6 Trik Agar Anak Melek Finansial

8047

8047

Uang bukan segalanya, namun kekurangan uang bisa menjadi akar permasalahan dan konflik dari banyak hal. Ketika kita dikaruniai anak, secara otomatis kita juga diberi tanggung jawab untuk mengasuh anak tersebut untuk menjadi manusia yang baik. Mendidik anak adalah sebuah proses yang tidak bisa diulang dengan pertaruhan antara kegagalan dan keberhasilan. Salah satu pendidikan yang seyogyanya diberikan kepada anak adalah pendidikan kecerdasan finansial. Tujuan jangka panjang dari pendidikan ini adalah agar anak bisa mengembangkan keterampilan mengelola uang yang mantap dan positif sehingga di kemudian hari anak tidak memiliki ketergantungan finansial terhadap orangtuanya, memperkecil konflik keluarga akibat kekurangan uang, menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap diri dan keluarganya kelak  serta bisa berkontribusi positif sebesar-besarnya untuk kemaslahatan umat lewat sedekah tanpa batas.  Kesuksesan secara materi memang bukanlah tolak ukur keberhasilan seseorang, namun memiliki keluasan rejeki agar bisa berbagi sebanyak mungkin adalah salah satu bentuk  keberhasilan pendidikan terhadap seorang anak.

Tulisan ini akan dibagi dalam beberapa bagian.  Bagian pertama meliputi pengenalan dasar pengelolaan finansial  lewat penerapan uang saku.

UANG SAKU – PENGELOLAAN DASAR UANG

Ketika anak menginjak usia lima atau enam tahun, konsep uang saku sudah bisa diperkenalkan. Umumnya jika anak telah tahu fungsi uang sebagai alat pertukaran dan telah tahu membedakan nilai nominal uang, kita sudah boleh menerapkan pemberian uang saku. Berikut beberapa prinsip yang bisa diterapkan daam pemberian uang saku:

  1. Buat perjanjian antara orang tua dan anak

Sebelum anak menerima uang saku, buat perjanjian dengan anak tentang penggunaan uang saku yang meliputi tiga hal peruntukan ; untuk dibelikan barang atau makanan/minuman (jajan)  yang dibutuhkannya, untuk ditabung dan untuk disedekahkan

Termasuk di sini mendiskusikan besarnya uang saku yang bisa diterima sang anak, waktu pemberian uang saku(harian atau mingguan) dan jumlah uangnya.

  1. Bersikap tegas dan konsisten

Jika sang anak telah menghabiskan uang sakunya sebelum waktunya, tetaplah konsisten untuk tidak memberikan uang tambahan. Jika anak berpikir dia akan memperoleh tambahan uang begitu uang sakunya habis, maka dia tak akan pernah belajar mengelola uang saku.

  1. Jangan mengaitkan uang saku dengan hukuman atau pencapaian/prestasi

Seorang anak memperoleh uang saku karena dia adalah bagian dari keluarga dan tidak ada hubungannya dengan prestasi ataupun perbuatan buruk yang mengakibatkan hukuman baginya.

  1. Menjadikan menabung sebagai bagian dari perjanjian uang saku

Kebiasaan menabung seumur hidup adalah proses yang harus dimulai sedini mungkin. Ajarkan juga bahwa jika sang anak menginginkan uang maka menabung adalah salah satu cara terbaik untuk mencapai hal tersebut. Berikan dompet dan celengan untuk membantunya menyimpan uang. Mulanya sahabat Sakinah bisa mencatatkan jumlah tabungan tersebut di depan anak dan seiring pertambahan usia, anak akan bisa mencatat sendiri jumlah tabungannya. Sebaiknya ajarkan anak anda bersabar untuk menabung pertama kalinya tanpa tergoda keinginan untuk mengambilnya. Misalnya selama tiga bulan, lalu tunjukkan kepadanya jumah tabungannya dan berikan motivasi bahwa jika menabung lebih lama lagi, maka dia bisa memiliki tabungan yang lebih banyak. Tentunya semakin bertambahnya usia, pemahaman tentang penggunaan tabungan untuk hal – hal yang positif juga harus ditanamkan.

  1. Menetapkan persentase pembagian uang saku

Ajari anak kita untuk membagi uang sakunya. Biasanya mengikuti pola yang diterapkan oleh orangtuanya. Misalnya 10% untuk sedekah, 30% untuk tabungan dan sisanya, 60% untuk memenuhi kebutuhan sang anak.

Khusus untuk sedekah, ajak anak memberikan sendiri sedekahnya untuk mengembangkan kebiasaan berbagi sedini mungkin dan mengajarkan nilai spiritual bahwa harta yang abadi adalah sedekah kita. Termasuk di sini menanamkan kebiasaan bersyukur terhadap kelebihan yang diberikan Alah kepada kita. Nilai tambahan dari penanaman nilai ini adalah kecerdasan spiritual, sosial dan intrapersonal yang terasah. Kebiasaan berbagi ini juga bisa dikembangkan dengan mengajari anak misalnya dengan mentraktir atau membelikan hadiah untuk teman atau anggota keluarga yang lain.

  1. Memberikan selamat dan terus memotivasi anak untuk terus menerapkan kebiasaan baik, boleh juga dengan memberikan hadiah kecil misalnya membuatkan makanan kesukaannya atau mengajaknya berjalan-jalan atau mentraktirnya.

Semua hal di atas tentu memerlukan kesabaran dalam menjalankannya. Namun tujuan jangka panjang yang diperoleh dari semua usaha itu tentu akan membuat kita selalu termotivasi untuk memberikan pendidikan finansial terbaik untuk anak-anak kita. Dengan demikian akan membentuk karakter positif pada anak yaitu memiliki kesadaran dan tanggung jawab finansial yang kokoh dan mantap sejak dini.

Sebagian sumber tulisan diambil dari : Buku “ Making Allowance” – Lermitte, Merritt

Penulis: Risa Mutia & Riawani Elyta

Editor: Yeni Mulati Ahmad & Tim SSC

ARTIKEL-ARTIKEL PENDIDIKAN ANAK SILAKAN BACA DI SINI!

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *