa yang diridhoiNya, insya Allah akan membuat kita lebih menikmati kebahagiaan selama hidup di dunia.

 

  1. Memperbaharui Keimanan

Terkadang, kemantapan pilihan yang diperoleh usai menunaikan sholat istikharah tidak sesuai dengan keinginan kita. Namun dengan kita meyakini bahwa pilihan itu adalah yang terbaik dari Allah dan kita ridho menerimanya, maka hal itu akan memperbaharui keimanan kita kepada Allah.

 

  1. Ketenangan Serta Keikhlasan Niat

Petunjuk yang kita peroleh setelah menunaikan sholat Istikharah, akan membuat kita merasa lebih tenang dan ikhlas dalam memulai pekerjaan sesuai petunjuk tersebut. Mengingat petunjuk itu datangnya dari Allah, maka kepada Allah jua niat yang ikhlas serta keikhlasan dalam menjalaninya kita persembahkan.

 

  1. Menguatkan Keyakinan

Kemantapan hati yang bersumber dari petunjuk Allah akan menguatkan keyakinan kita.  Keyakinan sangat penting kita miliki sehingga kita dapat menjalanidengan penuh kesungguhan. Sebaliknya, melakukan sesuatu hanya karena ikut-ikutan atau kebiasaan, akan berpengaruh pada proses dan hasil dari apa yang kita jalani tersebut.

 

  1. Bebas dari Rasa Rakut Gagal

Pilihan Allah pastilah pilihan yang terbaik. Maka, hal ini dapat menguatkan keberanian dan membebaskan kita dari rasa takut gagal. Kalaupun pada saat menjalaninya, langkah kita tersandung batu cobaan dan mengalami kegagalan, itu sesungguhnya adalah bagian dari proses yang Allah ridhoi untuk kita menjadi lebih bijak dan dewasa dalam memecahkan suatu masalah.

 

Demikianlah beberapa manfaat dari sholat istikharah. Jika sahabat mengalami kebimbangan dalam menentukan arah dan pilihan, termasuk keraguan sebelum memulai dan memutuskan suatu perkara, jangan ragu untuk menyandarkan pertolongan kepada Allah swt melalui sholat Istikarah. Jika sudah melakukannya namun kemantapan hati belum juga didapat, jangan langsung putus asa, teruslah melakukan sholat istikharah dengan khusyu dan penuh pengharapan sampai petunjuk itu akan hadir dengan sendirinya melalui kemantapan hati. Dan kalaupun pilihan yang hadir itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, janganlah merasa sedih dan kecewa, yakinkan diri bahwa itu adalah pilihan terbaik yang Allah ridhoi untuk kita, serta berusahalah untuk ridho atas pilihan tersebut, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam doa sesudah istikharah :  ثُمَّ أَرْضِنِى yang artinya : “kemudian jadikanlah aku ridha dengannya”.

Semoga shalat istikharah dapat membantu sahabat mengurai kebimbangan dan keraguan, serta dapat menjalani pilihan yang telah ditetapkan Allah swt dengan sepenuh keridhoan.

 

Referensi: konsultasisyariah.com

Buku Jangan Bimbang karya Sanad bin Ali bin Al baidhani dan Aid Al-Qarni terbitan Indiva Media Kreasi.

 

Penulis

Riawani Elyta

Room1

5 Tips Agar Rumah Terasa Lapang

Room1

Salah satu faktor yang dapat meningkatkan kenyamanan penghuni rumah adalah memiliki ruang yang berukuran cukup luas. Namun jika Sahabat Sakinah memiliki rumah dengan kapasitas yang sempit, ada beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk membuat ruang dalam rumah terasa luas dan lapang. Berikut diantaranya :

  1. Gunakan cat dinding berwarna terang

Warna-warna terang pada cat dinding seperti warna putih, krem dan warna pastel dapat memberi kesan ruang yang terasa lebih luas dan lapang. Jika ingin menggunakan kombinasi warna, gunakan warna bergradasi, misalnya warna krem dan coklat, hijau dan hijau muda dan lain-lain.

 

  1. Letakkan cermin besar

Cermin dapat memberi efek pantulan terhadap ruangan sehingga membuat ruang terasa luas. Gantungkan cermin berbentuk persegi panjang berukuran besar pada salah satu dinding. Cermin juga dapat sekaligus berfungsi untuk mempercantik ruanganjika dikombinasikan dengan perabotan lain dan penataan yang tepat.

 

  1. Pilih perabot minimalis, multifungsi dan efektif

Pilihan perabot sangat menentukan dalam penataan interior. Untuk rumah dengan kapasitas sempit, perabot berjenis minimalis dan multifungsi  adalah yang paling cocok karena dapat membuat ruang terasa lapang. Misalnya saja, set kursi tamu yang memiliki laci sehingga dapat digunakan untuk menyimpan koran dan majalah. Hindari menggunakan perabot yang berukuran besar dan memerlukan ruang besar. Daripada menggunakan meja berbentuk lingkaran misalnya, lebih baik menggunakan meja berbentuk persegi panjang atau oval untuk menghemat kapasitas. Buku-buku bisa disimpan dalam lemari tempel pada dinding atau lemari gantung yang lebih menghemat tempat daripada lemari buku biasa.

 

  1. Gunakan tirai berbahan tipis

Pilihlah tirai dari bahan tipis atau transparan sebagai pelapis. Contohnya dari jenis vitrase. Gunakan juga warna netral atau cerah. Tirai atau gorden dari bahan tebal dan berwarna solid akan menciptakan kesan ruang yang “berat” dan terasa sempit sehingga hanya cocok digunakan untuk rumah dengan ruang yang luas.

 

  1. Pilih hiasan rumah yang berukuran mungil dan praktis

Ada banyak cara untuk mengakali ruang sempit tetap terlihat apik. Diantaranya adalah dengan pemilihan interior hiasan yang tepat. Misalnya saja, penggunaan bunga plastik dan vas di sudut ruang dapat digantikan oleh bunga hiasan yang digantung di dinding. Fungsi lemari hias dapat digantikan oleh rak sudut. Hiasan seperti guci-guci antik dapat digantikan oleh hiasan dinding seperti piring-piring kuningan, kaligrafi atau lukisan. Sebaiknya menghindari pembatas ruangan yang permanen. Gunakan pembatas yang ringan seperti anyaman rotan atau tirai yang mudah dibuka saat diperlukan. Pilih juga warna perabot yang terang atau natural untuk memberi kesan luas.

 

Demikianlah diantara tips untuk menyiasati ruang di dalam rumah agar terkesan luas dan lapang. Namun jangan lupa, apa yang lebih penting untuk kita lakukan, adalah menjaga keharmonisan dan ketenteraman dalam keluarga agar kelapangan yang hakiki dapat kita rasakan.

 

 

Referensi:

IDEA Online

adinfocibubur.wordpress.com

 

Penulis, Riawani Elyta

bisnis

6 Kiat Agar Anak Rajin Menabung di Bank

keuangan-usaha

Di artikel kemarin, kita kita telah membahas tentang 6 Trik Agar Anak Melek Finansial, yang isinya adalalah prinsip pemberian uang saku dan membangun kebiasaan menabung seumur hidup.

Selanjutnya, kita akan membahas tentang bagaimana agar anak rajin menabung uang saku tersebut, khususnya di bank. Sebab, sekadar menabung di celengan, akan sangat berisiko. Langkah ini penting untuk membentuk kecerdasan finansal anak. Tujuannya adalah sebagai berikut:
– Agar anak terbiasa mengelola uang yang mereka miliki
– Agar anak memahami cara kerja bank sehingga kelak mereka mampu memanfaatkan nilai positif menabung di bank
– Melatih mereka untuk bernegosiasi dan menangani masalah uang langsung dengan orang, dan bukannya mesin.

Berikut ini prinsip – prinsip yang bisa diterapkan ketika memperkenalkan dan membuat anak bersahabat dengan bank:

Pertama, pilihlah bank syariah yang ramah terhadap anak
Kesan pertama sangat penting, sehingga penting untuk menciptakan pengalaman pertama yang berkesan positif bagi anak. Jika perlu, sebelum mengajak anak, kita bisa berkenalan langsung dengan petugas bank dan meminta mereka untuk bekerjasama dengan baik ketika kita mengajak anak untuk menabung pertama kalinya.Untuk selanjunya, penyetoran ini bisa dilakukan misalnya satu bulan sekali.
Anak perlu diperkenalkan tentang bank syariah agar memahami prinsip utama dalam kehalalan penyimpanan uang dan menghindari riba yang diharamkan Allah.

Kedua, latih kemandirian si anak untuk menabung sendiri
Setelah tahap perkenalan, selanjutnya latihlah anak melakukan sendiri transaksi perbankannya mulai dari mengisi slip, melakukan penyetoran/penarikan hingga berhadapan dengan petugas bank. Dalam kehidupan selanjutnya di masa dewasa kelak, banyak hal yang harus dilakukan anak yang berhubungan dengan pendanaan, agunan, pinjaman dan sebagainya. Langkah ini penting untuk membangun keyakinan dan rasa percaya diri anak.

Ketiga, meminta buku tabungan dan menolak kartu ATM
Beberapa bank kadang memberikan sistem laporan bulanan. Sebaiknya kita memilih buku tabungan untuk memantau pertambahan jumlah tabungan anak yang juga bisa dilihat oleh anak kita. Untuk tahap awal, anak tidak perlu diperkenalkan dengan kartu ATM terlebih dahulu. Memiliki kartu ATM membuat anak-anak bisa melakukan transaksi tanpa mengetahui asal uangnya. Kartu ATM juga membuat tabungan anak mudah diambil dan mereka bisa dengan mudah mengurasnya. Selain itu kartu ATM bisa merusak kebiasaaan menabung yang sedang coba kita tanamkan.Pengenalan kartu ATM bisa dilakukan ketika anak sudah beranjak remaja dan punya pengendalian yang lebih baik.

Keempat, menabung dari uang selain penyisihan uang saku yang didapat anak
Ketika berkunjung ke rumah keluarga besar, saat momen hari raya, berulang tahun, mendapatkan hadiah saat mengikuti perlombaan, seringkali anak memperoleh uangtambahan. Jika jumlahnya besar, anjurkan anak untuk menyimpan separuhnya di bank dan mereka boleh menggunakan sisanya untuk keperluan mereka.

Jelaskan tentang menabung dan cara kerja bank setelah mereka mempraktekkannya secara langsung
Jelaskan tentang cara kerja bank, manfaat positif menabung di bank dan tujuan jangka pendek dan menengah dengan memiliki sejumlah tabungan. Selain tentunya faktor keamanan menyimpan uang di bank daripada di rumah.
Jika anak telah terbiasa menabung di bank dan telah memilik pemahanam yang semakin baik, kita boleh memberitahu tentang adanya perbedaan bank syariah dan konvensional termasuk layanan yang bisa diberikan oleh bank misalnya pinjaman, agunan, kartu kredit, kartu debit hingga asuransi.

Keenam, terus semangati anak dan beri hadiah jika tabungannya telah mencapai jumlah tertentu yang disepakati
Anak perlu dibina untuk memiliki kebiasaan menabung seumur hidup. Tunjukkan pentingnya memiliki sejumlah uang yang bisa dimanfaatkan jika anak menginginkan sebuah barang atau menginginkan sebuah pencapaian tertentu misalnya untuk liburan, membeli sepeda baru, mengambil kursus, membelikan hadiah untuk keluarga dan sebagainya.

Dengan menanamkan kebiasaan menabung sejak dini, anak belajar bahwa untuk mencapai sesuatu, diperlukan kesabaran dan kerja keras. Anak juga tidak sembarangan menghabiskan uang yang diperolehnya. Anak akan memiliki penghargaan yang lebih baik terhadap dirinya, orangtua dan keluarganya, juga pencapaiannya dari kedisplinan, konsistensi dan kesabaran menabung. Dengan semua kebiasaan ini, anak diharapkan siap berhadapan dengan kehidupan nyata yang berhubungan dengan pengelolaan uang di kemudian hari.
Dan yang paling utama, ajarkan anak untuk selalu bersyukur dengan semua yang diperolehnya dan jangan lupa mengingatkannya untuk selalu bersedekah dan berbagi kepada sesama.

Sebagian sumber tulisan diambil dari : Buku “ Making Allowance” – Lermitte, Merritt

Penulis: Risa Mutia & Riawani Elyta

Editor: Yeni Mulati Ahmad