Aku Menangis Karena Takut Tak Mampu Menjagamu Lagi

j0178762

 

KISAH INDAH DI PERISTIWA HIJRAH #1

j0178762

Kedua lelaki itu telah sampai pada mulut sebuah gua ketika mereka lihat para pengejar mereka sudah mulai mendekat. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk bersembunyi di dalam gua tersebut. Salah satu dari lelaki itu meminta untuk masuk terlebih dahulu guna membersihkan gua. Dia, Abu Bakar As-Sidiq pun dengan jeli mengawasi setiap sisi di ruangan sempit itu. Begitu terdapat lubang, dia pun menutupnya, khawatir jika dari lubang tersebut keluar binatang-binatang berbahaya. Setelah semua dirasa bersih, Abu Bakar pun mempersilakan sahabatnya yang mulia, Rasulullah SAW untuk masuk.

Mereka berdua berlindung di dalam gua kecil itu, alias Gua Tsur. Rasa tegang menguasai Abu Bakar ketika para pengejar terlihat telah begitu dekat dengan gua. Kaki-kaki mereka bahkan terlihat dari dalam gua. Mereka adalah orang-orang dari Suku Quraisy Paganis yang ingin menghalangi proses hijrah Rasulullah ke Madinah. Satu tujuan mereka: menghabisi Rasulullah SAW.

“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua,” bisik Abu Bakar, cemas. Tidak, Abu Bakar tidak mencemaskan dirinya sendiri. Jika lelaki-lelaki Quraisy yang kejam itu membunuhnya, Abu Bakar siap menghadapi kematian. Tetapi, Abu Bakar mencemaskan nasib Rasulullah SAW.

Namun dengan tersenyum tenang, Rasulullah menghibur sahabatnya terkasih itu. “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam segala kekuasaan, Allah…” ujar Rasulullah, sambil menepuk pelan bahu Abu Bakar.

Allah Maha Kuasa, termasuk Berkuasa untuk membuat para pengejar itu tak mencurigai bahwa di bawah mereka terdapat gua yang menjadi tempat bersembunyi dua orang yang tengah mereka cari. Pelan-pelan, para pengejar itu pun pergi.
Rasulullah SAW, karena begitu letih, akhirnya tertidur di pangkuan Abu Bakar. Lelaki itu membiarkan Rasulullah tertidur pulas, dan berusaha untuk tidak menganggunya. Saat itulah Abu Bakar tersadar, karena masih ada satu lubang yang terbuka di dalam gua. Pelan Abu Bakar mengangkat kakinya, dan menutup lubang tersebut dengan ibu jarinya.

Apa yang terjadi? Seekor ular berbisa mematuk kaki Abu Bakar. Rasa sakit dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh Abu Bakar. Wajahnya pucat pasi, akan tetapi Abu Bakar tak bersuara, takut Rasulullah terbangun. Namun, saking sakitnya, air mata mengucur dari pelupuk matanya. Tak sengaja air mata itu menetes ke Rasulullah, sehingga lelaki itu terbangun.

Rasulullah mengira Abu Bakar ketakutan karena pengejaran orang-orang yang hendak membunuhnya itu. Namun Abu Bakar menggeleng. “Ya Rasulullah, aku tidak pernah takut mati demi membela agama Allah.”

“Lalu apa yang terjadi hingga engkau menangis?” tanya Rasulullah lagi.
“Kakiku telah digigit ular, tubuhku lemas, aku menangis karena takut tidak akan bisa menjagamu lagi,” kata Abu Bakar.

Dengan lembut, Rasulullah pun mengusapkan ludahnya ke luka Abu Bakar. Dan atas izin Allah, luka Abu Bakar pun sembuh, dan rasa sakit itu hilang seketika.
Banyak peristiwa indah terjadi di saat-saat perjalanan Hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah, salah satunya adalah betapa besarnya kecintaan Abu Bakar as Shidiq kepada sahabatnya itu. Semoga kita bisa meneladani semangat para sahabat yang rela memberikan jiwa dan raganya untuk agama, dan Rasulullah tercinta.

Rasululah SAW segera memeriksa telapak kaki Abu Bakar. Setelah melihat adanya bekas gigitan ular, beliau langsung meludahinya.

Ajaib…serta merta rasa sakit di kaki Abu Bakar langsung sirna, hilang serta merta. Tidak lama kemudian Abu Bakar sudah merasa bugar lagi seperti sedia kala.

_________________________

Ditulis oleh Afifah Afra

Silakan follow akun Twitter @afifahafra79 dan Like Fanpage AFIFAH AFRA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *